
"Kringggg..kringgg..kringggg " bel tanda jam istirahat berbunyi nyaring, siswa siswi penghuni kelas bergegas keluar setelah guru mata pelajaran meninggalkan kelas.
Begitu pula dengan Lianti, ia berjalan menyusuri koridor menuju kelas IPA 1 untuk bertemu laki laki yang beberapa waktu lalu menanamkan benih dirahimnya.
Setelah tiba di depan kelas itu Lianti celingak celinguk mencari sosok Irvan diantara beberapa siswa yang lagi asik ngobrol di dalam kelas.
" Lia? apa kabar? " Arya yang melihat Lianti segera menghampiri
" Ar..Irvan mana? apa ngak masuk? " tanya Lianti tanpa menjawab pertanyaan Arya sebelumnya.
" Hmm Irvan baru aja ke kantin " jawab Arya seadanya
" Thanks ya, kalau gitu aku nyusul ke kantin aja " ucap Lianti dan hendak melangkah
" Kamu belum sehat betul deh kayaknya, masih terlihat pucat dan tampaknya berat badanmu turun drastis. mang sakit apa sih? " Arya mengomentari apa ia dilihat dari tampilan wanita yang berdiri di depannya.
" Aku habis dirawat karena maag akut " jawab Lianti berbohong
" Kalau gitu baiknya kamu balik aja ke kelas, biar nanti aku sampein ke Irvan dan minta dia samperin ke sana " ucap Arya agak sedikit canggung
" Kamu ada yang disembunyiin ya? aku merasa ada sedikit aneh disini, ada yang ingin kamu katakan padaku, Ar..? " selidik Lianti.
" Ngak, ngak gitu kok. Aku cuma khawatir dengan kondisimu, kan kita sama sama tau gimana padetnya dikantin " ucap Arya mengelak
" Iya juga sih, tapi ngak apa apa. Aku kan sekalian beli minum juga " Lianti tersenyum, namun ia merasa memang ada yang aneh dari sikap Arya kali ini
" Woi kok malah bengong gitu? udah ahh aku ke kantin aja " ucap Lianti mengibas ngibaskan tangannya tepat didepan wajah Arya, lalu melangkah pergi
Arya yang tersentak kaget, " Tunggu Lia, aku ikut " ia pun berlari mensejejeri langkah Lianti
**
Beberapa meter dari kantin kebisingan suara gelak tawa serta suara suara teriakan siswa siswi yang minta pesanan pada ibu kantin sudah menjadi gambaran kepadatan didalam sana.
" Lia tunggu, kamu yakin pengen ke kantin? noh rame banget, entar sesak loh yang ada " Arya menghentikan langkah Lianti dan masih berusaha menghalangi wanita itu
" Apaan sih Ar.., kantin kan memang selalu rame. Ada ada aja deh..ayo buruan " ucap Lianti melanjutkan langkahnya.
" Mampuslah..." ucap Arya saat Lianti sudah berdiri dan menghentikan langkahnya dipintu kantin
" Arya, coba jelaskan sama aku ada apa ini? benarkah yang aku lihat? dia Irvan kan? " ucap Lianti dengan mata nanar.
__ADS_1
" Maaf Lia, aku juga tidak mengerti apa yang ada difikiran si brengsek itu " ucap Arya mencoba menenangkan Lianti.
" Sudahlah, ayo kita balik ke kelas " tambahnya lagi sambil menarik lengan wanita itu.
" Ngak Ar.., aku harus minta penjelasan dari dia dulu. Kalau kamu mau balik silahkan duluan aja " ucap Lianti, lalu melangkah masuk menuju meja pojokan dimana Irvan dan Luna duduk berdua saat ini.
Arya hanya diam berdiri mematung di pintu kantin menatap Lianti yang terus berjalan ke arah Irvan, " Maaf ganggu, bisa ngomong Van. Sebentar aja?" ucap Lianti berusaha terlihat tegar
" Silahkan duduk " ucap Luna sambil mengapit lengan Irvan yang tampak terkejut dan diam
" Maaf ya Lun, aku cuma butuh ngomong dengan dia.." Lianti terdengar sinis
" Van, aku ngak mau kamu ngomong berdua sama dia " ucap Luna pada Irvan dengan nada manja
Irvan yang terkejut dengan kemunculan tiba tiba Lianti tampak masih belum bisa menguasai diri, ia seperti orang linglung,
" Sisilahkan duduk Lia " ucapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan
" Ngak disini Van, dan cuma kita berdua " Lianti sinis dan menatap Luna yang terus menempel pada Irvan
" Hee, sadar diri dong, Irvan ngak mau lagi berurusan sama cewek penghianat macam lo. pacarannya sama siapa hamil dan aborsi dengan cowok lain ihhh " Dengan tanpa basa basi Luna mengejek Lianti
Lianti yang sudah kesal karena sikap Irvan yang cuma diam, menjadi semakin kesal. Emosinya mencapai puncak, diraihnya gelas berisi kopi di depan Irvan dan disiramkan ke arah Luna.
" Lia, apa yang kamu lakukan? " ucap Irvan spontan, ia pun terkena siraman kopi dilengannya yang sedang diapit Luna
" Itu hadiah perpisahan dari aku, semoga langgeng ya kalian, Thanks buat segalanya " ucap Lianti, kemudian bergegas pergi, di ikuti Arya dibelakangnya
Irvan yang spontan berdiri dan ingin mengejar Lianti kembali terduduk karena langsung ditarik oleh Luna, " Jangan pergi, aku butuh kamu disini, Ini sepertinya perih banget " Luna mengibas ngibaskan tangan didepan wajahnya, seolah merasa kesakitan.
Suasana kantin yang tadinya bising seketika hening karena insiden penyiraman kopi tadi,
" Mampus lo, pelakor "
" Berani juga ya Lianti itu "
" Cowok ngak berperasaan "
" Jadi, beneran sudah aborsi? "
Suara bisik bisik kini mulai terdengar disana sini.
__ADS_1
Irvan yang menyadari itu seketika melepas tangan Luna yang sejak tadi memeluk lengannya, " Malu dilihatin orang, ayo aku antar ke UKS biar lukanya cepat diobati " Irvan pun berdiri bergegas pergi
" Van, tunggu.." Luna pun bangkit dan mengikuti Irvan keluar dari kantin, tanpa menghiraukan semua mata yang menatapnya
Mereka berjalan ke toilet sebelum ke UKS, " Kamu bersih bersih dulu sana " ucap Irvan saat mereka sudah didepan toilet
" Anterin napa, perih ini Van " ucap Luna dibuat buat seakan ia menderita luka bakar serius
" Tapi ini toilet cewek Lun, mana mungkin aku ikut masuk? " Irvan merasa gusar
" Baiklah, tapi kamu tetap disini nungguin. jangan tinggalkan aku ya Van.." lagi lagi Luna dengan sikap tidak tau malunya memeluk lengan Irvan
" Iya aku tunggu disini, buruan sana.." ucap Irvan tanpa ekspresi.
Beberapa menit kemudian mereka pun kembali menyusuri koridor menuju UKS, Luna yang berjalan disisi Irvan tersenyum penuh kemenangan,
" Ngak apa apalah disiram seperti tadi, cemong cemong deh..asal Irvan tetap disisiku. Dasar bodoh Lianti itu..hahaha " Sorak Luna dalam hati.
***
Setelah mendapat pengobatan diUKS Irvan mengajak Luna balik ke kelas, namun ditolak oleh wanita itu.
" Kita pulang aja yuk Van, moodku udah berantakan dan ngak bisa balik gegara si cewek brengsek itu " ucap Luna kesal
" Hmm maaf Lun, aku yang salah dalam masalah ini. Wajarlah Lianti marah melihat kita tadi karena dia masih pacar aku " entah mengapa Irvan agak kesal mendengar Luna menyebut Lianti wanita brengsek.
" Van, sadar dia itu sudah celakai kita loh. kenapa masih dibelain sih? " Luna ikut ikutan kesal. " lagian kamu sudah dihianati sampai segitunya, ingat itu " tambah Luna mencoba kembali mempropokasi Irvan
" Hmm kalau kamu mau pulang ngak apa apa, nanti aku bantu minta ijin ke ruang BK " Irvan yang masih bimbang mencoba tenang dan tak mau terlalu berfikir dulu.
" Ngak, aku maunya pulang bareng kamu Van " Luna merajuk
" Luna, tolong kasi aku ruang untuk berfikir. Kepalaku sudah mau pecah sejak tadi, jadi aku mohon biarkan aku sendiri dulu " ucap Irvan dengan nada tegas
" Tapi Van..." ucapan Luna menggantung
" Aku mohon Lun, tolong kali ini aku benar benar ingin sendiri " ucap Irvan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada dan merapatkan kedua telapaknya.
Irvan pun pergi meninggalkan Luna yang masih diam mematung ditempatnya berdiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG