
Derrick dengan reflek menangkis tusukan ekor lebah itu dengan kedua tangannya, lalu mundur menjauh beberapa meter sembari dikejar oleh sang lebah raksasa.
Lebah raksasa itu melancarkan serangannya elemen kayu yang berjumlah empat buah, serangan itu berasal dari empat penjuru seperti ingin mengurung Derrick.
"Atribut kayu?" Derrick langsung melakukan manuver dengan melompat keatas, lalu menjadikan serangan kayu di depan sebagai pijakan.
Bang!
Derrick menghantam tombak kayu yang tiba-tiba muncul di depannya dengan kaki kanannya, hasilnya kayu itu hancur berkeping-keping.
Whuush!
Derrick melancarkan tendangan energi angin dengan kaki kiri, lalu disusul tendangan api dengan kaki kanan hingga membuat lebah raksasa itu kerepotan.
Whush!
Cr0t!
Derrick menciptakan tombak dari udara dan melemparkannya kepada lebah raksasa itu, hasilnya tombak itu berhasil menusuk perut sang lebah dan membuatnya ngamuk, lebah itu menciptakan kayu secara membabi buta dan menghantam apapun yang ditemukan termasuk Derrick.
"Hiya!!!" Derrick meliuk-liuk menghindari semua kayu tersebut, lalu menciptakan tombak dan menghantam kepala lebah itu hingga bolong.
"Akhirnya mati juga, hosh, hosh." Ucap Derrick yang kelelahan.
Derrick memasuki hutan terlarang itu lebih dalam untuk menyelesaikan misi penyelidikan, semakin dalam Derrick masuk semakin pekat energi mana yang menerpa tubuhnya.
"Mana yang sangat berlimpah, tempat yang sangat cocok untuk berlatih tenaga dalam." Gumam Derrick takjub ketika merasakan mana ditubuhnya melonjak drastis dari biasanya.
"Jika aku berlatih disini, mungkin aku bisa menerobos ranah surgawi dalam satu hentakan." Derrick berpikir, terlihat seulas senyum di wajahnya yang masih terlihat begitu muda.
"Tunggu dulu, jangan-jangan gejolak aneh di hutan terlarang ini berasal dari tempat mana yang berlimpah ini?" Batin Derrick menyadari sesuatu, lalu merangsek masuk lebih dalam untuk memastikan.
Gaal Van sedang berlatih untuk menerobos ranah surgawi disebuah gua, akibat latihan itu membuat batu sihir di depannya terus mengeluarkan mana yang bergejolak dan mengacaukan area sekitar tempatnya berlatih.
"Batu sihir ini memang sangat berguna untuk meningkatkan kekuatanku, aku sungguh beruntung." Gumam Gaal Van ketika merasakan mana dalam tubuhnya seperti akan meledak yang menandakan akan menerobos.
Gaal Van terus fokus untuk melakukan penerobosan walaupun binatang sihir yang berada disekitar gua terus meraung-raung tak jelas dan mencoba memasuki gua karena mengetahui keberadaannya.
"Sedikit lagi." Gaal Van semakin fokus dan tidak menyadari seseorang sudah berada disamping kanannya dan melakukan serangan dengan niat memenggal Gaal Van yang sedang berlatih.
"Hehe." Orang itu tertawa ketika merasa Gaal Van tidak menyadari keberadaannya.
Boom!
Booom!
Bom!!!
Terjadi ledakan energi dari tubuh Gaal Van yang berhasil menerobos ke ranah Surgawi setelah beberapa kali mencoba menerobos, orang misterius yang menyerangnya langsung terpental membentur dinding gua akibat ledakan energi dari Gaal Van.
__ADS_1
"Ugh, uhuk, uhuk." Orang misterius yang belakangan ternyata si topeng perak dari organisasi VAR itu termuntah darah beberapa kali sambil memegang dadanya.
"Dia menerobos ranah surgawi? Dia berhasil?" Si topeng perak bertanya-tanya dalam hati sambil melirik Gaal Van yang kini melayang di udara dengan tubuh yang diselimuti mana (energi tenaga dalam) yang sangat besar dan berlimpah.
"Aku merasa diberkati energi tenaga dalam." Gaal Van melihat tangannya dan sekitar tubuhnya yang dapat dia lihat sendiri.
"Inikah rasanya menapaki ranah surgawi? Ah aku merasa tidak terkalahkan, haha." Gaal Van tertawa senang.
Setelah puas tertawa Gaal Van berniat pergi dan saat itulah dia menyadari keberadaan topeng perak yang kini tidak memakai topeng perak lagi.
"Siapa kamu?" Tanya Gaal Van dengan tatapan tajam kepada topeng perak yang sedang memulihkan diri.
"Perkenalkan namaku Evo sang dewa evolusi salah satu dari 7 dewa pencipta dunia ini." Evo memperkenalkan dirinya sebagai dewa evolusi salah satu pencipta dunia ini.
"Kamu dewa?" Gaal Van bertanya-tanya dengan raut heran dan kebingungan.
"Iya." Jawab Dewa Evo singkat dengan netra mata yang terus melirik batu sihir yang melayang di dekat Gaal Van.
"Hei manusia hina sekarang tunduk dan bersujud lah kepadaku, aku adalah dewa evolusi salah satu pencipta dunia ini." Ujar dewa Evo dengan congkaknya.
"Haha, sayangnya aku tidak peduli siapa dirimu dan apa statusmu di dunia ini." Ucap Gaal Van, lalu mengambil batu sihir dan pergi meninggalkan dewa Evo yang terpana melihat sikap Gaal Van.
"Apakah kamu ingin menentang kehendak dewa?" Tanya dewa Evo dengan urat kening yang menonjol karena marah dengan sikap Gaal Van.
"Jika kamu memang dewa pencipta dunia ini, maka kamu akan baik-baik saja saat terkena ledakan energi ketika aku menerobos, nyatanya kamu terluka dalam yang cukup parah." Ucap Gaal Van.
"Atau manusia yang diberi gelar dewa oleh manusia lain karena suatu hal, jadi berhentilah bersikap seperti dewa sungguhan atau aku akan membunuhmu." Tukas Gaal Van dan berlalu pergi meninggalkan dewa Evo yang terdiam.
Bush!
Tiba-tiba terjadi ledakan energi yang sangat besar dan dahsyat di tubuh dewa Evo yang terlihat sangat marah, Gaal Van terkejut dan berbalik melihat dewa Evo yang tertunduk dengan penuh kemarahan.
"Manusia aku akan membunuhmu!" Ucap dewa Evo dan menghilang.
Dalam sekejap dewa Evo sudah berada di depan Gaal Van sambil memukul, Gaal Van melawan balik dengan menangkis pukulan itu lalu melancarkan tendangan.
"Ranah surgawi? Bagus, kebetulan aku ingin mengetes kekuatanku." Gaal Van senang dan mengeluarkan pedangnya.
Dalam sekejap mereka saling serang dengan niat membunuh yang sama-sama besar dari keduanya, Gaal Van dengan teknik pedang dan dewa Evo dengan atributnya yang bisa memanipulasi benda mati dan sihir.
Gaal Van menghindar semua panah dari dewa Evo dari pohon ke pohon, lalu mengalirkan salah satu pohon dengan mana.
Bang!
Pohon itu dihantam bola api yang diselimuti petir yang dilancarkan dewa Evo, hasilnya semua pohon disekitarnya hancur sementara pohon dimana Gaal Van berlindung terlihat baik-baik saja karena dialirkan energi tenaga dalam.
Sling!
Sling!
__ADS_1
Gaal Van melancarkan tebasan silang, namun dewa Evo dengan mudahnya merupakan tebasan silang itu menjadi hembusan angin sepoi-sepoi.
"Tebasan pembelah ruang!" Gaal Van melancarkan tebasan pembelah ruang yang merupakan salah satu teknik dewa pedang yang agung.
"Percuma." Dewa Evo berucap santai dan merubah tebasan itu menjadi angin sepoi-sepoi kembali.
"Sekarang giliranku." Ucap dewa Evo begitu santai.
Dewa Evo mengambil daun-daun yang berjatuhan, lalu melemparkannya kepada Gaal Van yang kembali melancarkan tebasan energinya. Daun-daun itu berubah menjadi shiruken yang berputar sangat cepat dan langsung menuju Gaal Van yang bersiap menyambutnya.
Ting! Ting! Ting!
Gaal Van memotong semua shiruken itu, lalu berlari menjauh dari dewa Evo yang sudah menciptakan bola api dari tebasan energi yang dia lancarkan sebelumnya.
"Kemampuan orang ini sangat sederhana tapi merepotkan." Gumam Gaal Van dan bersiap menyerang balik.
Dalam sekejap dewa Evo sudah berada di depan Gaal Van dan melancarkan tinju ke dada, Gaal Van dengan sigap menangkis tinju energi tersebut.
Bang!
Tang!
Bang!
Tang!
Mereka terus saling serang dengan sangat sengit, pertarungan itu diakhiri dengan tebasan di dada dewa Evo dan disusul tendangan keras yang membuat dewa Evo terlempar jauh.
"Hosh, hosh, hosh!"
Gaal Van kelelahan begitu juga dewa Evo yang juga kelelahan selain rasa sakit akibat tebasan Gaal Van tersebut.
"Matilah sialan, Tebasan naga penghancur kertas." Gaal Van melancarkan serangannya yang berbentuk tebasan dengan aura kepala naga yang mengintimidasi.
"Kamu yang mati!" Disisi lain dewa Evo mengarahkan tangannya kepada Gaal Van, lalu mencengkram dengan sangat kuat.
Bang!
Dewa Evo terbelah menjadi dua, hal itu sekaligus menandakan dewa Evo terbunuh oleh tebasan energi Gaal Van yang sangat mematikan tersebut.
"Maaf master," Ucap dewa Evo lirih sebelum dia benar-benar mati.
Sementara Gaal Van ditusuk tombak tanah hasil memanipulasi tanah yang dilancarkan dewa Evo. Tusukan itu menusuk sekujur tubuh Gaal Van, namun untungnya tusukan tombak tanah itu tidak mengenai organ vitalnya.
"Sial, uhuk, uhuk, aku tidak boleh mati,"
"Disini." Ujar Gaal Van menolak pingsan sembari batuk darah beberapa kali, namun apa daya dia harus menutup mata dan berharap diselamatkan orang lain.
Bersambung.
__ADS_1