SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
DUNIA SEAKAN MILIK BERDUA


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat, tak terasa hampir sebulan lamanya irvan terus berusaha mendekati lianti dan meminta maaf. seperti hari hari sebelumnya siang ini walau terik matahari seolah membakar kulit namun tak mematahkan semangat seorang irvan untuk tetap menunggu lianti di depan gerbang sekolah


Terdengar selentingan dari beberapa siswi yang berjalan keluar gerbang dan lewat di depan irvan,


" Wah makin ganteng aja nih cowok, sumpah..aku ngak nolak kalau dia minta aku jadi pacarnya "


" Idih..aku juga ngak bakal nolak kali...Hahahaha "


" Tapi sayang banget ya, kayaknya kita kita bukan tipenya.."


" Hmm dasar cewek bigos (biang gosip) " ucap irvan pelan sambil menggeleng gelengkan kepalanya yang sejak tadi celingukan mencari sosok lianti di antara para siswa siswi yang melintas di hadapannya


" Mas bro, aku duluan ya..sebentar lagi si dia nongol kok " sapa arya yang memperlambat laju motornya saat melewati irvan


" Okey, thank you ar..." balas irvan sambil mengacungkan jempol ke arah arya yang sudah melewatinya beberapa meter


" Yupp.. " teriak arya sambil membalas dengan acungan jempol pula, sebelum tancap gas


Irvan yang sejak tadi duduk di atas motornya seketika berdiri saat melihat sosok yang sangat ia rindukan dan sejak tadi di tunggu nya, tanpa buang buang waktu lagi di tariknya tangan wanita itu. " li..lia, ikut aku sebentar..aku mohon jangan menolak dan menghindar lagi " ucapnya tanpa basa basi


" Adaan sih van? lepasin ih..malu di liat teman teman " lianti menghentak hentakkan tangannya, berharap pegangan irvan terlepas dari lengan kirinya


" Aku cuma minta waktu kamu sebentar, tolong..li.." irvan dengan nada memohonnya


" Iya, tapi lepasain dulu ini..sakit tau " wajah lianti terlihat memerah, entah karena malu di lihat orang atau marah oleh sikap irvan yang kadang keterlaluan


" Maaf, aku ngak ada maksud nyakitin kamu.. tapi janji dulu ngak akan kabur kaburan lagi seperti kemaren " irvan mengendorkan pegangan tanganya di lengan lianti


" Iya iya..aku janji, lepasin sekarang " ucap lianti pasrah

__ADS_1


" Okey, maaf maaf sayang " irvan pun langsung menggenggam kedua tangan lianti sebelum benar benar melepaskan. " Sekarang ayo ikut aku, kita cari tempat ngobrol yang enak "


" Di sini aja, kan bisa juga " protes lianti


Irvan menatap lembut pada lianti yang terlihat gelisah,


" Ini panasnya kebangetan sayang, nih baju aku sampe basah keringatan gini..entar kamu sakit lama lama berdiri disini..sudahlah kali ini nurut aja ya sayang.."


" Ya sudah, kita ke warung di seberang sana itu aja " ucap lianti sambil mengarahkan telunjuknya pada warung bakso di seberang jalan tak tau dari sekolah mereka


Setelah mendapat persetujuan dari irvan, mereka berdua pun segera berjalan menuju warung bakso itu. lagi lagi irvan menggenggam tangan lianti saat akan menyeberang jalan


" Aku bisa sendiri " lianti lagi lagi menghentakkan tangannya


" Ngak li..ini bukan waktunya, focus aja..kita mau nyebrang nih " irvan menjawab tanpa menoleh pada lianti


" Ih nyebelin banget sih ini orang " lianti bersungut sungut karena kesal dengan sikap irvan. namun hanya di balas senyuman oleh irvan yang mendengarnya.


Setelah kembali dari toilet, irvan kembali duduk di sisi lianti yang kelihatannya sibuk bermain phonsel


" Loh kenapa belum pesan sih sayang? " tanya irvan yang sudah beberapa saat memperhatikan lianti


" Eh iya, aku nungguin kamu..kan tadi bilangnya mau ngomong, bukan mau makan bakso " jawab lianti kaget, demi menutupi kegugupannya karena tidak menyadari kehadiran irvan yang duduk di sebelahnya entah sudah berapa lama, ia pun berusaha bersikap cuek


" Hmm aku lapar, baiknya kita makan dulu..biar ada tenaga buat ngobrol " tanpa menunggu jawaban lianti, irvan segera memanggil pelayan dan memesan bakso untuk dirinya dan lianti


Seketika suasana terasa kaku, irvan tak lagi berbica dan hanya menatap lianti masih bermain phonsel. lianti pun menjadi salah tingkah karena menyadari ada sepasang mata yang terus menatapnya tanpa berucap.


" Silahkan di nikmati " dengan senyuman sangat ramah, pelayan itu pun berlalu setelah meletakkan hidangan di meja dan mempersilahkan

__ADS_1


" Ayo sayang, di makan baksonya..phonselnya kalau boleh di masukin tas dulu deh " irvan kembali membuka suara mencairkan suasana


Mereka pun makan dengan lahap tanpa ada sepatah kata lagi, hanya suara sendok dan garpu yang sedang bekerja sama memporak porandakan bakso sebelum masuk ke mulut.


" Sekarang sudah bisa ngomong kan? " ucap lianti sesaat setelah selesai makan


" Baiklah, kayaknya kamu sudah ngak sabaran " irvan menghentikan kalimatnya dan mengambil tisyu untuk menyeka keringat di wajahnya.." Aku mau menjelaskan dan meluruskan semuanya, mulai dari gosip gosip yang beredar di sekolah sampai kasus aku dengan emilia di hotel..sebenarnya aku..."


Dengan dana sedikit naik, lianti memotong kalimat irvan, " Kalau cuma mau bahas itu, aku rasa cukup.. van "


" Kenapa li? ada apa sayang ? apa kamu sudah ngak mau meluruskan salah fahammu selama ini? kamu kesal dengan semua yang terjadi kan? tapi kenapa kamu ngak ungkapin langsung ke aku ? " irvan yang merasa tak di beri waktu lagi berusaha bicara blak blakan


" Sesuatu hal yang ngeselin jika di pendam dan semakin menumpuk, lama lama akan meledak juga..gimana bisa tau kebenarannya kalau ledakannya sudah melukai dan memercikkan api kemana mana? " tambah irvan dengan bahasa yang sangat lembut, ia mencoba meredam amarah dan tak mau jika mereka malah ribut lagi


" Tolong sayang, jangan di cerna mentah mentah segala gosip dan kata kata orang yang menghasut, hubungan kita bukan baru sebulan dua bulan loh ini..kita sudah saling tau gimana kita satu sama lain..dan aku rasa orang lain ngak tau sedalam itu " kalimat mengalir begitu lancar dari bibir irvan


" Kamu jahat van.." lianti menunduk


" Keluarin semua unek unek yang kamu simpan selama ini, kalau perlu pukul aku..tampar aku dengan keras biar luka itu bisa aku rasain juga "


" Ayo sayang, setidaknya ungkapkan kekesalan kamu " irvan merasa tenang karena lianti mulai merespon


" Kamu ngak tau gimana perasaan aku selama ini, aku tau kalau kamu ngak perna serius..aku bukanlah satu satunya di hati kamu..dan mungkin hanya salah satunya " lianti sudah tak dapat mengangkat wajahnya, air bening di matanya yang berusaha di bendungnya akhirnya mengalir deras membasahi pipi


Irvan yang melihat itu dengan segera menarik lianti ke dalam pelukannya, mengusap lembut kepala dan punggung wanita yang teramat di sayanginya itu, " menangis lah sayang, menangis sepuasnya, biar semuanya keluar dan perasaan kamu kembali legah "


Lianti yang tadinya memukul mukul dada irvan dengan ke dua tangannya, mulai luluh dan menikmati kehangatan pelukan laki laki yang masih menjadi pujaannya itu.


Mereka pun terhanyut dengan suasana yang mereka ciptakan sendiri tanpa peduli dengan semua hal yang ada di sekeliling mereka. bak pepatah DUNIA SEAKAN MILIK BERDUA

__ADS_1


-------------------------


__ADS_2