SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
RASA BERSALAH IRVAN


__ADS_3

Irvan berjalan gontai memasuki gerbang sekolah, peristiwa keributan kemarin yang membuat Lianti harus dirawat dirumah sakit menjadikannya orang yang paling dianggap salah oleh semua orang.


Disatu sisi Irvan sangat sedih karena Lianti masih tidak mau menjelaskan kenapa sikapnya tiba tiba berubah cuek dan tak mau bicara padanya.


" Selamat pagi bu, maaf baru bisa menghadap hari ini " ucap Irvan sopansaat memasuki ruang BK (bagian kesiswaan)


" Iya pagi, silahkan duduk " jawab guru BK


" Ibu sudah panggil Leon dan bertanya, sekarang ibu mau tau versi kamu apa sebenarnya masalah kalian sampai tonjok tonjokan kemarin itu " ucap guru Bk.


" Maaf bu, kemarin itu saya yang salah karena terbawa emosi dan ngak bisa kontrol diri " Irvan tertunduk


" Iya, tapi apa masalahnya sampai kamu emosi? " tanya guru BK


" Maaf sekali lagi bu, saya ngak bisa ungkapin alasannya kenapa. tapi saya cuma bisa bilang maaf dan mengaku salah, disini saya sudah siap menerima sangsi " ucap Irvan dengan pasrah


" Baik lah kalau begitu, lain kali jangan di ulangi lagi " ucap guru BK, setelah melihat nilai positif dari sikap Irvan.


" Terima kasih bu, apa saya sudah bisa balik ke kelas? " Irvan mengangkat wajah dan ingin berpamitan.


" Kamu tanda tangani dulu surat pernyataan dibuku itu sebelum pergi " jawab guru BK


Setelah menandatangi surat pernyataan yang isinya tidak akan buat masalah lagi, Irvan pun keluar dari ruang BK dan menuju ruang kelas.

__ADS_1


 ********************%


Sampai pelajaran berakhir Irvan cuma terlihat melamun, tak sedikit pun ada senyum diwajahnya itu. laki laki yang beberapa waktu sudah berubah ceria kini kembali dingin dan cuek.


Sikap Lianti yang tiba tiba berubah membuat seorang Irvan seolah tak lagi bersemangat dalam belajar.


" Van.. jangan murung gitu, kamu bisa cerita ke aku kalau mau " ucap Rara yang sejak tadi memperhatikan Irvan


" Maaf Ra, aku lagi pengen sendiri " jawab Irvan sambil berjalan keluar kelas meninggalkan Rara.


" Kok malah pergi sih " umpat Rara yang kesal.


Irvan yang mendengar umpatan itu tidak perduli dan terus saja berjalan tanpa menoleh menuju parkiran depan sekolah.


" Bro..mau kemana buru buru amat, duduk duduk dulu lah bareng kita " suara salah satu siswa yang lagi duduk di atas motor


Dengan segera Irvan menyalakan motornya dan melaju ke luar gerbang meninggalkan teman temannya itu. tujuannya adalah ke rumah sakit tempat Lianti dirawat.


Sesampai di rumah sakit, setelah memarkir motornya Irvan pun sedikit berlari menyusuri koridor seakan tak sabar ingin segera bertemu wanita yang terus ada dalam fikirannya itu.


" Assalamualaikum " ucap Irvan sambil membuka pintu dengan pelan


Tak seorang pun menjawab salamnya, mata Irvan tertuju pada Lianti yang di lihatnya tertidur disana dengan wajah tenangnya.

__ADS_1


Irvan pun menghampiri tempat tidur, menarik sebuah bangku yang tak jauh dari sisi tempat tidur,


" Gimana kondisi kamu sayang? " ucap Irvan dengan pelan nyaris tak terdengar


Diraihnya tangan Lianti yang masih di aliri cairan infus, dielus elusnya tangan itu dengan lembut dan penuh rasa sayang.


" Kamu disini ? " ucap Lianti yang tiba tiba terbangun karena merasa tangannya disentuh seseorang.


" Mami kemana sayang? aku ngak liat sejak tadi? " tanya Irvan


" Mami lagi ke kantor, ada bik Asti kok tapi lagi keluar sebentar beli sesuatu " ucap Lianti


" Gitu ya, sayang aku minta maaf soal ke jadian kemarin ya..aku benar benar nyesal terbawa emosi karena cemburu " Irvan dengan wajah memelas


" Hmm lupain aja, toh sudah terjadi juga " Lianti dengan mimik yang berubah sedih


Irvan yang melihat perubahan itu pun ikut sedih, " Sebenar kamu kenapa? kalau aku ada salah tolong kasi tau, jangan malah menghindar " ucap Irvan dengan sangat berhati hati, tidak ingin Lianti marah.


" Tapi ngak usah dibahas sekarang, nanti aja kalau kamu sudah sehat betul. yang jelasnya kamu harus tau kalau aku sangat sayang kamu dan tak bisa ngeliat kamu dengan laki laki lain " ucap Irvan panjang lebar.


Mendengar itu Lianti hanya diam dan menatap mata Irvan lekat, difikirannya berlarian berbagai hal soal kedekatan Irvan dan Emilia. Namun ia tak mampu mengutarakannya.


 

__ADS_1


BERSAMBUNG


 


__ADS_2