SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
KEUSILAN ARYA


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Irvan terlihat sudah rapi dengan seragam putih abu abunya duduk menikmati roti lapis kesukaannya sambil menunggu kedua orang tuanya keluar kamar untuk sarapan.


" Pagi ma.., papa mana? " ucap Irvan, saat mamanya turun dari lantai atas


" Pagi sayang, papa masih siap siap sebentar lagi juga turun " kata mama Irvan sambil berjalan ke arah meja makan dimana putranya duduk menikmati sarapan.


" Ma, pinjem mobil dong " ucap Irvan santai


" Tumben anak mama mau bawah mobil ke sekolah, biasanya kan ogah " jawab mama Irvan sambil senyum senyum


" Ada apa nih pagi pagi sudah heboh berdua ? " papi Irvan menimpali sambil menghampiri istri dan anaknya yang sedang sarapan. " Oiya Van, gimana kondisi teman mu yang kata mama kena tonjok gara gara kamu? " ucapnya lagi sambil duduk disebelah irvan


" Lia udah sehat pa, hari ini katanya sudah bisa sekolah lagi " jawab Irvan dengan mimik serius


" kalau gitu pake mobil mama kamu aja, sekalian jemput temanmu itu, pastiin dia sudah benar banar sehat " papi Irvan pun menanggapi serius


" Iya pi, kalau gitu aku berangkat duluan " ucap Irvan setelah selesai sarapan.


" Oiya Van, sampaikan permintaan maaf kami pada teman kamu dan keluarganya atas kejadian ini ya " timpal papi Irvan lagi yang dibalas dengan kata, " Siap boss " oleh Irvan sambil tersenyum


Setelah berpamitan pada ke dua orang tuanya, Irvan pun segera berangkat menuju rumah Lianti.


karena masih terlalu pagi, Irvan pun melajukan mobilnya dengan santai dan sekitar dua puluh menit sampailah didepan rumah Lianti.

__ADS_1


" Pagi, Lia belum berangkat kan Mbak? " tanya Irvan saat seorang asisten rumah tangga membuka pintu pagar buatnya


" Iya silahkan masuk, non Lia masih sarapan bareng nyonya " ucap asisten rumah tangga itu


" Biar aku tunggu disini aja, mbak " ucap Irvan, lalu duduk dikursi teras


" Baik den, biar saya kasih tau non Lia.. " jawab asisten rumah tangga itu lalu masuk ke dalam rumah


Tak lama kemudian Lianti pun keluar bersama maminya, pagi ini hari pertama ia masuk sekolah setelah beberapa hari dirawat dan dinyatakan sudah sembuh kemudian diperbolehkan pulang oleh dokter


" Pagi tante, pagi Lia " sapa Irvan yang langsung bangkit dari duduknya melihat Lianti dan maminya mumcul dari balik pintu.


" Pagi nak Irvan, kok nunggu diluar? kenapa ngak masuk dan sekalian ikut sarapan dulu? " kata mami Lianti dengan ramah


" Terimakasih tante, tadi sudah sarapan juga dirumah " jawab Irvan sambil tersenyum


Setelah berpamitan pada mami Wina, mereka berdua pun berangkat.


" Kamu tau dari mana kalau hari ini aku sudah bisa sekolah ? " tanya Lianti dengan nada yang masih terdengar kurang ramah


" Hmm Li, ada apa sih sayang? udahan dong marahnya, aku kan udah minta maaf " jawab Irvan.." Semalam aku datang tapi kamunya udah tidur " tambah Irvan berharap bisa meluluhkan kekasihnya ini.


Tanpa menjawab Lianti terus menatap ke arah jalan dari jendela seolah tidak ingin bicara lagi

__ADS_1


Dan sepanjang jalan pun mereka berdua cuma diam dan tenggelam dengan fikiran mereka masing masing.


 *****************


Berapa menit kemudian mobil mewah yang di kemudikan Irvan sudah terparkir dihalaman sekolah, Lianti pun turun dan berjalan menuju kelas diikuti oleh Irvan dibelakangnya.


" Pagi semua " sapa Lianti pada teman temannya saat memasuki ruang kelas sambil tersenyum seperti biasanya


Semua mata tertuju ke arah Lianti dan Irvan yang berjalan menuju bangku mereka masing masing


" pagi Lia, pagi Irvan " suara seseorang yang sudah berdiri dibelakang Irvan dan Lianti


" Arya " ucap Lianti dan Irvan berbarengan,


" Cie cie kompak ni yee, memang dasar sudah sehati " ucapan usil Arya yang membuat Lianti tersipu malu. " Minggir aku mau duduk " ucapnya lagi


" Bro kamu ngak salah masuk, kelas kamu kan disebelah? " tanya Irvan yang heran melihat Arya duduk disamping Lianti.


" Ngak lah mas bro, sekarang kelas aku disini. dan tempat dudukku disebelah mbak bro yang cantik ini " kata Arya yang terus menggoda kedua sahabatnya itu.


Irvan pun hanya bisa menarik nafas panjang dan duduk dibangkunya. Dan


tak lama kemudian bel berbunyi dengan nyaringnya tanda pelajaran di mulai.

__ADS_1


 -----------------------------


BERSAMBUNG


__ADS_2