
Irvan yang baru saja akan merebahkan diri ditempat tidur, tiba tiba teringat dengan kotak titipan dari lianti yang dititip pada Arya
" Mbak, tolong ambilin kotak bingkisan yang tertinggal digazebo belakang dan bawah ke kamar aku " ucap Irvan lewat intercom yang terhubung ke seluruh ruangan dirumahnya
Tak menunggu lama, terdengar suara pintu kamar di ketuk
" Ini tuan muda.." kata asisten rumah tangga, setelah Irvan membuka pintu
" Makasih mbak " jawab Irvan, lalu menerima kotak itu dan kemudian kembali menutup pintu kamarnya.
Irvan terduduk lemas, matanya melotot, tatkala membuka dan melihat isi di dalam kotak dari lianti
" Astaga, mati aku.." ucapnya sambil menepuk jidatnya
seketika diambilnya benda itu dan di aktifkannya, mencoba menghubungi Lianti beberapa kali. tapi diluar area kata operator yang menjawabnya. Dengan segera ia pun mengirim pesan dan berharap nantinya bisa dibaca oleh Lianti saat phonselnya aktif.
malam kian larut, Irvan terus duduk disofa yang terletak disudut kamarnya menunggu dengan gelisah. entah sudah berapa kali dilihatnya pesan yang ia kirim pada Lianti, ia berharap wanita itu segera membacanya. Namun akhirnya Irvan pun tertidur dengan posisi masih duduk sambil bersandar.
Hiruk pikuk ibu kota seakan mengucap selamat datang pada Lianti
__ADS_1
" Habis ini, mau kemana lagi kita? " tanya gadis cantik sepupu Lianti yang usianya tidak terlampau jauh darinya
" Terserah kak siska aja " jawab Lianti mengulas senyum manisnya, walau sebenarnya ia sudah sangat lelah seharian berkeliling dikota ini
" Bagaimana kalau kita ke cafe Xx " ucap Siska sambil mengemudikan mobil menyusuri jalan menuju cafe yang di maksud
" Ayo kita turun, kamu ngak capek kan Lia? " ucapnya lagi begitu mobilnya berhenti diparkiran cafe
" Ngak kok kak, ayo.." jawab Lianti lalu membuka pintu mobil
Mereka pun turun dan masuk, Lianti memilih tempat duduk dipojokan ruangan seperti kebiasaannya saat ke cafe atau ke tempat tempat nongkrong dikotanya.
Lianti pun berjalan menuju ke arah papan yang bertuliskan toilet.
setelah selesai dengan ritualnya ditoilet, Lianti membasuh mukanya diwastafel. Seketika ia teringat Irvan saat menatap wajahnya dicermin besar dihadapannya, " Apa yang bisa kamu jelasin, saat melihat isi kotak itu Van? " gumannya dengan wajah kembali bersedih. Bayang bayang Irvan yang ia coba tepis sebisa mungkin, kini kembali mengusik hati dan fikirannya.
" Mbak..mbak.." suara seseorang yang ada disebelahnya membuyarkan lamunannya
" Mbak kenapa ? " tanya orang itu sambil menyodorkan tissu pada Lianti
__ADS_1
" Ngak apa apa kok, cuma tiba tiba ingat ibu dikampung " jawab Lianti asal, tak mau panjang lebar
" Makasih.." ucap Lianti lagi sambil merapikan dandananya sebelum bergegas keluar menemui Siska.
" Brakk.." tubuh Lianti terhuyung dan nyaris jatuh, ia menabrak seseorang yang baru keluar dari toilet pria,
" Kamu ngak apa apa ? " ucap laki laki yang menangkap tubuh Lianti yang nyaris jatuh ke lantai dan menariknya ke dalam pelukannya
" Maaf, aku ngak sengaja " jawab Lianti, dan begitu tersadar, ia buru buru melepaskan diri dari pelukan lelaki itu
" Oiya, kenalin namaku Faiz " ucap lelaki itu mengulurkan tangan setelah merapikan jas dan dasinya, ia terlihat sangat tampan dan dewasa
" Aku lianti " sambut Lianti
" Eh aku duluan mas, kakakku lagi nungguin disana " ucap Lianti lagi sambil menunjuk ke arah Siska
" Okey, sampai jumpa Lianti " jawab laki laki itu sambil menatap Lianti yang berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG