
Penyihir yang bernama Kiboy dan kepala desa yang bernama Mukidi itu pergi memeriksa keadaan, namun ternyata mereka tersesat akibat sihir kabut milik Derrick, mereka berdua terus berakhir ditempat sama berulang-ulang.
"Ada yang aneh, kenapa kita seperti memutar dan berakhir ditempat yang sama?" Kiboy mulai menyadari sesuatu, ketika melihat bongkahan dinding yang hancur sama persis beberapa kali.
"Iya kita seperti berputar di penjara ini dan berakhir ditempat yang sama." balas Mukidi sambil jalan keluar, dan benar mereka dapat keluar area penjara itu dengan mudah.
"Ini..., apakah pemuda itu memiliki sihir ilusi?" Kiboy terkejut mendapati fakta tersebut, dia tidak pernah menyangka akan dipermainkan oleh ilusi.
Slush!
Kiboy menghindar kesamping, hal itu menyebabkan peluru yang Derrick lepaskan tidak mengenainya, disaat yang sama Kiboy melancarkan bola api berukuran kecil kearah Derrick.
"Kamu masih hidup?" tanya Kiboy sambil menciptakan dinding api untuk menangkis tusukan Derrick.
Cr0t!
"Ugh...," Kiboy tertusuk keris Derrick, lalu dilempar jauh dengan tendangan ke dada.
"Menciptakan dinding energi untuk menangkis kekuatan kegelapan, benar-benar ceroboh, aku heran kenapa kamu sangat membanggakan diri dan mengaku sebagai penyihir terhebat." ujar Derrick dengan santai dan melancarkan tebasan energi.
Kiboy menghindar dan menciptakan dinding tanah untuk menangkis tusukan Derrick kembali, "Tanah pengapit kematian!" teriak Kiboy sambil menciptakan dua dinding tanah dan menghantam Derrick dari dua arah.
Bang!
Derrick berhasil menghindar dan melancarkan tendangan ke dagu Kiboy, lalu meninju perut Kiboy hingga bolong. "Lumpur?" tanya Derrick bingung, namun sebuah balok yang terbuat dari tanah muncul dari dinding dan menghantamnya hingga terhempas dan menghancurkan dinding lainnya.
"Haha, kamu terlalu lemah dasar bodoh!" Kiboy tertawa keras dan mengejek Derrick yang dihantam balok tanah hingga seluruh tubuhnya tertutup rapat.
"Jangan sombong dulu, dukun!!!" ujar Derrick sambil mengubah balok tanah itu menjadi minyak tanah.
"Ternyata kamu memiliki sihir unik, Ahhh, sialan! sakit sekali." Kiboy malah tertarik dan mendekati Derrick, namun dia menginjak jebakan beruang yang Derrick buat dengan sihir pengubah bentuk dan sifat.
Booom!!!
Ledakan besar terjadi akibat bom granat yang Derrick persiapkan sebelumnya, Kiboy selamat karena melapisi tubuhnya dengan lumpur meskipun beberapa tubuhnya terluka akibat ledakan tersebut.
"Ternyata begitu." Kiboy mengingat setiap Derrick menghindar selalu memegang batu bongkahan dari dinding yang hancur atau menyentuh lantai.
"Sepertinya sihirmu mengubah apapun menjadi ledakan, benar-benar menarik!" Kiboy tersenyum riang dan membuka buku sihirnya.
"Sihir lumpur: lapangan lumpur!" teriak Kiboy menggunakan teknik sihirnya, tiba-tiba seluruh tanah menjadi lumpur dan membuat Derrick kesulitan bergerak.
Derrick menggunakan sihir angin untuk berjalan diatas lumpur dan berlari menyerang Kiboy yang langsung menghindar dan menciptakan tombak lumpur, Derrick menyemburkan bola api untuk melawan tombak lumpur itu.
"Tinju banteng api!" Derrick melancarkan serangan ke dada.
Bang!
Kiboy tidak sempat mengantisipasi tinju itu dan membuatnya terlempar dan menghancurkan dinding, lalu memuntahkan seteguk darah segar disertai batuk beberapa kali.
__ADS_1
"Sihir api: bayangan cermin!"
Kiboy menghilang menjadi api, hal itu membuat Derrick hanya meninju angin, disaat yang sama tinju bergerigi terbuat dari lumpur menghantam dagu Derrick hingga terbang kebelakang.Derrick berhasil mendarat dengan sempurna, namun tiga dinding tanah yang berbentuk segitiga tajam menghantamnya disaat bersamaan.
Bang!
"Sihir api: seribu pedang api!" Kiboy kembali menyerang dari atas.
Derrick yang berhasil menahan tiga segitiga tanah itu dengan sihir angin langsung dihantam ribuan pedang api, sampai-sampai tubuhnya penuh dengan pedang dan darah.
"Haha, kesatria sihir lemah sepertimu berani-beraninya menantang penyihir hebat sepertiku, sungguh bodoh!" Kiboy tertawa senang dengan gestur tubuh menyombongkan diri.
Derrick yang sekarat itu terjatuh dan tak bernafas lagi setelah berusaha keras menatap tajam Kiboy yang tertawa sombong diatasnya.
"Apakah dia mati?" tanya Mukidi yang sedari awal sembunyi ketakutan, Kiboy dengan sombong mengatakan bahwa Derrick sudah mati.
"Selanjutnya...," Kiboy tertusuk keris tepat dilehernya ketika berniat mencari dan membunuh Varg dan juga Resi yang dia duga juga selamat dari ledakan yang dia ciptakan sebelumnya.
"Kekuatanku adalah melukis, apapun yang ku lukis akan menjadi nyata, dengan teknik lukisan dewa aku bisa sesuka hati memindahkan, menukar, ataupun menambah sesuatu di dunia nyata." gumam Varg sambil melihat lukisan yang mirip dengan tempat pertarungan antara Derrick dan Kiboy.
Sebuah buku sihir terbang disekitar Varg dan membuka sebuah halaman yang berjudul teknik lukisan dewa, dimana itu adalah teknik yang sedang digunakan.
"B-bagaimana bisa... k-kamu masih hidup?" tanya Kiboy terbata-bata dengan mata melotot kepada Derrick, lalu beralih ke mayat Derrick yang terbunuh.
Mayat Derrick itu berubah menjadi cair dan berwarna hitam seperti tinta lukisan, lalu Resi muncul dengan menuntun Varg yang masih terluka dan sulit berjalan akibat penyiksaan yang dia dapatkan.
Ok.., skip.
"Kenapa tidak biarkan saja bajingan ini mati?" tanya Derrick tidak senang dengan tindakan Resi yang menyembuhkan Kiboy sang penyihir dan memborgol Mukidi sang kepala desa.
"Sebagai kesatria sihir kita tidak bisa membunuh sembarangan orang, mereka berdua harus diadili." balas Resi, Varg yang sudah sedikit sembuh datang menghampiri Derrick.
"Karena aku menyelamatkanmu tadi, maka kita impas." ucap Varg dengan senyum sombong, Derrick tidak menjawab dan memilih pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Resi.
"Itu bukan urusanmu!" balas Derrick dingin tanpa menoleh, lalu menghilang meninggalkan debu.
"Bajingan itu selalu melakukan apapun sesuka hatinya, dia benar-benar tidak menghargai kita." ujar Varg sedikit kesal dengan Derrick, Resi hanya tersenyum kecil mendengar keluhan Varg tentang Derrick.
"Ayo kembali ke ibukota dan menyerahkan dua sampah ini." ajak Resi, namun ketika dia berbalik dua tahanannya itu sudah mati secara misterius dengan mulut berbusa.
Resi cepat-cepat memeriksa dua orang tersebut, lalu menyimpulkan bahwa mereka terbunuh akibat racun.
"Apakah bajingan itu telah meracuni mereka?" Varg menuduh Derrick yang meracuni Kiboy dan Mukidi.
"Bukan Derrick yang meracuni mereka, tapi orang lain." ujar Resi sambil mengambil dua jarum kecil di leher Kiboy dan mencium bau racun di jarum tersebut.
Sementara itu Derrick sendiri sibuk memasang bendera segel di empat penjuru dan mengurung sebuah gunung yang dimana para pekerja dipaksa menggali dan mendapatkan material batu sihir.
__ADS_1
"Teknik segel: formasi pembunuh dewa." ujar Derrick mengaktifkan formasi pembunuh dewa dengan empat batu sihir sebagai mesin penggerak agar formasi itu bertahan lama dan tidak menguras banyak mananya.
"Sudah siap, selanjutnya...," Derrick tersenyum kecil dan bersemangat sambil melihat tempat tambang dimana para warga dipaksa bekerja untuk menambang batu sihir.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara orang menggali tambang saling bersahutan, beberapa orang sedang berdiri mengawasi sambil memecut orang yang sedang menggali atau membawa hasil tambang yang berbentuk batu bercahaya, ada seorang pria tua tiba-tiba jatuh tersungkur.
"Berdiri!" teriak pengawas sambil memecut orang tua itu.
Orang tua itu tidak berdiri dan malah terus mengatakan haus dari mulut keringnya, "Berdiri tua bangka!" teriak pengawas kembali sambil memecut hingga pria tua itu kesakitan tanpa bersuara.
"Tidak mau berdiri juga? baiklah." pengawas berniat memecut kembali, namun Derrick tiba-tiba datang menangkap pecutan tersebut, lalu membuangnya ke samping dengan kasar.
"Siapa kamu?" tanya pengawas itu galak hingga memancing semua orang untuk melihat kearah mereka.
"Kenapa kamu tidak melawan kakek?" tanya Derrick kepada pria tua dan mengabaikan pengawas yang berteriak kepadanya.
"Nak pergilah, jika tidak mereka juga akan menangkapmu." pria tua bernama Tri itu malah menyuruh agar Derrick pergi dengan tergesa-gesa.
"Haha, itu tidak mungkin terjadi, karena kamu sudah datang maka kamu harus bekerja disini." pengawas itu tertawa mengejek.
"Nak pergilah, kakek akan menghadang mereka." Tri yang sudah tua rentah itu berdiri di depan Derrick untuk menghadang agar pengawas itu tidak menangkap Derrick.
"Apakah kamu ingin mati tua bangka!" teriak pengawas dan memecut Tri dengan sangat keras hingga Tri kesakitan, hal itu membuat beberapa pemuda geram.
Derrick langsung berlari pergi, melihat hal itu pengawas itu berteriak agar pengawas lainnya membantu menangkap Derrick, para pengawas itu mulai bergerak, namun mereka terkejut karena tidak dapat menggunakan sihir.
Derrick melempar dua karung yang dia bawa ke kerumunan pekerja tambang, lalu menembak salah satu pengawas di bagian bahu kanannya.
"Ahh, apa itu? pistol?" teriak pengawas itu kesakitan sambil memegang luka tembak di bahu kanannya.
Wajar saja pengawas tidak tahu bahwa Derrick menggunakan pistol, karena pistol yang ada hanya berbentuk kuno dan sangat jarang digunakan orang, sementara Derrick yang berasal dari dunia lain memakai pistol modern yang tidak dikenali orang yang ada di dunia baru.
"Selamat berjuang!" ujar Derrick dan pergi menjauh.
Para pekerja yang menyadari bahwa pengawas tidak dapat menggunakan sihir langsung bereaksi dan membuka karung yang Derrick berikan yang ternyata berisi pistol dan juga kunci gelang penyegel sihir yang Derrick curi dari pengawas kepala beberapa waktu lalu.
"Kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir, padahal gelang sialan itu sudah kulepas?" tanya salah satu pekerja heran, namun seseorang memberitahunya bahwa para pengawas juga mengalami hal yang sama.
"Mungkinkah dewa sihir membantu kita?" tanya pekerja itu dengan mata berkaca-kaca.
"Haha, dewa itu tidak pernah ada, jikapun ada mereka pasti yang akan menyiksa manusia lemah seperti kita dengan tangan mereka sendiri." balas yang lain mengejek.
"Kamu terlalu banyak mendengar kisah dewa jahat, makanya pendapatmu seperti itu tentang dewa pencipta dunia." balas yang lain sambil menembak para pengawas.
__ADS_1
Tembakan itu menjadi awal pemberontakan para pekerja tambang, terlebih mereka unggul karena memakai senjata api pemberian Derrick. Dalam sekejap semua pengawas terbunuh dengan puluhan luka tembak di tubuh mereka, lalu formasi pembunuh Dewa berakhir.
Sementara Derrick sudah pergi jauh dari desa karena telah menyelesaikan misinya di desa tersebut.