
Suasana kantin masih sepi, ibu kantin baru saja berbenah dan menyiapkan barang dagangannya.
" Bu, minta coklat susu satu.." ucap irvan, lalu berjalan menuju meja pojok
" Lah nak irvan ngak masuk belajar? kan bellnya udah dering tuh.." tanya ibu kantin yang merasa heran, namun tetap menyiapkan pesanan irvan
" Ngak bu, lagi ngak mood mata pelajaran pertama ini " jawab irvan jujur
" Tapi kalau ketahuan guru, nak irvan bisa kena hukum loh " ibu kantin mencoba mengingatkan, sambil meletakkan segelas coklat susu panas di meja depan irvan
" Yah iya, pasti kena hukum, kalau ibunya yang laporin..hehehe "
canda irvan, saat melihat mimik serius ibu kantin menasehati dirinya
" Ih mana berani ibu, nak irvan ada ada aja " ucap ibu kantin yang kembali mengatur barang dagangannya
" Oiya bu, lianti ada ke sini ngak tiga hari belakangan ini? " tanya irvan yang merasa di hindari oleh lianti
" Kayaknya sih memang udah tiga hari ini nak lianti ngak ada main ke sini.."
" Apa mbak cantik (nama panggilan ibu kantin ke lianti) ngak masuk sekolah ? "
" Nak irvan kan temannya, harusnya tau loh "
celoteh ibu kanti seolah tau kedekatan irvan dan lianti
" Drettt..dretttt..drettt.."
tiba tiba phonsel irvan berdering
" Bos, belum ada pergerakan sama sekali " ucap orang dari balik telpon saat tersambung
" Oke, lo terus awasin di sana dan buruan kasi kabar kalau dia ada keluar rumah "
ucap irvan pada orang yang menelpon itu
Setelah menerima telpon, irvan lalu menyerubut coklat susu di depannya sambil bermain phonsel
Dua jam berlalu, irvan nampak sudah jenuh dengan suasana kantin, ia pun bergegas pergi setelah membayar pesanannya tadi
Mobil mewah berwarna silver yang di kemudikan irvan pun keluar dari parkiran SMA 75 dan melaju tanpa arah
" Dretttt..drettt..dretttt "
phonsel irvan kembali berdering
" Ya..hallo.."
ucap irvan setelah memasang hadset di dan tetap mengemudi
" Bos, target keluar rumah dengan mobil bersama seorang laki laki "
lapor orang yang menelpon irvan
" Ikuti mereka, jangan sampai kehilangan jejak "
" Kalau mereka sampai ke tujuan, kirim lokasi mereka pada ku "
__ADS_1
irvan langsung kesal, wajahnya tiba tiba memerah
" Berengsekkkkk..dasar wanita sialan "
teriak irvan memaki sambil tangannya memukul mukul kemudi
Laju mobil makin makin kencang, menyalip sesuka hati, irvan bak sudah kesetanan. amarahnya sudah di ubun ubun mendengar lianti pergi bersama dimas
Irvan yang benar benar di kendalikan emosi dan tak lagi bisa berfikir positif, memutar arah menuju sebuah Bar.
Irvan berjalan memasuki Bar setelah menanggalkan setagam putih abu abunya dan memarkirkan mobil di area khusus, ia pun duduk dan memesan minuman dengan maksud menghilangkan beban fikiran karena lianti
" Drettt..drettt..drettt "
lagi lagi phonsel irvan berdering
" Ya, hallo.." ucap irvan yang sudah sedikit di pengaruhi minuman beralkohol
" Bos, lokasinya sudah saya kirim "
" Oke, aku segera kesana..kamu tetap awasi mereka "
irvan bergegas pergi setelah membayar minuman pesanannya tadi dan membeli beberapa lagi
Dengan penampilan yang acak acakan irvan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang di berikan orang di telpon itu
Irvan menghentikan mobil di depan sebuah bimbingan belajar terbesar di kota ini, memarkirkan asal mobilnya lalu turun dan berjalan ke area parkir gedung bimbel itu
" Di mana mereka? "
tanya irvan pada orang suruhannya
jawab orang suruhan itu
Tiba tiba mata irvan melihat sosok yang begitu di kenalnya, " Lia..." teriaknya sambil berlari ke arah orang yang di panggilnya
Lianti yang merasa ada yang meneriakkan namanya, mimik mukanya pun langsung berubah saat tau dan melihat orang yang memanggil namanya, dengan cepat lianti menggeser posisi berdirinya ke depan dimas, seolah olah melindungi dimas dari irvan
" Mau apa kamu van? " ucapnya gugup
" Woi cowok brengsek, lo bener bener pengen cari masalah ya. lo ngak malu apa..jalan bareng cewek orang..hah ?"
teriak irvan tanpa peduli pada orang orang yang melihat dan mulai berkerumun
" Bro, jaga...." ucapan dimas menggantung saat lianti menghentikannya, " Stop, kak dimas diam..lia mohon "
" Mau kamu apa sih van? "
" Apa kamu ngak ngerti dengan penjelasanku kemarin? "
lianti mencoba berbaik baik, agar irvan tak makin emosi
" Kamu ikut aku sekarang, ayo "
irvan menarik tangan lianti, ikut bersamanya
" Ngak, lia.." dimas pun menarik tangan lianti bagian sebelahnya lagi
__ADS_1
Lianti berada di tengah tengah antara irvan dan dimas, tangannya terasa perih di tarik dari dua arah oleh ke dua laki laki itu
" Lepasin, tangan aku sakit.."
ucap lianti pelan seakan ingin menangis
Dimas pun melepaskan pegangannya karena tak tega melihat lianti kesakitan, " Maafin kakak lia.."
" Kak dimas pulang aja dulu, biar aku ikut irvan.." ucap lianti pada dimas
" Tapi, lia..." dimas terlihat cemas, karena tau irvan agak mabuk dan bau alkohol
" Ngak apa apa kok kak, mungkin memang sebaiknya aku selesaiin masalah ini dengan irvan " lianti tersenyum, mencoba mengikis kecemasan dimas
" Ayo..." irvan kembali menarik tangan lianti dengan senyum mengejek ke arah dimas
Mereka pun pergi meninggalkan area parkir bimbel menuju mobil irvan di seberang jalan
***************
Mobil mewah itu memasuki kawasan perumahan elit dan berhenti di salah satu rumah yang tampak sepi
" Ayo turun.." ucap irvan masih dengan dana ketus
Lianti pun turun tanpa berkata apa apa, berdiri di depan mobil menunggu irvan. kemudian mereka berjalan masuk ke rumah mewah yang tampak tak berpenghuni itu
" Ini rumah siapa van? kok sepi gini? " lianti pun membuka suara karena merasa aneh
" Adit, pesanan gue mana? " irvan berteriak tanpa menjawab pertanyaan lianti
Lianti celingak celinguk keheranan mendengar ucapan irvan, seakan mencari sosok yang diajak bicara
Tiba tiba seorang laki laki seusia irvan, berjalan menuruni tangga
" Tenang bro, semuanya ada di ruang tengah..ayo.. " ucap laki laki yang di sebut adit oleh irvan
Irvan pun berdiri mengikuti adit, namun langkahnya terhenti dan berbalik melihat lianti yang masih duduk di sofa, " Kenapa bengong di situ? ayo, ikut ke ruang tengah " ucapnya
Tanpa berfikir lagi lianti pun ikut ke ruang tengah, namun alangkah terkejutnya ia melihat apa yang tersaji di atas meja, beberapa minuman beralkohol dari berbagai merek, " Ini apa van? "
" Duduk lah, nanti aku pesankan minuman buat kamu " ucap irvan tanpa ekspresi
Kemudian irvan dan adit pun membuka minuman lalu mereka minum bersama tanpa menghiraukan lianti yang keheranan
Setelah beberapa botol habis, irvan pun mulai meracau tak jelas, sepertinya dia sudah mabuk. ia berjalan ke arah lianti, " kamu tau ngak gimana perasaan gue, liat kamu sama cowok sialan itu? " lagi lagi ia meneguk minuman, " Sakit banget loh di sini " ucapnya lagi sambil memukul mukul dadanya.
seketika irvan menangis seperti boca kehilangan mainan, " Kenapa kamu tega ngelakuin itu lia? kamu kan tau aku sangat mencintai kamu " ia pun duduk di samping lianti
" Van, maaf..aku ngak bermaksud nyakitin kamu "
" Aku cuma pengen kamu ngerti, dan ngak cemburu berlebihan..dimas itu kakak sepupu aku "
Ucap lianti lirih
Mendengar lianti menyebut nama dimas, seketika memicu emosi irvan lagi. " Diam.. Jangan sebut nama si brengsek itu "
" Kenapa van? kamu harusnya ngerti soal itu " lianti tetap mencoba memjelaskan
__ADS_1
" Diam.." irvan tiba tiba melempar botol yang di pegangnya, lalu menarik tangan lianti ke sebuah kamar.
----------------------------