Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
300 Tahun yang Lalu bagian 3


__ADS_3

Dewa penyihir termuntah beberapa kali, dia terlihat seperti seseorang yang sangat kelelahan atau habis berlari di gurun pasir tanpa beristirahat sama sekali, hingga membuatnya seperti orang yang terkena sakit tipes.


"Haha, mana unlimited tidak akan berguna jika kamu kelelahan, itu membuktikan kamu adalah manusia biasa yang beruntung dipanggil dewa, tidak!... maksudku kamu adalah manusia biasa yang dipuja sebagai dewa oleh orang-orang bodoh seperti pengikutmu." sebuah suara tiba-tiba terdengar di telinga dewa penyihir.


"Berisik!" bentak dewa penyihir dan membuat para jendral yang dekat dengannya terlempar jauh karena amukan dewa penyihir.


"Yang mulia dewa yang agung...," salah satu jenderal heran.


"Serang mereka, bunuh mereka, bunuh mereka semua untukku, sialan!" teriak dewa penyihir.


Semua jenderalnya mengangguk dan memerintahkan untuk menyerang pasukan aliansi secara langsung, pasukan aliansi yang terseok-seok karena terus menggunakan mana menahan serangan dewa penyihir juga menyerang balik menyambut mereka.


Perang langsung akhirnya dimulai.


Ribuan anak panah, ribuan bola api, ribuan tombak, hingga ribuan pelempar bola api (batu api) berterbangan menuju ke satu sama lain seperti kembang api yang saling serang.


Dalam sedetik ribuan nyawa melayang baik nyawa pasukan aliansi atau nyawa pasukan dewa penyihir.


"Tembak!" teriak jenderal 1 memberi perintah kepada pasukan artileri agar melepaskan tembakan batu api berukuran besar dari pelempar sederhana (ketapel)


"Tembak!" teriak pasukan artileri, dalam sedetik puluhan batu api terlempar oleh ketapel dan menghantam pasukan dewa penyihir.


"Dinding tanah!" teriak jenderal pasukan dewa penyihir menanggapi batu api.


Ratusan penyihir menciptakan dinding tanah untuk menangkis batu api tersebut, lalu pasukan dibelakang melepaskan ribuan anak panah sesuai perintah lanjutkan sang jenderal.


"Maju!" teriak jenderal 2 pasukan aliansi yang bertugas mengkomandoi pasukan berkuda memerintahkan pasukannya, pasukan dewa penyihir juga melakukan hal yang sama.


Bang!


Trang!


Tang!


Bush!


Benturan dua pasukan itu terdengar dimana-mana, adu sihir, adu senjata, hingga adu strategi mewarnai jalannya perang besar antara aliansi melawan dewa penyihir.


"Aku akan membunuh mereka semua." dewa penyihir mengayunkan tangannya dan menciptakan gelombang kejut yang menewaskan ratusan pasukan.


"Panah...,"


Sebuah panah hampir menusuk tubuh dewa penyihir yang hendak menyerang dengan sihir es yang berbentuk panah, tiga orang menyerang bersamaan.


Bang!


****!


Bang!


Tiga orang itu langsung terbunuh oleh dewa penyihir dalam sekali serangan, dewa penyihir bersiap menyerang dengan sihir, namun muncul prajurit baru yang menyerang.


"Percuma saja, kalian terlalu lemah!" ucap dewa penyihir sambil melempar mayat salah satu prajurit yang menyerangnya, namun prajurit lain tidak peduli dan terus menyerang meskipun mereka tahu akan berakhir mati dalam sekali serangan atau pukulan dewa penyihir.


Sat set sat set.


Dewa penyihir membunuh puluhan prajurit yang berlari menyerangnya dalam sekali serangan, banyak darah yang dia tumpahkan sampai-sampai tubuhnya kotor dengan darah.


"Sekarang sihir...,"


Dewa penyihir kembali mengurungkan niatnya menggunakan sihir berskala besar ketika sebuah panah menuju kearahnya, lalu disusul sepuluh prajurit berpedang yang menyerangnya.

__ADS_1


"Pusaran angin!" dewa penyihir membuat sepuluh prajurit itu terhempas ke segala arah dengan pusaran anginnya, lalu membentuk manusia berzirah sebesar gunung yang terbuat dari elemen angin (kita sebut saja manusia angin raksasa).


"Matilah!" teriak dewa penyihir mengayunkan pedang manusia angin raksasa dan membunuh ribuan prajurit, baik prajurit aliansi atau prajurit miliknya sendiri.


Para prajurit terus menyerang meskipun pada akhirnya mereka mati begitu saja, puluhan batu api dari pasukan artileri menghantam dewa penyihir berkali-kali hingga manusia angin raksasa itu retak dan hancur tak lama kemudian.


"Serang!" perintah salah satu komandan yang memimpin pasukan artileri ketika zirah angin raksasa hancur.


"Pasukan artileri? aku benci mereka." teriak dewa penyihir dan bersiap menggunakan sihir kuat berskala besar kepada pasukan artileri, namun para prajurit tidak membiarkannya begitu saja.


Pada akhirnya dewa penyihir terus menggunakan sihir kecil, karena ketika mencoba sihir besar dia rentan diserang karena waktu sihir besar terbentuk sangatlah lama.


"Untuk menghentikan penyihir gila ini menggunakan sihir besar, kita harus banyak mengorbankan prajurit." gumam salah satu komandan dengan nada gemetar.


"Seandainya aku cukup kuat, aku sendiri yang akan maju dan menghentikannya." ucapnya dengan sedih ketika melihat dan mendengar teriakan kematian para prajurit akibat satu serangan dewa penyihir.


Bush!


"Ugh...," dewa penyihir yang terus diserang pada akhirnya terkena sihir api oleh salah satu prajurit, bahkan ada beberapa tubuhnya terluka akibat panah yang terus dilancarkan oleh para pemanah.


Meskipun begitu tubuh dewa penyihir yang terluka langsung sembuh karena regenerasi yang dewa penyihir miliki.


"Sialan! akan kubunuh kalian!" teriaknya marah dan menghilang, lalu muncul di barisan penyihir dan membantai mereka semua.


Namun tetap saja pasukan musuh terlalu banyak, jika mati maka pasukan lainnya mengisi kekosongan yang ditinggal mati tersebut.


"Apa yang dilakukan para bajingan itu?" teriak dewa penyihir frustrasi karena terus menerus diserang dan membuatnya sulit menggunakan sihir berskala besar, namun pasukannya tidak datang membantu, dia semakin terpojok karena kelelahan.


****!


Sebuah pedang menusuk tubuh dewa penyihir, dewa penyihir marah dan langsung mencengkram kepala prajurit itu hingga hancur, dewa penyihir menghilang lalu membantai pasukan yang ada.


"Komandan!" teriak salah satu prajurit, namun terlambat sang komandan sudah terbunuh oleh dewa penyihir.


"Demi menusukku, kamu rela mati? sepertinya kalian sudah siap mati dalam perang ini, uhuk." dewa penyihir termuntah beberapa kali, dia terlihat mulai kelelahan, namun para prajurit terus berdatangan dan menyerang.


"Siapa yang ingin mati majulah!" teriak dewa penyihir sambil mencabut pedang yang menusuk jantungnya agar regenerasinya berjalan, dia menyambut para prajurit yang menyerangnya.


Kita tinggalkan dulu dewa penyihir yang terseok-seok oleh ribuan pasukan yang fokus menyerangnya, kita beralih ke salah satu jenderal dewa penyihir yang bertemu dengan jenderal aliansi.


"Aku dengar kamu pernah membunuh 10 ribu pasukan seorang diri, apakah itu benar ataukah sebuah omong kosong?" tanya jenderal Hante dari pasukan dewa penyihir kepada jenderal Gerrard (jenderal 1) pasukan aliansi.


"Itu tidak penting!" jawab Gerrard menyerang dengan tebasan api horizontal.


Jenderal dewa penyihir yang bernama Hante itu tersenyum dan menciptakan dinding tanah, namun terbelah oleh tebasan api tersebut.


Sling!


Gerrard menebas Hante yang menghindar dengan melompat keatas, namun sekali lagi dihindari dan malah menyerang balik dengan sihir tombak tanah.


"Sihir api: tebasan naga api!" Gerrard menyerang dengan tebasan naga api yang langsung dilawan dengan pusaran angin.


Trang!


Dua jenderal itu saling tebas, Gerrard menggunakan pedang dan sihir api, sementara Hante menggunakan tombak dan sihir tanah.


Trang!


Trang!


Trang!

__ADS_1


Mereka saling serang satu sama lain, mereka terlihat seimbang dan sama-sama kuat.


"Sihir tanah: jurang kematian!" Hante menciptakan jurang, namun Gerrard berhasil menghindar dengan melompat mundur.


"Bola api!" Gerrard menyerang dengan menyemburkan bola api, disaat yang sama tiga batu api dari pasukan artileri juga menyerang.


Boom!


Hante menghindar sejauh mungkin, namun tetap saja dia terkena ledakan itu, Gerrard langsung menebasnya, Hante kembali menghilang.


Cr0t! cr0t! cr0t!


Sial bagi Hante dia yang menghindar dari tebasan ternyata menghindar ketempat dimana anak panah berterbangan, hal itu membuatnya terpanah.


"Dasar bodoh!" teriak Gerrard dan langsung menebasnya.


Hante yang kelelahan dan terluka akibat belasan panah itu pada akhirnya terbunuh oleh Gerrard, sementara Gerrard sendiri sangat kelelahan dan langsung dilindungi oleh ratusan prajurit.


"Bawa jendral ketempat aman!" teriak kapten kepada prajuritnya, namun pasukan musuh sudah menyerang.


"Jangan takut, kita lebih banyak!" teriak kapten dan menyerang pasukan musuh diikuti anak buahnya, sementara sebagian anak buahnya membawa jenderal Gerrard pergi ketempat aman.


Perang itu semakin intens dan brutal ketika hari mulai malam, tampaknya pasukan aliansi tidak membiarkan pasukan musuh beristirahat, terutama dewa penyihir yang sudah penuh luka meskipun dia telah membunuh 30 ribu orang dengan kemampuan bertarungnya.


"Dia memang petarung hebat seperti yang dirumorkan." gumam raja Sanggia yang terus memperhatikan pasukannya menyerang dewa penyihir.


"Sepertinya kami akan menang perang tanpa bantuan mereka." gumam raja Sanggia bersemangat ketika melihat kondisi dewa penyihir yang penuh luka meskipun beregenerasi, dewa penyihir juga terlihat tersengal-sengal tanda kelelahan akibat bertarung.


"Lindungi aku sialan!" teriak dewa penyihir dengan frustrasi, anak buahnya langsung berkumpul dan melindungi.


"Tidak akan kubiarkan!" raja Sanggia akhirnya bergerak dengan melempar tombak ke dewa penyihir, lalu mencabut pedangnya.


"Arg... sialan!" dewa penyihir terkena tombak itu ketika fokus menciptakan sihir besar, dia terkejut melihat raja Sanggia yang menujunya dengan kecepatan penuh.


"Matilah!" dewa penyihir menyerang balik dengan tebasan angin, namun itu hanya membelah kuda raja Sanggia saja.


Trang!


Salah satu pengawal menangkis tebasan raja Sanggia, namun dia langsung terbunuh oleh tebasan jenderal dua (jenderal Ranver) yang juga ikut menyerang dewa penyihir.


Bush!


Dewa penyihir menyerang Ranver dengan telapak api, namun raja Sanggia menangkis dan membuatnya terlempar, sementara dewa penyihir ditebas oleh Ranver.


"Sialan!" dewa penyihir terluka parah dan hampir mati, namun dia menggunakan sihir gravitasi, namun sialnya puluhan batu api dari pasukan artileri menghantamnya.


Dewa penyihir masih tetap selamat meskipun tubuhnya luka sana-sini, dia terlihat beberapa kali terluka meskipun memiliki regenerasi tetap saja terluka itu menyakitkan, selain itu nafasnya juga tersengal-sengal.


"Aku adalah dewa, aku tidak akan mati disini!" teriaknya dan menggunakan sihir terkuatnya yaitu 10 meteor.


Ratusan tombak, ribuan panah menujunya disaat yang sama, namun dewa penyihir tidak peduli dan tetap fokus menggunakan sihir terkuatnya.


"Hiya!!!" teriak dewa penyihir, disaat yang sama tubuhnya tertusuk ribuan panah, puluhan tombak, hingga diledakkan oleh ribuan pelempar api (batu api) dari pasukan artileri.


"Kita menang...," ucap raja Sanggia dengan senyum bahagia, namun pasrah karena mereka akan mati oleh 10 meteor yang mulai berjatuhan.


"Dengarkan perintahku!"


"Jangan biarkan musuh melarikan diri, bunuh mereka semua disini!" teriak raja Sanggia memberikan perintah.


"Balaskan dendam dewa kita, serang!" teriak salah satu jenderal memberikan semangat kepada pasukan dewa penyihir.

__ADS_1


Mereka pada akhirnya terus berperang hingga 10 meteor menghantam mereka dan membunuh mereka semua tanpa terkecuali, bahkan raja Sanggia juga terbunuh.


Semuanya mati akibat sihir 10 meteor yang dewa penyihir gunakan sebelum dia terkena ribuan panah, tombak, dan batu api.


__ADS_2