
Seorang gadis muda berjalan memasuki halaman rumah dengan menarik koper setelah beberapa saat turun dari taksi.
" Hmm aku kira rasa itu sudah lenyap dan tak akan kembali ada disini setelah hari hari yang ku lewati dikota J, ternyata aku salah " gumamnya sambil meletakkan tangannya didada tepat di hatinya.
" Non..non Lia, apa nona baik baik saja? " suara pelayan menyadarkan Lianti yang sedari tadi berdiri didepan pintu tanpa ekspresi.
" Eh..iya..aku aku gak apa apa kok mbak " dengan nada terbata bata.
" Mbak, tolong bawain koper ini ke kamar ya.." tambahnya menutupi rasa malu pada pelayan karena kepergok melamun.
" Oiya mbak, mami sudah pulang? tadi diluar aku lihat ada pak Mamat. Tapi mobil mami ngak ada " tanya Lianti yang sedikit bingung karena melihat sopir maminya sedang duduk diteras samping menikmati secangkir kopi.
" Itu non, tadi pak Mamat disuruh pulang duluan, nyonya lagi pergi bareng teman temannya " pelayan itu menjelaskan pada Lianti.
" Apa nyonya ngak tau kalau non Lia pulang hari ini? " tanyanya lagi. Dengan sigap kedua tangannya sudah menarik koper Lianti ke arah tangga.
" Aku belum sempat kabari mami. Tapi sepertinya mami tau kok karena kan jadwal liburan sekolah kemarin itu mami tau " jawab Lianti sembari berbaring disofa diruang keluarga.
Dikeluarkannya phonsel dari saķu celananya kemudian beberapa saat setelah membuka buka pengaturan, ia mengaktifkan kembali aplikasi chat yang selama liburan sengaja dinon aktifkan. " drekkk..drekkk..drekkk " bunyi notifikasi masuk berentetan. dibacanya pesan pesan chat yang masuk, termasuk pesan chat dari Irvan dan Arya tapi entah mengapa ia merasa enggan membalasnya. Matanya lebih tertarik pada sebuah kontak dengan foto profil laki laki tampan yang tampak sangat berwibawa dengan setelan jas. " Assalamualaikum mas Faiz, aku sudah sampai rumah nih " mengirim pesan sebelum phonselnya dinon aktifkan.
__ADS_1
Lalu ia melangkangkah ke lantai dua di mana kamarnya berada.
******************
Plash Back On
" Ngak ada lagi ? coba cek lagi, kali aja ada yang ketinggalan " tanya Faiz sambil memasukkan koper dan beberapa barang bawaan Lianti ke bagasi mobilnya.
" Ngak ada lagi kok mas " jawab Lianti dengan senyum manisnya.
Setelah berpamitan pada tante, om dan sepupunya, Lianti pun duduk manis di samping Faiz yang dengan cekatan mengemudikan mobil mewahnya menuju bandara.
" Mas Faiz, kapan mau main ke M ? " Lianti membuka percakapan.
" Pastinya bersedia lah, mas Faiz kan abang aku..hehehe " Lianti tertawa dan refleks mencolek bahu Faiz.
Faiz pun tersenyum, hatinya terasa hangat mendapat sentuhan itu walau jauh didasar hatinya ingin memiliki Lianti, tapi ia tak mau memaksakan. Biarlah semuanya berjalan dengan apa adanya, biar ketulusan itu bisa disadari oleh lianti sendiri. " Baik lah, aku berjanji akan mengatur jadwal liburan ke kota M dan menemui adik Liantiku yang cantik dan menggemaskan ini " ucap Faiz dengan tatapan tetap lurus ke depan namun tangan kirinya spontan terangkat membelai rambut Lianti dan tangan yang lain tetap memegang kemudi.
Dan perbincangan itu terus berlanjut, seakan memanfaatkan sisa waktu kebersamaan mereka.
__ADS_1
Beruntung hari ini jalanan ibu kota tidak begitu padat karena belum jam pulang kantor dan mereka pun tidak harus berurusan dengan kemacetan yang selalu terjadi. Tak berselang satu jam mobil Faiz sudah memasuki kawasan Bandara.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Faiz pun mengeluarkan barang barang dari bagasi mobil lalu mengantar Lianti ke pintu keberangkatan. " Selamat jalan ya dek, jangan lupa sama mas Faiz setelah kembali ke rutinitas kamu disana " ucap Faiz yang sedikit terdengar sedih seakan tidak rela melepas Lianti pergi.
" Mas Faiz jangan sedih gitu ah, kan kita bisa chat dan telponan. aku janji akan selalu berkabar " hibur Lianti.
Setelah saling diam, mereka tersentak tatkala suara informasi menggema memanggil para penumpang tujuan kota M untuk segera masuk ke area ruang tunggu karena pesawat segera siap dan sebentar lagi akan berangkat.
" Mas Fais, aku berangkat ya.." ucap Lianti dengan pelan.
" Semoga selamat sampai tujuan, aku akan merindukanmu " Faiz tanpa sadar memeluk Lianti dalam dekapannya.
" Iya mas, thank you buat semuanya..aku juga akan mengingat hal hal indah bersama mas Faiz " ucap Lianti yang membiarkan dan mencoba merasakan hangatnya pelukan Faiz.
" Baik lah, sekarang kamu masuk ya.." senyum keterpaksaan saat terlihat saat Faiz melepas pelukannya dan mundur beberapa langkah memberi ruang agar Lianti bisa melangkah.
" Selamat tinggal mas, aku berangkat " Lianti pun melangkah meninggalkan Faiz yang masih terdiam.
Plash Back Off
__ADS_1
******************
BERSAMBUNG