
"Arya musuh?" celetuk Jeda bertanya, tiba-tiba seekor serigala datang memecahkan kaca dan menerkam Varg, Jeda secara reflek mengeluarkan pistol modern yang berasal dari bluefrin pemberian Derrick.
Dor!
Jeda menembak serigala itu tepat di kepalanya, sembari melempar sebuah bola yang menciptakan perisai untuk melindungi Varg dan membuat serigala itu tidak dapat menyentuh Varg.
Dor! Dor! Dor!
Jeda memberondong serigala itu dengan tembakan hingga pelurunya habis, dan hasilnya serigala itu terbunuh, lalu menghilang seperti asap yang menguap.
"Jadi begitu..., he." batin Jeda menyadari sesuatu.
"Kak Arya kamu kah itu?" tanya Jeda menoleh melihat si topeng emas yang menyebut dirinya no 3, posisi no 3 berada luar rumah sakit dan berdiri diatas elang yang terbang sejajar dengan kaca jendela kamar rawat Varg.
Terdengar langkah kaki berantakan menuju kamar, tampaknya keributan dan suara penembakan diperkirakan menjadi alasan orang-orang berdatangan ke kamar bangsal dimana Varg dirawat.
Meaw!
"Tidak!" Jeda berlari mencoba menggapai Varg yang tak sadarkan diri, ketika melihat kucing beraura kegelapan tersebut.
Kucing hitam mengeong tepat di kaki kepala kiri bangsal Varg, lalu sebuah lingkaran sihir tercipta dan membuat mereka berpindah dalam sekejap, Jeda juga ikut pindah karena berhasil memegang tangan Varg dan hendak menariknya menjauhi kucing aneh tersebut.
"Ini...," Jeda terkejut ketika mendapati bahwa mereka terteleport ke hutan dan dikelilingi 20 batu besar seperti tiang.
No 3 berdiri di salah satu batu yang mirip tiang tersebut, dengan lirikan tajam dan aura yang mengintimidasi no 3 sukses membuat Jeda gentar dan takut.
"Kak Arya kenapa kamu melakukan ini?" tanya Jeda kepada orang itu, lalu melempar kembali beberapa bola perisai untuk melindungi Varg dengan perlindungan berlapis-lapis.
"Hm, karena kamu sudah mengetahuinya, topeng ini tidak berguna lagi." ujar no 3 membuka topengnya, wajah familiar terlihat di mata Jeda, iya itu adalah Arya salah satu anggota pasukan kegelapan.
"Kenapa melakukan ini kak Arya?" tanya Jeda geram.
"Karena dia menghalangi jalanku, itu juga berlaku untukmu karena menjadi penghalangku." ucap Arya dingin dan menciptakan dua serigala, lalu memerintahkan mereka menyerang Jeda.
Sling!
Jeda menghindari cakaran serigala putih, lalu menendang kepala serigala hitam dan melepaskan 2 tembakan di kepala mereka, lalu meledakkan mereka dengan bom granat sebesar bola basket.
Duar! Dua serigala itu mati begitu saja, Jeda melepaskan beberapa tembakan kepada Arya namun Arya kebal peluru.
Slap!
Arya membuka buku sihirnya, lalu membuka halaman selanjutnya yang bergambar dua kodok yang sangat aneh, dimana satu kodok digambarkan memiliki lidah panjang dan satu lainnya digambarkan dengan petir-petir kecil yang terus menyambar.
Dua kodok itu langsung menyerang Jeda yang berusaha mengalirkan mana ke peluru agar menembus pertahanan Arya.
"Ah... tidak bisa." batin Jeda, saat itu juga dua kodok menyerang.
"Mari kita mulai." ucapnya, lalu terjun ikut dalam pertarungan.
__ADS_1
Jeda yang kesulitan melawan dua kodok itu dan beberapa kali terkena sambaran petir bertegangan tinggi, dibuat terhempas oleh tendangan Arya yang ikut pertarungan.
Dor!
Dor!
Dor!
Beberapa kali Jeda melepaskan tembakan, namun tetap saja itu percuma karena Arya memiliki tubuh yang sangat keras dan kuat sementara dia belum menguasai energi mana, Jeda malah ditangkap oleh lidah salah satu kodok dan disambar listrik hingga termuntah darah dan tak sanggup berdiri.
"Sial...," umpat Jeda.
Arya mendekati Jeda dengan tatapan dingin menusuk tulang, lalu mencekik dan mengangkat Jeda tinggi-tinggi, "Lepaskan bajingan!" Jeda memberontak, namun Arya mengencangkan cengkeramannya.
"Selamat tinggal...,"
Jeda semakin berusaha lepas ketika Arya berniat menusuk jantungnya, "Sialan!" teriak Jeda.
Sling!
Tangan Arya putus terkena tebasan pedang, lalu orang yang menebas membawa Jeda menjauh dengan sekejap.
"Kak Raki...," Jeda terkejut Raki datang menyelamatkannya, air matanya tumpah dan memeluk Raki dengan tangis sekencang-kencangnya.
"Terimakasih, kakak, hiks, hiks!" ucap Jeda di pelukan Raki, Raki tersenyum dan menggosok rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih karena bertahan dan memberi orang bodoh ini waktu untuk datang." ucapnya dengan tulus, lalu menatap Arya yang teriak kesakitan.
"Jelaskan detailnya nanti, sekarang aku akan membunuh pengkhianat ini dulu." ucap Raki dengan tatapan tajam kepada Arya yang kesakitan, Jeda mengangguk mengerti.
Dua kodok itu langsung menyerang Raki dan Jeda yang berada di atas dahan pohon, namun dalam sekali gerakan lidah kodok pertama terpotong, lalu kodok kedua terbelah menjadi dua.
"Kurang ajar!" umpat Arya melihat dua hewan peliharaannya terbunuh dalam sekejap oleh Raki, lalu membuka bukunya.
Slash!
Tebasan energi memberikan luka fatal kepada Arya, tebasan itu menyilang dari ginjal kanan ke bahu kiri.
"Arg!" teriak Arya kesakitan.
"Tebasan pembelah langit!" teriak Raki melancarkan serangan tebasan energi yang sangat kuat dan memenggal kepala Arya dari jarak 20 meter jauhnya.
##
No 3 yang mengikuti rapat bersama para petinggi dan tiga pendiri VAR tiba-tiba memuntahkan seteguk darah, hal itu membuat rapat organisasi VAR itu ditunda sesaat.
"Sepertinya ada orang yang membunuh kloningan dirimu, Aryaduta." ujar Rakuti dengan santai.
"Iya, sangat disayangkan pada akhirnya identitasku terbongkar oleh mereka karena kesalahanku yang membiarkan Varg hidup, seharusnya aku membunuh orang itu (Varg) lebih awal."
__ADS_1
"Tidak, maafkan atas kecerobohanku ini." ucap Arya dengan nafas tersengal-sengal kepada semua anggota.
Arya terkena serangan balik dari kekuatan atributnya yaitu kekuatan kloning, dimana dia bisa menciptakan kloningan dirinya yang memiliki kekuatan yang sama, namun resikonya akan terkena serangan balik jika kloningannya terbunuh.
"Itu tidak masalah, lagipula kamu sudah mencapai tujuanmu menyusup dalam kesatria sihir." ucap Vasya.
"Iya, tuan Vasya benar juga, hm, mengenai tiga senjata kuno itu." respons Arya membenarkan, terlihat seulas senyum licik menghiasi bibirnya.
"Pemilik senjata kuno pedang ilusi adalah pangeran kedua, perisai penakluk dimiliki oleh raja Hans, dan kalung waktu dimiliki oleh jenderal besar." ujar Arya memberikan informasi mengenai pemilik dan pengguna senjata kuno yang sangat kuat dan dinilai merepotkan oleh tiga pendiri.
Arya menjadi kesatria sihir untuk menjalankan misi mencari tahu pemilik dan pengguna senjata kuno legendaris milik kerajaan yang dinilai sangat merepotkan oleh tiga pendiri.
"Bukankah kalung waktu dimiliki pangeran Ranzi?" tanya no 3.
"Aku tidak tahu kenapa berpindah tangan, tapi itu memang kenyataan bahwa kalung itu sekarang berada ditangan jenderal besar." ujar Arya, semua orang itu mengangguk mengerti dengan penjelasan Arya.
Rapat itu kembali dilanjutkan setelah Arya mulai terlihat baik-baik saja dan bisa ikut kembali dalam rapat.
##
Raki dibuat berpikir keras karena tubuh Arya menghilang menjadi darah setelah terpenggal, hal itu tidak wajar mengingat bahwa manusia mati pasti meninggalkan tubuh, berbeda dengan Arya yang menjadi darah dan menghilang tanpa bekas ketika terbunuh.
"Lupakan saja." ujar Raki menyerah, lalu menjenguk Jeda yang terluka parah dan Varg yang kritis.
Beberapa penyembuh berdatangan menghampiri mereka bertiga, lalu melakukan pertolongan pertama kepada Varg dan Arya.
"Kak...," Jeda menghampiri Raki, lalu mulai bercerita kronologi yang terjadi antara Varg, dirinya, dan Arya si penyerang.
Mendengar cerita tersebut Raki tiba-tiba mengingat perkataan para dokter yang menangani Varg, para dokter itu menyebutkan Varg akan cacat selamanya karena tangannya tidak ditemukan, dan matanya terluka cukup lama.
Kilas balik.
"Karena tangannya tidak ditemukan, maka dia tidak akan bisa memiliki tangan kembali, regenerasi pun percuma karena lukanya terlalu lama terjadi."
"Itu juga berlaku untuk matanya yang terluka sudah lewat tiga jam, bahkan ramuan regenerasi tipe s pun tidak dapat meregenerasi matanya atau tangannya, jadi menyerah saja." ujar dokter ketika Raki menanyakan peluang kesembuhan Varg melalui obat regenerasi yang terbilang sangat langka.
Note:
Ramuan regenerasi tipe S adalah ramuan regenerasi terbaik milik benua Eghed.
"Derrick?" tanya Varg kepada Derrick yang berada disudut ruangan.
"Percuma saja, pil regenerasi Phoenix hanya berguna jika luka itu belum satu jam terjadi." ucap Derrick memupuskan harapan agar Varg dapat meregenerasi matanya.
Kilas balik selesai.
"Aku akan membunuhmu, Arya!" ucap Raki geram menahan marah, namun tetap saja aura yang dia timbulkan membuat takut orang-orang.
"Tenangkan dirimu, kakak. Lagipula pengkhianat itu sudah terbunuh olehmu." Jeda menenangkan Raki yang marah sambil menepuk pundaknya.
__ADS_1
Raki yang marah menoleh, lalu tersenyum tulus menanggapi.
"Terimakasih." ucap Raki berterimakasih karena Jeda menenangkannya, namun Raki tidak berpikir Aryaduta terbunuh olehnya mengingat tubuhnya hilang sama seperti hewan panggilan dari buku sihirnya.