
Malam begitu cerah dilangit bertabur bintang berkelap kelip menambah indahnya suasana, di sebuah cafe terlihat ramai dengan para pengunjung.
Tampak di sudut cafe yang di rancang seperti taman bunga dan di lengkapi pula dengan kolam ikan di sekitarnya.
Irvan dan empat orang sahabatnya terlihat ceria dan saling berbincang sambil menikmati minuman serta cemilan, iringan live musik menyuguhkan lagu lagu yang begitu indah terdengar mengalun memanjakan telinga.
Mereka berbagi cerita soal berbagai hal, tentang sekolah masing masing dan apa yang mereka lalui sejak keempatnya pisah kota. begitu juga dengan Emilia yang duduk disisi kiri Irvan begitu antusias menceritakan hari hari yang dilaluinya bersama Irvan dikota ini.
Lain halnya dengan Lianti yang sejak tadi duduk disisi sebelah kanan Irvan, yang hanya diam sambil memainkan phonselnya sesekali ikut tertawa dan tersenyum saat mendengar candaan mereka. Walau didalam hatinya sudah sangat bosan, hampir tiga jam ditempat ini dan sama sekali tak merasa nyaman. Sikap Emilia yang seolah memamerkan kedekatannya dengan Irvan dan itu pun seolah mendapat respon dari Irvan membuat lianti sangat kesal.
Tiba tiba phonsel Lianti berbunyi, panggilan masuk dengan nomor tak dikenal terlihat dilayar,
" Hallo, assalamualaikum.." ucap Lianti seketika setelah telepon tersambung
__ADS_1
" Iya tante, Lianti akan kesana sekarang " ucapnya lagi sebelum memutuskan sambungan telepon.
" Ada apa sayang ? " tanya Irvan yang sejak tadi terus menatap Lianti
" Tante weni adiknya mami minta di jemput dibandara " jawab Lianti singkat
" Lah sopir mami kemana?, kok kamu yang diminta jemput? lagian kita masih kangen kangenan dengan mereka nih " ucap Irvan enteng dan tidak peka dengan perubahan mimik wajah Lianti.
Lianti yang sudah kesal sejak tadi langsung berdiri dan berpamitan pada para sahabat Irvan yang masih asik ngobrol, tanpa menghiraukan Irvan " Aku pamit duluan ya, tiba tiba ada urusan keluarga nih. Kalian lanjutin aja " ia pun tersenyum sebelum berbalik badan tuk segera berjalan
" Ngak apa apa kok kalau kamu masih pengen disini, aku bisa pergi sendiri " jawab Lianti tanpa menoleh.
" Bener tuh Van, kamu disini aja. kan jarang jarang kita bisa ngumpul kayak gini " celetuk suara cewek yang tak lain adalah Emilia
__ADS_1
Mendengar itu Lianti pun makin bertambah kesal, sekali hentakan genggaman tangan Irvan pun terlepas. Lalu ia melangkah ke arah pintu cafe bergegas pergi dari tempat itu.
" Sayang..tunggu " ucap Irvan sedikit teriak lalu berdiri menyusul langkah kekasihnya itu yang dengan cepat sudah menghilang dibalik pintu cafe.
" Sayang, buru buru amat sih jalannya " kata Irvan begitu menjejeri langkah Lianti menyusuri parkiran yang penuh kendaraan para pengunjung cafe.
" Kamu bawa mobilku aja ya sayang, biar entar aku minta antar aja sama mereka " tambah Irvan yang benar benar tidak tahu kalau kekesalan Lianti sudah diubun ubun.
Dengan senyuman yang dipaksakan Lianti menoleh menatap Irvan, ditatapnya lekat lekat mata lelaki yang dikasihinya itu. berharap Irvan bisa melihat kekesalan yang ia sembunyikan di balik senyuman palsunya itu.
" Sayangku..kekasihku yang baik hati, silahkan masuk lagi dan bergabung kembali dengan mereka para sahabat sahabatmu kalau mau tetap disini. aku sudah pesan taksi online.. sebentar lagi datang kok " ucap Lianti dengan nada penuh penekanan, berharap Irvan peka dengan sikapnya
"Tapi sayang..." ucapan Irvan terputus saat Lianti bergegas masuk ke mobil yang berhenti tepat didepan mereka.
__ADS_1
...-------------------------------------...
...Author coba lanjut lagi setelah sekian lama vakum🙂...