Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Chapter 9


__ADS_3

Master Enal yang tadinya terlihat biasa-biasa saja langsung terkejut hingga menyemburkan kopinya kewajah Derrick, beruntung Derrick menciptakan perisai angin agar terlindungi dari semburan kopi.


"Anggur merah naga berusia seribu tahun?" Master Enal langsung memegang anggur merah naga dengan sangat hati-hati, lalu mengamatinya dengan sangat teliti.


"Waw, ini benar-benar anggur merah naga berusia seribu tahun, dimana kamu memetiknya?" Master Enal yang penasaran langsung bertanya kepada Derrick.


"Lalu ginseng taring kucing yang berusia kurang-lebih 2 ribu tahun." Bukan menjawab Derrick malah menjelaskan tanaman kedua yang merupakan Ginseng taring kucing yang berusia 2 ribu tahun.


"Wah, kamu juga memiliki herbal langkah itu? bahkan berusia 2000 tahun, kamu benar-benar mengejutkanku." Master Enal kembali terkejut dengan herbal yang dibawa Derrick.


"Bagaimana, apakah bisa melelang barang-barang ini?" Tanya Derrick dengan acuh sembari bersandar membuat tubuhnya sedikit santai.


"Haha, tentu saja bisa, kamu bisa melelangnya." Jawab Master Enel dengan tertawa senang.


"Tapi,"


"Bagaimana jika kamu menjualnya kepadaku saja, daripada dilelang yang mungkin harga lelangnya tidak sesuai." Tawar Master Enal kepada Derrick dengan menunjukkan senyum liciknya.


"Berapa harga yang master tawarkan." Tanya Derrick acuh sembari buang angin (kentut).


Master Enal tentu saja kesal dengan kelakuan Derrick tersebut, dia bahkan ingin sekali mencekik Derrick dan membuangnya ke kloset yang berada tepat di belakang tempatnya duduk.


Dari kesepakatan itu Derrick memutuskan untuk menjual tiga tanaman herbal itu kepada master Enal dengan total harga satu kertas berlian.


Ok, skip.


Seorang pria muda yang berpakaian rapi berwarna hitam dengan kemeja putih naik panggung lelang dengan santai, sebuah alat komunikasi (Mikrofon) berbentuk bulat terbang mengikutinya.


"Hadirin sekalian, selamat datang di pelelangan terbesar kota Daun, Rumah Lelang Rama Kiba," Pria muda itu memperkenalkan diri kepada seluruh pengunjung rumah lelang yang telah hadir.


"Baiklah, barang lelang pertama adalah batu kapur dengan berat 100 kg," Pria muda yang bernama Getten tersebut mulai membuka lelang pertama.


Setelah melewati delapan barang lelang Derrick langsung tertarik ketika barang lelang kesembilan muncul, yaitu berupa monster yang sudah membusuk dan tidak dapat dikenali lagi bentuk dan jenis monster tersebut.


"Apa itu?" Tanya Derrick dalam hati.


"Energi yang terkandung di bagian kepalanya begitu banyak dan mengandung aura darah yang sangat mengerikan." Batin Derrick kembali sembari terus memperhatikan monster misterius tersebut.


"Sistem apakah kamu bisa memindai bangkai binatang jenis apa yang dilelang tersebut?" Tanya Derrick kepada sistem melalui pikirannya.


"Tidak dapat memindai, jarak terlalu jauh." Balas sistem apa adanya, Derrick menghela nafas dan harus menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Harga awal 10 ribu kertas emas, setiap kenaikan tidak kurang dari 2 ribu kertas emas." Getten mulai membuka harga lelang bangkai monster tersebut.


"12 ribu kertas emas,"


"17 ribu kertas emas."


"23 ribu kertas emas."


Harga monster misterius itu langsung meroket dalam sekejap karena banyak yang tertarik dan menawar.


"40 ribu kertas emas." Teriak seseorang di kursi VIP nomor 4 dengan acuh dan memandang rendah orang-orang di kursi umum.


Setelah pria itu menembak harga semua penawar di kursi umum terdiam dan tidak melanjutkan penawaran lagi, padahal sebelumnya mereka berlomba-lomba menaikkan harga.


"Memang rakyat jelata." Dengus pria tersebut dengan menghina.


Semua orang mendengar ucapan pria tersebut, para tamu VIP merespon dengan tertawa, sementara para tamu lelang di kursi umum hanya bisa diam dan menahan kemarahan mereka dalam hati.


"40 ribu kertas emas satu kali." Getten mulai menghitung ketika tidak ada lagi yang mau menaikkan harga lelang.


"40 ribu kertas emas dua kali." Getten sudah bersiap ketuk palu untuk menutup lelang tersebut.


"50 ribu kertas emas." Teriak Derrick dari kursi umum dengan mengangkat nomornya acuh tak acuh.


Semua mata tertuju melihat Derrick yang malah menguap dan tidak memperdulikan tatapan semua orang.


"Apa?"


"Aku bukan pisang wahai para monyet sekalian." Kata Derrick dengan malas dan menutup mata untuk tidur.


"Anak si4lan," Umpat semua orang kesal dengan perkataan Derrick yang mengandung makna bahwa mereka semua seekor monyet.


"Kenapa kalian kesal, bukankah nenek moyang kita adalah seekor monyet?" Tanya Derrick dengan acuh.


"Nenek moyang kita monyet? saya rasa hanya nenek moyangmu yang seekor monyet disini." Ucap VIP no 4 geram dengan perilaku Derrick yang bahkan menuduh leluhur manusia berasal dari monyet.


"50 ribu kertas emas satu kali." Getten mulai menghitung karena takut keributan akan semakin membesar.


Terbukti setelah Getten mulai menghitung semua orang fokus kembali dalam acara lelang, mereka sudah mulai sedikit tenang dan tidak ribut lagi dan mempermasalahkan perilaku tidak berakhlak Derrick.


"100 ribu kertas emas!" VIP no 4 menaikkan harga untuk bersaing dengan Derrick yang sudah dia anggap musuh.

__ADS_1


"200 ribu kertas emas." Balas Derrick acuh sembari melirik VIP no 4.


"Teman menyerah saja dan pulanglah menyusu kepada ibumu, lalu tidur siang dengan nyenyak, daripada merengek ketika kalah dalam persaingan." Kata Derrick memberi nasehat kepada VIP no 4 dengan nasehat yang terdengar menghina.


"Kamu," VIP no 4 seketika marah dan bersiap menyerang.


"Lihatlah mata pria muda ini sudah berkaca-kaca, karena menahan tangis, haha." Derrick berujar sambil tertawa.


"Tolong panggil ibunya agar membawanya kembali kerumah, jika tidak dia bisa saja merengek minta susu kepada kita." Pinta Derrick kepada semua peserta lelang dengan menunjukkan ekspresi wajah ketakutan dan cemas


Prefff, haha.


Tawa semua peserta lelang di kursi umum akhirnya pecah, sementara peserta lelang di kursi VIP hanya tertawa jaim untuk menghargai VIP no 4.


VIP no 4 menunduk marah, dia menggertakan gigi karena terlalu marah dan secara mengejutkan pria itu menyerang Derrick dengan cara melompat dari kamar VIP no 4 dengan jari tangan yang membentuk cakar.


"Cakar harimau putih!" Teriak pria itu menyerang dengan mengincar kepala Derrick dengan tujuan meremukkan.


Bang! Pria itu hanya memukul kursi kosong hingga hancur, bahkan lantainya juga hancur akibat pukulan pria tersebut.


"Anak muda, kamu benar-benar berani memancing kemarahan tuan muda keluarga Wijayanto, benar-benar membuat orang tua ini terkejut, haha." Ucap seseorang yang menyelamatkan Derrick dari serangan pria VIP no 4 itu.


"Padahal aku sudah bersiap membunuh bajing4an itu, tapi pria tua ini menyelamatkanku dengan menukar tubuhku dengan kursinya." Batin Derrick dalam hati sambil menyembunyikan kerisnya kembali di pinggang belakang.


"Terimakasih pak tua, aku berhutang budi kepadamu." Derrick berterimakasih walaupun sebenarnya dia tidak butuh pertolongan siapapun dalam melawan VIP no 4 yang mengamuk.


Bush! Pria no 4 itu mengeluarkan auranya yang menciptakan hempasan angin yang begitu kuat, namun tidak sampai membuat orang bergeming apalagi terhempas.


"Beraninya kamu menyelematkan bocah itu, si4lan!" Teriak pria itu marah sembari berbalik melihat orang bodoh mana yang telah membantu Derrick.


"Kamu," Pria itu seketika berkeringat dingin mengetahui siapa orang yang membantu Derrick dalam menghindari serangannya.


"Tuan dewa pedang yang agung, sejak kapan kamu ada disini?" Ucap pria itu dengan tubuh gemetar dan langsung berlutut memberi hormat kepada pria tua yang menyelamatkan Derrick tersebut.


Semua orang secara reflek ikut berlutut memberi hormat walaupun sebenarnya mereka sudah terlambat beberapa detik akibat terlalu terkesima dengan keberadaan dewa pedang yang agung ditengah-tengah pelelangan.


"Haha, apa kabar tuan muda Leo Wijayanto, aku cukup terkejut kamu berani berteriak di depan wajahku." Ucap Dewa pedang tersebut dengan ramah, namun semua orang tahu dia sedang marah saat ini.


"Hamba minta ampun, hamba tidak pernah berniat melawan mu, dewa pedang yang agung." Jelas Leo dengan tergagap dan ketakutan dengan kemarahan dewa pedang tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2