
Hari demi hari berlalu dan hari ini genap dua minggu lamanya irvan tidak masuk sekolah setelah pertengkaran hebatnya dengan lianti di depan kelas beberapa waktu lalu. dan sejak saat itu irvan bak hilang di telan bumi, tak ada yang tau pasti apa sebenarnya yang terjadi pada irvan, teman temannya hanya tau kalau irvan beserta keluarganya sedang keluar negri dan sudah ijin pada pihak sekolah
Siang ini SMA 75 tampak sepi karena proses belajar mengajar masih berlangsung, sesaat kemudian pintu ruang osis terbuka setelah hampir satu jam tertutup karena mereka mengadakan rapat. para pengurus osis pun keluar dan seperti biasanya setelah berkegiatan organisasi, mereka segera kembali ke kelas masing masing, tapi hari ini.." Hay lia, mau kemana? " panggil arya
" Mau ke kanting ar.., haus nih.." ucap lianti
" Kalau gitu bareng aja, masuk kelas juga ngak ngaruh. tanggung sebentar lagi jam istirahat " arya melirik jam di tangannya
" Idih yang udah pinter, pake bahasa ngak ngaruh gitu..hahaha " lianti tertawa
" Iya dong, kelas IPA satu loh ini " arya mulai bercanda
" Wih parah kamu ar..pake bawa bawa kelas, mentang mentang paling unggul " lianti ikut bercanda
" Lah kan memang gitu kenyataannya? kamu sih pake acara pindah kelas segala, buruan balik.. baperan jangan di pelihara, tanaman noh di pelihara" celoteh arya
Mereka pun terus bercanda dan berjalan ke arah kantin, " Oiya li.., apa sudah ada kabar dari irvan ? " tanya arya mulai serius
" Ngak ada tuh, dan memang aku malas buat tau lagi soal dia..aku ngak mau lagi berurusan sama cewek yang ngaku tunangannya itu, neror mulu kerjaannya.. ih apaan " lianti mencibir usai berucap
" Hah? kamu di teror sama luna ? " tanya arya serius
" Iya, begitu lah " ucap lianti santai
" Cewek aneh, aku juga waktu itu di marah marahi saat dia di cuekin irvan.." kata kata arya sejenak terhenti, lalu ia berjalan ke arah lemari es di susut ruangan dan kembali dengan dua botol minuman di tangannya. " Memangnya kamu di teror kayak gimana sih li? " tambahnya saat sudah duduk dan meletakkan botol minuman di meja depanya dan lianti, " Diminum dulu, biar hausnya ilang " canda arya buat mencairkan suasana
__ADS_1
" Sehari setelah aku ribut ribut dengan irvan, si luna itu nelpon dan ngomong panjang lebar..yah setelah muter muter kemana mana pada intinya dia minta aku jauh jauh dari irvan Hmmm " ucap lianti, lalu menarik nafas dan di hempas dengan kasar. " Mungkin kesal ngak ku tanggapi maki makiannya di chat WA, aku di samperin. itu pun inti masalahnya karena irvan ngak bisa dia hubungi "
" Gila kali tuh orang ya? kok sampe segitunya teropsesi padahal irvan bukan siapa siapanya dia " ada penekanan pada nada suara arya
" Lah kata dia, irvan tunangannya ? " dengus lianti
" Sejujurnya aku sudah tau semuanya dari irvan, mulai dari kejadian di pesta ulang tahun luna malam itu sampai pemicu pertengkaran kalian pagi itu. cuma tadinya aku tidak mau terlalu jauh masuk mencampuri urusan kalian karena berfikir untuk memberi ruang buat kamu dan irvan meluruskan kesalahfahaman yang ada di hubungan kalian dengan bijak...kan sudah pada gede " arya tampak benar benar serius
" Kringggg..kringggg..." bel sekolah berbunyi nyaring, tanda jam pelajaran telah usai dan saatnya jam istirahat.
tak berselang lama kantin pun menjadi riuh dengan banyaknya siswa siswi yang berada di sana, ada yang sekedar datang beli minuman dan ada pula yang lagi antri memesan makanan
Tampak dari arah pintu, luna masuk dan berjalan ke arah arya dan lianti. " Di sini kalian rupanya..tau nomor irvan yang aktif kan? " ucap luna menatap arya dan lianti bergantian sambil menyodorkan phonselnya
" Eh kalian ngak budek kan? aku minta nomor irvan " bentak luna
" Ngak perlu pake urat, santai napa ? " arya mencoba tidak terpancing emosi
" Tadi kan aku sudah minta baik baik, kaliannya aja yang pura pura bego " luna masih dengan nada tinggi
" Lah bukan kah kamu sudah sering telponan dengan irvan dari awal? kok sekarang malah minta ke kami sih? " arya menjawab tetap dengan gaya cueknya tanpa sedikit pun menoleh pada luna
" Nomor yang biasa irvan pake ngak bisa di hubungi, pasti tau dong nomornya yang lain, kan kalian berdua sering bareng irvan sejak dulu " luna tetap dengan ketusnya
" Maaf ya, aku justru baru tau ini dari kamu kalau irvan punya nomor baru. selama ini aku komunikasi dengan irvan di nomor itu kok " arya mencoba sedikit bersabar
__ADS_1
" Alah bilang aja ngak mau ngasih ke aku, kan kamu yang comblakin irvan sama cewek ini..iya kan? " luna semakin kesal
" Nona luna, tolong kontrol omongan anda..seumur umur aku ngak pernah kasar sama wanita " arya tiba tiba berdiri dan menatap tajam pada luna
" Sudah ar..cukup, jangan bikin masalah..baiknya kita balik ke ruang osis aja " ucap lianti yang juga ikut berdiri dan tanpa peduli pada kemarahan luna, lianti menarik arya tuk berjalan menuju pintu kantin
" Woi sialan kalian berdua, awas ya kalian bakal nyesal berurusan dengan aku " teriak luna yang sudah uring uringan sendiri karena tak di hiraukan oleh arya dan lianti
Semua mata seketika tertuju pada luna,
" Ngapain lihat lihat? minta di colok itu mata? " ucap luna, karena merasa risi dengan pandangan orang orang. ia pun segera berlari keluar meninggalkan kanting.
Di belahan bumi yang lain seorang remaja tampan sedang sibuk mengepak barang barang, satu persatu pakaiannya di masukkan dan di atur dengan rapi di dalam koper, hari ini akan bersiap siap kembali ke negara asalnya.
Irvan admaja, pengusaha muda, putra satu satunya dan pewaris tunggal di keluarga admaja, dua minggu ini begitu sibuk mendampingi ayahnya menghadiri berbagai rapat dan pertemuan kolega kolega baru di negri paman sam. di usianya yang masih terbilang muda irvan sudah banyak terlibat di dunia bisnis.
" Ah akhirnya selesai juga, indonesia im coming " ucapnya dengan senyum puas.
Matanya elangnya tertuju pada benda pipih yang tergeletak di nakas dan tak pernah di sentuhnya semenjak berada di negara ini. di raihnya benda itu dan tak berselang lama setelah tombol on di nyalakan, berentetan pesan dan panggilan masuk yang begitu banyak. di lihatnya dengan seksama, dia berharap ada pesan atau panggilan dari lianti namun tak ada satu pun. " Hmmm apa lia segitu marahnya, sampai tak mau menghubungiku? kenapa harus luna yang terus terusan mencariku? " irvan bergumam sendiri
" Drikkk..drikkk..drikkk " tiba tiba phonsel di tangannya berbunyi, " Ah panggilan dari luna.." irvan tak sedikit pun berniat menjawab, ia malah meletakkan kembali phonsel itu di atas nakas.
__ADS_1