Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Putra Mahkota Gaal Van


__ADS_3

Kerajaan Galing.


Dewa pedang yang agung sedang duduk di sebuah kursi panjang yang terletak di taman istana kerajaan Galing, pria tua itu sedang membaca buku dengan serius dan sesekali menyeruput kopi panas yang selalu menemani pagi harinya di kerajaan Galing.


Dewa pedang yang agung sekarang sudah berusia 357 tahun, semakin hari dia semakin lemah karena termakan usia, puncaknya satu tahun yang lalu dia sudah tidak lagi berpartisipasi dalam perang karena terlalu tua dan renta. Hal itu ditambah kekuatannya sudah menurun drastis, dan tubuh terlalu sering sakit-sakitan.


Seorang pemuda yang gagah dengan pakaian bangsawan datang menghampiri sang dewa pedang yang agung yang sedang membaca buku di taman istana. Pemuda itu memegang pedang ditangan kirinya, tatapan matanya sangat tajam. Pemuda itu adalah putra dari raja Galing, sekaligus pangeran mahkota kerajaan Galing yang bernama Pangeran Mahkota Gaal Van.


"Kakek memanggilku?" Tanya Gaal Van berlutut di hadapan Dewa pedang yang agung.


Dewa pedang yang agung melihat sekilas pemuda itu, lalu tersenyum ramah kepadanya dan meletakkan buku yang dia baca.


"Cucuku kakek sudah terlalu tua, jika tidak ada masalah kakek mungkin akan segera meninggalkan dunia ini beberapa hari lagi...,"


"Tidak kek, kenapa kakek mengatakan hal itu, apakah kakek tidak ingin bersama kami lagi dan melatihku?" Gaal Van menyela ucapan kakeknya.


Dewa pedang yang agung tersenyum kecil melihat tingkah cucunya tersebut, "Cucuku setiap manusia pasti akan mati, itu adalah takdir yang tidak bisa dirubah."


"Umur manusia paling lama adalah kurang dari 100 tahun, jika lebih dari itu maka manusia itu mendapatkan bonus yang berupa umur panjang."


"Kakek sudah terlalu tua, umur kakek sudah lebih dari 350 tahun, hal itu menandakan kakek sudah terlalu banyak mendapatkan bonus umur panjang."


"Cucuku tubuh kakek sudah melemah, kakek juga sudah sakit-sakitan selama satu tahun ini, uhuk, uhuk." Dewa pedang yang agung terbatuk beberapa kali.


"Kakek sudah terlalu lelah hidup di dunia ini, yang kakek inginkan hanyalah beristirahat untuk selamanya, jadi untuk itu kakek ingin kamu menjadi pewaris kakek sebelum waktunya kakek pergi." Tukas Dewa pedang yang agung, lalu berbalik melihat Gaal Van dengan senyum tulus.


Gaal Van sedikit bergetar, dia sebenarnya sudah tahu bahwa kakeknya sudah terlalu tua dan sakit-sakitan, bahkan dokter istana juga sudah memvonis bahwa umur kakeknya sudah tidak lama lagi. Oleh karena itulah Dewa pedang yang agung melatihnya untuk menjadi pewarisnya satu tahun belakangan, namun tetap saja Gaal Van tidak rela jika kakeknya meninggal dunia.

__ADS_1


"Bukankah kakek sudah menapaki ranah Surgawi, menurut legenda siapapun yang mencapai ranah surgawi akan mendapatkan keabadian." Ujar Gaal Van dengan nada pelan mengingatkan Dewa pedang yang agung mengenai legenda ranah surgawi yang memberikan keabadian.


"Haha, ranah surgawi? keabadian? Tidak ada yang namanya keabadian di dunia ini cucuku, sudah kakek katakan berulang kali bahwa legenda itu hanya mitos yang terjadi karena sebuah obsesi manusia tentang keabadian." Jawab Dewa pedang yang agung sambil tertawa pelan menanggapi kebodohan cucunya yang mempercayai sebuah omong kosong tentang keabadian.


"Kakek...," Gaal Van sedih mendengarnya, namun dia masih percaya bahwa legenda itu bukan mitos belaka meskipun itu mustahil mengingat kakeknya sudah mencapai ranah surgawi saat usianya masih 200 tahun, namun tetap saja dia lemah karena termakan usia, bahkan dapat dikatakan dewa pedang seperti manusia biasa yang menuju kematian dihari tua.


"Kakek hanya ingin meninggalkan dunia ini cucuku, kakek ingin menemui tuhan yang menciptakan kita semua, jadi biarkan kakek pergi menghadap sang pencipta." Ucap Dewa pedang yang agung dengan nada serius dan tidak main-main.


"Kakek..., hiks!" Gaal Van menangis sedih, dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang terus mencoba keluar.


"Kembali ke topik awal, kakek ingin mewarisi semua kekuatan kakek termasuk pedang kakek ini sebelum waktunya kakek pergi." Ujar Dewa pedang yang agung menunjukkan pedangnya yang sudah menemaninya selama hampir 330 tahun.


"Namun karena kakek merasa sudah mencapai batasnya, maka kamu harus mempelajari sendiri kekuatan yang kakek miliki tanpa bimbingan kakek lagi dikemudian hari." Dewa pedang yang agung mengambil buku yang dia baca tadi.


"Kakek sudah menulis semua teknik berpedang kakek dalam buku ini, kamu ambil dan pelajarilah." Ujar Dewa pedang yang agung memberikan buku itu kepada Gaal Van, faktanya buku itu adalah buku yang dia tulis selama satu tahun belakangan di sela-sela melatih Gaal Van.


"Kakek kumohon latihlah aku untuk terakhir kalinya." Pinta Gaal Van, Dewa pedang yang agung hanya tersenyum dan mengangguk kecil.


Dewa pedang yang agung melatih Gaal Van untuk terakhir kalinya, latihan yang dia berikan adalah latihan menguasai teknik pedang pembelah gunung.


Dua minggu setelah hari itu, tepatnya hari dimana Derrick memburu ular kobra dan Lao Aidan (Kaisar iblis) mengetahui keberadaan Derrick yang berada di benua Eghed, Dewa pedang yang agung meninggal dunia di kamarnya setelah berjuang melawan sakit tua yang memang tidak bisa disembuhkan.


##


Semua kesatria, pendekar, dan prajurit kerajaan Galing dan aliansi menghadiri pemakaman Dewa pedang yang agung untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pendekar pedang terhebat tersebut, bahkan disematkan status dewa pedang yang agung oleh para pendekar di benua Naga Hitam.


"Bahkan pendekar yang berlevel Surgawi akhirnya tetap meninggal dunia termakan usia." Ucap salah seorang pendekar yang memiliki level tenaga dalam 98 sambil menatap tajam makam.

__ADS_1


"Melatih bela diri hanya memperpanjang umur, bukan memberikan keabadian, bodo!" Balas Kapten kesatria yang berada tepat di sampingnya, orang itu adalah Kesatria Xingyu yang memiliki tenaga dalam level 91, prestasi terbesarnya adalah membunuh Jenderal Silva (si tengkorak api).


"Bahkan jika sudah mencapai ranah surgawi." Ucapnya dengan dingin, lalu pergi meninggalkan pemakaman mengikuti yang lainnya.


"Lalu legenda itu, apakah hanya omong kosong?" Tanya pendekar itu merujuk legenda keabadian.


"Itu hanya omong kosong belaka dan mitos yang dihasilkan karena kepercayaan berlebihan kepada kekuatan ranah surgawi, padahal ramah surgawi hanya memberikan kesehatan tubuh dan energi tenaga dalam yang tak terbatas." Balas Xingyu.


"Alasan kenapa ada legenda tentang pendekar mencapai keabadian jika menapaki ranah surgawi tidak terlepas dari sebuah kepercayaan berlebihan seseorang kepada kekuatan dewa, lebih tepatnya sebuah obsesi manusia yang ingin abadi."


"Padahal tidak ada bukti sama sekali, yang ada hanyalah bukti seorang pendekar ranah surgawi yang mati karena usia." Tukas Xingyu, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan pemakaman, lalu kembali ke Medan perang bagian timur kerajaan Galing.


Faktanya ranah Surgawi adalah ranah diatas tenaga dalam level 100, menurut legenda siapapun yang mencapai ranah surgawi akan menuju keabadian, namun hal itu dipatahkan dengan meninggalnya Dewa pedang yang agung karena usia.


##


Semua orang sudah pergi dari pemakaman, kini yang tersisa hanya Gaal Van yang meratapi kematian kakek sekaligus gurunya, Dewa pedang yang agung.


"Ternyata mitos itu memang sebuah omong kosong, padahal alasanku berlatih bela diri hanya untuk menembus ranah surgawi dan mencapai keabadian. Dengan kematian kakek aku sadar legenda itu hanya mitos, seperti yang kakek katakan berulang kali semasa hidup, maaf karena tidak mempercayai mu kakek, hiks."


"Tapi kakek, meskipun tujuan awalku berlatih bela diri hanyalah mitos belaka, aku akan tetap berlatih keras untuk mencapai ranah surgawi bukan demi mitos keabadian bodoh itu, tapi demi mengusir para iblis dari benua Naga Hitam, restui aku kakek." Ujar Gaal Van bertekad untuk mengusir para iblis dari benua Naga Hitam.


Gaal Van melukai tangannya dan membiarkan darah mengalir membasahi pedang peninggalan Dewa pedang yang agung, dengan tatapan tajam penuh tekad menatap makam sang kakek.


"Kakek dengan darah ini izinkan aku menggunakan pedangmu untuk membunuh para iblis, restui aku kakek." Ujar Gaal Van penuh tekad, lalu pergi meninggalkan makam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2