SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
FARIZ CANDRA WIJAYA


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat setelah seminggu lebih dirawat dan akhirnya Lianti pun diijinkan untuk pulang oleh dokter, " Kamu ngak bisa secepatnya balik ke kota M, paling ngak tunggu sampai kondisimu benar benar pulih " ucap Faiz serius menoleh dan menatap Lianti yang duduk di jok belakang


" Iya benar tuh mas, Lia baiknya istirahat dipuncak untuk sementara waktu. nanti aku yang cari alasan dan bilang ke mama " Siska ikut angkat bicara


Lianti yang duduk disamping Siska, langsung mencubit punggung sepupunya itu tanda protes.


" Apaan sih kak, kenapa ngak istirahat dirumah aja, kan bisa? aku ngak mau ngerepotin mas Faiz mulu " ucap Lianti sedikit pelan


" Ngereporin apa dek? kamu nganggap aku orang lain kalau mikirnya kayak gitu " Faiz dengan nada kecewa


" Maaf mas, bukan begitu..maksud aku.." ucapan Lianti menggantung


" Sudah nurut aja, ini juga biar tante weni ngak curiga " kata Faiz sedikit memaksa


Dan akhirnya Lianti pun pasrah, ia tau benar kalau yang Faiz lakukan itu demi kebaikannya juga.


" Kita langsung ke puncak saja, soal ijin biar nanti aku telpon om Arman " Faiz sejenak menatap Lianti dari kaca spion. Kemudian, " Tomi, putar arah..kita lewat jalan tol, biar ngak kemalaman tiba divilla


" Baik tuan muda " ucap laki laki yang bernama Tomi yang tak lain adalah asisten pribadi dan orang kepercayaan Faiz


***********


Malam semakin larut, udara berangsur angsur mulai dingin dan suasana didalam villa sudah nampak sepi setelah makan malam berakhir. Para penghuni beranjak keperaduannya masing masing


Diruang tengah seorang laki laki muda sibuk menyusun kayu didalam tunggu perapian dengan cekatan, tak membutuhkan waktu lama api pun melahap kayu dan ruangan sekitar seketika hangat.


" Selamat malam mas Faiz.." suara seorang wanita menyapa dan langsung duduk disofa


" Iya selamat malam juga " jawab Faiz menoleh ke sumber suara


" Kenapa belum tidur? " ucapnya lagi


" Belum ngantuk, mas Faiz kenapa masih disini, belum ngantuk juga? " tanya wanita yang tak lain adalah Siska


" Ini baru aja selesai ngecek laporan yang dikirim Tomi " Faiz menjawab sambil berjalan ke sofa dan duduk tak jauh dari tempat Siska duduk


" Lia, sudah tidur? apa obatnya sudah diminum? " tanya Faiz lagi


" Sudah sejak tadi, kelihatannya tidur Lia begitu lelap " jawab Siska santai

__ADS_1


Faiz menuang teh hangat ke dalam dua cangkir, " Silah diminum, biar tubuhmu hangat " ucapnya sambil meletakkan secankir teh diatas meja tepat didepan Siska


" Terimakasih " Siska meraih cangkir teh lalu menyesapnya. kemudian, " Mas Faiz, kelihatan begitu khawatir soal Lia " ucap Siska dengan nada aneh


" Hmm iya, aku sangat sangat ingin Lia bahagia dan tersenyum ceria seperti saat pertama aku mengenalnya " Faiz tersenyum membayangkan masa masa itu


" Mas maaf sebelumnya, apa boleh aku bertanya? " Siska mengalihkan pembahasan


" Silahkan, mau tanya soal apa? " jawab Faiz sambil bermain phonsel


" Kenapa mas Faiz bersikap begitu manis padaku? apa karena aku sepupunya Lia? " ucap Siska memberanikan diri


" Maksudnya? maaf aku kurang ngerti " Faiz meletakkan phonselnya dimeja dan menunggu jawaban Siska


Duduk dan ditatap oleh laki laki yang sejak belakangan ini mulai mengusik hatinya, Siska jadi salah tingkah sendiri, " Maksud aku, apa kita tidak akan sedekat ini dan mas Faiz tidak akan mengajak aku ke villa keluarga Wijaya ini andai Lia sepupuku tidak ada disini? " Siska mengungkapkan dengan hati hati


" Hmm Siska, mungking kamu sudah dengar kalau aku pernah nembak Lia beberapa waktu lalu kan? " Faiz menarik nafas dan dihembuskan perlahan.


Setelah tau arah pembicaraan Siska, Faiz mencoba menjelaskan agar Siska tak salah faham dengan sikapnya.


" Tapi mas Faiz ditolak kan? dan kalian sepakat cuma sebatas kakak dan adik gitu? " Siska mulai bicara agak keras


" Iya itu memang benar, tapi jujur aku terus menunggu sejak hari itu. Dan Tuhan seakan mempertemukan aku dan Lia dengan kejadian yang menimpanya ini " Faiz lagi lagi menarik nafas, seakan butuh banyak udara untuk mengatakan apa yang ia rasakan selama ini


Gaiz sekerika berdiri lalu berjalan ke arah tunggu api dan menatap tajam kobaran api, " Aku laki laki dingin, yang cuma focus dengan kerjaan, walau aku dikelilingi banyak mahluk yang disebut wanita, tapi aku samasekali tidak ads satu pun yang bisa membuatku tertarik. Dan saat aku bertemu Lia, entah kenapa dia berhasil mengalihkan duniaku.." ucap Faiz yang berdiri membelakangi Siska


Dan tiba tiba Siska bangkit dan berlari ke arah Faiz, " Aku aku mencintaimu mas Faiz, aku mohon lupakan Lia yang sudah menolakmu.." ucapnya sambil memeluk Faiz dari belakang


Faiz yang terkejut seketika melepas paksa tangan Siska yang melingkar ditubuhnya dan berbalik menatap wanita itu tajam, " Nona Siska, tolong jaga sikap dan ingat batasan anda " ucapan tegas keluar seakan peringatan keras dari seorang tuan muda Faris Candra Wijaya, CEO dan pewaris tahta Wijaya grup


Siska yang tersungkur dan terjatuh ke lantai karena hentakan tangan Faiz yang begitu kuat, hanya bisa menangis merasakan perubahan sikap Faiz dan hatinya sangat terluka, " Tidak bisakah mas Faiz sedikit saja memberiku kesempatan? " ucap Siska lirih


" Maaf nona Siska, anda sudah salah mengartikan sikap saya.." ucap Faiz tak lagi ramah


Faiz berjalan menuju meja melewati Siska yang masih duduk dilantai dengan berurai air mata, diraihnya laptop dan segera membereskan tas kerjanya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


***********


Lianti terbangun saat cahaya pagi mulai menerangi kamar, beberapa saat ia mengumpulkan kesadaran dan merenggangkan otot ototnya. Kemudian bergegas membuka jendela seketika udara sejuk pun masuk.

__ADS_1


" Selamat pagi dek.." suara dengan nada berat terdengar dari arah bawah


Lianti pun mengedarkan pandangan mencari sumber suara, " Pagi juga mas Faiz " ucap Lianti agak keras setelah matanya bersitatap dengan pemilik suara


" Ayo turun, kita sarapan disini " ucap Faiz dan dibalas senyum dan anggukan oleh Lianti


Dengan bersemangat Lianti pun bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi, setelah selesai ia pun berganti pakaian dan segera keluar kamar.


Sebelum keluar villa, ia berhenti didepan sebuah kamar,


" Tokkk tokk tokk "


" Kak Siska, kak Siska "


" Kak, bangun kak "


" Ayo kita sarapan "


Lianti mengetok kamar yang ditempati Siska


" Aku masih ngantuk Lia, kamu duluan aja sana " ucap Siska saat pintu kamar terbuka


" Kakak begadang ya? baiklah kalau begitu, silahkan lanjut tidurnya " Lianti pun melanjutkan langkahnya setelah pintu kamar Siska kembali tertutup


Lianti berjalan menuju gazebo dimana Faiz menunggunya, " Selamat pagi mbak " ucapnya ramah saat berpapasan dengan seorang pelayan


" Selamat pagi non " jawab pelayan itu sambil membungkuk memberi hormat


Lianti pun tersenyum saat matanya bertemu dengan tatapan teduh laki laki yang sejak tadi menunggunya


" Lama banget sih sayang, aku sudah lapar nih " ucap Faiz tersenyum


" Ih apaan sih mas Faiz ini, becanda mulu " ucap Lianti lalu duduk,


" Siska masih tidur, kita sarapannya berdua aja nih mas.." tambahnya lagi


" Ooo.." Faiz ber Ooo ria saja dengan santai, seolah tak menanggapi.


" Ayo makan, keburu dingin tuh " mengalihkan

__ADS_1


 


BERSAMBUNG


__ADS_2