
Hanza komandan Opoi Mileak dan juga Light komandan elang cahaya juga hadir dalam upacara tersebut, mereka berdua menghampiri kelompok Xiao yang duduk dipinggir istana.
"Komandan Xiao bersulang." ucap Hanza sambil mengangkat gelas wine mengajak Xiao bersulang.
"Bersulang." balas Xiao juga mengangkat gelasnya yang berisi bir.
"Bersulang." Light juga mengangkat gelasnya bersulang, komandan Light sendiri meminum bir.
"Siapa bocah-bocah ini? haha." tanya Light sambil tertawa karena melihat minuman Raki, Derrick, dan Resi yang bukan termasuk kategori minuman keras.
"Cantik, apakah kamu ingin minum xuzu?" tanya Light sambil tersenyum ramah kepada Resi, dia terlihat sedang bicara kepada bocah perempuan yang masih polos.
"Haha, mereka bertiga adalah anggotaku, meskipun mereka imut dan lucu-lucu kusarankan kamu jangan meremehkan mereka." ujar Xiao sambil tertawa kecil dan meminum seteguk bir.
"Tambah!" teriak Xiao meminta tambah bir kepada pelayan.
"Haha, aku percaya itu, benarkan..., Hanza?" ucap Light mengerti.
Mereka bertiga terus mengobrol dan bercanda, terlihat tiga komandan itu cukup akrab dan bahkan tidak sungkan saling ejek satu sama lain. Sementara Raki, Derrick, dan Resi tidak terlalu menikmati suasana tersebut, terutama Resi yang masih syok dengan misi mereka yaitu melindungi pangeran Ranzi yang akan melakukan upacara membuka sihir.
"Btw, Resi... upacara membuka sihir itu apa?" tanya Derrick yang penasaran dengan upacara membuka sihir yang diadakan untuk pangeran Ranzi.
"Kamu gak tahu? serius?" Resi terkejut bahwa Derrick tidak mengetahui apa itu upacara membuka sihir, Derrick mengangguk membenarkan bahwa memang dia tidak tahu apa itu upacara membuka sihir.
"Yaampun, apakah kamu benar-benar seorang kesatria sihir?" Resi menepuk dahinya tanda tak habis pikir, lalu mulai menjelaskan apa itu upacara membuka sihir.
"Upacara membuka sihir adalah upacara yang dilakukan setiap anak yang sudah berumur 10 tahun, upacara ini berguna....,"
Dari penjelasan Resi upacara membuka sihir adalah upacara yang harus dilakukan oleh anak yang sudah berusia 10 tahun, dalam upacara itu akan diketahui atribut sihir apa yang dimiliki, berapa banyak mana yang dimiliki, dan seberapa tinggi bakat seseorang menjadi pendekar atau penyihir.
"Begitulah, bagaimana sudah mengerti?" tukas Resi dan bertanya.
"Aku mengerti." Derrick mengerti.
"Aku jadi penasaran dengan hasil upacara membuka sihir milikmu." ujar Resi dengan mengelus dagu seakan sedang penasaran yang amat tinggi akan suatu hal.
"Aku sendiri mendapatkan hasil atribut kayu yang termasuk atribut langka, kapasitas mana sebanyak 30 ribu mana, dan bakat menjadi pendekar." ujar Resi memberitahu hasil upacara membuka sihir miliknya kepada Raki dan Derrick.
"Kamu berbakat menjadi pendekar, tapi kenapa menjadi penyihir tipe penyembuh?" tanya Derrick penasaran.
"Aku juga tidak tahu, mungkin saja karena ketika aku berusia 7 tahun aku sangat ingin menyembuhkan orang-orang dan menjadi dokter sekaligus penyembuh terbaik." balas Resi apa adanya dan apa yang dia pikirkan dalam hatinya.
"Hooh, kukira kamu ingin menyembuhkan luka hatiku yang kesepian ini." ucap Derrick dengan tersenyum.
__ADS_1
"Haha, kamu suka bercanda rupanya, dasar buaya." Resi tersipu malu, namun segera sadar dan menunjukkan ekspresi wajah tidak senang untuk menutupi wajahnya yang merah merona.
"Kakak cantik, boleh minta tolong na?" tiba-tiba seorang anak kecil yang berpakaian bangsawan datang menghampiri meja Derrick dan meminta bantuan kepada Resi.
"Boleh, apa yang bisa kakak bantu?" ucap Resi menanyakan apa yang bisa dibantu olehnya.
"Aku ingin pipis, tapi aku tidak tahu toilet dimana, bisa antarkan na?" ucap anak kecil itu sambil menahan pipis dengan kaki menyilang, Resi tersenyum kecil dan mengangguk, lalu mengajak anak itu ke toilet yang sebenarnya tidak jauh di belakang arena upacara membuka sihir.
Disisi lain penjaga 10 sudah ada disekitar tempat upacara dan membaur dengan para tamu undangan raja, bahkan beberapa kali mengobrol dengan para petinggi kerajaan termasuk pangeran Schisterma Rema anak angkat raja Hans.
"Pangeran Valdi, dimana adik lucumu itu?" tanya penjaga 10 yang bernama Deka tersebut sambil planga-plongo mencari keberadaan pangeran Ranzi sang target pembunuhannya.
"Aku tidak tahu dimana bocah itu, sepertinya dia bersama raja." balas Rema santai.
"Begitukah, sangat disayangkan." ucap Deka dengan tersenyum dan berlalu pergi bersulang dengan para bangsawan atau petinggi lainnya.
"Siapa orang itu?" tanya Valdi dengan curiga melihat Deka.
"Aku tidak mengenalnya, mungkin dia salah satu bangsawan." balas Rema berlalu pergi seakan tidak suka dengan Valdi yang merupakan keponakan raja Hanz sekaligus jenderal muda kerajaan Roban yang sangat berjasa dan putra dari kaisar sihir pemimpin departemen pasukan kesatria sihir.
"Benar kata ayah, dia sangat berbahaya dan sulit dikendalikan." gumam Valdi dengan tersenyum sinis melihat kepergian Rema dengan langkah congkak dan menantang langit dengan wajah sombong.
Ok..., lanjut.
"Hoi, siapapun yang di dalam buka gerbangnya! aku ingin masuk." teriak Arya dari depan gerbang, berharap orang dalam markas mendengar dan membuka gerbang.
"Hoi, buka gerbangnya, sialan!" teriak Arya untuk keberapa kalinya karena belum dijawab apalagi dibukakan gerbang.
"Berisik sialan!" teriak Varg dari dalam markas sambil menguap karena baru bangun tidur siang.
"Kukira siapa, ternyata si penjahat." ucap Varg sambil mengucek-ucek matanya.
"Varg, bajingan buka gerbangnya, aku sudah lelah dan ingin beristirahat." ucap Arya meminta agar Varg membuka gerbang untuk memasuki markas.
"Emangnya kamu siapa? menyuruh-nyuruhku membuka gerbang?" ucap Varg songong.
"Aku tidak ingin ribut Varg, buka pintunya atau kuhancurkan." Arya mengancam.
"Haha, penjahat lemah sepertimu ternyata berani mengancam orang lain, haha sungguh lelucon yang lucu." Varg tidak takut dengan ancaman Arya dan malah tertawa mengejek, hal itu membuat Arya naik pitam.
"Kamu yang memintanya, Varg!!!" geram Arya dengan sikap Varg yang memancing emosinya, Arya mulai bersiap menyerang Varg yang berada di dalam markas, sementara Varg tidak menganggap serius ancaman Arya kepadanya.
Ok..., lanjut.
__ADS_1
Resi tidak pernah menduga bocah kecil yang dia bantu ke toilet ternyata adalah pangeran Ranzi yang menjadi tokoh utama dalam upacara membuka sihir yang dia datangi, dia merasa takut jika nanti seseorang tahu bahwa dia pernah mencubit pipi pangeran Ranzi beberapa kali ketika menuju toilet.
"Apakah raja akan memberiku hukuman karena telah mencubit pipi pangeran Ranzi?" tanya Resi sambil membayangkan Raja Hanz mempertanyakan cubitan di pipi Ranzi yang langsung dijawab bahwa dialah yang mencubit.
"Tenang saja, lagipula cubitanmu adalah cubitan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya yang menggemaskan, jadi kurasa pangeran Ranzi akan memakluminya." ucap Derrick menenangkan.
"Benarkah, syukurlah." Resi sedikit merasa lega, namun Raki kembali membuatnya cemas dengan mengatakan bahwa ratu Atut yang merupakan permaisuri raja Hanz sangat protektif dan tidak terima jika ada seseorang yang menyakiti pangeran Ranzi meskipun tujuannya menunjukkan kasih sayang kepada pangeran Ranzi.
"Aku pernah mendengar cerita bahwa Ratu Atut memenggal salah satu pelayan setianya hanya karena mengelus wajah pangeran Ranzi saat masih berusia 2 tahun, kuharap kamu baik-baik saja ketika acara ini selesai." ucap Raki menakuti Resi yang kini menunjukkan wajah pucat.
Upacara sudah dimulai empat orang kesatria sihir tingkat 4 mengelilingi pangeran Ranzi dan memulai upacara kepada pangeran Ranzi yang terbang melayang ditengah-tengah mereka berempat.
Kesatria sihir tingkat 4 sendiri adalah tingkatan kesatria sihir tertinggi dalam pasukan kesatria sihir kerajaan Roban, mereka dikatakan sudah menjalankan ratusan misi kelas S yang sangat berat dan mempertaruhkan nyawa mereka.
Pangeran Ranzi yang diam membisu tiba-tiba berteriak kencang ketika empat kesatria tersebut mengarahkan energi mana kepada tubuhnya dan mulai membuka paksa bakat sihir pangeran Ranzi, teriakan itu sampai-sampai membuat raja Hanz dan istrinya cemas dan ketakutan, jika saja para pelayan tidak menenangkan raja mungkin saja raja memerintahkan para pengawal agar memenggal 4 kesatria yang menjadi eksekutor dalam membuka bakat sihir pangeran Ranzi.
"Aaahhh, sakit ayah, sakit sekali ayah!!! ahhhhh, tolong ayah, ini sakit sekali." teriak Pangeran Ranzi meminta tolong kepada raja Hanz, namun raja Hanz hanya diam tidak bisa melakukan apapun.
Tiba-tiba cahaya berwarna bening memecah langit-langit istana dan membuat gempa seluruh istana.
"Aura murni, atribut tidak diketahui." ucap salah satu kesatria yang berposisi di kanan depan pangeran Ranzi.
"Pangeran coba gunakan kekuatanmu." perintah kesatria itu, pangeran Ranzi melakukan apa yang diperintahkan dan menggunakan kekuatannya meskipun masih kesakitan.
"Aku tidak tahu jenis atribut apa yang pangeran bangkitnya, sepertinya ini atribut baru atau atribut yang tidak dikenal." ucap kesatria itu mengambil kesimpulan.
Cahaya diatas langit itu menunjukkan 4 pilar, dimana salah satu pilar sedikit pendek, jika diperhatikan pilar itu sedikit lebih pendek 30% dari pilar lainnya.
"Kapasitas mana 37 ribu mana, pangeran Ranzi benar-benar jenius muda yang menjanjikan, kerajaan Roban diberkati mana." ujar kesatria yang berada di kanan belakang pangeran Ranzi dengan senyum senang.
"Potensi bakat: memiliki bakat sebagai penyihir sebanyak 80%. Potensi menjadi pendekar sebanyak 20%." ujar kesatria yang berada di kiri depan pangeran Ranzi karena merasakan mana pangeran Ranzi yang begitu halus, hal itu menandakan Ranzi cenderung berbakat dalam sihir daripada ilmu beladiri atau senjata.
"Pangeran tahan sedikit lagi, upacara ini segera berakhir." ujar kesatria sihir yang berada di depan kanan pangeran Ranzi memulai mengakhiri ritual, pangeran Ranzi mengangguk tanpa bersuara, namun terlihat jelas dia menahan sakit diseluruh tubuhnya.
Bang! Krakkk!
"Anakku!"
"Pangeran!"
"Adik!"
Teriak beberapa orang bersamaan ketika Pangeran Ranzi terlempar akibat tendangan kuat dari seseorang di saat-saat akhir upacara membuka sihir itu akan selesai, tendangan itu terlihat mematikan terlebih terdengar suara tulang patah akibat tendangan tersebut, yang diduga tulang yang patah adalah tulang leher.
__ADS_1
"Hahaha, misi ini terlalu mudah, haha." penyerang yang tidak lain Deka itu tertawa psikopat karena menduga dirinya berhasil membunuh pangeran Ranzi.