
Master Albert mendatangi bangsal dimana Raki dirawat dan sedang dijenguk oleh Derrick, lalu menepuk bahu Derrick dengan lembut sembari menampakkan senyum.
"Dia pria yang hebat." Puji master Albert.
"Iya, dia memang pria yang hebat." Balas Derrick.
"Apakah dia bisa sembuh?" Tanya Derrick kemudian.
"Tentu, tentu saja bisa selama dia masih bernafas." Balas master Albert.
"Tapi kita membutuhkan obat untuk itu, dan aku tidak memiliki bahannya apalagi obatnya, ini membuatku sangat kesulitan." Tambah master Albert kemudian.
"Tapi anda tenang saja, karena kami akan berusaha untuk mendapatkan bahan itu." Master Albert meminta Derrick untuk tenang.
"Obat?" Derrick seketika sadar, dia langsung mengeluarkan satu-satunya pil regenerasi yang tersisa di sakunya.
"Apakah pil ini bisa menyembuhkannya?" Tanya Derrick kepada master Albert yang lebih paham dan berpengalaman dalam menyembuhkan orang.
Master Albert terkejut Derrick memiliki pil regenerasi Phoenix yang sangat langkah dan mahal, dia tersenyum kecil, "Apakah kamu ingin mempercepat kematiannya?" Tanya master Albert.
"Pil itu memang akan menyembuhkan segala luka dan meregenerasi bagian tubuh yang hilang, namun orang yang mengkonsumsi pil itu harus sadar untuk mengontrol tenaga dalam dan efek pil itu." Jelas master Albert.
"Lalu apa obatnya?" Tanya Derrick memandang sedih Raki yang tak sadarkan diri.
"Obatnya adalah ramuan jiwa, yang terbuat dari rumput jiwa berusia 500 tahun, darah monster jiwa, dan juga buah jiwa naga berusia 1000 tahun." Balas master Albert apa adanya.
"Dan kebetulan murid Yuanyi yang bernama Lao Aidan memiliki peliharaan yang merupakan monster jiwa, yaitu elang jiwa." Ujar master Albert kemudian mengingat-ingat tentang sesuatu.
"Tapi dia menolak untuk memberikan sedikit darah monster jiwanya itu, kami tidak bisa memaksanya dan hanya bisa mencari darah monster jiwa di tempat lain." Master Albert menggeleng tak berdaya.
"Jika tidak ada yang lain, aku permisi anak muda." Master Albert segera pergi untuk melihat-lihat pasien lainnya, dimana semua pasiennya adalah murid skuad Kegelapan yang terluka karena misi.
"Terimakasih master, dan mohon berikan pil ini kepada orang itu." Ujar Derrick memberikan pil Phoenix dan menunjuk seseorang yang sedang menatap kosong langit-langit, kondisi orang itu sangat memprihatinkan dengan kedua kaki yang sudah diamputasi.
"Kamu benar-benar orang baik, tapi sayangnya dia sudah kehilangan dua kakinya itu seminggu lalu, jadi itu percuma." Balas master Albert membuat Derrick sedikit terkejut.
"Kalau begitu berikan kepada yang membutuhkan." Pinta Derrick sebelum master Albert mengembalikan pil itu kepadanya, melihat itu master Albert tersenyum dan berlalu pergi.
Setelah master Albert pergi Derrick membuka toko dan dibuat putus asa ketika mengetahui harga bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pil jiwa, dimana harga rumput jiwa umur 1000 tahun sebanyak 1000 poin, darah monster jiwa sebanyak 1500 poin, dan buah jiwa naga seharga 700 poin, sementara poin misi Derrick sendiri hanya berjumlah 600 poin.
__ADS_1
"Sistem cek status." Derrick memeriksa sistemnya untuk memastikan jumlah pasti poin misinya.
Nama: Ran Derrick.
Umur: 21 tahun.
Poin misi: 500 poin.
Level tenaga dalam: 50 dari 100 level.
Stamina tempur: 80 dari 100 level.
Kekuatan tempur: 75 dari 100 level.
Reflek: 80 dari 100 level.
Kecepatan: 60 dari 100 level.
Misi: belum ada.
Misi spesial: mengambil pedang tingkat dewa.
Hadiah: 10 k poin misi.
"Pelanggaran!"
"Pelanggaran!"
"Pelanggaran!"
"Pelanggaran!"
"Pelanggaran!"
Sistem tiba-tiba bersuara dan menulis kata 'Pelanggaran' di otak Derrick, sampai-sampai Derrick dibuat pusing dan sangat sakit kepala, hingga lubang telinga, hidung, hingga mata Derrick mengeluarkan banyak darah karena suara sistem dan juga ratusan kata memenuhi otak Derrick.
"Karena tuan melakukan pelanggaran, maka poin misi tuan akan di reset ulang dan sistem akan tertidur selama 3 tahun." Ujar sistem mengejutkan Derrick.
Mendengar apa yang sistem katakan Derrick hanya bisa merutuk kebodohannya sendiri dan menyesali perbuatannya, namun apa daya nasi sudah menjadi bubur, sistem sudah tertidur.., anjay klasss.
__ADS_1
"Ghaaaaaaaaa... aaaaaaas.... aaaaaa!!!" Teriak Derrick sembari mengacak-acak rambutnya, dia tidak pernah menyangka akan kehilangan kekuatan yang paling menakjubkan, yaitu sistem misi dan hadiah.
Ok.., lanjut.
Tempat berbukit dengan sebatang pohon yang berdiri kokoh di pinggir jurang, di pohon itu terlihat Lao Aidan melamun memandang langit malam yang berbintang ditemani dinginnya malam, Lao Aidan sesekali menghela nafas berat yang mengandung kesedihan dan kerinduan akan sesuatu.
"Kenapa kalian meninggalkanku," Tanya Lao Aidan dengan air mata yang menetes membasahi pipi, dia menangis tanpa bersuara yang menandakan bahwa Lao Aidan sangat sedih dan kehilangan.
"Kakak," Sapa Derrick tiba-tiba dengan suara rendah dan bergetar.
Lao Aidan tidak menoleh menanggapi Derrick yang menyapanya, namun dia cukup terkejut bahwa Derrick yang tidak pernah mencarinya kini mencarinya saat dia sedang menangis sedih.
"Kakak," Panggil Derrick kembali dan berharap kakaknya itu mau menoleh dan menanggapinya.
"Pergilah Faisal, aku sudah tidak ingin lagi melihatmu." Kata Lao Aidan dengan nada datar dan terkesan mengusir Derrick yang jauh-jauh datang menemuinya.
"Kakak aku," Derrick ingin mengatakan sesuatu, namun Lao Aidan melemparinya dengan sebuah pedang yang terbuat dari cahaya yang mampu membuat Derrick berdiri mematung hanya dengan merasakan pedang itu melewati pipinya.
"Segitunya kamu membenciku?"
"Apakah.., apakah tidak ada satupun tempat di hatimu untukku, padahal kukira kamu berbeda dari mereka yang membenciku di desa." Ucap Derrick dengan marah, dia tidak dapat lagi mengontrol amarahnya karena baru pertama kali orang berani melemparinya dengan sebuah pedang.
"Padahal..,"
"Kamu membunuh adikku, apakah itu cukup menjadi alasan kenapa aku membencimu?" Sela Lao Aidan dengan air mata yang semakin mengalir deras.
Lao Aidan sudah mengubur dalam-dalam luka lama itu satu tahun lalu dengan susah payah, namun Derrick membuka memori buruk itu kembali membuatnya semakin bersedih dan membenci Derrick.
"Itu..," Derrick tidak dapat berkata-kata lagi, rasa bersalah dan penyesalan kembali menyelimutinya.
"Semua orang membencimu, mereka menganggap dirimu sampah, orang gila, orang yang terbelakang mental, dan juga orang yang paling tidak mereka inginkan ada diantara mereka." Ujar Lao Aidan mengingatkan kembali masa lalu Derrick yang penuh dengan pembullyan, penindasan, dan juga terkucilkan.
"Tapi aku.., aku dengan bodohnya menganggapmu saudaraku, aku selalu melindungi mu, membelamu, dan bahkan aku harus ikut dibully karenamu.., tapi... tapi kenapa kamu membunuh adikku yang paling ku sayangi?" Ucap Lao Aidan dengan berapi-api mengutarakan rasa kesedihan, kemarahan, dan kebenciannya kepada Derrick.
"Itu... itu karena Lawanto ingin membunuhku, aku... aku tidak ada pilihan lain selain membunuhnya." Balas Derrick setelah terdiam mendengar kemarahan Lao Aidan kepadanya.
Kali ini Lao Aidan yang terdiam, karena dia tahu Lawanto adiknya itu adalah orang yang paling sering membully Derrick, bahkan tak jarang Derrick beberapa kali mencoba untuk bunuh diri akibat pembullyan Lawanto kepadanya.
"Kamu tahu kak, aku berusaha keras untuk tidak membunuhnya saat itu karena menghormatimu, tapi dia dengan kekuatannya dia berniat membunuhku karena dia tahu tidak ada yang peduli jika aku mati, tidak ada yang peduli, kamu tahu itu, kakak!!!" Teriak Derrick dengan penuh kemarahan, dia melupakan niatnya yang ingin meminta maaf dan menjalin persaudaraan lagi dengan Lao Aidan, sekaligus meminta bantuannya.
__ADS_1
"Jika aku tidak membunuhnya, maka aku yang terbunuh, sialan!" Teriak Derrick dengan melancarkan serangan tebasan api dengan segenap kemampuan, kemarahan, kebencian, dan juga rasa sakit hati akan penderitaan yang dia alami di desa.
Bersambung.