
Siang yang tak begitu terik dibilangan kota M seakan mendukung tekat seorang laki laki tampan dengan seragam putih abu abu yang masih membalut tubuhnya untuk terus menunggu, ia duduk disalah satu bangku ditaman kota dengan senyum yang terus tersungging menghiasi bibirnya yang tipis.
" Lama banget nyampenya, apa kejebak macet kali ya? ah kok aku jadi ngak sabaran gini sih? " ucap Irvan pada dirinya.
Irvan nampak tak sabar untuk bertemu kembali dengan wanita yang teramat di rindukannya beberapa waktu belakangan ini, bak pertama kali ingin mengutarakan cintanya perasaan nerves dan deg degan membuat tubuhnya basah bermandikan peluh karena sibuk dengan fikirannya sendiri dan berusaha merangkai kata kata agar bisa meluluhkan hati Lianti kembali.
Beberapa saat kemudian dari arah gerbang taman 2 orang yang juga masih berseragam putih abu abu berjalan sambil celigak celiguk, " Beneran disini? tumben tumbenan ngajak ketemuan ditempat kayak gini, kan dia ngak suka tuh.." ucap Lianti sambil mengamati suasana disekelilingnya.
" Iya benar disini " jawab Arya yang masih sibuk celingak celinguk mencari keberadaan Irvan. Matanya terus menyisir tempat itu hingga akhirnya berhenti pada sosok laki laki yang duduk dibangku tepat dibawah pohon, " Tuh dia orangnya " tambahnya sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah dimana Irvan berada.
Lianti pun mengikuti arah telunjuk Arya hingga matanya membulat sempurna tatkala tatapannya bertemu dengan pandangan laki laki yang seketika itu berdiri dan berjalan menghampiri, " Lia, aku benar benar senang kamu mau datang. Terimakasih ya " ungkapan perasaan tulus Irvan, " Oiya aku minta maaf atas apa yang terjadi belakangan ini, ku akui semua itu karena kebodohanku hingga kita berdua sampai salah faham " ucapnya, dan laki laki itu tak lain adalah Irvan.
Lianti yang kaget dengan kehadiran Irvan ditempat itu dan kini sudah berdiri tepat dihadapannya hanya terdiam seribu bahasa, matanya menatap dalam pada sosok laki laki pemilik mata elang yang selama ini dirindukannya sekaligus ingin dilupakannya.
" Woi, kok pada benggong gitu? duduk disono dulu napa? " ucap Arya memecah keheningan.
" Eh iiya, Arya benar kita duduk disana ya " Lianti pun tersentak dan salah tingkah.
Irvan pun tersenyum serta menggangguk, ia pun mengikuti langkah wanita yang sudah membuatnya tak bisa focus belakangan ini. Tiba tiba Irvan berhenti dan menoleh pada Arya yang berjalan dibelakangnya, " Oiya Ar, aku minta tolong dong.. beliin minum sekalian cemilannya..tapi ngak pake lama ya " ucap Irvan dengan sedikit berbisik pada Arya sambil menyodorkan beberapa lembaran berwarna merah dari dompetnya.
__ADS_1
" Okey mas bro, kalau gitu aku titip Lia, jangan di apa apain .. apa lagi dibikin nangis lagi..awas ya " Arya dengan gaya bercandanya.
" Ngak diapa apain, percaya deh..buruan sana pergi " Irvan mendorong pelan Arya agarcepat pergi, lalu ia kembali berjalan dengan cepat mengejar Lianti.
Setelah mereka berdua sudah duduk, " Loh Arya nya mana? kok ngilang gitu? kan tadi ikut jalan ke sini juga kan? " Lianti celingak celinguk mencari sosok Arya.
" Tadi tuh anak pamit ke toilet, kebelet pipis kali..entar juga balik " jawab Irvan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu suasana menjadi kembali hening sejenak, mereka berdua seakan berusaha merangkai kata buat menghapus jarak yang belakangan ini ada diantara mereka.
" Aku mau ngomong..." ucap mereka serentak.
" Ngak, kamu aja yang ngomong duluan.." ucap Lianti menimpali.
" Ngak apa apa, kamu duluan aja..mau ngomong apa? " ulang Irvan dengan nada lembut.
" Kamu duluan aja.." Lianti terdengar sedikit memaksa.
" Hmm baiklah, aku disini mau jelasin soal omongan orang tentang aku sama Luna yang mungkin sejauh ini kamu percaya. Aku ngak ada jadian sama Luna, yang terlihat itu cuma sekedar pertemanan doang ngak lebih " ucap Irvan hati hati, ia tak mau wanita disampingnya ini salah faham lagi.
__ADS_1
" Selalu terlihat bersama, dimana ada kamu disitu pasti juga ada Luna dimana pun itu. Dan kalau boleh jujur aku akui kalau kalian memang sangat serasi kok " ucap Lianti sambil menunduk, hatinya terasa teriris dengan apa yang ia ucapkan.
Mendengar itu Irvan dengan sigap menarik Lianti ke dalam pelukannya, " Sayang, maaf maaf dan maaf kalau sikapku itu melukaimu. Jujur semua itu tak sengaja ku lakukan, percayalah tak pernah sedikitpun terlintas difikiranku ingin menyakitimu " ucap Irvan sambil mengelus rambut Lianti.
Didalam pelukan hangat laki laki yang sangat dirindukannya air mata Lianti seketika tumpah dan membasahi baju putih yang dikenakan Irvan itu.
" Sudah sudah ya sayang, sekarang kita omongin semuanya agar ngak jadi salah faham lagi. Agar semuanya jadi jelas dan tak lagi menjadi beban dihati " Irvan membujuk agar kekasihnya itu berhenti menangis, dan setelah beberapa saat kemudian dijawab anggukan oleh Lianti.
" Aaku mau kasih tau, soal keha.... " ucapan Lianti terpotong saat Irvan menempelkan jari telunjuknya di bibir wanita itu.
" Aku sudah tau soal itu sayang, justru itu aku minta maaf karena sudah salah faham dan satu hal yang harus kamu tau, aku sangat merasa bersalah dengan semua yang terjadi padamu " Irvan dengan suara agak bergetar menahan tangis.
Lianti membalas pelukan Irvan, dan mereka berdua pun berpelukan. seakan tak peduli pandangan orang orang sekeliling, Irvan pun memeluk erak kekasihnya itu dan menghujani wanita itu ciuman di pucuk kepalanya.
----------------------------
**BERSAMBUNG
Maaf Author baru bisa up, saat ini Author masih kurang sehat tapi akan Author usahain untuk menulis dan menyelesaikan novel iniπ€ππ**
__ADS_1