
Hari ini Lianti berangkat ke sekolah lebih cepat dari hari hari sebelumnya, bukan karena ada jadwal piket atau takut terlambat.
" Yah gerbangnya belum dibuka " ucap Lianti menggerutu begitu sampai didepan sekolah
Lianti yang masih duduk dijok belakang didalam mobil yang dikemudikan oleh pak Mamat itu terlihat sibuk menyusung ulang dan kembali membaca kertas jawaban yang ada di sampingnya.
Ini adalah tugas pertama Lianti dari ibu Arma, memeriksa dan memberi nilai hasil ulangan teman teman dan kakak kakak kelasnya.
Sengaja Lianti datang lebih pagi, agar tugasnya ini tidak diketahui oleh siswa siswi lain. selain karena ibu Arma juga minta agar tidak membocorkan nilai ke siapapun, Lianti juga merasa tidak enak pada orang orang yang nilainya anjlok bahkan buruk
" Non..non Lia, gerbangnya sudah dibuka " kata pak Mamat membuyarkan konsentrasi Lianti
" Oiya ya, pak tolong bantu bawa kertas kertas ini ke dalam ya " ucap Lianti santun
" Baik non " pak Mamat segera melaksanakan.
Setelah meletakkan semua kertas kertas itu di ruang guru, pak Mamat berpamitan dan Lianti pun berjalan ke arah kelasnya
" Hmm belum ada siapa siapa " ucapnya sambil kembali berjalan keluar kelas setelah meletakkan tas diatas meja. ia berjalan menuju bagian samping lapangan basket didepan kelasnya dan duduk di gazebo yang ada di sana
Lianti membuka kotak bekal sarapan yang dibawanya dari rumah dan mengambil roti lapis kemudian dengan santai melahapnya
" Lia.. Lianti " dari sisi sebelah lapangan seorang cowok tampan memanggil Lianti dan berjalan tergesah gesah menghampirinya, " Tadi aku ke rumahmu, tapi kamu sudah berangkat " ucapnya dengan wajah kecewa
" Maaf, tadi aku berangkat lebih awal dari biasanya karena ada tugas dari ibu Arma " jawab Lianti tersenyum
__ADS_1
" Besok dan seterusnya biar aku yang antar jemput kamu " kata cowok itu yang tak lain adalah Irvan
" Ngak perlu gitu kali Van, rumah kita kan ngak searah " ucap Lianti seolah tidak ingin merepotkan
" Hmmm kenapa memangnya kalau ngak searah? kita kan sudah jadian dan sekarang kamu itu pacar aku " jawab Irvan sedikit ketus
" Tapi........" kalimat Lianti terputus, dia tau kalau Irvan kesal dengan ucapannya tadi.
Lianti pun tak mau memperpanjang perdebatan lagi, " Baik lah kalau begitu, terserah kamu aja " ucap Lianti sembari menghabiskan roti ditangannya
" Nah gitu dong sayang " Irvan tersenyum puas
Tak terasa setengah jam berlalu dan sekolah itu pun sudah ramai dengan siswa siswi yang lalu lalang, Lianti dan Irvan pun bergegas masuk kelas
" Oiya Van, baiknya teman teman dan semuanya jangan tahu dulu soal hubungan kita ini " ucap Lianti yang tiba tiba menghentikan langkahnya
" Aku ngak mau dikeroyok sama fan's fan's kamu " jawab Lianti sambil tersenyum
Mendengar itu Irvan pun tertawa, tanpa aba aba tangan kanannya yang tadi didalam kantong celana berpindah ke kepala Lianti dan dielusnya bebera kali
" Okey sayangku " Irvan tersenyum senang
" Sepakat ya " ucap Lianti sambil mengulurkan tangan
" Yup demi kamu, sepakat lah " jawab Irvan lalu menyambut tangan Lianti. mereka pun bersalaman.
__ADS_1
Setelah itu mereka berjalan menuju kelas karena bel tanda pelajaran di mulai sudah berbunyi..
*********************
Dan memang benar hari ini berjalan lancar, Irvan yang tetap seperti kemarin kemarin ke kantin dan berkumpul dengan teman temannya sesama cowok.
Lianti pun tetap di dalam kelas, sambil ikut bergabung dengan beberapa orang teman yang lagi bergosip
" Kalian tau ngak, si Irvan itu ternyata anak pejabat. rumahnya aja di komplek XXX. kebetulan tetanggaan dengan bos bokap aku " celoteh teman1
" Wih mantap banget, sudah cakep tajir melintir pula. aku sih ngak nolak kalau di minta jadi pacarnya " ucap teman 2 dengan bersemangat
" Aku juga mau kali, kalau di minta jadi pacarnya " jawab teman 3 penuh percaya diri
" Eh dengar dengar si R⁶ara bohay naksir si Irvan juga loh " teman 3
" Yang benar nih? wah bisa kalah dong kita " teman 1 sambil tertawa
" Nah itu dia, kan pada tau kalau si Rara itu orangnya agresif " teman 1
" Kalau kamu, gimana? " tanya teman 2 pada Lianti, dan hanya di balas dengan senyuman oleh Lianti, tanpa mereka tau kalau Lianti merasa terusik dengan bahasan mereka soal Rara.
Bukan rahasia lagi kalau selama ini Rara si gadis lincah itu selalu cari perhatian dan tebar pesona setiap saat di depan Ivan.
-----------‐----------------
__ADS_1
BERSAMBUNG