
Keesokan harinya sesuai janji Faiz, ia pun mengantarkan Lianti pulang. setelah sebelumnya mampir ke klinik dokter rega sekedar check up untuk mengetahui kondisi Lianti saat ini, " Jadi, kapan rencananya balik ke kota M? " tanya Faiz, menoleh sekilas. Lalu kembali focus mengemudi.
" Mungkin dua atau tiga hari lagi, memang kenapa? mas Faiz mau ikut? hehehe " jawab Lianti sambil bercanda
" Boleh, kalau diajak sih " Ucap Faiz asal
" Serius nih? mas Faiz pasti becanda kan? " Ucap Lianti
Faiz lalu mengangkat sebelah tangannya dan mengacak acak rambut Lianti beberapa saat, " Ih mas Faiz apaan sih, bukannya jawab malah berantakin rambut aku " Lianti dengan ekspresi kesal,
" Jangan ngambek gitu dong sayang, jelek tau " goda Faiz, lalu tersenyum
" Habisnya, mas Faiz becanda mulu..orang seriusan nanyak juga " celoteh Lianti
" Okey okey, sekarang aku serius. Tuan putri maunya fimana? " ucap Faiz sambil menahan tertawanya
" Tuh kan, becanda lagi? " protes Lianti lagi
" Faiz Faiz, salah mulu kamu tuh " ucap Faiz seakan memaki dirinya, " Baiklah aku akan temani kamu balik kota M " tambah Faiz seakan menegaskan
" Hah? aku ngak salah dengar kan mas? " seketika rawut wajah Lianti terlihat senang
" Ngak sayang, aku akan antar kamu pulang " ucap Faiz sambil menggeleng
Saking senangnya Lianti repleks memeluk lengan Faiz, " Thank you mas Faiz "
Seaat kemudian tersadar dan melepas pelukannya pada lengan Faiz, " Eh maaf mas, ngak sengaja " ucap Lianti malu malu
" Sengaja juga ngak apa apa, sini nempel lagi kalau perlu yang lama ya " ucap Faiz jail
" Idih maunya tuh " ledek Lianti
" Ya jelas mau lah, ayo sini buruan " ucap Faiz makin jail
" Ogah ah, mas Faiz mikirnya kejauhan " Lianti salah tingkah
" Kejauhan gimana? orang kita masih disini dimobil ini " Faiz terus saja mengoda Lianti
" Mas Faiz, udah dong. Lia nangis nih " ucap Lianti dengan polosnya
" Hahahaha iya iya, maaf becanda doang " Tawa Faiz yang sejak tadi ditahan tahan akhirnya pecah juga
" Oiya kita mampir makan dulu, kamu pasti sudah lapar kan? dekat sini ada tempat makan yang enak loh " ucap Faiz mengembalikan suasana
" Terserah mas Faiz aja, kalau gitu " Lianti kemudian memasang headset ditelinganya
Faiz pun melajukan mobilnya ke resto yang ia maksud.
*********
__ADS_1
Setelah beberapa saat mengisi perut di resto langganan Faiz, mereka pun melanjutkan perjalan menuju rumah Siska.
Tak berselang 30 menit, mobil yang dikemudikan Faiz sudah terparkir dihalaman rumah yang nampak sepi, Lianti pun turun duluan dan langsung masuk karena pintu dalam kondisi terbuka, " Selamat sore om, tante." ucap Lianti saat melewati ruang tengah
" Sore Lia " jawab mereka kompak
" Gimana liburannya, menyenangkan? tanya pak Arman
" Oiya om, mas Faiz ada didepan tuh " Lianti hampir lupa
" Pah buruan samperin, mama buatin minum dulu " ucap tante Weni bergegas berdiri
" Kalau gitu Lia ke atas dulu ya tan.." Lianti pun berlalu
***
Pak Arman tergopoh gopoh keluar, " Selamat sore tuan muda, mari masuk " ucapnya menghampiri Faiz yang duduk diteras
" Ngak apa apa pak, biar disini aja. lagian ngak lama kok, tadi cuma nganterin Lia ini.. " ucap Faiz santai
" Ngak perlu buru buru ini tante sudah buatin minum, ayo diminum dulu tuan muda" ucap ibu Weni yang muncul dari dalam
" Siska kemana ya pah? sejak tadi mama ngak lihat anak itu? " ucap ibu Weni sengaja ingin mempromosikan anaknya
" Mungkin lagi diatas, coba suru Lia samperin ke kamarnya " ucap pak Arman
Ibu Weni pun berjalan ke arah dalam dengan cepat, namun berpasasan dengan Lianti didepan pintu. " Ih anaknya sudah disini nih, baru aja mau disuru samperin Siska " ucap ibu Weni pada suaminya
" Ooo gitu ya, baiklah tuan muda..kalau gitu kami ke dalam dulu " pak Arman seakan tau dan ia bergegas mengajak istrinya masuk
***
Lianti terdiam dan tetap berdiri ditempat, matanya tertuju pada Faiz, lalu memandangi pak Arman dan bu weni yang berjalan melewatinya hingga menghinggalan dibalik pintu.
Faiz tahu betul kalau Lianti sedang bingung dengan apa yang terjadi ini, " Udah, ngak usah mikir terlalu keras. ayo sini duduk " ucapnya cepat
" Sebenarnya ada apa sih mas? kok om Arman dan tante weni jadi aneh gitu? " tanya Lianti sambil berjalan dan duduk disebelah Faiz, ia benar benar gagal faham atas tingkah ke tiga orang dihadapannya
" Kamu ngak usah mikirin apa apa, intinya kamu jangan capek capek..Faham? " ucap Faiz menegaskan
" Iya deh, apa kata mas Faiz aja " Lianti hanya mengangguk sekali pun ia masih bingung dan tak mengerti apa yang terjadi.
**************
Malam hari setelah makan malam, Lianti baru akan beranjak dari tempat duduknya, " Lia, ikut ayo sebentar? ada yang mau tante omongin " ibu Weni lalu berdiri dan berjalan ke ruang tengah
Lianti memandang sepupunya dengan menaik turunkan alisnya seakan memberi kode bahwa ia minta diberi tahu apa yang akan dibicarakan ibu Weni.
Namun dibalas kode pula oleh Siska dengan mengangkat kedua bahu dan telapak tangannya yang menengadah
__ADS_1
" Kalian kenapa? " Pak Arman memandang mereka berdua secara bergantian.
" Tau nih kak Siska "
" Oiya om, aku susul tante dulu ya "
Ucap Lianti berlalu sambil tersenyum.
***
" Ada apa tante? " Lianti duduk disofa yang ada dihadapan ibu Weni
" Tante mau tanyak, hubungan kamu sama tuan muda Faiz seperti apa sih? apa tetep kakak adek an gitu?
Mendengar pertanyaan itu, Lianti seketika mengernyitkan dahinya, " Maksud tante gimana ya? "
" Gini, Tante bermaksud menjodohlan Siska dengan Faiz, dan aku akan menyuruh suamiku bicara pada tuan besar Anggoro dan tuan muda Faiz. gimana menurut kamu? "
Lianti sangat terkejut mendengarnya manun ia mencoba bersikap biasa, " Apa kak Siska tau soal rencana tante ini? " tanya penasaran.
" Sejujurnya sih Siska belum tau, tapi tante bisa lihat dari sorot matanya kalau anak itu sudah suka sejak lama pada tuan muda Faiz " jawab ibu Weni
" Oiya, tante juga minta sama kamu. Tolong bantu dekatkan mereka ya.." tambahnya lagi.
Lianti tersenyum menanggapi ucapan tantenya itu, lalu.." Tante, kalau sudah tidak ada lagi yang mau diomongin. Aku pamit ke atas, mau telpon mami " ucapnya bergegas pergi.
" Baiklah, tapi ingat ya..dekatkan mereka berdua " ibu Weni sekali lagi mengingatkan Lianti sebelum berlalu.
**
Baru saja membuka pintu kamar, " Dreekkk dreekkkk dreekkk " Suara bunyi phonsel yang tergeletak diatas nakas terdengar memenuhi kamar.
Lianti cepat cepat meraih dan membaca nama yang tertera dilayar phonsel, " Mas Faiz " ucapnya pelan
" Iya hallo mas Faiz " Lianti memulai percakapan telpon
" Lia, besok pagi siap siap ya..aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Aku jemput sekitar jam 10an " ucap Faiz tanpa jeda
" Mau di kemana mas? " tanya Lianti
" Aku mau ajak kamu ketemu orang tuaku kebetulan besok kami ada acara kumpul keluarga " jawab Faiz
" Tapi mas.." kalimat Lianti terpotong
" Tidak ada tapi tapian, pokoknya besok kamu harus sudah siap saat aku jemput. titik, tidak ada bantahan " kalimat tegas dari Faiz sebelum memutuskan sambungan telepon.
" Ih ni orang pake main mati matin gitu aja " gerutu Lianti sambil meletakkan kembali phonselnya.
-------------------------------
__ADS_1
BERSAMBUNG