
Malam terasa sangat panjang, waktu seolah enggan berputar saat ini. buat dua manusia yang sama sama di landa gelisah.
Lianti tidak bisa tidur, sejak tadi dia hanya berbaring dan membolak balikkan tubuhnya.
Begitu pun halnya dengan faiz, sosok laki laki tampan itu sejak tadi hanya duduk memandangi langit malam yang gelap tanpa cahaya bulan dan bintang pun seakan enggan berkerlap kerlip ikut di rundung gelisah seakan tau apa yang di rasakan lianti dan faiz.
" Hmmm mas faiz pasti marah banget, Ya Allah aku harus gimana ini? " gumam lianti sambil mengacak acak rambutnya.
" Apa aku jujur aja ke mas faiz, soal hubunganku dengan irvan? apa mas faiz bisa ngerti? ahh atau jangan jangan malah bikin mas faiz makin marah aja? " gumam lianti lagi.
" Aaaachhh " teriak lianti tiba tiba sesaat otaknya sudah benar benar tidak bisa berfikir lagi.
Sementara di kamar lain Seorang tuan muda yang begitu di idolakan dan banyak wanita yang dengan suka rela menawarkan diri untuk sekedar dekat dengannya, " Hmmm tuan fariz candra wijaya yang terhormat. ada apa dengan dirimu, kenapa sih sampe segitu kesalnya dengar penolakan itu? dia itu ngak tertarik dengan pesonamu, ngak tertarik dengan apa yang kamu punya " faiz mencoba berdamai dengan diri sendiri karena saat ini hati dan fikirannya tidak saling sejalan.
__ADS_1
Pagi hari lianti sudah duduk di ruang makan di depannya bermacam menu sarapan pun sudah tersaji, namun ia belum memulai sarapannya karena menunggu faiz.
" Mbak, mas faiz kemana? " bertanya pada seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.
" Tuan muda faiz kayaknya masih tidur, nona silahkan sarapan duluan " jawab pelayan itu dengan sopan.
Lianti mengangguk mengerti, ia pun mulai sarapan walau sebenarnya hatinya masih sangat tidak tenang. di fikirannya terus di penuhi rasa tidak enak karena membuat faiz marah.
Setelah sarapan selesai lianti kembali ke kamar.
" Tok tok tok..." suara pintu kamar di ketuk.
lianti buru buru menghampiri pintu dan membukanya, " Mas..." ucapan lianti terpotong saat melihat orang yang berdiri di depan pintu, " Ada apa mbak? " ucapnya pada pelayan itu.
" Nona, tuan faiz sudah menunggu anda di bawah " pelayan itu menunduk setelah menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
" Baiklah, aku ambil tas dulu " sambil berjalan menuju tempat tidur, meraih tasnya yang ia letakkan di atas sana sejak tadi.
" Mari mbak, aku sudah siap " lianti pun berjalan di ikuti oleh pelayan yang tadi.
" Selamat siang mas faiz.." ucapnya begitu sampai di lamtai bawah dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi yang faiz duduki.
" Iya, siang juga lianti " jawab faiz tanpa menoleh pada lianti, matanya tetap tertuju pada koran yang sibuk di bolak baliknya.
" Oiya maaf tadi kamu harus sarapan sendiri karena aku bangunnya kesiangan, semalam aku begadang karena banyak kerjaan " lagi lagi tak menoleh.
" Ngak apa apa mas " ucap lianti dengan senyum yang sangat di paksakan.
Setelah beberapa lama ruangan itu hening, hanya ada suara tarikan nafas yang sesekali terdengar dan juga suara koran yang di bolakbalik.
" Kalau kamu sudah siap? ayo kita berangkat sekarang " ucap faiz memecah keheningan, meletakkan koran di meja lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu utama. lianti pun mengikuti di belakangnya.
__ADS_1