SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
KERIBUTAN YANG TAK TERELAKKAN


__ADS_3

pagi ini Irvan sudah sampai disekolah saat suasana sekolah masih agak sepi, baru beberapa orang siswa yang terlihat sibuk membersikan kelas masing masing


Setelah memastikan kalau Lianti belum ada di dalam kelas, Irvan pun berjalan menuju parkiran depan tempat biasanya dia dan teman temannya nongkrong selain dikantin


Irvan duduk digazebo menghadap ke arah gerbang menunggu kemunculan Lianti, matanya tak lepas menatap tiap orang yang datang.


Berselang dua puluh menit sosok yang di tunggu pun datang, Irvan yang baru akan berdiri dan menghampiri Lianti kembali duduk saat melihat wanita itu berjalan tidak sendiri.


Irvan mencoba menenangkan diri sejenak sebelum menyusul Lianti yang sudah lebih dulu masuk kelas, hatinya seakan di bakar api cemburu. Kekasihnya menghilang sejak kemarin tanpa kabar dan hari ini muncul dengan sosok laki laki yang bernama Leon di sampingnya.


Bell tanda di mulainya pelajaran pun berbunyi saat Irvan sampai dipintu kelas, ia segera duduk namun matanya terus menatap Lianti yang sejak tadi menebar senyum tapi tidak sedikit pun melihat ke arahnya. Seolah olah Irvan tidak ada di ruang kelas itu.


Irvan benar benar tidak tahu mengartikan perasaannya hari ini. sudah sejak awal setiap mata pelajaran ibu Arma, Lianti pindah duduk ke belakang bersebelahan dengannya. Tapi entah kenapa kali ini Lianti malah memilih duduk disebelah Leon.


Rasa cemburu yang tadi diredam dengan susah payah kembali memuncak seakan membakar hati Irvan, dengan cepat di ambinya phonsel lalu menelpon Lianti


" tut..tut..tut.." sesaat terdengar nada panggil namun saat berikutnya berakhir dengan nada penolakan.


" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif " suara operator menjawab, setelah berulang ulang Irvan mencoba menelpon Lianti yang duduk tak jauh darinya


Irvan sudah terbakar emosi, ia sangat berharap pelajaran ini cepat selesai. Dengan pandangan tajam ditatapnya Leon yang terlihat begitu senang duduk disebelah Lianti, sesekali terlihat mereka ngobrol dan tertawa kecil.

__ADS_1


Irvan tak henti hentinya menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


***************


Jam **istirahat pun tiba


I**rvan bangkit dari duduknya dan menghampiri Lianti


" Li.., bisa ngomong sebentar? " ucap Irvan berdiri tepat disamping Lianti


" Leon, ayo kita ke kantin. aku laper banget " ucap Lianti seakan tidak peduli dengan kehadiran Irvan yang berdiri di sampingnya.


" Ayo.." Leon langsung berdiri menyambut ajakan Lianti


" Li.., aku mohon " sekali lagi Irvan mencoba membujuk Lianti


Tanpa mempedulikan Irvan yang terus berdiri disampingnya, Lianti pun bangkit dan berjalan meninggalkan Irvan. Begitu juga dengan Leon


Irvan yang sudah tidak lagi bisa mengontrol amarahnya, berlari mengejar Lianti dan Leon yang sudah didepan kelas. Tanpa berkata apa apa Irvan langsung menarik tangan Lianti untuk ikut dengannya.


Lianti yang terlihat berontak dan menyentakkan tangannya agar lepas dari genggaman Irvan, malah memancing Leon untuk membantunya lepas dari Irvan

__ADS_1


" Bro, jangan kasar sama cewek. Jangan dipaksa kalau orangnya ngak mau " ucap Leon seolah ultimatum


" Apa pedulimu, ini urusan aku dengan dia! " jawab Irvan penuh amarah.


" Aku peduli dan ngak akan ngebiarin, karena aku sayang dia " ucap Leon juga dengan nada yang juga tinggi.


Tanpa basa basi Irvan melepaskan tangan Lianti dan melayangkan tinjunya ke arah wajah Leon hingga mengeluarkan darah dihidung lelaki itu.


Keributan pun tak terelakkan lagi, saling tinju, saling tendang. Keduanya sudah di bakar amarah yang membara.


Tanpa diminta mereka sudah di kerumuni banyak orang yang tak lain siswa siswi sekolah mereka juga. Beberapa siswa berlari ke ruang guru untuk melaporkan perkelahian didepan kelas itu.


Lianti yang semakin panik mencoba melerai Irvan dan Leon yang terus saling serang.


" Achhhh.." Lianti jatuh tersungkur sambil memegang perutnya yang kena tendang oleh Leon karena tiba tiba berdiri di depan Irvan seolah melindungi laki laki itu dari tendangan leon.


Melihat Lianti yang meringis kesakitan, Irvan dan Leon pun berhenti saling serang, mereka langsung berjongkok disisi kanan kiri Lianti. Tanpa mempedulikan diri mereka yang juga berdarah darah, Irvan langsung menggendong Lianti dan berlari ke ruang UKS meninggalkan Leon dengan penuh rasa bersalah karena melukai Lianti.


 


BERSAMBUNG

__ADS_1


 


__ADS_2