
Beberapa hari berselang Emilia mengajak Lianti bertemu, " Sorry agak telat..." ucap Lianti pada Emilia yang sedang duduk menikmati secangkir capucino panas.
" Oh ngak apa apa, ayo silahkan duduk " Emilia mendongak lalu berdiri dengan senyum dibibir menyambut kedatangan Lianti.
" Mau pesen apa? ngobrol nyantai aja ya sambil minum atau makan .." ujarnya lagi saat ia dan Lianti duduk berhadapan.
" Sorry sekali lagi, aku ngak bisa lama lama. dua jam lagi aku ada bimbel " kata Lianti
" langsung pada intinya aja, apa yang mau kamu omongin ke aku Emilia? " tambahnya lagi tanpa basah basih.
Emilia memiringkan tubuhnya mengambil tas yang diletakkan disisi kirinya dan merogoh isinya, sepertinya ia mencari sesuatu. Tak berselang beberapa saat dikeluarkannya sebuah phonsel dari dalam sana.
" Ini phonsel punya Irvan " ucap Emilia sambil meletakkan sebuah phonsel diatas meja, tepat dihadapan Lianti.
" Apa ini? maksudku kenapa kamu kasi ke aku? kan bisa langsung kasi Irvan aja? " tanya Lianti agak sedikit gugup. Seketika ia merasa sedih dan tidak menyangka kalau Irvan ternyata membohonginya.
" Baiknya kamu tanyain pacar kamu itu, kok phonselnya bisa sama aku ya? " senyum kemenangan jelas terpancar diwajah Emilia dengan ucapnya itu.
__ADS_1
" Mmm maaf ya Lia, mungkin kamu belum faham soal kedekatan aku dengan Irvan.." Emilia dengan senyum puasnya
" Tapi aku berharap kamu bisa terima semua kenyataan ini..dan bisa mengerti.." tambahnya lagi.
Lianti mencoba mencerna apa yang didengarnya dari Emilia, tak ingin kegelisahannya terlihat oleh lawan bicaranya, Lianti pun kembali memakai kaca mata hitam yang tadi diletakkannya diatas meja guna menutupi matanya yang sudah berkaca kaca. Diraihnya tas, kunci mobil dan segerah berdiri.." Okey deh kalau begitu aku pamit, dan ini aku bawah " ucapnya saat mengambil phonsel Irvan lalu dimasukkan ke dalam tas.
" Thanks ya, aku duluan.." ucapnya lagi sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Emilia.
*****************
Plash Back On
" Hah, gimana ceritanya sih sayang ? apa kamu terluka sama jambret itu? " Lianti dengan ekspresi khawatirnya
" Ngak kok sayang, malam itu saat kamu pulang..tanpa sadar aku tuh terus berdiri didepan cafe memandang ke arah jalan dimana taksi yang membawa kamu pergi " Irvan terdiam, menarik nafas sejenak lalu melanjutkan kata katanya, " tiba tiba ada yang merampas phonsel itu dari tanganku, aku baru tersadar ketika dua orang berboncengan motor itu sudah tancap gas dan melaju menjauh "
" Syukurlah sayang, kalau kamu ngak diapa apain sama tuh jambret " ucap Lianti dengan legah
__ADS_1
" Tapi sayang..phonselku..." kata kata Irvan sedikit terdengar kesal
" Apaan sih, udah iklasin aja itu mah bisa beli lagi tau..." ucap Lianti kesel
" Iya iya sayang, nanti minta beliin sama papa..tapi bibirnya jangan manyun gitu dong..hehehe " jawab Irvan dengan tertawa kecil, sambil mencolek hitung Lianti.
Plash Back Off
***************
Sepanjang jalan Lianti tak henti hentinya bergumam dan sesekali menarik nafas panjang dan dihempas dengan kuat, ia berusaha tetap tenang dan tak mau terpengaruh dengan Emilia.
Mencoba berpositif tingking karena tidak ingin moodnya rusak dan menghancurkan seketika kesiapannya menghadapi ujian besok.
" ### Lianti, Erika lianti..kamu harus bisa menahan ini..kamu pasti bisa..tersenyumlah " ucapnya penuh semangat, walau tak henti hentinya air bening itu mengalir membasahi kedua pipi mulusnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG