Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Benua Eghed bagian 17


__ADS_3

Raki berhasil mengejar bocah kematian yang menembak Derrick dan melancarkan tebasan hingga memotong senapan laras panjang dikedua tangannya, lalu menebas wajah sang bocah kematian dengan pedangnya.


"Itu hampir saja om, haha." bocah itu tertawa dan melempar 6 bola misterius yang bisa meledak kepada Raki.


Sling! Sebuah tebasan energi keluar dari balik asap ledakan.


Tebasan energi itu hampir membelah sang bocah yang sedikit lengah karena terlalu fokus melihat hasil serangannya, bocah kematian itu cukup beruntung karena menghindar sedikit.


"Matilah!" teriak bocah menembak dengan pistol yang ada di kedua pahanya hingga pelurunya habis.


Cekrek..., krak!


Bocah itu mengambil peluru dan mengisi ulang, namun sebelum selesai Raki melancarkan tebasan yang melukai tubuh bagian kanan bocah tersebut.


"Arg... ahh, sakit om, ahh sakit sekali, ampuni aku om!" teriak bocah itu memohon ampun kepada Raki, namun Raki tidak peduli dan menusuk bocah tersebut.


"Ahhhhh!!!" Raung bocah itu kesakitan sambil mengeluarkan buku sihirnya, lalu membuka halaman yang bergambar meriam.


"Sihir senjata: meriam!" ucap bocah itu tiba-tiba mengagetkan Raki yang langsung menghindar kesamping.


Dor! Tiba-tiba sebuah meriam keluar dari buku itu dan langsung menembak hingga menghancurkan apapun, bahkan menghancurkan dahan pohon yang cukup besar di ketinggian 20 meter.


"Haha, oom sangat bodoh sama seperti oom yang tadi." ujar bocah itu tertawa senang, dia terlihat tidak kesakitan sama sekali meskipun tebasan dan tusukan Raki terlihat sangat dalam dan parah.


"Aku akan membunuhmu, sialan!" Raki memasukkan dua pedang ke sarungnya yang berada di pinggang sebelah kiri.


Tekanan mana yang sangat kuat hingga menampilkan aura hitam di pegangan pedang dan menyebar ke seluruh pedang di dalam sarung, "Tebasan kegelapan!" gumam Raki menghilang dalam sekejap.


Ting! Beberapa detik kemudian sebuah patahan pedang terlempar, sementara sang bocah terduduk, terdiam, dan terpaku melihat serangan mengerikan Raki.


"Derrick?" Raki heran dengan kemunculan Derrick yang melindungi bocah tersebut dari serangannya, bahkan membuat salah satu pedangnya patah karena beradu dengan pedang dewa terkutuk milik Derrick.


Sementara itu Kiano dibuat geram dengan Derrick karena menyadari bahwa Derrick tidak terluka dan yang dia sembuhkan ternyata sebuah potongan dahan pohon.


"Kurang ajar!" Kiano meraung marah karena merasa ditipu dan semua perjuangan yang dia lakukan untuk menyembuhkan Derrick sia-sia.


Ok..., lanjut.


"Raki ini tidak sepertimu yang sangat menyayangi para bocil, ada apa denganmu?" tanya Derrick sambil menangkap patahan pedang Raki dan mengubahnya menjadi sangkar besi untuk mengurung bocah bersenjata api tersebut.


"Kamu terlihat baik-baik saja, lalu siapa yang ku tolong sebelumnya?" tanya Raki bingung dengan plot twist tersebut.


"Maksudmu diriku ini?" tanya Derrick mengambil batang pohon berukuran sedang dengan teknik hisapnya, batang pohon itu terpotong akibat ledakan tembakan meriam si bocah kematian.


Derrick mengubah batang pohon itu menjadi dirinya sendiri, lalu melemparkannya kepada Derrick. "Meskipun berdetak dan terlihat memiliki kehidupan, bahkan mengeluarkan darah, itu hanyalah boneka." ujar Derrick menerangkan dengan santai.


Raki dibuat terbengong dengan fakta tersebut, begitu juga sang bocah kematian yang malah ngeri melihat boneka yang hampir mirip seperti manusia, bahkan mirip 99% dengan manusia asli (Derrick), hanya saja bocah itu tidak dapat bergerak atau lumpuh.

__ADS_1


"Uwek..., itu boneka? uwek, uhuk, uhuk." bocah kematian itu termuntah, batuk, dan mual-mual melihat boneka Derrick.


Sementara pertempuran melindungi pangeran Ranzi berakhir dengan tertangkapnya semua bocah kematian yang berjumlah setidaknya 20 orang (dari awalnya 37 orang), mereka semua berakhir dengan diikat dan dipenjara dengan penjara buatan Karina sang pelayan pribadi pangeran Ranzi.


"Banyak prajuritku terbunuh karena mereka, tapi kenapa mereka tetap dibiarkan hidup?" tanya jenderal kepada Karina, dia tidak terima semua bocah kematian itu ditangkap dan dibiarkan hidup.


"Mereka harus diadili." balas pangeran Ranzi dan keluar dari kereta kuda menemui sang jenderal secara langsung.


"Tapi...,"


"Selain itu kita tidak tahu motif mereka menyerang kita, dengan tertangkapnya mereka semua kita dapat mengetahui motifnya." sela pangeran Ranzi, sang jenderal hanya bisa bungkam.


"Kalau tidak ada yang lain, kamu bisa pergi." perintah pangeran Ranzi mengusir sang jenderal.


"Baik... yang mulia pangeran." ujar jenderal mengalah dan menggertakan gigi, lalu undur diri dari hadapan pangeran Ranzi.


"Bibi bisa memulainya." ujar pangeran Ranzi kepada Karina, lalu masuk kembali dalam kereta kuda.


"Baik yang mulia." ucap Karina dengan hormat, lalu pergi ketempat dimana semua bocah kematian itu dikurung.


Ok..., lanjut.


Semua prajurit berisitirahat di medan pertempuran atas perintah pangeran, mereka semua disuruh memulihkan diri sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Kabut tebal masih menyelimuti mereka, oleh karena itu pangeran Ranzi menyuruh agar mereka tidak jauh-jauh satu sama lain.


"Bagaimana hasilnya?" tanya jenderal kepada dokter kepala menanyakan kondisi semua korban penyerangan bocah kematian yang berjumlah hampir 400 orang prajurit.


"Lalu berapa orang yang dipastikan mati?" tanya jenderal kembali.


"Se-sekitar 50 orang, 7 diantaranya adalah kesatria sihir..., je-jenderal." jawab dokter kepala dengan ragu-ragu dan ketakutan, dia takut jenderal marah.


Benar saja jenderal sangat marah, meskipun hanya diam seribu bahasa aura yang jenderal keluarkan sudah membuktikan seberapa marah sang jenderal. "Kamu bisa pergi!" perintah jenderal dengan nada menahan marah.


Di sebuah pohon besar jauh dari tenda para prajurit kerajaan, terlihat Derrick sedang bermeditasi untuk menerobos level tenaga dalam dari level 79 ke level 80, sementara Raki dengan sukarela mengawasi dan melindungi Derrick saat bermeditasi untuk menerobos.


Disamping pohon besar itu terlihat bocah kematian yang dikurung dengan kurungan yang menyatu dengan pohon, bocah itu terlihat menyilang tangan di dada dan terlihat begitu tenang.


"Siapa namamu bocah?" tanya Raki sambil mengayunkan pedang dewa terkutuk ke depan, pedang itu adalah pedang pemberian Derrick sebagai bentuk permintaan maaf karena membuat salah satu pedang Raki patah.


"Untuk apa mengetahui namaku? urus saja urusanmu sendiri." jawab bocah itu ketus, Raki menoleh menatap bocah itu sesaat sebelum kembali melihat ke depan.


"Kenapa kamu menyerang kami?" tanya Raki kembali.


"Pedang ini cukup baik, tapi aku merasa pedang ini membuatku pusing." gumam Raki memerhatikan pedang dewa terkutuk dengan seksama.


"Karena diperintah oleh orang jahat, jika kami tidak membunuh kalian maka kami yang akan disiksa dan tidak diberi makan oleh orang jahat itu." jawab bocah itu dengan jujur apa adanya, dia terdengar seperti bocah yang polos.


"Siapa orang itu?" tanya Raki yang penasaran dan senang akan mendapatkan informasi yang penting, Raki tidak peduli bocah itu berbohong atau tidak.

__ADS_1


"Dia paman banci yang menculikku sepuluh bulan lalu, dia juga yang menculik semua teman-temanku dan melatih kami menggunakan senjata." balas bocah itu dengan tertunduk.


"Dia melatih kami dengan kejam, dia orang jahat, dia iblis, dia...,"


"Hei, hei, hei, tidak baik menjelekkan orang yang memberimu makan di depan orang lain, ganteng." tiba-tiba terdengar suara wanita jadi-jadian menyela bocah tersebut, bocah itu terdiam dengan tubuh gemetar.


"Bocah ganteng, aku akan menghukummu nanti karena memfitnah nona Shelly yang baik hati ini, hatiku sangat terluka." ucapnya dengan melentik cantik, namun terlihat sangat menjijikkan bagi pria atau wanita yang masih normal dan waras.


"Menjijikkan sekali, seorang pria mencoba menjadi wanita, sungguh menjijikkan, cuih." ucap Raki dengan meludah jijik tepat di depan penjaga 8 yang mengaku bernama Shelly tersebut.


"Ih, Abang ganteng, jangan seperti itu, hatiku yang rapuh ini akan sedih." ujar Shelly dengan tangan melentik.


"Cuih, apa yang membuatmu kesini?" tanya Raki yang sebenarnya menyadari alasan Shelly menemui mereka.


"Tentu saja untuk menyelamatkan bocah ganteng ku, akang tampan." jawab Shelly dengan menggoda Raki yang menunjukkan ekspresi jijik.


"Ternyata memang karena bocah ini, sepertinya dia sangat penting bagimu, banci!" ujar Raki dengan mode bersiap-siap menyerang Shelly.


Shelly tertunduk marah mendengar Raki menyebutnya banci dengan nada penekanan dan jijik, "Kamu bilang... apa?" tanya Shelly dengan suara berat jauh dari suara wanita jadi-jadian yang dia gunakan sebelumnya.


"Banci, kenapa tidak senang?" ujar Raki dengan tersenyum mengejek, wajah Shelly semakin tertunduk marah.


Kilas balik.


Ketika pangeran memerintahkan untuk mengurung semua bocah kematian yang berhasil ditangkap, Derrick menghalangi Raki membawa bocah yang mereka tangkap dengan alasan bocah itu akan membawa mereka kepada orang yang bertanggung jawab atas penyerangan ini.


"Karena bocah itu memiliki kekuatan menciptakan sebuah gambar menjadi kenyataan, kekuatan yang sangat berguna dalam menciptakan berbagai senjata." ujar Derrick menjelaskan alasannya kepada Raki yang bersikeras menyerahkan bocah kematian tersebut.


"Dasar om-om bodoh yang sok tahu, sihirku adalah menciptakan senjata apapun sesuai dengan apa yang kupikirkan, bukan menjadikan gambar menjadi kenyataan." ujar bocah itu meluruskan kekuatannya dengan wajah polos.


"Astaga, tidak seharusnya kuberitahu mereka kekuatan sihirku, dasar Jeda bodoh!" batin bocah yang ternyata bernama Jeda tersebut sambil menutup mulut karena keceplosan memberitahu kekuatannya.


"Apakah orang yang menyuruhmu menyerang kami akan datang menyelamatkanmu?" tanya Derrick dengan tersenyum ramah, Jeda menggeleng kepala menolak menjawab.


"Ternyata dugaanku salah, kamu tidak berguna sama sekali bagi orang itu." ujar Derrick dengan nada mengejek.


"Dasar om-om sok tahu, paman banci pasti akan menyelamatkanku, karena aku sangat penting dan berguna baginya." ujar Jeda dengan santai, lalu menutup mulutnya kembali karena keceplosan.


Kilas balik selesai.


"Haha, karena wajahmu ganteng maka aku ampuni kebodohanmu itu, berterimakasih kasihlah kepadaku ganteng." Shelly tertawa dan memaafkan Raki.


"Najis!" Raki tidak peduli dan menyerang dengan pedang dewa terkutuk.


Tebasan energi itu ditangkis dan dibuang ke samping oleh Shelly dengan kipasnya begitu saja, namun Raki sudah disamping kanan Shelly dan menebas dengan tebasan yang cukup cepat.


Slash! Tubuh Shelly terpotong menjadi dua yang mengejutkan Jeda dan Raki sendiri.

__ADS_1


"Dia tidak mungkin selemah ini, kan? Lagipula dia makhluk hidup yang memiliki ketahanan tubuh, daging, darah, dan tulang, terlebih dia sepertinya memiliki mana yang cukup banyak, mana mungkin bisa dengan mudah terpotong." tanya Raki dan menjauh dari lokasi dimana tubuh Shelly terpotong menjadi dua.


__ADS_2