Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Chapter 31


__ADS_3

Raki yang mencoba menusuk paman Bokir langsung dihantam hiu megalodonn yang terbuat dari elemen petir tersebut, namun Raki mampu selamat karena Dy menciptakan dinding angin untuk melindungi Raki.


Raki menghilang dari pandangan dan hanya meninggalkan bayangan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.


Cl3p!


Tiba-tiba Raki sudah berada tepat di depan tuan muda Ge, lalu menusuknya dengan pedang yang diselimuti elemen kegelapan.


"Ah," tuan muda Ge termuntah darah, lalu melihat dadanya yang sudah tertusuk pedang Raki.


"Hosh, hosh, aku mungkin kalah level, tapi yang menentukan kemenangan bukan hanya level." Kata Raki ngos-ngosan.


"Pengalaman, kesempatan, dan juga kecepatan juga berpengaruh." Teriak Raki mencabut pedangnya dengan kasar.


"Tuan muda!!!" Teriak paman Bokir segera terbang menuju tuan muda Ge yang meluncur ke bawah.


Sling!


Raki melancarkan tebasan energi yang langsung meluncur kepada tubuh tuan muda Ge yang sekarat, namun paman Bokir menangkis tebasan itu dengan pedangnya, Raki sudah ada dibelakang paman Bokir lalu menebasnya.


"Arg.., kamu.. tidak akan dilepaskan oleh pemimpin.., b4jingan!" Kata paman Bokir dengan melotot marah kepada Raki sebelum jatuh meluncur kebawah menyusul orang yang dia panggil tuan muda Ge.


"Jika tidak ingin dibunuh, maka jangan mencari masalah." Ujar Raki dingin dan segera menaiki Dy.


Raki termuntah darah karena luka-luka yang dia terima akibat bertarung dengan paman Bokir yang begitu kuat, ditambah serangan petir megalodonn yang sempat menyentuhnya walaupun hanya serangan sisa yang tidak terbendung perisai angin Dy.


"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Tiara sambil menyentuh tangan Raki yang sedang memegang dadanya dan terus memuntahkan darah.


"Aku tidak apa-apa.., Dy lanjutkan perjalanan." Perintah Raki sembari menahan sakit dan muntah darah gelombang kedua agar tidak membuat Tiara khawatir.


Disisi lain.


Derrick benar-benar membuat kepala desa terpojok dengan kebrutalan serangan yang dia lancarkan dengan kaki kanan yang diselimuti api petir dari senjata ajaib yang dia miliki.


Bang!


"Si4alan! elemen petir ular kobra!" Umpat kepala desa dan menyerang balik dengan petir yang berbentuk ular kobra.


"Belati angin: tusukan angin penghancur!" Balas Derrick, lalu berlari kearah kepala desa dan melancarkan tendangan yang mengarah ke dada.


Bang!

__ADS_1


Perisai angin buatan kepala desa hancur berkeping-keping dan tubuhnya terhempas dan merobohkan tiga pohon.


"Argh.., hosh, hosh, kenapa racunnya tidak bereaksi?" Tanya kepala desa mencoba berdiri, sambil mempertanyakan kenapa racun di gelas teh Derrick belum bereaksi hingga sekarang.


Pertarungan itu menarik perhatian semua orang di desa, namun tidak ada satupun yang berani keluar karena mengira orang yang dikirim Sekte Naga langit sedang melawan banteng merah, terlebih lokasi pertarungan terkadang di dekat rumah kepala desa, dan terkadang di sekitar rumah warga, para warga bahkan bersembunyi di lubang buatan mereka sendiri agar tidak terkena puing-puing rumah seandainya rumah mereka menjadi korban keganasan banteng merah.


"Ibu aku takut, huhu." Kata seorang gadis kecil yang dipeluk oleh ibunya dilubang buatan mereka di ruang tamu rumah mereka, dia terlihat sangat ketakutan.


"Sayang jangan takut, ada ibu disini, tidak akan terjadi apa-apa kepada kita, jangan takut ya." Ujar ibunya menenangkan sang anak padahal sang ibu juga sama takutnya.


Bush, Bang!


Kepala desa kembali terhempas oleh serangan Derrick yang begitu ganas dan brutal, dia segera menciptakan perisai angin untuk menahan tebasan belati angin dari Derrick (sebenarnya tebasan energi, namun karena termasuk salah satu teknik keterampilan belati angin maka kita sebut saja tebasan belati angin).


"Kenapa?"


"Kenapa racunnya tidak bekerja, Si4lan!" Teriak frustrasi kepala desa menciptakan bola angin dalam ukuran besar, lalu mengalirinya dengan teknik elemen petir: selimut petir.


"Bola badai angin petir penghancur!"


"Matilah, si4lan!" Teriaknya melempar bola angin berukuran besar itu kepada Derrick yang berlari menuju kearahnya.


"Kaki kanan senjata api petir!" Teriak Derrick menendang bola energi tersebut, kaki kanan Derrick di mana senjata tulang berada langsung mengeluarkan api yang diselimuti petir.


Bush! Bang!!!


Derrick melompat mundur dan menciptakan ribuan belati angin untuk menahan bola angin yang terlalu kuat tersebut.


"Seribu belati angin penusuk!"


Note: karena orang-orang dunia baru Derrick tidak mengenal keris maka mereka menyebut senjata keris Derrick sebagai salah satu varian belati, terlebih Derrick mempelajari teknik belati angin.


Teknik belati angin sendiri memiliki lima teknik dan setiap teknik memiliki sepuluh tahapan.


"Belati angin: keris pembalik!" Teriak Derrick menusuk bola angin itu yang masih terlalu kuat, hasilnya kerisnya menyerap bola angin itu beberapa detik hingga terserap habis di detik ke 43.


Derrick sangat kelelahan akibat menyerap bola angin yang ganas itu, "Haha, kamu bodoh atau terlalu banyak planga-plongo selama menjadi kepala desa, padahal kamu memiliki waktu sekitar 30 detik untuk menyerangku yang sibuk menyerap bola angin buatanmu itu." Kata Derrick dengan tertawa psikopat.


"Apa?"


"Benar juga," Kepala desa sadar, namun dia terlambat karena Derrick sudah menusuknya dengan keris.

__ADS_1


Cl3p!


"Kesempatan tidak datang dua kali." Derrick berhasil menusuk kepala desa yang termenung menyesali kebodohannya yang planga-plongo ketika Derrick menyerap bola angin petir buatannya.


Bush!


"Arg.. ahhhh... panassss, ahhhh!" Teriak kesakitan kepala desa ketika Derrick membakarnya dengan teknik api pembakaran yang mampu membakar apapun yang terkena api ini hingga menjadi abu.


"Haaaah, aku menjadi lupa beberapa teknik hebat buatan Faisal karena terlalu fokus dengan teknik belati angin dan kekuatan dewa angin." Kata Derrick dengan menatap psikopat kepala desa yang terbakar menjadi abu.


"Oh iya, kamu tadi bertanya tentang racun, kan?" Tanya Derrick kepada abu kepala desa yang ditiup angin.


"Hehe, aku telah mengubah teh buatan pelayanmu itu dengan teknik hebat ciptaan orang yang dermawan, sangking dermawannya temanku itu dia rela memberikan tubuhnya untukku, hehe." Ujar Derrick dengan raut wajah gembira dan sangat menikmati sensasi ketika membakar kepala desa itu menjadi abu.


"Ah, aku benci perasaan ini, aku tidak seharusnya menikmati pembunuhan ini." Derrick tersadar bahwa dia seharusnya tidak menikmati pembunuhan yang dia lakukan.


Derrick segera mencari pelayan rumah kepala desa yang menyuguhkannya teh beracun, dia menemukan sang pelayan yang ketakutan ketika melihatnya datang.


"Kamu.. kamu masih hidup?" Tanya sang pelayan ketakutan.


"Kenapa? kamu terkejut?" Tanya Derrick dingin, sang pelayan langsung jatuh berlutut dihadapannya.


"Tuan muda ampuni nyawaku, aku hanya mengikuti instruksi kepala desa, aku tidak berniat membunuhmu, aku hanya mengikuti keinginan kepala desa, hiks, hiks." Kata pelayan itu memohon sambil menangis dan menyentuh kaki Derrick.


Derrick menghela nafas, "Aku akan mengampunimu asalkan kamu mau menuruti keinginanku,"


"Akan kulakukan, akan kulakukan apapun itu asalkan tuan muda mengampuni nyawaku." Kata pelayan yang berpenampilan acak-acakan dan kumal itu, lalu membuka bajunya di depan Derrick.


"Apa yang kamu lakukan?" sergah Derrick.


"Bukankah tuan menginginkan,"


"Jangan terlalu memandang tinggi dirimu, aku tidak meminta hal itu, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku." Sela Derrick yang mengetahui jalan pikiran pelayan tersebut, meskipun Derrick tahu jika diberi sedikit dandan pelayan yang masih terbilang muda itu akan terlihat cantik, namun dia tidak peduli sama sekali.


"Maksud tuan?" Tanya pelayan itu bingung.


Derrick menghela nafas pelan, lalu memerintahkan agar pelayan itu memperbaiki pakaiannya yang sedikit terbuka, pelayan itu dengan cepat mengancingkan kembali bajunya agar tidak membuat Derrick semakin marah kepadanya.


"Sekarang dengarkan perintahku..," Derrick mulai memberitahu keinginannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2