
Boom!!!
Terdengar ledakan yang cukup keras disertai teriakan kesakitan dan ringkikan kuda di depan rombongan prajurit, ledakan itu disusul suara tembakan dan ledakan berskala kecil ke sekelompok prajurit yang mengawal pangeran Ranzi dari kerajaan Roban.
"Lindungi pangeran!" teriak jenderal yang menjadi pemimpin dalam pengawalan pangeran Ranzi.
Seluruh prajurit melakukan gerakan melingkar melindungi kereta kuda dimana pangeran Ranzi berada, mereka menyatukan perisai besi mereka dan menciptakan perisai energi agar mampu melindungi pangeran dari serangan musuh.
Boom!
Boom!
Duar!
Ledakan demi ledakan terdengar dalam hutan tersebut, ledakan besar yang berasal dari roket sukses membunuh beberapa prajurit yang bertahan, bahkan terlihat dua orang kesatria sihir tingkat 4 terluka parah akibat ledakan dahsyat tersebut.
"Tetap bertahan dan lindungi pangeran, sisanya berpencar dan bunuh musuh!" perintah sang jendral dengan lantang kepada para prajurit yang kebingungan dan kocar-kacir tak tentu arah.
"Aku tidak merasakan aktivitas penggunaan mana di dalam kabut selain mana semua bawahanku, sepertinya musuh menggunakan senjata baru, karena tidak mungkin meriam atau pistol memiliki kerusakan besar bahkan menyamai sihir tingkat tinggi." gumam Jenderal menganalisis situasi yang terjadi dalam Medan pertempuran.
"Tetap hati-hati dan waspada terhadap musuh karena kita tidak tahu apa saja senjata yang musuh miliki." teriak jenderal lantang sambil menarik pelatuk pistolnya.
Dor!
Tembakan energi itu berhasil membunuh seseorang yang berada dibalik pohon, jenderal segera memeriksa orang tersebut dengan kawalan ketat.
"Anak kecil?" sang jenderal terkejut musuhnya adalah anak kecil.
"Lari!!!" teriak Jenderal ketika merasakan sesuatu yang berbahaya dari tubuh anak yang penuh dengan senjata ditubuhnya tersebut.
Boom!
Ledakan yang berasal dari anak kecil itu menghancurkan apapun bahkan membunuh begitu banyak prajurit yang berada di sekitar. Sementara sang jenderal berhasil selamat karena menjauh dengan cepat, meskipun begitu jenderal tetap terluka cukup parah akibat ledakan tersebut.
"Kurang ajar, bahkan musuh meletakkan peledak di tubuh seorang anak kecil, benar-benar iblis, uhuk." ujar jenderal geram sambil batuk darah.
Pertempuran masih terus berlanjut meskipun sang jenderal terluka parah akibat ledakan, situasi dalam hutan semakin mencekam terlebih musuh mereka begitu lincah dan memiliki persenjataan modern.
"Senjata mereka cukup modern meskipun tidak semodern duniaku sebelumnya, sepertinya musuh memiliki jenius senjata teknologi." gumam Derrick yang bertarung dengan seorang anak kecil dengan senjata api dikedua tangan dan pahanya, lalu ada mesin di punggungnya.
Dretttttttt, duar!
"Haha, matilah sialan!" bocah itu tertawa dan melancarkan roket di kedua lengan mesin yang ada di punggungnya, bersamaan dengan itu senjata laras panjang yang terlihat cukup modern menembak.
Derrick menciptakan perisai angin berlapis-lapis untuk menahan laju peluru musuh, namun itu tidak cukup karena tiba-tiba seseorang menembaknya dari samping.
"Hampir saja!" gumam Derrick dengan jantung berdebar-debar kencang, terlebih tembakan bocah itu meledakkan pohon yang ada disamping Derrick.
"Haha, kenapa oom takut, aku hanya ingin bermain dengan oom." ujar bocah perempuan itu dengan tertawa riang.
__ADS_1
Duar! dreetttetett tet!
Belum menjawab Derrick sudah di hadiah tembakan bocah laki-laki yang dia lawan pertama kali.
"Pusaran angin!" teriak Derrick menciptakan pusaran angin dan sukses membuat dua bocah itu kesulitan karena pusaran angin tersebut.
"Meskipun begitu kabut ini tidak menghilang?" batin Derrick terkejut kabut tidak menghilang meskipun pusaran anginnya malah menjadi pusaran kabut yang tentunya sangat berpengaruh dalam jumlah kabut di udara hutan.
Para prajurit yang kebanyakan memakai senjata ajaib tipe api hanya bisa gigit jari karena tidak bisa menciptakan perisai energi untuk melindungi diri sendiri, bahkan hanya sedikit dari mereka yang memiliki atribut tanah atau angin yang bisa menciptakan pelindung untuk diri sendiri.
"Aku menyesal kenapa memiliki senjata ajaib jenis serangan, sialan!" keluh salah seorang prajurit dengan nada memelas.
"Aku tidak peduli dengan senjata, yang aku sesalkan kenapa tidak dapat menciptakan perisai mana disaat-saat seperti ini." keluh yang lainnya.
"Dasar bodoh! fokus dan ciptakan perisai mana, jangan mengeluh, sialan!" teriak seorang kapten geram, beberapa saat kemudian kapten itu terlempar akibat ledakan bom yang dilempar seorang bocil ke arahnya, kapten itu hanya terluka ringan karena terlindung perisai mana yang dia buat sebelumnya.
"Bunuh bocah iblis itu, panteq!" umpat sang kapten menunjuk bocah yang berlari sambil melepaskan tembakan.
Pertempuran itu sangat merugikan pihak pangeran Ranzi karena musuh yang begitu lihai bergerak dalam kabut seakan mata mereka tidak terganggu oleh kabut.
Cing!!!!!!!!
Suara melengking merusak telinga sukses membuat semua prajurit dan para penyerang menutup telinga dan pertempuran terhenti sesaat, suara itu berasal dari kotak perusak telinga yang merupakan senjata ajaib milik pangeran Ranzi.
"Sihir ah... apa ya?" pangeran Ranzi bingung sihir apa yang dia miliki.
"Ah lupakan saja, lagipula itu tidak penting." putus pangeran Ranzi santai sambil menggunakan sihirnya yang tertunda sebelumnya.
"Inikah atribut sihir yang pangeran bangkitkan? pantas saja raja menyebutnya atribut sampah dan tak berguna." gumam Karina melihat sihir pangeran Ranzi yang cukup berguna di waktu sekarang.
"Apalagi yang kalian tunggu? tangkap mereka semua!" teriak jenderal menyadarkan semua prajurit yang tertegun melihat sihir pangeran Ranzi yang cukup aneh tersebut.
Pertempuran kembali dilanjutkan, namun kini para prajurit dapat mengimbangi karena bantuan tanda panah dari sihir pangeran Ranzi.
"Jadi begitu..., sihir ini selain memberikan tanda kepada musuh, teman dapat merasakan musuh yang menyerang dan meminimalisir serangan diam-diam musuh, sihir yang cukup berguna." gumam Derrick yang dapat menghindari sebuah sniper yang menembaknya karena dapat merasakan keberadaan dan serangan sniper tersebut meskipun jaraknya cukup jauh.
"Terimakasih pangeran!" ucap Derrick berterimakasih sambil menarik sniper miliknya dan menembus dahi sniper lawan, lalu menghindar ketika merasakan bahaya dari belakang.
"Sihir yang sangat berguna pangeran!" teriak Derrick menembak bocah yang menyerangnya dari belakang tersebut.
Sniper lawan yang tertembak tidak pernah mengira posisinya diketahui oleh Derrick, "Sialan, om-om sialan, akan kubunuh kamu." teriak sniper tersebut menarik pelatuknya sebelum terbunuh akibat tembakan Derrick tersebut.
"Ahhh...," Derrick merasakan bahaya, namun tidak sempat menghindar dan membuatnya tertembak, beruntung Derrick memiliki reflek yang tinggi jadi dapat menghindar sedikit dan tembakan itu hanya menggores lehernya.
"Matilah..., om." ucap anak kecil yang selamat dari tembakan Derrick.
"Keparat!" umpat Derrick sebelum seluruh peluru bocah itu menghujam tubuhnya, bahkan Derrick tidak sempat menciptakan perisai angin.
"Derrick!" Raki yang kebetulan berada mengenali suara Derrick langsung menggunakan sihir spasial untuk memindahkan Derrick.
__ADS_1
"Derrick..., Derrick..., Derrick!" panggil Raki kepada Derrick yang setengah sadar dengan tubuh penuh luka tembak.
"Derrick....," panggil Raki kembali dengan nada memelas.
"Apa yang terjadi?" tanya Kiano yang dibebaskan oleh Karina sang pelayan pribadi pangeran Ranzi karena kondisi darurat, kebetulan dia bersama Raki.
"Apa yang..., Derrick?" Kiano tertegun melihat Derrick yang penuh luka tembak, cepat-cepat dia memeriksa Derrick.
"Dia masih bernafas, tapi sangat lemah, dia akan kehabisan darah jika dibiarkan." ujar Kiano menyimpulkan dan segera memberikan pertolongan pertama kepada Derrick dengan sihir penyembuhnya.
"Derrick..., adik ipar selamat Derrick, aku akan membunuh bocah itu." ucap Raki dingin dan nafsu membunuh yang sangat besar, lalu pergi setelah menciptakan perisai kegelapan untuk melindungi Kiano dan Derrick.
"Jangan gegabah!" Kiano mencoba mencegah, namun Raki sudah menghilang dibalik kabut dan mengejar bocah yang berlari menjauh sambil meledakkan apapun yang dia lewati.
"Kekuatan ini cukup berguna, bahkan cukup mengerikan meskipun terlihat sampah, sepertinya raja terlalu cepat mengambil keputusan." gumam Karina ketika merasakan manfaat sihir pangeran Ranzi secara langsung, bahkan Karina yang awalnya kesulitan mengantisipasi serangan tiba-tiba kini dapat dengan mudah mengantisipasi serangan tiba-tiba karena dibantu sihir pangeran Ranzi.
Kilas balik.
Pangeran Ranzi mempraktekan sihir miliknya di hadapan raja, namun siapa sangka sihir itu hanya memberikan tanda aneh di atas kepala lawan tandingnya.
"Apakah ini sihirmu?" tanya raja dengan berteriak marah, karena sejak awal pangeran Ranzi menggunakan sihir aneh.
"Iya, ayah." balas pangeran Ranzi dengan menundukkan kepala, raja terdiam menahan marah dan geram.
"Tapi ayah tenang saja, aku bisa sihir api." ucap pangeran Ranzi menciptakan api ditangannya, sihir api itu adalah sihir yang dia latih sedari kecil.
"Jadi...,"
"Diam!" sela raja dengan marah, teriakannya bahkan menggelegar hingga mengagetkan semua orang.
"Sayang...," ratu Atut ingin memeluk raja.
"Pergilah pelacur!" teriak raja mendorong ratu Atut yang ingin memeluknya, dia terlihat sangat marah.
"Sayang...," ratu Atut mulai menangis sedih.
"Ini salahku, tidak seharusnya aku menikahi aib klan Lao sepertimu, jika saja aku tidak menikahimu maka putraku tidak mungkin membangkitkan sihir sampah." ujar raja Hans dengan tega kepada istrinya tersebut dan mengejutkan semua orang.
"Ayah, hiks, hiks... jangan salahkan ibu, hiks." pangeran Ranzi hanya bisa menangis, namun raja tidak peduli dan pergi dari tempat latihan tersebut.
Raja yang pergi dengan marah berhenti disamping Karina sang pelayan pribadi pangeran Ranzi, "Kamu bawa sampah itu ke keluarga ibunya, aku tidak ingin melihatnya lagi di istanaku." ucap raja dengan kejam bahkan dapat di dengar oleh semua orang yang ada disana.
"Dan kalian semua harus jaga rahasia ini, siapapun yang membocorkannya..., mati!" ujar raja Hans dengan meninju dinding hingga hancur lebur yang menandakan ancaman raja tidak main-main.
"Sayang..., jika kamu mengusir anakku maka kamu juga harus mengusirku." teriak ratu Atut dengan meraung sedih.
"Kamu tenang saja, kamu juga akan menyusul putra sampahmu itu setelah 3 bulan dia di keluargamu." ujar raja Hans mempertimbangkan martabatnya sebagai raja.
"Tapi jangan coba-coba kabur sebelum tiga bulan, atau aku tidak akan sungkan, apalagi mempertimbangkan martabatku sebagai raja." tambah raja Hans dan pergi dengan langkah besar dan cepat meninggalkan ratu Atut yang menangis sedih, dan pangeran Ranzi yang sangat kecewa dengan ayahnya tersebut.
__ADS_1
Semenjak hari itu pangeran Ranzi diusir dari kediaman raja Hans ke keluarga Lao di kota Suya, dan rakyat diberitahu bahwa pangeran Ranzi dikirim ke kota Suya dengan alasan latihan di keluarga Lao hingga umurnya matang untuk menjadi pangeran mahkota untuk menjaga martabat raja.