
Lianti berlari kecil menyusuri koridor menuju parkiran sekolah dimana mobil Ari berada.
Melihat kedatangan Lianti dari kaca spion, Ari pun membuka perlahan kaca mobil. Dan ketika Lianti berhenti disisi mobil dengan peluh dan nafas yang ngos ngosan, " Ngak usah lari lari nona, kalau jatoh gimana? aku menunggu disini dengan setia dan ngak kemana mana kok " goda Ari.
" Ih apaan sih kak " ucap Lianti dengan wajah bersemu merah karena malu.
" Kamu makin menggemaskan kalau tersipu malu seperti itu, beneran sumpah " ucap Ari, lalu tersenyum licik.
" Udah dong kak, gerah banget nih..digodain mulu, diajak masuk kek biar adem " Lianti mulai bercanda.
" Iya iya, silahkan masuk lewat sebelah nona canrik " ucap Ari ikutan bercanda.
Setelah Lianti masuk dan duduk dengan manis, Ari pun melajukan mobil meninggalkan sekolah.
" Drekkk drekkk drekkk " phonsel Ari berdering, namun pemiliknya hanya melirik sekilas untuk melihat nama penelpon yang tertera dilayar.
" Drekkk drekkk drekkk " lagi lagi phonsel Ari berdering tapi tak digubris.
Kurang lebih 10 kali phonsel Ari berdering, hal itu mulai mengganggu indra pendengaran Lianti, " Dijawab dong kak, kali aja penting " ucapnya.
" Nanti aja, ngak penting penting amat sih. paling juga mau ngajakin nongkrong " ucap Ari cuek.
Setelah melaju sekitar 1 jam ke arah luar kota, mobil yang dikemudikan Ari pun berhenti didepan disebuah rumah yang nampak asri, " Rumah siapa kak? " tanya Lianti, saat mengamati bangunan rumah bergaya klasik itu.
" Rumah teman, ayo kita turun " jawab Ari singkat.
" Tapi kok sepi ya kak? " tanya Lianti heran.
" Temanku dan keluarganya ngak tinggal disini, kadang kadang rumah ini cuma dijadikan tempat ngumpul mereka. Yah..semacam tempat peristirahan gitu kalau liburan atau capek dengan rutinitas sehari hari " ucap Ari panjang lebar.
" Udah ah..ayo turun, nanyak nanyaknya nanti aja " tambah Ari sambil membuka seat belt yang mengikat tubuhnya sejak tadi, kemudian turun dari mobil.
Lianti pun mengikuti gerakan Ari, dan mereka pun berjalan beriringan naik tangga menuju pintu utama rumah itu, " Silahkan masuk nona " ucap Ari tatkala membuka pintu.
" Kak, kok main masuk gitu aja? salam dulu kek biar yang empunya rumah tau dan dengar kalau ada tamu " Lianti mengingatkan.
" Percuma, mereka tak akan dengar, rumah ini terlalu besar. ayo masuk, mereka sepertinya ada ditaman belakang " jawab Ari santai.
Mereka pun berjalan memasuki rumah besar itu, setelah naik turun tangga dan melewati beberapa ruangan, " Hmm kenapa kak Ari seakan tau banget dengan seluk beluk rumah ini? segitu seringnya kah ia ke sini? " gumam Lianti dalam hati sambil terus mengekori Ari.
Sampailah mereka diruang makan yang cukup mewah dengan dinding dan pintu kaca yang membatasi ruangan itu dengan taman belakang, " Itu mereka " tunjuk Ari.
__ADS_1
" Akhirnya pemilik villa nongol juga " ucap salah seorang dari mereka, saat Ari dan Lianti mendekat.
Suasana taman yang begitu indah dengan kolam renang yang dikelilingi pohon teduh dibawah beberapa pohon terdapat meja kursi yang ditata layaknya sebuah tempat nongkrong.
" Maaf bro tadi agak sedikit macet, oiya ini Lianti..mungkin udah pada kenal kali ya? anak sekolahan kita juga, setahun dibawah kita " Ari memperkenalkan Lianti pada teman temannya.
Beberapa dari mereka saling memandang dan satu diantaranya membuka suara, " bukannya dia yang..." ucapan itu tak diselesaikan. melihat tatapan tak suka yang Ari tunjukkan.
" Eh sepertinya kita harus pesan makanan juga deh, kurang tau kalau cuma minum dan ngemil doang " ucap seorang lagi untuk mengalihkan bahasan.
" Iya nih, Ri..sekarang giliran kamu yang order. Sebagai hukuman karena kamu datangnya telat " timpal seorang lagi.
" Hmm baiklah, kalian mau makan apa? nih pesan sendiri " ucap Ari sambil meletakkan phonselnya dimeja.
Ari menarik sebuah kursi untuk Lianti, " Duduk sayang " ucapnya pada Lianti, kemudian ia pun duduk disebelah wanita itu.
Tak berselang lama setelah minum beberapa kaleng, " Bro kalian lanjut aja, aku mau ke kamar dulu sebentar " Ari pamit.
" Lianti, ayo kamu ikut aku. Bisa bisa kamu dimangsa sama mereka kalau aku tinggal disini " canda Arya dan dibalas senyum oleh Lianti.
Ari pun berjalan masuk sambil menggandeng tangan Lianti tanpa peduli pada sekitar dan tanpa persetujuan si empunya, " Kamu mau berenang? " tanyanya pada Lianti.
" Ngak ah, bisa jadi tontonan akunya dong, kan secara aku cewek sendian disini.
" Mang kak Ari kenal dan nyimpan kontak pacar mereka semua " tanya Lianti heran.
" Ngak juga sih, cuma kenal si lola pacarnya akbar. kan seangkatan kami juga disekolah " ucap Ari menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Sesampainya mereka disebuah kamar, Lianti menatap secara bergantian beberapa foto ukuran besar dalam figura berwarna gold, " Hmm ini rumah kak Ari kan? itu ngak mungkin kebetulan ada disini " tanyanya lalu menunjuk pada foto foto Ari, yang terpajang dikamar itu.
" Villa keluargaku tepatnya, maaf kalau ngak ngomong sejak tadi. Aku fikir, buat apa juga? " ucap Ari santai.
" Pantesan main masuk dan sudah hafal betul isi rumah ini, eh villa ini " ucap Lianti mengamati isi ruangan itu.
" Hahahaha..kamu menggemaskan " Ari tertawa sambil memandang Lianti.
Lalu Ari berjalan ke arah lemari dan mengambil handuk, lalu tanpa sungkan membuka bajunya dihadapan Lianti.
" Eh kak Ari mau ngapain? " Lianti terkejut.
" Mau mandi, kamu mau ikutan? ayo sekalian mandi bareng " goda Ari.
__ADS_1
" Idih ogah " ucap Lianti memanyunkan bibirnya.
" Syukur syukur kalau mau, kalau ngak mau yah ngak apa apa " ucap Ari, " Istirahat dikasur gih kalau gitu, sambil nungguin " Ari pun bergegas ke Kamar mandi.
*
Tak berselang beberapa menit ritual Ari dikamar mandi pun selesai, ia keluar dengan rambut yang masih basah dan dengan handuk yang melilit menutupi sebagian tubuhnya.
" Kamu begitu cantik " ucapnya saat duduk disisi Lianti yang tertidur diatas kasur king zize miliknya.
Ada sesuatu dibawah sana yang seketika ikut terusik tatkala Ari menatap lekat pada wajah, bibir dan sesuatu yang menonjol dan sedikit terlihat karena kancing atas kemeja putih wanita itu terbuka.
Tanpa berfikir lagi Ari mengikis jarak dan mendekatkan bibirnya kebibir ranum yang nampak sedikit terbuka itu, dikecupnya perlahan dan akhirnya ia pun semakin tak tahan dengan hasrat yang mulai menggebu.
Lianti yang masih terletap dialam mimpi tak menyadari, dirinya seakan tak terusik dengan apa yang dilakukan Ari.
Bak kesetanan dan nafas yang sudah memburu dengan perlahan Ari membuka satu persatu kancing baju Lianti, dada putih mulus itu pun kini terpampang nyata di depan Ari. Disentuhnya dua gunung kembar yang masih tertutupi kain dengan hati hati, " Ach.." lenguhan terdengar dari bibir wanita itu tanpa sadar.
Bak ganyun bersambut mendengar itu Ari pun makin bergairah, ditariknya keatas kain penutup gunung kembar itu dengan pelan. Dan ia pun makin menggila.
Lianti sesaat ikut menikmati permainan gila Ari dalam tidurnya, beberapa saat ia belum menyadari kalau ini bukan mimpi. Dan saat merasakan is**pan dan rem**san yang benar benar membuatnya tak tahan, Lianti pun membuka matanya.
" Kak Ari, apa yang kakak lakukan? " ucapnya seketika mendorong Ari agar menjauh darinya, Lianti bangun dan memasang kembali bra dan kancing bajunya.
" Lianti ayo lah, kita sama sama butuh ini. Nikmati saja seperti tadi " ucap Ari yang sudah benar benar tidak tahan.
" Tidak kak, jangan.. jangan lakuin ini aku mohon " ucap Lianti Lirih.
" Kamu jangan munafik, bukannya kamu sudah melakukan ini berulang kali kan dengan Irvan? masa dia kamu bolehkan mencicipi tubuhmu dan aku tidak? " teriak Ari marah.
Lianti sangat terkejut mendengarnya, perasaan kagum pada Ari selama ini seketika hilang berganti perasaan benci, " Kak, soal apa yang terjadi antara aku dan Irvan itu sebuah kesalahan dan aku tak ingin mengulanginya lagi " ucap Lianti sambil menangis.
" Ah dasar munafik " Ari mengusap wajahnya kasar dan berjalan ke kamar mandi.
Melihat itu Lianti bergegas berdiri lalu berlari keluar kamar, ia terus berlari melewati ruangan untuk mencapai pintu utama. " Kamu kenapa? " tegur salah satu teman Ari yang kebetulan berpapasan di pintu dengannya.
Tanpa menghiraukan sapaan laki laki itu, Lianti terus berlari keluar dan menjauh dari rumah itu untuk mencari taksi.
Sepanjang jalan Lianti menangis, " Ternyata semua laki laki sama saja " gumamnya dalam hati.
-----------------------------------
__ADS_1
BERSAMBUNG