
"Kamu baik-baik saja pangeran?" Tanya Jenderal Wang.
"Aku baik-baik saja, terimakasih jenderal Wang." Jawab Xiao mengangguk.
"Kita serang sama-sama." Ujar Jenderal Wang, Xiao mengangguk mengerti.
Jenderal Wang melempar pedangnya keatas, lalu melakukan segel tangan unik, pedang itu berubah menjadi pedang api yang berukuran sangat besar, memiliki tinggi 20 meter dan lebar 5 meter dengan api yang membara.
Xiao tidak ketinggalan dengan mengalirkan semua mananya kepadanya.
"Pedang penghakiman dewa api!"
"Tebasan kepala naga iblis!"
Teriak mereka berdua bersamaan menyerang, pedang api yang membakar dan tebasan beraura naga langsung menuju benteng dan siap menghancurkannya.
"Perisai!" Perintah Jenderal Riskoq.
Semua pasukan dalam benteng menciptakan perisai, bahkan para pemanah dan penembak meriam juga ikut menciptakan perisai.
Bang! Bush!
Perisai bertahan beberapa detik, namun tetap saja hancur berkeping-keping, jenderal Riskoq langsung maju dan menahan serangan itu dengan kekuatannya yang berupa perisai penakluk.
Bush!
Kedua serangan itu langsung dibelokkan kesamping kanan dan mengenai pasukan kerajaan Roban sendiri, lalu meledak dan membunuh ribuan prajurit yang terdampak.
"Aku pernah mendengar salah satu jenderal kerajaan Samla memiliki atribut perisai aneh, atributnya diremehkan namun 3 tahun kemudian dia membuktikan bahwa atribut bukan satu-satunya kekuatan."
"Menghadapinya dalam perang ini membuatku bersemangat." Jenderal Wang tersenyum mengerikan.
Jenderal Wang terlihat sangat bersemangat dan bergairah, bahkan dia tidak peduli dengan pasukannya yang hancur oleh kekuatannya sendiri.
Kabar baiknya gerbang depan, kiri, dan belakang berhasil didobrak karena prajurit musuh tidak sempat mengalirkan mana ke gerbang agar bertambah kuat, setelah fokus menciptakan perisai untuk menahan serangan kombinasi Xiao dan Jenderal Wang.
"Serang!"
Teriak kapten prajurit, dalam sekejap pasukan kerajaan Roban memasuki benteng dan disambut oleh pasukan kerajaan Samla yang mau tidak mau harus kontak langsung.
Terjadi perang dalam benteng, sementara sebagian prajurit berhasil membunuh binatang ajaib yang dilepaskan, yang tersisa hanya tiga binatang ajaib saja yaitu Gajah api yang Derrick lawan, Ular tanah yang Raki lawan, dan seekor burung gagak listrik yang dilawan 10 orang prajurit.
"Kalian fokus saja menyerang, gajah ini biarkan aku yang menanganinya." Ucap Derrick kepada prajurit yang berniat membantu, para prajurit mengangguk dan segera menyerang dalam benteng.
Mereka tidak bisa menolak perintah seorang kesatria sihir yang statusnya setara dengan jenderal pasukan.
Trang! Ting! Ting! Trash!
Jenderal Wang melancarkan tebasan demi tebasan kepada jenderal Riskoq yang memiliki atribut pertahanan.
"Menarik! Aku akan membelah pertahananmu, Riskoq!" Berteriak. Jenderal Wang melakukan tebasan dari atas kebawah dengan pedang yang diselimuti api.
__ADS_1
"Perisai dewa!" Riskoq menahan.
"Hee... perisai tolak!" jenderal tersenyum kecil, lalu membuat jenderal Wang tertebas.
"Begitu rupanya, perisaimu bisa mengembalikan seranganku." Jenderal Wang mengambil kesimpulan.
"Seratus untukmu, pendekar pedang!" Balas jenderal Riskoq dengan senyum mengembang.
Tiga orang berdiri di samping jenderal Riskoq dengan momentum yang menakjubkan, "Maaf saja, dalam perang tidak ada satu lawan satu." Ujar jenderal Riskoq dengan menampilkan senyum licik kepada Jenderal Wang yang sendirian.
"Kalau begitu, izinkan daku bergabung dalam perkelahian kecil kalian." Menghampiri. Ucap Xiao dengan pedang yang penuh darah menggesek lantai dan membuat beberapa percikan api.
##
Disisi lain terjadi pemberontakan dimana-mana dalam kerajaan Roban setelah perang dua kerajaan pecah di perbatasan utara, pemberontakan itu dipimpin beberapa pejabat yang ternyata bagian dari VAR.
6 markas kesatria sihir kecuali markas pasukan kegelapan diserang oleh salah satu penjaga yang membawa sekitar 20 orang, membuat keadaan ibukota mencekam.
Markas pasukan Bioa.
"Menyerah saja nona Christine, kamu bukan lawanku." Ujar penjaga 7 yang bertanggung jawab dalam penyerangan kepada markas kesatria sihir Bioa pimpinan Christine Bioa.
Hal itu juga berlaku dengan 5 pasukan kesatria sihir lainnya yang diserang oleh salah satu penjaga, yang paling menarik pasukan kesatria sihir elang cahaya yang diserang oleh penjaga 10 (Deka) seorang diri tanpa membawa pasukan.
"Percuma saja, kalian terlalu lemah untukku." Ucap Deka kepada empat orang yang masih bertahan, sementara ratusan lainnya sudah terkapar di tanah, tidak pasti apakah mereka hidup atau mati.
"Dia terlalu kuat, uhuk, uhuk." Sang komandan batuk darah, bahkan berdiri pun susah.
"Komandan larilah, kami akan menahan bajingan ini!" ucap salah satu kesatria sambil mendorong komandannya kepada dua orang lainnya.
"Hooh...," Penjaga 10 menonton dengan bosan.
"Kalian yang harus lari, aku akan membunuh bajingan ini." ucapnya sang komandan menolak.
"Komandan...,"
"Pergi!" Teriak Komandan memerintahkan untuk pergi.
Dengan berat hati mereka pergi, namun baru sampai gerbang mereka terbunuh dengan kepala bolong akibat lemparan peluru yang berukuran mata ayam.
"Aku tidak mengizinkan mereka untuk pergi, jangan meremehkanku." Ujar penjaga 10 santai sambil memain-mainkan 5 peluru ditangannya.
"Kurang ajar!" Sang komandan berteriak marah, lalu menyerang dengan kecepatan tinggi, namun saat hendak menyerang dia tertangkap dengan tangan yang mendekap mulutnya.
"Ksihmms... mm," Komandan elang cahaya itu melotot marah dan berusaha mengatakan sesuatu, namun bekapan penjaga 10 itu sangat kuat.
"Kamu memang cepat, tapi aku tidaklah lambat." ucap penjaga 10 dingin, lalu membenturkan kepala sang komandan elang cahaya itu ke atap tempatnya berdiri.
Sang komandan terus memberontak dan berusaha melepaskan diri, namun beberapa lama kemudian dia terdiam dan tidak memberontak lagi.
"Huaammm, membosankan." Ucap penjaga 10 setelah melempar sang komandan kebawah, lalu mulai tidur setelah menguap beberapa kali.
__ADS_1
##
Di benua Naga Hitam.
Sebuah ruangan besar dan luas dengan dinding emas, pasukan berbaris di sepanjang jalan menuju kursi tahta besar yang berada dan berdiri megah di tengah-tengah ruangan tersebut. Lao Aidan terlihat duduk di singgasana itu dengan tangan menopang pipi, seorang pelayan cantik terus menyuapinya dengan sebutir anggur.
"Makanan manusia memang enak dan nikmat." gumamnya sambil membuka mulut menyambut anggur selanjutnya.
"Tubuh manusia ini juga tidak terlalu buruk, tapi kekuatanku ada pada manusia hina itu, aku merasa tidak lengkap." gumamnya menggeleng, itu adalah kalimat kesekian kalinya keluar dari mulut Lao Aidan.
"Yang mulia tenang saja, setelah kita menguasai benua ini, tidak terlambat mencari orang itu sembari menaklukkan benua lainnya." ujar pria tua yang duduk tidak jauh dari posisi Lao Aidan berada.
"Hm...," Lao Aidan hanya mendengus.
Tiba-tiba seseorang yang kepalanya hanya tengkorak yang terbakar datang keruangan itu, lalu berlutut dihadapan Lao Aidan dengan pose hormat.
"Salam yang mulia kaisar iblis yang agung Colikay." Ucapnya memberikan salam.
"Ou..., Silva jenderal terkuat dan yang paling setia milikku." Ucap Lao Aidan dengan tersenyum senang, bahkan dia duduk dengan benar dan mengusir pelayan cantiknya agar menjauh.
"Ada berita apa?" Tanyanya dengan antusias, tengkorak api yang bernama Silva itu menatap langsung Lao Aidan.
"Yang mulia kerajaan Besi berhasil hamba taklukan, namun dewa pedang berhasil melarikan diri." Ucapnya dengan dingin dan berwibawa.
"Haha, kamu berhasil menaklukkan kerajaan manusia yang kuat itu, haha, kamu memang jenderal terkuatku, kerja bagus Silva!" respons Lao Aidan senang mendengar kabar tersebut.
"Tapi orang itu masih hidup, dia memang manusia yang menyebalkan." Ucapnya kemudian dengan kesal.
"Itu wajar, dia adalah manusia yang sangat kuat dan hampir membunuhku saat itu." ucapnya kembali.
"Yang mulia tenang saja, hamba akan membunuhnya cepat atau lambat." Ucap tengkorak api itu dengan percaya diri.
"Haha, kalau begitu beritahu aku berapa orang yang dia bunuh di sampingmu?" tanya Lao Aidan.
"Empat orang...,"
"Bukan, bukan, bukan itu maksudku." Potong Lao Aidan, Silva terdiam sesaat, dia sebenarnya tahu maksud Lao Aidan namun dia menolak mengakui.
"Aku, Ai, Ap, Ta, dan Ang menghadapinya dalam perang, namun dia berhasil kabur dan membunuh Ai, Ta, dan Ang..., yang mulia." Ucapnya menunduk malu.
"Haha, dengan hasil seperti itu kamu beraninya mengatakan akan membunuhnya?" Tanya Lao Aidan dengan menampilkan senyum, namun Silva berkeringat dingin.
Cr0t!!!
Tiba-tiba Lao Aidan sudah ada di depan Silva dengan tangan menusuk dan menembus bahu Silva, darah berwarna hitam seketika tumpah membasahi karpet merah.
"Lain kali jangan beromong besar dihadapanku, mengerti, Silva?" Ucapnya dengan tersenyum ceria.
"Mengerti yang mulia." Silva menjawab dengan terbata-bata dan menahan sakit.
"Baguslah, kamu bisa pergi!" ucapnya dengan ceria menyuruh Silva pergi.
__ADS_1
Setelah Silva pergi senyum ceria yang dia tampilkan berubah menjadi senyum kejam dan mengintimidasi.
"Dewa pedang yang agung aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Ucapnya dingin, lalu duduk kembali di singgasananya.