SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
KAKAK ADEK' AN


__ADS_3

Di dalam mobil ke dua manusia berlainan jenis ini hanya diam, sepanjang perjalanan mereka seakan tenggelam dengan fikiran mereka masing masing.


" Mas faiz..." ucap lianti seketika mencoba membuka obrolan dengan segenap perasaan bersalah.


" ya..." faiz yang tetap focus mengemudi dan menatap ke depan, " Ada apa? bicara aja ngak usah sungkan " tambahnya lagi.


" Mas faiz, aku minta maaf. aku tau mas faiz kesal soal semalam itu " lianti yang terlihat tulus


" Sudah lah, ngak usah di bahas lagi. lupain, anggap aja aku ngak pernah ngomong kayak gitu " sekilas faiz menoleh dan tersenyum pada lianti, lalu kembali menatap ke depan.


" Sebenernya aku..sudah punya pacar di makassar, namanya irvan. tapi saat ini hubungan kami sedang ada masalah dan ngak baik. yang kemarin nelpon itu sahabat aku, namanya arya dan kemarin itu si arya itu lagi bareng irvan " lianti menjelaskan panjang lebar, dengan sangat terpaksa ia membeberkan masalah yang terjadi pada hubungannya dengan irvan dan berharap faiz mau memaafkannya.

__ADS_1


" Oooh gitu ya, iya ngak apa apa kalau gitu mau gimana lagi " irvan yang berkata kata dengan ekspresi datar.


" Mas, mas faiz..kenapa sih sikap mas kayak gini ke aku? aku..aku.." lianti yang tak lagi bisa menahan segala perasaan yang sudah campur aduk di hatinya. cairan bening yang dengan susah payah di tahan agar tidak tumpah akhirnya mengalir membasahi pipi mulusnya.


" Hey hey..kamu kenapa menangis? " faiz yang melihat lianti menangis, langsung menepikan mobil.


" Maaf ya kalau kata kata ku membuat kamu sedih " faiz meraih tissyu dan dengan sigap menghapus air mata yang membasahi pipi lianti


" Aku aku ngak tau ada apa dengan perasaanku mas, aku merasa sedih saat sikap mas faiz tiba tiba berubah dan cuekin aku " sambil terbata bata lianti pun mengungkapkan perasaannya.


Faiz menarik nafas panjang dan dihempaskannya kuat kuat, " sudah sudah, mungkin saat ini kita di takdirkan untuk dekat dalam artian lain " ucap faiz dengan senyum sedikit terpaksa, gurat ketidak ikhlasan masih sangat terlihat di wajahnya.

__ADS_1


" Maksudnya gimana mas? dekat dalam artian lain?" otak lianti tidak begitu bisa mencerna apa yang di ucapkan faiz.


Seorang fariz candra wijaya, laki laki dewasa yang notabene pengusaha sukses itu pun mencoba mencari kata kata sederhana untuk menjelaskan maksud dari ucapannya tadi agar bisa lebih mudah di mengerti oleh lianti. ia harus membedakan gaya bahasanya sebagai tuan muda karena usia lianti yang baru tujuh belas tahun dan sangat berbeda jauh dengan usianya yang sudah dua puluh lima tahun.


" Maksudnya, gimana kalau kita jadi saudara..kakak adek gitu..abang adek ketemu gede " celoteh faiz yang terlihat bingung sendiri saat menjelaskan maksudnya pada lianti.


" Hehehe..mas faiz lucu " tiba tiba lianti tertawa dengan sedikit tertahan karena melihat ekspresi faiz yang kebingungan sendiri.


" Mau ngak..? " ucap faiz lagi dengan seriusnya


" Iya mas, aku mau jadi adeknya mas faiz " lianti yang sudah bisa tersenyum menjawab dengan kedua tangannya mencubit kecil pipi laki laki tampan yang jarak wajahnya tidak lebih dari sejengkal di hadapannya kini.

__ADS_1


Faiz pun tersenyum lalu kembali menyalakan mesin mobil untuk melanjutkan perjalanan, setelah sebelumnya memberi kecupan di kening lianti dan mengacak rambut di pucuk kepala lianti.


__ADS_2