SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
PERTENGKARAN


__ADS_3

" B****rakkk " suara meja yang digebrak dengan keras


" Sialan..sialan..dasar cewek sialan.." teriak Irvan emosi. Irvan sudah benar benar naik pitam melihat rekaman Cctv, ingin rasanya langsung bertemu Emilia tapi ia tak tau harus bersikap bagaimana pada wanita itu.


Irvan benar benar murka setelah tau kalau Emilia lah yang sengaja membawanya ke hotel itu, " Apa yang kalian sembunyikan dari aku soal malam itu ? " nada penuh amarah sangat terdengar jelas seakan mengintimidasi orang yang ditelponnya.


" Maksud kamu apa Van ? kalau soal kamu dan Emilia, kami memang ngak tau apa apa " suara seseorang dari telpon itu seolah sangat bingung, " Malam itu kamu mabuk berat jadi aku minta Emilia antar kamu pulang karena aku juga nganterin yang lain.


Kalian semua pada mabok, cuma aku dan Emilia yang masih sadar " orang itu mencoba menjelaskan kejadian malam itu

__ADS_1


" Soal kamu dan Emilia dihotel, itu diluar sepengetahuan kami. Bahkan kami semua baru tau saat kamu nanyak tempo hari itu.


Aku juga sudah coba konfirmasi ke Emilia, tapi anak itu ngak mau cerita apa apa " suara orang yang menjelaskan panjang lebar pada Irvan ditelpon membuat Irvan kembali berfikir positif pada sahabat sahabatnya itu namun tidak pada Emilia.


" Tutttt...tuttt..tuttt.." Irvan kembali memencet nomor setelah mengakhiri sambungan telpon, ia tidak bisa lagi menahan sesak amarah didadanya atas apa yang Emilia perbuat, " Emilia, mau kamu apa sih sebenernya? kenapa kamu ngak anter aku pulang malam itu? malah kamu bawah aku ke hotel? " Irvan langsung nyerocos begitu telepon terhubung.


" Malam itu aku mabuk berat dan ngak bisa gerak, bahkan aku di bopong oleh petugas hotel karena permintaan kamu kan? jadi gimana mungkin aku bisa ngelakuin hal seperti yang kamu bilang itu? " tak ada cela dan jeda buat Emilia menjelaskan.


" Aku cuma pengen kamu jadi milikku van, aku sudah mencintaimu sejak dulu. Rasa sayangku ke kamu melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri, dan aku yakin tak seorang pun mampu menandinginya " dengan keyakinan penuh Emilia mengangkat suara ketika suara Irvan mulai terdengar melemah ditelpon.

__ADS_1


" Udah gila kamu ya ? " Irvan makin kacau mendengar pengakuan Emilia yang kesekian kalinya, " Aku ngak ada perasaan apa apa ke kamu, semua ini murni hanya persahabatan dan persaudaraan. Mengerti lah emilia " seakan meminta Emilia berhenti dengan kegilaannya itu


" Iya aku memang sudah gila, gila karena kamu, gila karena terlalu lama memendam rasa ini dan kamu sedikit pun tak peduli " Emilia yang tiba tiba seperti orang yang histeris dan kehilangan akal sehat, " Aku yang membawa kamu ke hotel, aku juga yang merencanain supaya kamu mabuk berat.." suara teriakan Emilia ditelpon makin tak terkendali.


" Cukup..cukup, diam kamu. Tutup mulutmu, Sekarang aku muak dan jijik bersahabat bahkan berteman sama kamu.." emosi Irvan benar benar terpancing dan akhirnya meledak mendengar Emilia semakin gila dan tak terkendali.


" Dan ingat, jangan pernah hubungi aku, apa lagi menemui aku.." dan akhirnya telpon diputuskan sepihak oleh Irvan dengan nada yang cukup keras dan membuat Emilia semakin histeris.


 

__ADS_1


BERSAMBUNG


 


__ADS_2