
Suasana mulai tegang di ruang Vip itu saat pintu di ketuk dan seorang laki laki muda yang tak kala tampannya dengan irvan dan adli. ya dia lah dimas.
" Hay smua, sudah lama nunggu? " ucap dimas yang langsung duduk di sebelah adli, dan berpura pura tidak mengenal emilia.
" Apa kita langsung saja? aku sudah siapkan smua file dokumen yang kita butuhkan buat ngegarap proyek itu " dimas langsung mengeluarkan laptop dan meletakkannya di atas meja.
" Santai mas bro, kita bahas itu nanti aja. silahkan makan dan minum dulu..kan sudah lama kita gak ngumpul ngumpul kayak gini " sela irvan.
" Oiya dim, kenalin nih emilia " tambahnya menatap bergantian pada dimas dan emilia.
Dimas menatap emilia lekat lekat sambil menggerak gerakkan jari telunjuknya di depan wajahnya, seakan mencoba mengingat ingat sesuatu.
" Kamu lili kan? iya kamu pasti lili. gak mungkin salah orang " ucapnya sambil terus menatap emilia.
" Kalian sudah saling kenal rupanya ya? " irvan menimpali ucapan dimas dan menatap ke arah emilia yang terdiam sejak dimas masuk tadi.
Emilia menunduk tak berani menatap dimas, kedua tangannya saling meremas satu sama lain di bawah meja. duduknya sudah terlihat gelisah dan wajahnya pucat bak orang ketakutan melihat hantu.
__ADS_1
" Emili, kamu kenapa? " irvan yang sejak tadi melihat gelagat emilia mulai berekting lagi, " Emili..emili..hey emilia, kamu tidak kenapa napa kan? " seketika memutar badannya dan mengguncang bahu emilia yang tidak merespon panggilan irvan itu.
" Ehh iiya..aaku..ehh maaf ttadi kamu ngomong apa van? " emilia salah tingkah, dengan terbata bata ia menjawab tanpa berani mengangkat wajahnya.
" Kamu sakit? kok tiba tiba gak focus gitu? " adli ikut bicara dan mempropokasi emilia yang sudah terlihat sangat gugup.
" Eeenggak kok, aku baik baik aja " ucap emilia yang mulai panik karena ia tau kalau dimas terus menatapnya. " Aaku ijin ke toilet dulu ya " seketika bangkit dari duduknya dan hendak berjalan.
" Mau kemana lili? kita kan sudah lama gak ketemu sejak waktu itu? apa kamu gak kangen? " dimas memulai aksinya, " Oiya mas bro asal kalian tau, aku dan lili perna dekat bhkan nyaris menikah " tatapan membunuh dimas semakin membuat nyali emilia ciut di buatnya.
" Lah bukannya kamu juga tau dli? kan saat itu kamu beberapa kali ketemu lili di rumahku? " dimas melempar tatapan pada adli dan memberi isyarat agar adli mulai menggungkap.
" Oooya..aku ingat aku ingat, cewek yang waktu itu ngejar ngejar kamu sampai terlibat kasus sama kamu dim? "
" Jadi ini cewek itu? artinya lili itu si emilia ini? " adli berceloteh panjang lebar.
" Terus, hubungan kamu sama emilia ini apa, van? kalau gak salah tadi kamu bilang...? ucapan adli tidak di teruskan, matanya memberi isyarat pada ke dua rekannya agar melihat sikap emilia yang semakin tak tenang.
__ADS_1
Irvan mencoba mengambil alih perbincangan, " Emili, tolong kamu jelaskan ke aku soal apa yang ke dua kunyuk ini bilang tadi. kamu terlibat kasus apa dengan dimas? " penekanan demi penekanan mulai terlontar dari mulut irvan, " Kamu harus jujur sekarang, cepat atau lambat semua akan terungkap. karena seorang yang masuk ke keluarga admaja akan menjadi sorotan publik ".
Emilia hanya bisa diam dan semakin tertunduk, rona wajahnya sudah tak lagi berseri seri seperti saat pertama kali datang tadi. sekarang hanya ada wajah cemas dan gugup tanpa bisa berkata kata.
Dengan nada terdengar kesal, dimas mengangkat suara, " Biar aku yang jelaskan ke kamu, van. emili atau lili ini perna menjebak aku dengan mencampur obat perangsang di minumanku, tapi karena aku jauh lebih pandai akhirnya dia sendiri yang terjebak. minuman itu di minumnya sendiri dan bagai cacing kepanasan yang langsung menyerang pelayan hotel tempat kami chek in waktu itu "
" Apa? apa aku gak salah dengar ? " irvan
" Emili, katakan kalau semua itu gak benar. katakan kalau dimas berbohong, biar aku menghajarnya disini " irvan dengan nada emosi namun tetap terlihat santai dan tersenyum tanpa emilia tau.
" Aaku aaku.." emilia tak sanggup berkata kata, suaranya seakan tertahan di tenggorokan.
" Aku aku apa, hah? kalau ngomong tuh yang jelas" bentak irvan yang mulai emosi.
" Jangan jangan kejadian di hotel malam itu pun jebakan yang kamu rencanain buat aku? " akhirnya meledak juga emosinya.di keluarkannya phonsel dari saku celananya dan beberapa saat mencari sesuatu, " Lihat ini, kamu yang sengaja membawaku ke hotel itu. padal jelas jelas kawan kawan memintamu mengantarku pulang "
Emilia yang sudah menangis karena bentakan irvan pun makin tak tahan, ia berdiri dan berlari keluar meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1