Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Sekte Naga Awan 2


__ADS_3

Serangan bola petir itu dalam sekejap sudah berada tepat di depan Derrick yang dengan reflek menangkis bola petir itu dengan tangan kanannya yang dialiri tenaga dalam.


Bush!


Bola petir itu tertahan dan perlahan menghilang karena bagaimana tenaga dalam Derrick yang seorang ranah surgawi memiliki kemampuan menetralkan tenaga dalam atau sihir orang lain yang bukan ranah surgawi atau serangan orang itu bersifat sama seperti tenaga dalam seorang ranah surgawi.


"Hosh, hosh, hosh!" Derrick tersengal-sengal karena menahan serangan mematikan dari ketua sekte.


"Kekuatannya sangat mengerikan, untungnya aku sudah ramah surgawi, jika tidak...," Ujar Derrick menggeleng kepala tidak melanjutkan kalimatnya.


Jika kalian bertanya kenapa bisa seperti itu? Maka jawabannya itu seperti Derrick mencoba menahan tombak yang seberat 1 ton dengan perisai, ujung tombak yang tajam itu misalnya sihir dan perisai Derrick adalah kekuatan tenaga dalam ranah surgawi yang dapat menetralkan sihir atau tenaga dalam orang lain.


Dengan itu Derrick tidak akan terluka oleh tombak itu karena perisainya, tapi beratnya tombak bisa membunuh Derrick jika Derrick tidak mampu menahan berat sebanyak satu ton.


Ok..., lanjut.


"Ayah, ayah, ayah!" Adhikari yang merupakan putra ketua sekte langsung menerobos pasukan ketika ayahnya dikepung, namun terus dihadang prajurit.


Ketika Adhikari akhirnya dapat melihat ayahnya, dia terkejut bahwa ayahnya mati setelah melepaskan serangan terkuatnya. Adhikari tahu kematian ayahnya tidak terlepas dari luka yang dia dapatkan sebelum melancarkan serangan pamungkasnya.


"Ayah!!!" Teriaknya dan berlari mendekat, beberapa prajurit yang menghalanginya dia bunuh dalam sekali serangan.


Trang!


Slash!


Tiba-tiba seorang prajurit berhasil menebas Adhikari yang sedang menahan tebasan prajurit lainnya, salah satu prajurit yang berada dekat segera menebas leher Adhikari.


Whus!


Beruntungnya Adhikari ditarik oleh salah satu guru sekte Naga Awan yang berusaha mengejarnya semenjak Adhikari berlari ingin membantu ketua sekte, lalu membawanya kembali masuk benteng.


"Akhirnya kamu kudapatkan." Ucapnya sembari meliuk-liuk menghindari semua prajurit yang mencoba menyerangnya dan berusaha mendekati benteng dimana banyak murid sekte yang sedang bertarung.


"Guru, ayah, ayahku...," Adhikari berkata sambil menangis sedih, dia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu harus membalaskan dendam ketua, kamu harus hidup dan pimpin sekte menggantikan ketua dalam melawan para bajingan itu." Sela guru tersebut dengan menahan kemarahan.


Clap!!!


Ketika hampir sampai di gerbang sebuah anak panah menusuk leher sang guru, hal itu membuat sang guru jatuh berguling-guling memasuki benteng.


"Guru..." Adhikari segera memeriksa gurunya yang terlihat begitu lemah dan diujung kematian.


"Adhi... pimpin sekte dan... balaskan dendam... kami..." Ucap sang guru sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sembari berusaha menyentuh wajah Adhikari, namun tidak sempat karena keburu beda alam alias meninggoy.


"Guru... guru... guru!!!" Teriak Adhikari sambil memeluk sang guru dengan tangis pecah di dalam sekte dan diiringi pintu gerbang sekte yang perlahan ditutup atas perintah salah satu guru yang memerintahkan mereka untuk mundur setelah ketua sekte terbunuh.


Pintu gerbang tertutup rapat, murid yang tidak sempat memasuki benteng memutuskan untuk berjuang hingga akhir dan membuat perang semakin berkecamuk dan begitu intens.


"Mereka masih melanjutkan perang setelah tahu ketua sekte mereka terbunuh?" Derrick tak habis pikir, padahal dia memerintahkan kapten Taico untuk mengumumkan kematian ketua sekte kepada murid-murid sekte yang terus melawan.


"Lapor jenderal, mereka menolak menyerah meskipun ketua sekte mereka terbunuh, kini pimpinan sekte diambil alih oleh seorang guru besar sekte setelah ketua sekte terbunuh untuk melanjutkan perang." Kapten Taico kembali untuk melaporkan situasi perang setelah berita kematian ketua sekte dia umumkan, sebelum melapor kapten Taico terlebih dulu mencari informasi kenapa para murid tetap melawan meskipun ketua sekte mereka terbunuh.


"Begitukah? Kalau begitu kita tidak punya pilihan lain selain melanjutkan perang." Respon Derrick kesal, namun dia tidak berdaya karena sudah sejauh ini menyerang sekte Naga Awan.


Benteng yang melindungi sekte Naga Awan terlihat sulit ditembus, karena setiap kali dinding sekte berhasil dijebol para murid segera menutupnya sembari menahan prajurit yang memaksa masuk melalui dinding yang jebol tersebut.


Perang itu berhenti ketika tengah malam, hal itu terjadi karena Derrick tidak ingin pasukannya kelelahan karena terus menyerang sekte dan penerangan yang begitu minim.


##


"Kita sudah kehilangan 3000 prajurit dari 10000 pasukan, sementara mereka hanya kehilangan 1400 dari 6000 murid atau pasukan penjaga sekte yang mereka miliki."


"Melihat data ini, kita kalah telak." Kapten Taico melaporkan situasi perang di tiga gerbang setelah jenderal Xiao Lieun dan jenderal Eira melaporkan prajurit korban perang yang mereka pimpin.


"Yang paling dirugikan adalah pasukan yang menyerang gerbang utara pimpinan jenderal Xiao Lieun, mereka kehilangan 1700 lebih prajurit dari 3000 prajurit yang dia pimpin." Ujar kapten Taico melihat statistik korban dari ketiga pasukan.


Dimana gerbang utama yang diserang Derrick dengan 4000 pasukannya, hasilnya sekitar 1000 lebih yang terbunuh. Gerbang barat yang diserang Eira dengan 3000 pasukannya, hasilnya 300 prajurit terbunuh. Gerbang Utara yang diserang Xiao Lieun dan memakan korban 1700 prajurit.


"Apa yang terjadi di gerbang Utara?" Tanya Derrick dengan dingin ketika membaca laporan perang dan diperjelas oleh kapten Taico yang membacakan laporan tersebut.

__ADS_1


"Lapor jenderal, menurut laporan jenderal Xiao tiba-tiba gerbang Utara dibantu pasukan misterius yang diduga murid sekte Gunung Sika, murid sekte Yang, murid sekte Ge, dan sekelompok pembunuh." Lapor kapten Taico, Derrick membalikkan kertas dihadapannya itu dan segera menemukan laporan tentang bantuan yang diterima gerbang Utara.


"Kirim surat kepada jenderal Eira untuk mengirim 1000 pasukannya untuk membantu jenderal Xiao." Perintah Derrick akhirnya setelah menganalisa situasi di gerbang Utara yang terbilang cukup mengkhawatirkan.


Dimana dalam laporan Xiao Lieun memperkirakan pasukan bantuan tiga sekte dan sekelompok pembunuh itu sebanyak 1500 orang, dan Xiao Lieun meminta tambahan pasukan sebanyak 1000.


"Laksanakan jenderal." Kapten Taico segera pamit untuk menulis surat perintah Derrick kepada Eira.


"Pergilah." Ucap kapten Taico setelah menulis di udara tentang perintah Derrick untuk Eira, dimana tulisan diudara itu berubah menjadi burung sihir dan segera pergi menuju gerbang barat.


Derrick yang masih sibuk menganalisa situasi perang memutuskan beristirahat dan tak sengaja melihat setumpuk kertas yang merupakan laporan tentang sekte naga Awan yang dia baca sebelum perang.


"Hm," Derrick segera melihat laporan itu karena sebelumnya dia hanya sedikit melihatnya karena tidak suka membaca, namun entah kenapa Derrick mulai suka membaca semenjak menerima berbagai laporan dari pasukannya.


Derrick sedikit tertarik dengan informasi sekte naga Awan yang mengatakan bahwa sekte naga Awan memiliki 5 orang tetua sekte yang berlevel 100, dimana 5 tetua itu sudah mengasingkan diri cukup lama untuk menerobos ranah surgawi dan diduga sudah tiada, namun itu hanya dugaan saja.


"Sedikit informasi sangat berguna meskipun itu terdengar tidak mungkin." Gumam Derrick membaca laporan itu dan segera memerintahkan prajurit penjaga tenda untuk memanggil kapten Taico.


##


Kapten Taico segera masuk kembali ke tenda Derrick memenuhi panggilannya, dia segera membungkuk sedikit untuk memberikan hormat.


"Jenderal memanggil hamba?" Tanya Kapten Taico sopan.


"Kamu tahu tentang 5 tetua itu?" Derrick segera memberikan laporan tentang 5 tetua sekte dengan kekuatannya.


Kapten Taico segera menangkap kertas laporan yang melayang itu, lalu membacanya secara seksama, semakin dibaca keningnya semakin mengerut.


"Bagaimana? Kamu tahu sesuatu?" Tanya Derrick dengan santai.


"Lapor Jenderal, laporan ini adalah hasil informasi yang didapat oleh raja Xenium dan raja Xenium sendiri memperkirakan 5 tetua itu sudah tiada, namun tidak menutup kemungkinan mereka masih hidup." Jelas Kapten Taico.


"Hanya itu yang bisa hamba beritahu, jenderal" Tukasnya menunduk hormat dan berkata penuh hati-hati.


Derrick mengangguk-anggukkan kepala sembari mengelus jenggotnya yang mulai tumbuh, lalu dia membiarkan kapten Taico untuk kembali ke tendanya.

__ADS_1


"Huuuh... Kuharap mereka benar-benar sudah tiada." Ucap Derrick menghela nafas berharap.


Bersambung.


__ADS_2