Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
300 tahun yang Lalu bagian 2


__ADS_3

"Haha, manusia lemah seperti kalian berniat melawan dewa? sungguh bodoh!" ucap dewa penyihir tertawa terbahak-bahak membaca surat pernyataan perang yang dikirim oleh kerajaan Sanggia.


"Dewa? kamu hanyalah manusia kejam, tidak suka membantai dan membuat onar, berani-beraninya mengaku sebagai dewa." ujar pembawa pesan kerajaan Sanggia dengan nada menghina.


"Kamu hanyalah manusia hina yang gila rasa hormat, kamu hanyalah penyihir jahat, kamu adalah iblis laknat." tambahnya dengan berapi-api.


"Hee, berlutut dan minta maaflah kepadaku." ujar dewa penyihir dengan mengeluarkan aura mengintimidasi, namun pembawa pesan itu tidak takut sama sekali.


"Haha, ternyata kamu memiliki beberapa kemampuan, aku suka..., haha." dewa penyihir tertawa dan menggunakan sihir gravitasi untuk menekan sang pembawa pesan.


"Sialan, apakah kamu tidak memiliki etika perang? tidak boleh membunuh pembawa pesan apapun alasannya, apakah kamu tahu itu penyihir laknat?" ucap pembawa pesan mencoba berdiri melawan tekanan gravitasi yang penyihir itu ciptakan.


"Mati!" ucap dewa penyihir dingin dan menekan sang pembawa pesan hingga remuk karena kekuatan gravitasi yang sangat besar menekan sang pembawa pesan.


"Kirim surat balasan kepada manusia bodoh itu, aku menerima tantangannya dan akan menghancurkannya di Medan perang." ujar dewa penyihir kepada bawahannya atau pengikutnya.


"Kenapa kamu membunuhnya, dia memang benar kita adalah manusia sama seperti mereka, dia juga benar kamu adalah manusia hina dan kejam, suka memba...,"


"Berisik!" teriak dewa penyihir dengan mengayunkan tangan kanannya untuk menyerang orang yang berbicara, namun orang itu sudah pergi dan malah dinding yang hancur akibat serangan itu.


"Aku adalah dewa, aku adalah dewa penyihir yang perkasa dan tak terkalahkan, haha." dewa penyihir itu tertawa dan menyombongkan dirinya sendiri.


Tentu saja pembawa pesan balasan dari dewa penyihir juga dibunuh oleh raja Sanggia sebagai tanggapan karena dewa penyihir berani membunuh utusannya.


"Manusia sesat seperti kalian berani-beraninya menyuruhku menyembah dewa penyihir bodoh kalian itu, cuih." ujar raja Sanggia sambil meludahi mayat tanpa kepala di bawah kakinya, mayat itu tidak lain dan tidak bukan adalah utusan dewa penyihir yang membawa pesan balasan.


Hari demi hari berlalu dengan cepat, para prajurit aliansi berdatangan untuk mempersiapkan perang yang akan terjadi antara aliansi melawan dewa penyihir dan pengikutnya. Tenda mereka sudah berdiri di tempat perang, yaitu sebuah lembah perbatasan antara kota Yang dan kota Tang kerajaan Sanggia, dimana kota Tang adalah markas pasukan atau pengikut dewa penyihir yang akan berperang dengan aliansi.


"Tidak disangka penduduk kota Tang dibantai oleh bajing4an itu dan pengikutnya, mereka benar-benar kejam dan harus dimusnahkan." geram raja Hans ketika mendapat kabar dari salah satu prajurit pengintai yang menyatakan bahwa penduduk kota Tang dibantai dan tak ada satupun dibiarkan hidup.


"Itu belum seberapa, iblis itu sudah terlalu banyak membunuh rakyatku, sebelum dia mati roh rakyatku tidak akan tenang." ujar raja Gerta dengan mata penuh dendam kesumat kepada dewa penyihir.


"Aku juga tidak habis pikir iblis itu malah disebut sebagai dewa penyihir, yang paling bodohnya banyak pengikutnya padahal dia jelas-jelas pembantai kejam dan tak berperasaan." ucap raja Hans kembali dengan geram dan bahkan jiwanya gemetar bersemangat untuk membunuh dewa penyihir gila tersebut.


Raja Sanggia memanggil dua orang itu untuk masuk kedalam tendanya untuk membahas strategi perang, pembahasan itu hanya dihadiri tiga orang saja yaitu raja kerajaan Sanggia, raja kerajaan kuda besi, dan raja kerajaan Gerta.


Tercatat prajurit perang yang berhasil dikumpulkan aliansi sebanyak 2 juta prajurit, dimana 100 ribu diantaranya adalah prajurit berzirah lengkap, 300 ribu penyihir, 300 ribu artileri, 300 ribu prajurit berkuda, dan 1 juta prajurit biasa.


300 ribu prajurit berzirah lengkap tidak ikut bergabung dengan 1.7 juta prajurit yang akan perang, mereka diperintahkan bersembunyi di dalam hutan yang tidak jauh dari arena perang dan akan keluar ketika seluruh pengikut dewa penyihir terbunuh, selain mereka juga ada 100 orang penyihir tingkat tinggi yang ikut bersembunyi.


"Pengorbanan ini tidak boleh disia-siakan sama sekali, kalian berdua harus memenangkan perang apapun yang terjadi." ujar raja Sanggia kepada raja Hans dari kerajaan kuda besi dan raja Gerry dari kerajaan Gerta.


"Baik!" balas dua raja itu serentak dengan nada tegas dan penuh tekad perjuangan.


Raja Sanggia tersenyum ceria sambil memegang dan menepuk bahu dia raja tersebut, lalu menatap jenderal muda yang tidak lain adalah anaknya sendiri.


"Ayah...,"

__ADS_1


"Nak, kamu harus mengikuti perintah mereka berdua apapun yang terjadi, masa depan kerajaan Sanggia ada ditanganmu." ujarnya dengan tulus, lalu memberikan pedang tajam yang beraura kegelapan sebuah senjata yang sulit dibuat karena sangat sulit mencari binatang ajaib beratribut kegelapan.


Perlu diketahui , senjata ajaib berelemen kegelapan adalah senjata andalan setiap jenderal di kerajaan Sanggia dan senjata yang harus atau wajib dimiliki seorang jenderal kerajaan Sanggia terlepas sesulit apapun cara pembuatannya. Hal itu dikarenakan elemen kegelapan adalah elemen yang mampu menetralkan elemen atau kekuatan sihir apapun.


"Ayah..., aku akan membunuh penyihir itu, aku pasti akan membunuhnya." ujar sang putra dengan penuh tekad mengambil pedang tersebut.


Setelah malam itu tiga orang itu diam-diam pergi masuk ke dalam hutan, dan bahkan bersembunyi di hutan yang paling dalam untuk menghindari serangan berskala besar dan luas dari dewa penyihir.


12 hari berlalu, perang akhirnya akan dimulai. Kedua pasukan sudah saling berhadapan-hadapan, terlihat jelas perbedaan pasukan mereka dimana aliansi memiliki pasukan 30% lebih banyak dari pasukan dewa penyihir.


"1 jam lagi perang akan dimulai, persiapan diri dan mental kalian demi kelangsungan umat manusia, demi kejayaan umat manusia!" teriak raja Sanggia kepada para prajurit yang berbaris.


"Demi kejayaan umat manusia!' teriak semua prajurit sambil mengangkat senjata mereka dengan penuh semangat.


Raja Sanggia pergi ke tengah arena perang dan diikuti jenderal besar pasukan musuh, tentu saja itu adalah sebuah penghinaan bagi raja Sanggia.


"Dimana penyihir gila itu, kenapa kamu yang maju?" ujar raja Sanggia tanpa basa-basi.


"Yang mulia dewa yang agung, tidak perlu bertemu dengan manusia hina sepertimu, dia terlalu su...,"


Sling!


Tanpa basa-basi raja Sanggia memenggal kepala jenderal besar dewa penyihir yang sombong itu, lalu meludah. "Bacot!" umpatnya , lalu berteriak 'Serang' untuk memulai perang.


"Serang!"


"Serang!"


"Serang!"


"Gabungkan sihir kalian semua dan buat perisai!" teriak salah satu jenderal aliansi menanggapi.


Semua penyihir segera menyatukan kekuatan sihir mereka, sementara pasukan bersiap menyerang. "Semuanya!" teriak jenderal itu lagi dan menghentikan pasukan yang ingin berlari menyerang.


"Satukan mana kalian dan buat perisai, sekarang!" teriak salah satu jenderal yang mengerti maksud jenderal sebelumnya.


Dalam sekejap seluruh pasukan menggabungkan mana mereka untuk memperkuat perisai yang perlahan terbentuk oleh para penyihir.


Boom!


Ledakan terdengar akibat serangan dewa penyihir, namun serangan itu tidak berefek sama sekali karena pertahanan yang terlalu kuat.


"Heee, mereka sepertinya belajar dari masa lalu." ucap dewa penyihir dengan senyum sombong, lalu kembali menggunakan sihir berskala besar, kali ini sihirnya adalah badai api, gempa bumi, dan juga Sambaran petir disertai hujan badai.


"Bertahan! pasukan pertama blokir tanah bergetar dan ciptakan serangan balik untuk menangani serangan elemen tanah musuh!" teriak sang jenderal kembali.


Pasukan pertama segera memblokir serangan tanah bergetar yang membentuk tombak tanah dengan perisai mereka, hasilnya serangan itu terblokir begitu saja.

__ADS_1


"Kami sudah belajar dari kesalahan, kami harus bersatu untuk menyaingi kekuatanmu iblis laknat." gumam raja Sanggi dengan tersenyum bangga dan sombong.


Kilas balik dalam rapat.


Ketika semua raja setuju beraliansi, mereka mengira rapat itu akan berakhir, namun siapa sangka raja Sanggia mengungkapkan kekuatan terbesar milik mereka.


"Aku sengaja menyimpan fakta ini, karena aku ingin melihat tekad kalian." ujar raja Sanggia dengan tatapan tajam.


"Lalu katakan kekuatan apa itu?" tanya raja Hans yang sudah penasaran.


"Kekuatan gabungan ribuan pasukan kita." ujar raja Sanggia.


"Aku menyadari alasan kami kalah perang beberapa waktu lalu dikarenakan pasukan kami memikirkan dirinya sendiri ketika menghadapi serangan sihir berskala besar, tidak ada yang berpikir untuk menyatukan kekuatan dan menciptakan sihir yang memiliki level sama atau lebih dari sihir yang penyihir itu gunakan." jelas raja Sanggia dengan percaya diri.


Semua raja tertegun, mereka tidak pernah terpikirkan kekuatan tersebut.


"Namun kelemahan kekuatan gabungan adalah sihir yang diciptakan tidak bisa bergabung begitu saja, kita butuh sihir yang cocok satu sama lain, sementara ribuan prajurit pasti tidak memiliki sihir yang sama, bukan?" tanya raja Hans.


"Mana sendiri adalah kekuatan yang sangat mengerikan dan cukup kuat, sihir apapun jika bertemu dengan mana akan seimbang, atau bahkan lebih kuat, jangan menjadi bodoh!" sangkal raja Sanggia.


"Alasan mana murni jarang digunakan, karena kalian terlalu fokus untuk mengembangkan atribut kalian, hingga dalam otak kalian hanya berpikir mana lebih lemah daripada sihir atribut." ujar raja Sanggia membungkam semua raja yang hadir.


Kilas balik selesai.


"Kita coba sihir serangan!" teriak raja Sanggia memberikan perintah.


"Sihir serangan! gabungkan mana kalian dan ciptakan sihir serangan!" teriak jenderal memberikan perintah sesuai keinginan raja Sanggia.


Semua prajurit bersatu dan menyalurkan mana mereka keatas, mana itu membentuk sebuah tombak energi yang sangat mematikan dan cukup mengerikan dengan aura pembunuh.


Bush!


Tombak energi itu meluncur ke pasukan dewa penyihir, namun tiba-tiba muncul dua lobang hitam yang ternyata portal spasial, dimana satu sebagai gerbang dan portal yang lainnya sebagai pintu keluar.


Bush! Bang!


Ledakan terdengar di pasukan aliansi, ternyata portal itu mengarah kepada mereka dan membuat tombak itu menjadi senjata makan tuan.


Jenderal melihat beberapa orang terkena serangan balik, hal itu membuatnya khawatir.


"Baiklah, fokus saja bertahan, hingga penyihir itu memutuskan untuk memerintahkan pasukannya melakukan serangan terlebih dulu." ujar raja Sanggia akhirnya.


Dua jam berlalu dengan perang yang diisi serangan dewa penyihir dan pertahanan pasukan aliansi.


"Yang mulia...," salah satu jenderal segera menopang dewa penyihir yang sudah kelelahan, karena terlalu banyak menggunakan sihir.


"Apa? aku kelelahan? padahal aku tidak terlalu banyak bergerak dan membuang stamina, uhuk, uhuk, apa yang terjadi?" tanya dewa penyihir heran, dia sudah kelelahan karena terlalu banyak menggunakan sihir.

__ADS_1


__ADS_2