Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Pria Tua


__ADS_3

Pelabuhan terbesar kerajaan Roban.


"Derrick kerajaan Roban selalu terbuka untukmu jika kamu ingin kembali ke benua Eghed." Ucap raja Xiao yang mengantar Derrick ke pelabuhan, dimana Derrick memutuskan kembali ke sekte.


"Terimakasih guru." Derrick berterimakasih sambil menangkupkan kedua tangannya kepada raja Xiao.


"Raki kamu yakin tidak ingin ikut denganku kembali ke sekte?" Tanya Derrick kepada Raki yang berada di samping raja Xiao, Raki hanya tersenyum menanggapi.


"Derrick aku sudah nyaman di tempat ini, aku tidak akan kembali." Ujar Raki dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Haha, kamu sudah nyaman berada ditempat ini, atau kamu hanya tidak ingin melepas jabatanmu sebagai komandan kesatria sihir?" Derrick tertawa dan bertanya dengan nada menggoda.


Raki yang kini sudah berstatus sebagai komandan kesatria sihir kegelapan itu hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Derrick yang memang benar adanya, namun dia tidak akan mengakuinya.


"Kakak Raki sangat haus jabatan, tidak mungkin dia akan melepas jabatannya demi kembali ke kampung halaman, menyerah saja Kak Derrick." Celetuk Jeda menanggapi Raki yang lebih memilih tidak kembali ke sekte Naga langit.


"Anak kecil tahu apa, haha." Ujar Raki sambil mengacak-acak rambut Jade.


"Baiklah, Guru..., maksudku yang mulia raja dan komandan Raki, kami pamit pergi." Ucap Derrick sambil menangkupkan kedua tangan tanda hormat, lalu segera naik keatas kapal yang mulai bergerak.


"Dadah, aku akan kembali lain waktu untuk berkunjung." Teriak Derrick di geladak kapal sambil melambaikan tangan, Xiao dan Raki juga melambaikan tangan menanggapi kepergian Derrick.


Kali ini Derrick berlayar dengan setidaknya membawa 10 kru kapal yang sebenarnya prajurit kerajaan Roban, selain para kru Resi dan Jeda juga ikut berlayar menuju benua Naga Hitam dengan alasan mencari pengalaman di benua Naga Hitam yang dikenal sebagai benua para pendekar.


##


"Ada pulau di depan sana, mari kita berlabuh di pulau itu untuk menyetok makanan yang hampir habis." Perintah Derrick kepada nahkoda kapal setelah melihat bahwa ada pulau di depan mereka melalui teropong.


"Baik tuan." Jawab nahkoda itu menerima perintah.

__ADS_1


Ketika kapal hampir berlabuh Derrick segera memerintahkan para kru untuk menggulung layar kapal agar melambat dan dapat berlabuh dengan aman dan sempurna di pelabuhan pulau.


"Siapa sangka pulau ini memiliki pelabuhan, ckckck." Gumam Derrick tak percaya, karena Derrick menduga pulau ini tidak memiliki pelabuhan kapal, namun ternyata dia salah besar.


"Jika ada pelabuhan pasti pulau ini memiliki lalu lintas perdagangan antar pulau, atau setidaknya pulau yang menawarkan tempat peristirahatan bagi para pelayar." Ujar nahkoda kapal sambil meminum bir dalam botol besar yang dia bawa.


"Begitukah? Baguslah, kita akan lebih mudah mendapatkan stok makanan di pulau ini." Ucap Derrick dan melangkah pergi turun kapal.


"Kak Derrick, tunggu aku!" Teriak Jeda yang baru saja bangun dari tidurnya dan melihat Derrick sudah turun dari kapal dan hendak pergi menjelajahi pulau.


"Aku juga ikut kalian." Resi juga turun dari kapal dan mengikuti kemana Derrick dan Jeda akan pergi.


"Baiklah." Derrick senang mereka berdua mau mengikutinya menelusuri pulau selagi para kru menyetok makanan.


"Hei pak tua, jika sudah selesai kirim pesan kepadaku melalui sihir pembawa pesan, jangan katakan kamu tidak bisa menggunakan sihir dasar itu." Ujar Derrick sembari mengancam.


"Iya, kamu tenang saja sialan! Meskipun aku hanyalah prajurit biasa dan tak berguna, aku setidaknya menguasai sihir dasar itu." Balas nahkoda kapal sedikit kesal.


"Wah kalung ini indah sekali, ukirannya begitu halus dan sangat sempurna, ditambah kalung ini memiliki mana yang mempercantik tampilannya." Ucap Resi tertarik kepada kalung yang berbentuk kapal kecil yang berwarna hijau dengan aura yang merembes keluar dari kalung itu.


"Nona begitu jeli sekali, kalung ini bernama liontin kapal raja bajak laut dengan bahan batu permata jantung laut yang sangat langka dan sulit ditemukan karena batu permata jantung laut ini hanya dapat ditemukan oleh para pelayar di tengah-tengah samudra."


"Selain itu liontin ini diukir oleh pengrajin batu permata yang sangat terkenal di pulau dewa laut ini..., eh nona?"


Saat pedagang itu sibuk menjelaskan kalung liontin tersebut, ternyata Resi sudah pergi mengikuti Derrick yang lebih tertarik dengan toko senjata yang berada di pinggiran pasar yang ramai pengunjung tersebut.


"Kamu tidak peka sekali kak Derrick, padahal ayuk Resi ingin kamu membelikan liontin itu untuknya, hadeh." Ucap Jeda sambil menepuk keningnya.


"Apa katamu Jeda, jika aku ingin aku bisa membeli liontin itu sendiri, tanpa perlu dibelikan oleh Derrick." Sangkal Resi dengan rona wajah yang memerah.

__ADS_1


"Kamu mendengarnya Jeda? Jika dia mau dia akan membelinya sendiri tanpa dibelikan olehku." Respons Derrick.


"Ayuk Resi jujurlah kepada kak Derrick, bahwa kamu mencintainya." Jeda berucap yang membuat Resi malu dengan wajah yang merah merona.


"Jeda, aku tidak mencintai pria bodoh dan kaku sepertinya." Resi menyangkal.


"Aku juga tidak menyukaimu." Balas Derrick sambil membuka pintu toko senjata tersebut, ketika melihat kedalam toko mereka bertiga disambut dengan puluhan senjata yang memenuhi toko.


Seseorang pria tua yang diperkirakan berumur 80 tahun sedang duduk di balik meja sambil membaca koran, sesekali pria itu menyeruput kopi panasnya, dia seakan tidak peduli dengan kedatangan Derrick dan yang lainnya. Pria tua itu melihat sekilas kelompok Derrick, lalu melanjutkan kegiatannya membaca koran harian yang memang menjadi rutinitasnya setiap pagi.


"Apa-apaan pak tua ini, setidaknya sambut tamu yang mengunjungi tokomu ini, bukan cuek dan acuh tak acuh, apakah kamu niat berdagang pak tua?" Ucap Jeda kesal dengan sikap pak tua tersebut yang lebih memilih baca koran daripada menyambut mereka bertiga.


"Pak tua sialan...," Jeda geram dan berniat menembak pria tua tersebut.


"Sudahlah Jeda, kita kesini untuk membeli senjata bukan membunuh orang, lagipula dia bukan lawanmu." Ujar Derrick sambil memeriksa pedang yang ada disebuah kotak yang berisi puluhan pedang di dalamnya, Jeda yang geram itu mengambil nafas dan menghembuskan kembali untuk menenangkan diri.


"Pantas saja toko ini begitu sepi, pemiliknya saja seperti itu." Ucap Jeda sambil duduk di salah satu bangku yang disediakan di sudut toko.


"Derrick aku akan mencari beberapa bahan herbal, kalian tidak perlu mencariku." Resi memilih untuk mencari tanaman herbal di pasar, Derrick hanya mengangguk kecil mempersilahkan Resi pergi.


"Ayuk aku ikut." Jeda lebih memilih ikut Resi daripada berada di toko yang dimiliki oleh pria tua cuek dan acuh tak acuh tersebut.


"Pak tua, apakah kamu memiliki senjata ajaib?" Tanya Derrick kepada penjaga toko tersebut sambil menunjukkan senyum misterius.


Penjaga toko itu menghentikan niatnya untuk menyeruput kopi, lalu menatap tajam Derrick yang tersenyum kepadanya. "Senjata ajaib berasal dari benua Naga Hitam, benua para pendekar, apakah kamu berasal dari benua itu?" Tanya pria tua dengan menyelidik.


"Ternyata memang benar, kamu adalah pendekar benua Naga Hitam, aneh rasanya aku bisa melihat tingkat kekuatan tenaga dalam milikmu, padahal benua Eghed tidak mempelajari metode peningkatan tenaga dalam." Ujar Derrick santai.


"Bahkan sudah sampai tingkat surgawi yang hanya dicapai satu orang yang hidup sekitar 2 ribu tahun lalu, apakah kamu dan orang dalam legenda itu adalah orang yang sama? secara menurut legenda siapapun yang mencapai tingkat itu akan mendapat keabadian." Ujar Derrick duduk di kursi yang berada tepat di depan meja pria tua tersebut sambil kaki menyilang.

__ADS_1


"Haha, orang yang kamu sebut itu adalah kakek ku." Pria tua itu tertawa dan menjawab dengan jawaban yang mengejutkan.


Bersambung...


__ADS_2