Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
300 tahun bagian Akhir


__ADS_3

3 jam kemudian.


Medan perang terlihat hancur lebur, 10 kawah terbentuk akibat meteor yang jatuh menghantam Medan perang, ribuan mayat berserakan dengan kondisi yang berbeda-beda.


Terlihat dewa penyihir yang masih hidup dengan tubuh penuh anak panah, tombak, dan luka bakar, dia selamat karena dia memiliki regenerasi dan jantungnya tidak hancur, jikapun hancur dia masih memiliki ilmu rawa rontek yang membuatnya sulit dibunuh dengan cara biasa.


"Aku masih hidup? haha, bukankah itu sudah jelas, aku adalah dewa, haha." ucapnya senang dengan tertawa sombong, lalu mencabut salah satu panah ditubuhnya dengan kasar sebagai tanda bahwa dia masih kuat.


Trap!


Trap!


Trap!


Terdengar suara ribuan langkah kaki yang teratur mendekat, dewa penyihir terdiam dan melihat ke kejauhan dimana ribuan pasukan berzirah lengkap datang dengan langkah berat, namun penuh intimidasi.


"Kalian?" dewa penyihir terkejut melihat musuh-musuhnya tersebut, wajahnya yang tertawa sombong langsung diganti dengan wajah tidak percaya.


"Kenapa kalian masih hidup, sialan!!!" teriak marah dewa penyihir dan berniat menggunakan sihir berskala besar untuk membunuh semua prajurit tersebut, namun apa daya dia sudah kelelahan.


Klep!


Dewa penyihir termuntah darah akibat tusukan seseorang yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.

__ADS_1


"Karena kami jauh dari jangkauan sihir meteor milikmu itu!" ucap pangeran kerajaan Sanggia dengan dingin, lalu menarik pedangnya dengan kasar.


"Siala...," dewa penyihir kesakitan dan termuntah darah kembali karena tindakan pangeran kerajaan Sanggia tersebut.


Kepala dewa penyihir terpenggal begitu saja oleh pangeran kerajaan Sanggia sebelum dia menyelesaikan umpatannya, sementara raja kuda besi dan raja Gerta hanya diam menyaksikan.


"Dia masih hidup, dia menguasai sihir rawa rontek." ucap raja Gerta.


"Aku tahu." jawab pangeran acuh.


Kepala dewa penyihir yang terpenggal tiba-tiba terbang dan menyatu kembali ke tubuh dewa penyihir, hal itu terjadi karena dewa penyihir menguasai ilmu sihir rawa rontek.


"Haha, kalian tidak akan bisa membunuhku, kalian tidak akan bisa membunuh dew...,mm." ucap dewa penyihir terhenti ketika pangeran menusuk mulutnya dengan pedang.


"Kamu sudah memiliki regenerasi tingkat tinggi, tapi masih belum puas hingga akhirnya menguasai rawa rontek, aku penasaran apakah kamu akan menyesalinya nantinya." ucap pangeran dan membelah mulut dewa penyihir, namun langsung beregenerasi.


"Haha...," dewa penyihir tertawa, namun kembali ditebas oleh pangeran kerajaan Sanggia.


"Aku akan membunuh ka...," dewa penyihir berniat menyerang, namun apa daya dia terlalu lelah dan tidak bisa menggunakan sihir sama sekali meskipun mananya unlimited sekalipun.


Hal itu terjadi karena meskipun mana dewa penyihir tanpa batas, dia tetap membutuhkan tenaga untuk menggunakan mana tersebut dan menciptakan sihir. Kondisi itu diperparah oleh pangeran yang terus memenggal kepalanya dan terlihat menyiksanya, karena setiap kali terluka dewa penyihir tetap merasakan sakit.


2 jam kemudian.

__ADS_1


"Bunuh saja aku, bunuh saja aku sialan!" teriak dewa penyihir memohon dibunuh dengan suara yang lemah.


"Kenapa? aku belum puas." ucap pangeran dengan dingin dan menendang kepala dewa penyihir hingga hancur.


"Bunuh saja aku!" teriak dewa penyihir yang kembali beregenerasi, dia terlihat tidak sanggup lagi menahan rasa sakit akibat penyiksaan yang pangeran lakukan.


"Haha, itu tidak mungkin!" ucap pangeran dengan tawa psikopat.


"Sudahlah, lupakan dendammu." ujar raja Hans dari kerajaan kuda besi menenangkan pangeran kerajaan Sanggia tersebut.


"Jangan hentikan aku!" balas pangeran dingin, namun dia ditampar hingga terpelanting.


"Hentikan kegilaamu! Ayahmu tidak akan hidup lagi meskipun kamu menyiksanya! Dia mungkin sedang menangis melihatmu seperti ini! Dasar bodoh!" teriak raja Hans menasehati dengan marah dan membuat pangeran itu terdiam, lalu beberapa saat kemudian menangisi kematian ayahnya yang dia tahan sebelumnya.


"Kamu penggal kepalanya dan jangan biarkan tubuhnya menyentuh tanah." ucap raja Hans kepada raja Gerta.


Raja Gerta langsung mengangkat dewa penyihir yang terlihat lemah dan tak memiliki hasrat untuk bertahan hidup tersebut, lalu memenggal kepalanya dan tidak membiarkan tubuh dewa penyihir menyentuh tanah agar ilmu rawa ronteknya tidak aktif.


"Sihir api bakarlah manusia sombong ini menjadi abu." ucap raja Gerta membakar tubuh dan kepala dewa penyihir menjadi abu, namun abunya langsung disimpan dalam guci agar tidak menyentuh tanah.


"Inilah buah kesombonganmu, kamu merasa hebat hanya karena memiliki kekuatan dan menjadi sombong karena dipuja sebagai dewa, sungguh manusia yang malang." ujar raja Gerta yang bertujuan memperingati raja Hans, pangeran kerajaan Sanggia, dan juga para prajurit, termasuk dirinya sendiri yang pasti memiliki kesombongan meskipun sedikit.


Setelah kejadian itu abu dewa penyihir dibawa dan disimpan ketempat yang jauh agar tidak bisa hidup kembali, baik disengaja atau tidak disengaja.

__ADS_1


Raja Gerta dan Raja Kuda Besi juga menasehati pangeran kerajaan Sanggia agar tidak larut dalam dendam yang akan membawanya kejurang kegelapan dan menjadi dewa penyihir versi kedua (jahat).


Baiklah berakhir sudah kisah 300 tahun yang lalu, chapter selanjutnya kita akan kembali ke cerita utama :)


__ADS_2