SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
CIRI KHAS ARYA


__ADS_3

Mentari telah kembali ke peraduannya dan berganti dengan cahaya senja yang begitu indah, namun tak berapa saat cahaya keemasan di ufuk barat itu pun berangsur angsur tenggelam, saat dewa kegelapan membentangkan jubah kebesarannya menyelimuti sebagian belahan bumi. di atas sana kegelapan langit di hiasi taburan bintang yang berkerlap kerlip, serta temaram bulan yang menyuguhkan keindahan malam seakan memanjakan mata siapa pun yang menatapnya dan membuat ketenangan jiwa bagi yang menikmatinya.


Lain halnya dengan irvan yang sejak tadi hanya berbaring dan tak bisa tidur samasekali, kegelisahan begitu terlihat dari wajah dan tingkah lakunya. hari ini entah sudah berapa kali ia menelpon dan mengirim chat namun tak satu pun di jawab oleh lianti, " Hmmm lia benar benar marah dan tak mau mendengar penjelasan ku lagi " ucapnya lalu meletakkan phonselnya di nakas sebelah tempat tidurnya.


Larangan mamanya yang tidak memperbolehkannya untuk keluar rumah karena adanya insiden pingsan siang tadi membuatnya benar benar dilema, di satu sisi irvan tidak mau membuat mamanya kecewa. namun disisi lain ia terus memikirkan kesalahfahaman kekasihnya atas apa yang terjadi di pesta luna tadi malam


" Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan biar bisa tenang ? " gumam irvan sambil mengusap wajahnya kasar, kemudian bangkit dari tempat tidurnya, berjalan keluar kamar menuju ruang olahraga yang masih berada di lantai yang sama dengan kamarnya.


" Semoga setelah ini, aku bisa tidur nyenyak " ucap irvan sambil mulai memainkan satu alat kebugaran di ruangan itu


************


Tiga puluh menit berlalu, irvan menyudahi aktivitas olahraganya dan kembali ke kamarnya, ia nampak kelelahan namun raut gelisah yang tadi itu masih menghiasi wajah tampannya.


" Achhhhhhhh...." teriak irvan sambil menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. di pejamkannya kedua matanya mencoba untuk tidur


" Drikkkk...drikkk..drikkk " dering phonsel tiba tiba memekakkan telinga dan memaksa irvan untuk kembali membuka matanya


Diraihnya phonsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja nakas, lalu melihat siapa yang menghubunginya


" Mau apa lagi sih wanita ini..? " gerutu irvan kesal saat membaca nama luna di layar phonselnya.


" Drikkk..drikkk.." beberapa saat phonsel itu kembali berdering namun di biarkan saja oleh irvan hingga deringan itu berhenti dengan sendirinya


Sesaat terlintas di fikirannya tuk menghubungi lianti kembali namun ia mengurungkan niatnya itu dan lebih memilih menelpon arya. " Tuttt..tuttt.." nada sambung pun terdengar, " Hallo mas bro, ada yang bisa aku bantu ? " candaan arya yang garing di telinga irvan langsung terdengar begitu telepon tersambung


" Bisa ke rumah ngak mas bro ? lagi suntuk nih " balas irvan mencoba bercanda juga


" Suntuk kenapa mas bro? " tanya arya


" Jangan pura pura bego, bisa ngak? ini serius ar.." irvan mulai sensi

__ADS_1


" Santai bro, jangan kesal gitu lah..ujung ujungnya bisa makin suntuk loh..lagian ini kan udah malam, masa iya aku main ke sono? yang benar aja mas bro? hehehe " arya masih dengan candaan dan gaya cueknya


" Malah makin malam kalau terus becanda, buruan kesini aja..aku tunggu " ucap irvan. " Oiya, aku ngak terima penolakan kali ini..ingat itu " tambahnya lalu memutuskan sambungan sepihak tanpa menunggu jawaban dari arya.


Dengan sedikit tersenyum karena telah puas membayangkan wajah kesal arya di seberang sana saat percakapan telpon ia akhiri begitu saja


Irvan meletakkan phonselnya kembali ke atas nakas, lalu meraih gagang interkom yang tergantung di dinding kamarnya, " Mbak, entar kalau arya datang..suruh langsung ke kamarku aja ya..dan tolong nanti buatin minum, sekalian cemilannya juga bawa ke atas " ucap irvan lewat interkom itu pada ART rumahnya


Setelah itu irvan berjalan ke arah kamar mandi, menyambar handuk dari jemuran kecil di samping lemari pakaiannya lalu bergegas masuk kamar mandi dan bebera saat terdengarlah guyuran air dari dalam sana.


***********


Satu jam berlalu, pintu kamar mandi itu pun kembali terbuka. irvan keluar dengan berbalut baju handuk putih yang menutupi tubuh atletisnya.


" Akhirnya keluar juga, betah amat sih di dalam sana..semedi ya? atau jangan jangan sambil nonton bokep nih..ayo ngaku..hahaha " celoteh arya yang tau tau sudah ada di kamar irvan dan sedang duduk manis di sofa sambil menikmati aneka cemilan dan jus melon


" Idih apaan, ngapain juga nonton bokep di kamar mandi? ngak lucu ahhh " jawab irvan yang sudah sedikit santai dan segar


" Hey..tujuan kamu kesini memangnya buat nonton itu? " tanya irvan


" Boleh juga tuh, kan suatu kehormatan bisa nonton bareng tuan irvan..lumayan lah bisa lihat ekspresi mesum anda tuan muda " gaya khas becanda arya makin naik levelnya


" Makin ngaco aja nih anak, salah makan obat kali ya..ngak ada..ngak ada acara nonton bareng..apa lagi nonton begituan " ucap irvan sambil sibuk berpakaian


" Yah, ngak jadi deh seru seruannya.. padahal udah ngebayangin nih bro.." arya masih dengan bercanda


" Cuci muka sana, biar otak lo ngak ngeres dan mikir hal begituan, aku minta kamu kesini buat ngobrol ihhhh " irvan meremang


" Hahahaha, kan bisa sambil nonton gitu mas bro? " arya terus menggoda irvan


" Udah ahh, serius bisa ngak bro? aku mau bahas soal semalam " irvan duduk di sofa depan arya setelah selesai dengan bepakaian

__ADS_1


" Okey..okey, silahkan ngomong.." ucap arya sambil meletakkan gelas just yang di pegangnya


" Ngak apa apa, sambil di nikmati aja ar.." irvan mengodorkan toples berisi kue pada arya


" Beneran boleh nih? " tanya arya becanda


" Pasti boleh, silahkan.." ucap irvan


" Ar.., tolong kasi tau..aku harus gimana sekarang? lia ngak mau menjawab telpon dan pesan chatku " ucap irvan serius


" Hmm itu karena dia benar benar kecewa dengan segala apa yang di lihatnya di pesta luna itu " arya menghembuskan nafas berat


" Aku tau ar.., tapi semua itu hanya salah faham semata..aku ngak ada perasaan apa apa, apa yang ku lakuin semata mata sebagai ucapan terima kasihku karena luna banyak membantu aku belakangan ini " irvan mencoba menjelaskan


" Tapi sepertinya luna..." ucapan arya menggantung


" Bro.., saat ini aku ngak peduli lagi.. mau luna gimana perasaannya ke aku..ngak penting banget " irvan terdiam sejenak, lalu kemudian, " Aku benar benar takut kalau kesalah fahaman ini berakibat fatal buat hubungan kami " irvan dengan wajah muram


" Maaf sebelumnya mas bro, tapi sepertinya memang kali ini fatal banget..malam itu lia...." lagi lagi ucapan arya menggantung


" Lia kenapa? apa yang terjadi pada lianti ar? " irvan kembali gelisah


" Malam itu lia menangis dan hampir pingsan, dia di bawa ke hotel oleh teman teman Osis atas permintaannya " ucap arya, lalu terdiam


" Kenapa ngak ngomong ke aku sih ar? malam itu kita sempat ngobrol di parkiran juga kan ? " irvan benar benar gelisah


" Mas bro, malam itu aku ngak kamu kasi kesempatan buat ngomong..kamu emosi duluan..ingat ngak ? " arya agak menaikkan nada suaranya


" Maaf, maaf banget ar.., malam itu aku ngak bisa kontrol diri karena emosi dengar orang orang pada salah faham dengan kehadiranku " irvan mengusap wajahnya kasar


" Makanya aku diam diam meninggalkan pesta itu dan pergi ke rumah lianti, tapi kata orang rumahnya lia pergi ke pesta ulang tahun teman sekolahnya dan belum pulang..lalu aku balik lagi ke rumah luna dengan harapan bertemu lia..menunggu di seberang jalan depan rumah luna, namun sampai rumah itu sepi lia ngak nongol " tambah irvan panjang lebar.

__ADS_1


----------------------


__ADS_2