
Sesampainya dirumah, Irvan langsung mengajak Arya ke kamarnya." Kita ngobrol dikamar aja, ayo.."
" Mbak tolong buatin minum dan sekalian cemilannya, bawa ke kamar aku ya mbak.." ucap Irvan saat berpapasan dengan ART diruang keluarga, lalu terus melangkah ke arah kamarnya.
" Ar, sekarang ceritain semuanya tanpa ada yang ditutup turupi lagi " pinta Irvan.
Arya pun menceritakan semua yang ia tahu dan dengar dari Lianti, mular dari A - Z tanpa ada yang terlewatkan.
Irvan pun terduduk lemas disofa saat tau Lianti hamil anaknya dan melakukan aborsi karena perkataan bodohnya waktu itu.
" Ya Allah, kenapa aku tak menyadari ini semua? padal aku juga merasakan kelainan pada diriku yang seperti orang mengidam? " ucap Irvan Lirih.
" Ar, bantu aku minta maaf pada Lia dan tolong jelasin ketidak tahuanku ini " Irvan seakan memohon.
Obrolan mereka pun terhenti sejenak karena kedatangan ART yang membawa pesanan Irvan, " Trimakasih mbak.." ucap Irvan setelah minuman tersaji dan ART itu undur diri.
" Maaf mas bro, tapi gimana hubungan kamu dengan Luna? " tanya Arya hati hati, tak ingin Irvan tersinggung seperti waktu itu.
" Aku dan Luna ngak ada hubungan apa apa, dianya aja yang suka sok dekat " Irvan mulai terbuka.
" Oogitu, kirain kalian udah jadian..jadian..jadian.." Arya seakan mengingat sesuatu.
" Astaga Van, aku hampir lupa. Kak Ari waktu itu nembak Lia dan kemungkinan hari ini dijawab " ucap Arya panik.
" Aapa? Lia mau jadian sama kak Ari? ngak ngak bisa biarin Ar.." ucap Irvan dengan suara bergetar seakan takut.
Dengan cepat diambilnya phonsel dari dalam tas dan mencoba menghubungi Lianti, " Telepon yang anda tuju sedang diluar servis area " jawab operator.
__ADS_1
" Ar, phonsel Lia ngak aktif " ucap Irvan panik, " Coba kamu yang telpon " tambahnya lagi.
" Lah kan ngak aktif katamu, gimana cara aku hubunginya? " tanya Arya tak mengerti.
" Achhhh " teriak Irvan stress.
" Tunggu, aku akan coba hubungi kak Ari. Kali aja Lia ada bersamanya " Arya mencoba menghibur Irvan yang sudah seperti orang gila.
Sesaat kemudian, " Drekkk drekkk drekkk" nada dering tersambung. Namun sampai deringan berakhir, tak juga dijawab oleh pemilik nomor yang dituju.
" Ngak diangkat.." ucap Arya memperlihatkan phonselnya pada Irvan.
" Coba lagi Ar.." ucap Irvan tidak tenang.
" Drekkk drekkk drekkk " pangilan pun berakhir dan tetap tidak dijawab.
" Kirim nomornya ke aku Ar, biar aku yang coba hubungi " ucap Irvan agak kesal.
" Oke bro.." Arya pun focus pada phonselnya, " Thinggg " notif pun terdengar dari phonsel Irvan.
Setelah membuka pesan Arya, Irvan pun buru buru menghubungi Ari. " Drekkk drekkk drekk " tetap sama tak dijawab.
Dengan nada emosi Irvan mengirim chat pada Ari, " Bro kalau kamu laki laki, angkat panggilanku " ketik Irvan dengan notif marah mewakili suasana hatinya saat ini.
**
" Drekkkk drekkk drekkk " panggilan masuk di phonsel Irvan.
__ADS_1
" Ada apa? kamu nantangin aku? sayangnya aku lagi malas berantem, moodku lagi bagus. Mau tau karena apa? hari ini Lianti menerima cintaku dan kami sudah jadian.. hahahaha " ucap Ari seakan mengejek Irvan.
" Mana Lianti? beri phonselnya aku mau ngomong " teriak Irvan.
" Kalau aku ngak mau, kamu mau apa? " jawab Ari memancing ke marahan Irvan.
" Woi an***jrit, aku tidak ada urusan sama kamu. Cepat rusuh Lianti ngomong " bentak Irvan.
" Kamu siapa nyuru nyuru gitu? aku tidak ijinin pacarku bicara dengan laki laki lain sekalipun itu mantannya " Ari makin menjadi.
" Brengsek, katakan kamu dimana sekarang..biar aku samperin dan kita selesaiin ini secara jantan " Irvan sudah tidak bisa menahan amarahnya.
" Idih ganggu orang pacaran aja nih, nanti lah kalau ada perlu..aku lagi sibuk...tut tut tut.." sambungan terputus.
" Drekkk drekk drekkk.." panggilan keluar dan terputus di deringan ketiga, " Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif.
" Ba**i, Anj***rit, awas kau " Irvan membanting phonselnya ke lantai dan hancur seketika.
Arya yang menyaksikan itu mencoba menenangkan Irvan, " Tenang dulu mas bro, kalau dalam keadaan emosi seperti ini kamu tidak bisa berfikir jernih. Yang harus kita hubungi tuh Lia, bukan kak Ari. Jadi jangan terpancing " ucap Arya.
" Sekarang baiknya kamu cuci muka atau mandi dulu sana biar itu hati dan otak dingin, lalu kita coba berfikir lagi gimana caranya ngomong sama Lia tanpa emosi " Arya terus saja membujuk Irvan.
Irvan menuruti saran Arya, ia berjalan ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian terdengar suara air dari dalam sana.
-----------------------
BERSAMBUNG
__ADS_1