
*Sekilas Balik ke eps AWAL KEDEKATAN
Irvan yang bersikap manis dan menyatakan perasaannya lewat gambar hati yang dia selipkannya dibuku Lianti saat dipinjamnya.
Lianti yang sejak pulang sekolah siang tadi, tidak keluar kamar dan terus berbaring.
Di tangannya memegang gambar bentuk hati milik irvan itu, sesekali di pandangnya lalu terus berfikir. Lianti tak tau entah harus menjawab apa atas pertanyaan Irvan itu.
Benar benar dilema, satu sisi Lianti tidak mungkin menolak Irvan karena dihatinya sudah tumbuh rasa sayang pada Irvan sejak awal. tapi disatu sisi, Lianti ragu dengan sikap cuek yang Irvan tunjukkan padanya selama ini. ditambah lagi dengan pemikiran soal cewek yang waktu itu bersama Irvan.
" Hmmmm kenapa serumit ini ya " Lianti membatin
" Ahhhh puyeng, mending mandi biar segar " ucapnya lagi sambil bangkit dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi.
" Drikkkk drikkkkk " dering suara phonsel menghentikan tangan Lianti yang baru saja akan menutup pintu kamar mandi.
Lianti pun kembali keluar dan meraih phonselnya diatas nakas, hatinya pun kembali berdegup kencang membaca nama si penelpon.
" Selamat malam Li.., maaf kalau ganggu" ucap suara dari seberang
" Ngak ganggu kok ada apa Van? " jawab Lianti mencoba bersikap tenang
" Li, bisa ketemuan ngak? " Irvan dengan suara memohon
" Ini udah malam Van, besok aja disekolah ya " ucap Lianti
" Hmmm gitu ya, iya deh " Irvan terdengar kecewa
Mendengar suara Irvan yang terdengar kecewa, Lianti jadi ikut sedih
" Bisa sih malam ini, asal kamunya aja yang kesini, sekalian kita belajar bareng. gimana? " ucapnya mencoba mengembalikan suasana hati Irvan
" Baik lah, aku ke sana aja. tunggu ya " jawab Irvan yang kembali penuh semangat
Dengan secepat kilat Irvan bangkit dari tempat tidur, menyambar jaket yang tergeletak di sofa lalu berlari keluar kamar menuju garasai.
Sangat jelas terlihat keceriaan di wajah gantengnya, sambil bersiul siul Irvan melajukan mobil yang di pinjam dari mamanya menyusuri jalan raya menuju rumah Lianti
Tidak berselang tiga puluh menit, mobil yang di kemudikan oleh Irvan sudah berhenti di depan rumah Lianti.
Irvan pun turun dan berjalan ke arah pagar yang masih terlihat tertutup rapat.
" Tintong tintong " suara bel yang d pencet Irvan
Tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga keluar dan membukakan pintu pagar
__ADS_1
" Silahkan masuk, non Lia sudah menunggu di dalam "
" Terimakasih " jawab Irvan tersenyum
Irvan pun mengikuti langkah wanita paru baya itu berjalan ke dalam rumah. menghampiri Lianti yang sedang nonton tv di ruang tengah
" Non Lia, temannya sudah disini nih "
" Selamat malam " Irvan
" Malam juga, ayo kemari dan silahkan duduk Van " jawab Lianti saat menoleh ke arah suara di belakangnya
" Oiya bi, tolong bikinin minum ya " ucap Lianti
" Baik non " ucap asisten rumah tangga itu yang bergegas menuju dapur
" kringggkkk kringkkk "
Irvan yang sudah duduk tiba tiba di kagetkan dengan dering phonselnya, melihat nama penelpon sesaat. karena enggan menjawab telpon. Irvan malah menon aktifkan phonselnya
" kenapa ngak di jawab? " tanya Liantimenatap Irvan serius
" Ngak penting kok, lagian phonselku dikit lagi lowbet " Irvan
" Ooo gitu ya " kata Lianti singkat namun penuh tanya di kepalanya sendiri
" jujur, aku ngak bisa tenang kefikiran kamu terus " ucap Irvan lagi agak pelan sambil menunduk
" Dakkkk dikkk dukkk " jantung Lianti seolah tiba tiba berdetak kencang mendengar ucapan Irvan itu.
situasi menjadi hening sejenak saat asisten rumah tangga Lianti masuk dan meletakkan minuman dimeja. sejenak Lianti pun mencoba tuk berfikir kalimat apa baiknya yang ia katakan ke irvan
Setelah asisten rumah tangganya keluar, Lianti pun mulai bicara
" Van, sebelum ku jawab. aku mau tanya dulu. boleh? " Lianti dengan nada tegas
" Silahkan Li, apa yang ingin kamu tanyakan " Irvan
" Siapa cewek yang bersamamu waktu itu
diexselso ? " tanya Lianti
" Cewek? diexselso? kapan? " jawab Irvan sambil mengernyitkan dahinya coba mengingat
" Cewek yang waktu itu menunggumu di parkiran sekolah dan kalian pergi ke exselso " ucap Lianti sedikit jutek
__ADS_1
" Ooitu, namanya Emilia anak SMA XX. dia sahabatku sejak kecil " jawab Irvan enteng
" Kalian terlihat serasi, sangat cocok jadi sepasang kekasih. kenapa ngak jadian aja? " ucap Lianti
Irvan yang senang mulai tersenyum sejak tadi saat melihat wajah jutek Lianti saat membahas dirinya dan Emilia tak lagi bisa menahan tawa
" Hahahaha " Irvan
" Li, kamu cemburu ya? rupanya aku ngak bertepuk sebelah tangan. ternyata kamu juga suka sama aku? " ucap Irvan menggoda Lianti
" Ih apaan, siapa juga yang cemburu " jawab Lianti memacungkan bibirnya
" Itu buktinya kamu ngikutin aku dan Emilia yang lagi ngedad " ucap Irvan terus menggoda Lianti
" Pulang sana, jadian aja sekalian sama Emilia sahabatmu itu " jawab Lianti ketus lalu bangkit dari duduknya segera meninggalkan Irvan
Melihat hal itu, Irvan pun dengan sigab berdiri dan berkata dengan mantab
" I love you, aku cuma pengen dengan Erika Lianti ngak dengan yang lain "
Mereka saling diam, berdiri berhadapan dan saling menatap. Lianti yang mencoba mencari ketulusan di dalam mata Irvan, dan Irvan yang berusaha mencoba meyakinkan Lianti
" Do you love me? " tanya Irvan berharap
Lianti yang masih terus menatap Irvan pun akhirnya luluh
" Iya aku mau, i love you too "
Mendengar kata kata Lianti, Irvan tak sadar melompat dan mengayungkan ke dua tangannya yang terkepal
" yes yes yes"
Lianti yang melihat itu ikut tersenyum bahagia
" Udah deh sekarang kamu pulang dan tidur dengan nyenyak, biar besok masuk sekolah bisa keliatan seger "
" Oke sayang, upsss " Irvan menutup mulutnya
" Apaan sih " Lianti sambil tersenyum
Tak terasa malam kian larut, Irvan pun pulang dengan hati berbunga bunga.
Dan Lianti yang terus tersenyum karena bahagia siap siap tidur dan bermimpi indah
--------------------‐-------------
__ADS_1
BERSAMBUNG