
Derrick yang bermeditasi di punggung Dy sedikit terganggu oleh Raki yang sibuk mengelus-elus pedangnya seperti sedang mengelus seekor kucing imut yang menggemaskan.
"Apakah kamu tidak bisa sedikit tenang?" Tanya Derrick yang masih merem dan bermeditasi.
"Bisa, tentu saja bisa, hehe." Balas Raki menjilati pedang tajamnya, lalu mulai bermeditasi untuk menenangkan diri karena perjalanan mereka cukup jauh dan membosankan.
Raki yang menyelesaikan meditasi terlebih dulu menatap kebawah ketika Dy terbang tanpa bergerak.
Buk!
"Ahhh, B4ng5at!" Teriak Raki yang jatuh akibat ditendang, Derrick tertawa terbahak-bahak melihat tendangannya sukses membuat Raki jatuh dari punggung Dy.
"Kita sudah sampai, haha." Kata Derrick tertawa, lalu melompat terjun menyusul Raki yang ditendang terjun olehnya.
Derrick melihat sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya atau monster, sementara Raki yang nyungsep dikotoran sapi termuntah beberapa kali.
"Sialan, apakah kamu ingin membunuhku?" Teriak Raki marah, namun Derrick hanya tertawa kecil dan pergi kedepan dimana terlihat beberapa rumah berdiri.
"Inikah desa Puan?" Tanya Derrick kepada dirinya sendiri, Raki yang mengomel itu diam dan melihat sekeliling desa yang begitu sepi dan tak ada aktivitas apapun.
"Kenapa begitu sepi? apakah mereka semua takut diseruduk banteng?" Tanya Raki sambil menoleh kanan-kiri seperti orang t0lol yang sedang mencari sesuatu.
Saat mereka semakin memasuki desa mereka dikejutkan oleh seseorang wanita yang acak-acakan dengan wajah datar sudah ada disamping mereka.
"Kalian dari sekte Naga langit?" Tanya wanita itu dengan senyum ramah, Derrick dan Raki yang hampir jantungan itu mengangguk membenarkan.
"Ikut aku." Ajak wanita itu datar dan pergi kearah selatan.
Wanita itu membawa Derrick dan Raki ke sebuah rumah besar yang terbilang cukup megah di desa kecil tersebut, setelah diketuk beberapa kali pintu itu terbuka dan terlihat seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan senyuman.
"Kepala desa tamu anda sudah datang." Ujar wanita itu mengutarakan maksud kedatangannya, orang yang dipanggil kepala desa itu melihat Derrick dan Raki.
"Kamu bisa pergi, sementara kalian berdua masuk kedalam." Perintah pria paruh baya yang dipanggil kepala desa itu.
Saat baru memasuki rumah kepala desa, Derrick dan Raki diserang oleh senjata tersembunyi dan hampir merenggut nyawa mereka jika tidak menghindar, "Hati-hati ada jebakan." Kepala desa memperingati Derrick dan Raki agar hati-hati.
__ADS_1
"Kenapa tidak katakan dari tadi, sialan!" Teriak Raki marah.
Setelah sampai di ruang tamu yang cukup luas, kepala desa menyuguhkan beberapa makanan ringan seperti ubi, kue, dan beberapa buah-buahan menyambut kedatangan Derrick dan Raki.
"Jadi apa yang terjadi dengan desa ini, kenapa begitu sepi dan seperti tak ada penduduknya?" Tanya Derrick setelah berbasa-basi dan mengobrol sesaat sebelum memasuki topiknya.
"Mengenai itu..," Kepala desa yang tadinya bicara santai menemani Derrick dan Raki mengobrol kini mulai serius dan memasuki topik yang menjadi penyebab kenapa dia meminta bantuan sekte Naga langit.
Ok, skip.
Dari penjelasan kepala desa Derrick mengetahui alasan kenapa desa begitu sepi seakan tidak berpenghuni. Hal itu terjadi karena banteng merah yang mengamuk dan menyeruduk siapa saja yang ada di jalan-jalan desa, entah apa alasannya.
"Jadi kita mulai darimana?" Tanya Derrick kepada Raki, mereka saat ini berada di halaman belakang rumah kepala desa.
"Kita berburu banteng merah, apalagi selain itu?" Raki heran dengan pertanyaan Derrick tersebut.
"Entah mengapa aku merasa desa ini sangat berbahaya." Ujar Derrick sambil memandang langit yang begitu terik, namun suasana desa terlihat gelap dan mencekam.
"Mereka yang dikirim sekte Naga langit?" Tanya seseorang yang berdiri diatas bukit yang memiliki jurang yang curam, di depannya terlihat desa Puan yang begitu sepi dan tak ada aktivitas apapun.
Pria muda itu tersenyum sinis mendengar konfirmasi bawahannya itu, mata kirinya terlihat bersinar merah, "Menarik." ujarnya dengan senyum kecil.
Derrick sudah berkeliling desa sebanyak 4 kali, namun tetap saja banteng merah yang menjadi target misi mereka belum menampakkan batang hidungnya, hal itu tentu membuat Derrick cukup frustrasi.
"Halo adik kecil, kenapa kamu sendirian disini?' Tanya Derrick menghampiri seorang anak perempuan yang meringkuk disudut rumah, ditangannya ada kantong kain lusuh yang di duga berisi makanan atau buah-buahan.
Anak itu menoleh menatap Derrick dengan mata besar, "Kakak aku takut." Ucap gadis itu dengan lirih.
"Takut? kamu jangan takut karena ada kakak disini?" Derrick berjongkok di depan gadis itu sambil mengusap kepalanya dengan lembut, Derrick mengira anak itu adalah anak yang tersesat dan tidak tahu jalan pulang ke rumahnya.
"Rumahmu dimana?" Tanya Derrick yang berniat mengantar anak itu pulang ke rumahnya.
Anak kecil itu menggeleng kepala yang menandakan dia tidak tahu dimana rumahnya, melihat itu Derrick semakin yakin dengan dugaannya kalau anak itu tersesat dan tidak tahu jalan pulang.
"Bagaimana jika kakak bantu carikan rumahmu?" Ucap Derrick mengajak anak itu mencari rumahnya.
__ADS_1
Gadis kecil itu mengangguk ketakutan sambil terus menoleh kanan-kiri seakan takut sesuatu, Derrick segera mengajak anak itu untuk mencari rumahnya.
Ketika lama berkeliling sambil mengobrol untuk mencairkan suasana, anak itu tiba-tiba menghentikan tawanya dan menoleh ke sebuah rumah yang berada paling ujung dan dekat perbatasan antara desa dan hutan.
"Kakak itu rumahku." Gadis itu menunjuk rumah tersebut, sepertinya dia ingat kembali rumahnya setelah rileks dan tidak ketakutan lagi.
Alangkah terkejutnya Derrick ketika sampai dirumah anak kecil itu, karena mereka disambut oleh pemandangan seseorang wanita berumur 30-an terbaring lemah tak berdaya dengan wajah menghadap dinding ketika anak itu membuka pintu.
"Ibu aku pulang!" Ucap anak perempuan itu dengan riang sambil mengangkat kantong kainnya dengan tersenyum bahagia, lalu menghampiri dan menyentuh pakaian lusuh ibunya yang sebenarnya sudah tiada.
"Adik kecil..," Derrick tak kuasa menahan air mata kesedihannya, dia tidak tega memberitahu bahwa ibu anak itu telah tiada.
"Kakak kenapa menangis?" Tanya anak itu yang masih mengumbar senyum polos, lalu mengusap air mata Derrick yang jatuh membasahi pipi.
"Kakak jangan menangisi kondisi kami, karena ini bukan salah kakak, jadi jangan menangis lagi, ya." Ujar anak itu polos, dia mengira Derrick menangis sedih karena melihat kondisi keluarganya yang begitu memprihatinkan.
"Ibu..,"
"Ibu aku membawakan obat untukmu, kamu harus sembuh, agar kak Derik tidak sedih melihat kondisi ibu." Ucap gadis itu dengan senyum polos sambil membuka kantong kain yang dia bawa.
Ketika kantong itu dibuka isinya bukan makanan atau buah-buahan yang Derrick duga sebelumnya, isi kantong itu adalah beberapa tanaman herbal dan ada juga rumput liar.
Melihat itu Derrick teringat dengan cita-cita anak itu yang dengan polosnya berkata ingin menjadi dokter untuk menyembuhkan ibu dan semua orang ketika Derrick menanyakannya di jalan beberapa menit lalu.
Derrick semakin sedih dan tak mampu menahan tangisnya lagi, dia berusaha keras agar tidak menangis, minimal tidak terdengar anak itu, Derrick terus-menerus mengusap air matanya dengan lengan tangan.
"Ibu.., bangun, ayo minum obatnya." Pinta anak itu yang suaranya semakin kecil, lalu berubah menjadi nada memelas.
"Ibu..," Panggilnya sedih, Derrick langsung menarik anak gadis itu dan memeluknya dengan erat, lalu dengan berat hati memberitahu yang sebenarnya bahwa ibunya telah tiada.
Anak itu terdiam mematung mendengar bahwa ibunya telah mati, "Kakak jahat! ibuku tidak mungkin meninggalkanku sendirian, hiks, hiks, hiks." Kata anak itu marah sambil mendorong Derrick menjauh.
Anak itu berlari dan menyentuh tubuh ibunya yang telah kaku, "Ibu bangun, buktikan kepada kak Derrick bahwa ibu tidak meninggalkan Tiara, hiks, hiks, hiks." Pintanya sembari menangis dan mengguncang-guncang tubuh ibunya.
"Tiara..," Derrick ingin berbicara dan menenangkan Tiara, tapi dia urungkan karena dia tahu Tiara butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau ibunya telah tiada.
__ADS_1
Bersambung.