Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Chapter 37


__ADS_3

Pertempuran antara para pendekar dengan pasukan penjaga kota yang melindungi raja kota terjadi sangat sengit, banyak orang yang terbunuh saat pertempuran itu baik dari pihak para pendekar maupun pihak raja kota, namun yang paling dirugikan tentunya warga pasar.


Derrick menarik Eira menjauh dari area pertempuran dan kembali ke penginapan secepatnya, "Kenapa kita lari, apakah kamu takut?" Tanya Eira kesal dengan sikap Derrick yang memilih lari menghindari pertempuran di pasar.


"Tidak, aku tidak takut kepada siapapun." Balas Derrick singkat.


"Lalu kenapa lari?" Tanya Eira sembari melepas pegangan tangan Derrick.


"Karena itu bukan urusan kita, lagipula saat ini baik kamu maupun aku sedang terluka akibat ledakan itu dan tidak memungkinkan untuk ikut campur lebih jauh." Pekik Derrick sembari membalut luka-lukanya dengan perban yang terbuat dari daun yang diubah dengan teknik perubah bentuk dan sifat, lalu jalan kembali menuju penginapan.


"Tapi,"


"Jika kamu ingin membantu mereka maka pergilah, tapi jangan salahkan aku jika kamu terbunuh nantinya." Sela Derrick meninggalkan Eira yang terdiam memandangnya dari belakang, Eira mendengus kesal dan mengikuti Derrick kembali ke penginapan.


Keesokan harinya berita pertempuran itu tersebar di seluruh kota perbatasan dan membuat gempar semua pihak, pertempuran itu sendiri berakhir dengan para pendekar yang berlari menyelamatkan diri karena kalah dari pasukan penjaga kota.


"Hmm, ternyata bangsawan itu memenangkan pertempuran." Gumam Derrick mengubah batu kerikil yang dia pungut di pasar menjadi bubuk mesiu sebagai persiapan jika mendapat masalah dalam pelelangan sembari membaca koran.


Derrick membuang koran itu lalu mandi pagi untuk bersiap menuju tempat pelelangan diselenggarakan, setelah mandi Derrick menuju kamar Eira untuk mengajaknya pergi bersama-sama.


"Ah, lupakan saja." Derrick mengurungkan niatnya mengetuk pintu kamar Eira dan memilih pergi sendiri menuju pelelangan.


Saat sampai dilantai dasar Derrick bertemu dengan Eira yang saat itu sedang makan makanan yang memang disiapkan penginapan untuk para tamu mereka.


"Kamu lama sekali turun." Ucap Eira menyapa Derrick yang baru turun.


"Kamu yang terlalu cepat." Balas Derrick sedikit terkejut mengetahui Eira sudah bangun dan menyantap makanan yang disediakan penginapan.


Derrick mengambil makanannya, lalu duduk diseberang Eira, "Apa yang kamu cari di pelelangan ini?" Tanya Derrick sembari menggigit paha ayam bakarnya.


"Tidak ada, aku hanya mewakili guru untuk menghadiri pelelangan ini, kamu sendiri?" Balas Eira acuh dan balik bertanya.


"Guru Xiao menyuruhku mendapatkan rumput jiwa apapun dan bagaimanapun caranya."


Setelah makan mereka segera menuju rumah lelang KibaSanqi yang berada di perbatasan dua kota besar, rumah lelang KibaSanqi adalah rumah lelang yang sudah berdiri ratusan tahun lamanya dan diurus oleh dua keluarga besar lelang dari dua kota besar, yaitu keluarga Rama Kiba dari kota Daun dan keluarga Sanqi dari kota Sungai.


Derrick segera memberikan surat undangan yang gurunya berikan kepadanya agar bisa masuk rumah lelang, namun seseorang menabraknya dan membuat surat undangan itu jatuh dan terinjak-injak.


"Heh, dasar rendahan." Pekik penabrak menunjukkan wajah sombong dan segera masuk setelah memberikan surat undangannya.


"Kau," Eira ingin memarahi pemuda sombong tersebut, namun dihentikan oleh Derrick yang tidak ingin ada keributan.

__ADS_1


Pelelangan segera dimulai setelah pengelola rumah lelang memberikan kata sambutannya kepada semua tamu yang hadir.


"Baiklah lelang pertama adalah sebuah botol monster yang terbuat dari tulang monster capung yang memiliki..." Ujar pembawa acara lelang membuka lelang pertama sekaligus menjelaskannya.


"... baiklah, tanpa berlama-lama lagi harga awal botol Monster tersebut adalah 10 kertas perak, setiap kenaikan tidak boleh kurang 100 kertas perunggu." Pekik pembawa acara membuka harga botol monster tersebut.


"10 kertas perak 102 kertas perunggu,"


"11 kertas perak,"


"12 kertas perak 100 kertas perunggu,"


Persaingan antar peserta lelang tidak dapat dihindarkan, meskipun lelang pertama nyatanya harga lelang botol itu terus naik seiring bertambahnya penawaran para peserta lelang, sejauh ini orang-orang kursi VIP masih tidak ikut bergabung menaikkan harga lelang.


"Eira apakah kamu tidak tertarik dengan botol monster tersebut?" Tanya Derrick.


"Tidak, aku tidak butuh pil untuk memulihkan energiku yang hilang, karena tidak ada satupun pendekar yang mampu membuatku kehabisan energi ketika bertarung." Balas Eira sombong.


Derrick hanya bisa tersenyum canggung mendengar pernyataan Eira yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut, disisi lain harga botol monster tersebut semakin naik dan berhenti di harga 40 kertas perak.


"40 kertas perak satu kali," Pekik pembawa acara lelang mulai menghitung.


"40 kertas perak tiga kali, selamat untuk kursi biasa nomor 60 mendapatkan botol monster." Pekik pembawa acara lelang mengetuk palu dan memberikan ucapan selamat kepada pemenang lelang pertama.


"Baiklah, selanjutnya barang lelang kedua, yaitu sebuah batu energi yang menyimpan energi alam yang sangat berlimpah dan sangat cocok jika dijadikan senjata atau diserap untuk menambah energi tenaga dalam." Pekik pembawa acara memperkenalkan barang lelang kedua.


"Harga awal batu energi ini adalah 10 kertas perak, setiap kenaikan tidak kurang dari 100 kertas perunggu." Pekik pembawa acara membuka harga.


"12 kertas perak,"


"14 kertas perak,"


"17 kertas perak,"


Setelah harga lelang mencapai 110 kertas perak oleh Eira, semua orang berhenti menawar dan tidak ada lagi yang mau menawar, karena harganya sudah diluar harga asli.


"110 kertas perak satu kali," Pekik pembawa acara mulai menghitung.


"110 kertas perak dua kali,"


"110 kertas,"

__ADS_1


"1 kertas emas." Pekik VIP no 3 menyela dengan suara pelan dan lembut menembak harga sebanyak 1 kertas emas atau setara 1000 kertas perak.


"Dia?" Eira mengenali orang itu yang ternyata adalah orang yang sama menabrak Derrick di pintu masuk, orang itu menunjukkan senyum cabul kepada Eira.


Melihat itu Derrick sedikit kesal, namun dia tetap tenang dan tidak terpancing emosi, "Sepertinya dia menyukaimu." Derrick menggoda Eira.


"Aku tidak peduli, aku sudah menyukai seseorang." Balas Eira garang.


"Hm, benarkah? siapakah orang malang itu?" Tanya Derrick spontan membuat Eira marah dan malu disaat yang sama.


"Apa peduli kau." Eira memalingkan muka dan menunjukkan sikap ngambek kepada Derrick yang hanya tertawa.


Batu energi itu dimenangkan oleh pria tersebut karena Eira menyerah dan tidak berminat bersaing memperebutkan batu energi tersebut, lelang kembali dilanjutkan di barang lelang ketiga yang merupakan sebuah pedang.


"Nona, ini pemberian dari tuan muda Rensan untukmu, tuan muda Rensan adalah murid jenius sekte pedang langit, kamu cukup beruntung disukainya." Tiba-tiba seorang pelayan datang dan memberikan batu energi kepada Eira.


Eira secara spontan melihat ke kursi VIP no 3 dimana Rensan tersenyum cabul sembari mengangkat gelas wine seakan memberi tanda untuk bersulang.


"Terimakasih kasih, katakan kepada tuan muda apalah itu, murid dewa pedang yang agung menerimanya dengan senang hati." Ucap Derrick mengambil batu energi itu dan menyimpannya begitu saja.


"Derrick kamu tidak boleh menyebut guruku sembarangan." Tegur Eira.


Orang-orang yang sibuk menawar harga lelang terkejut dengan pernyataan Derrick yang langsung dipertegas oleh Eira yang sebenarnya berniat menegur dan mempertegas gurunya secara tak sengaja di depan umum. Rensan langsung ciut mendengar siapa Eira, bahkan dia berkeringat dingin karena sudah berani menggoda murid dewa pedang yang agung.


"Ternyata rumor itu benar, bahwa dewa pedang yang agung mengangkat seorang murid perempuan sebagai murid pribadinya, aish wanita itu sungguh beruntung."


"Aku tidak pernah mengira bisa bertemu murid pribadi Dewa pedang yang agung disini."


"Kukira itu hanyalah rumor dan gadis ini mengaku-ngaku saja." Celetuk salah satu peserta tidak senang.


"Begitukah? Aku bahkan ragu ada orang yang berani ngaku-ngaku murid pribadi dewa pedang yang agung, maksudku itu sama saja cari mati." Balas yang lainnya dengan menyindir.


Itulah kasak-kusuk peserta lelang baik kursi biasa maupun kursi VIP menanggapi pernyataan Derrick yang mengatakan Eira murid dewa pedang yang agung, sebagian besar percaya dan sebagian yang lain tidak percaya.


"Tuan muda tenang saja, saya rasa dia hanya ingin menakutimu dengan menggunakan nama besar dewa pedang yang agung, jikapun dewa pedang memiliki murid maka tidak mungkin dia membiarkan muridnya itu menjadi peserta lelang di kursi biasa, pastinya dia akan duduk di kursi VIP yang sama sepertimu tuan muda Rensan." Ucap salah satu pelayan disamping Rensan mencoba meredakan kegelisahan sang tuan mudanya tersebut.


Rensan mengangguk-angguk mendengar analisis pelayannya itu dan dia langsung marah karena Eira berani mengancamnya dengan dewa pedang yang agung.


"Kamu akan menerima konsekuensinya karena mencoba menakutiku, jhalang!" Batin Rensan marah bertekad memberi Eira dan Derrick pelajaran.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2