
Pertarungan antara pengguna sihir api melawan pengguna sihir angin terjadi begitu sengit, pertarungan itu berakhir dengan kemenangan pengguna sihir angin yang mampu mengalahkan pengguna sihir api dengan teknik bola angin.
"Mau bertarung denganku?" ajak seseorang dengan senyum ramah kepada Kiano, dia memakai nomor 8 di dadanya.
"Baiklah, lagipula aku sudah gatal ingin menghajar seseorang." balas Kiano dengan tersenyum ceria dan menuju arena diikuti pria tersebut.
"Apakah kamu tidak ingin menyemangatiku?" tanya Kiano kepada Derrick yang sedang bersandar di tiang penyangga sambil memainkan nomornya seakan Derrick memiliki dunianya sendiri.
"Ah, kamu tidak asik." keluh Kiano kepada Derrick yang hanya diam dan tidak menjawab, apalagi memberi semangat kepadanya.
"Nona perkenalkan namaku...,"
"Tidak ada gunanya bagiku mengenal kacung si brengsek Semat." sela Kiano dengan tatapan dingin, orang itu tersenyum kecil mendengarnya.
"Haha, nona Kiano dari keluarga bawah memang tidak mengecewakan." orang itu tertawa mengejek dan menatap balik Kiano, tatapannya lebih menusuk.
Wasit pertandingan segera memulai pertarungan dua orang itu, dengan sekejap Kiano mengeluarkan buku sihirnya dan menciptakan dinding angin.
Boom!
Boom!
Ledakan terjadi di sekitar Kiano, beruntung dinding angin meminimalisir dampak ledakan tersebut, orang itu mundur dan melempar beberapa daun ke arah Kiano.
"Haha, perkenalkan namaku Fan seorang jenius yang diberkati kekuatan ledakan, apapun yang aku sentuh akan meledak jika aku menginginkannya." ujar orang yang bernama Fan sambil membuka buku sihirnya.
"Ledak!" teriak Fan.
Boom!
Semua daun yang dilemparkan kepada Kiano meledak, debu-debu ledakan menutupi tubuh Kiano yang bertahan dengan kekuatan elemen airnya.
"Tiga elemen ternyata, dia memang jenius keluarga Pitak." gumam komandan Hanza yang baru sadar siapa Kiano.
"Apakah cuma segini kekuatanmu?" tanya Kiano meremehkan sambil membuka halaman bukunya.
"Naga air: gelombang ombak penghancur!" teriak Kiano menyerang balik, namun sesuatu membuatnya terkejut.
"Tikus tanah: ledak!" ucap Fan dengan bergumam dan menampakkan senyum kemenangan.
Boom!
__ADS_1
Ledakan terjadi tepat disamping Kiano yang bersiap menyerang balik, ledakan itu berasal dari seekor tikus yang terbuat dari tanah.
"Apa itu? bukankah atribut kamu hanya ledakan saja, kenapa bisa menciptakan tikus dari tanah?" tanya Kiano tidak terima, pasalnya dia sudah menyelidiki secara teliti dua orang murid yang langsung dilatih oleh tuan tua keluarga Pitak, dimana dua orang itu akan ikut seleksi kesatria sihir sebagai formalitas sekaligus tes bagi mereka, dan salah satunya adalah Fan yang sedang Kiano hadapi.
Kiano terlihat terluka parah dan bajunya sobek-sobek akibat ledakan tersebut, kondisinya terlihat sangat memprihatikan ketika asap tebal akibat ledakan benar-benar hilang, sementara Fan hanya tersenyum kecil dan bangga sambil melirik komandan Semat yang tersenyum kepadanya.
"Haha, ada banyak kekuatan di dunia ini, bukan hanya kekuatan atribut saja, jadi jangan lengah nona Kiano, haha." ujar Fan tertawa terbahak-bahak dan berlari menuju Kiano yang terluka tersebut.
"Untuk menutupi kekurangan atributnya, Fan yang dibantu ayah berhasil mengisi lembaran buku sihir dengan sihir penciptaan tanah, walaupun atributnya adalah ledakan bukan elemen tanah." gumam Semat pitak dengan senyum mengembang di bibirnya, dia bahkan tidak mendengar pertanyaan Yaga Light yang menanyakan apakah dia akan diam saja membiarkan adik sepupunya (Kiano) diserang .
"Selain itu tidak ada larangan seseorang untuk menguasai teknik sihir yang berbeda dengan atributnya, semua orang bebas menciptakan teknik atau mempelajari teknik sihir yang tidak sesuai dengan atributnya selama mereka mampu, camkan itu!" teriak Fan yang berhasil menyentuh tubuh Kiano dan mendorongnya hingga mundur beberapa langkah.
"Leda...," Fan terdiam ketika sebuah pedang cahaya sudah dilehernya, dia langsung menghentikan niatnya.
"Sepertinya kalian bersekongkol disini." ucap Yaga Light melirik wasit pertandingan yang diam saja, lalu melirik komandan Semat yang menunjukkan raut wajah tidak senang dengan tindakan Yaga Light.
"Cih!" dengus Semat Pitak memalingkan muka dengan tangan menyilang di dadanya.
"Pertandingan selesai, pemenangnya peserta nomor 8." ucap wasit pertandingan mengumumkan hasil dengan terbata-bata dan berkeringat dingin akibat lirikan mematikan Yaga Light.
Cl3p! Sebuah pedang cahaya menusuk dan menembus leher sang wasit hingga meregang nyawa.
"Bukankah itu terlalu kejam?" tanya Xiao dengan acuh.
"Ampuni hamba tuan muda, tapi aturan tetaplah aturan." jawab Yaga Light dengan sopan sambil menampilkan senyum ramahnya kepada Xiao.
"Wasit tidak diperkenankan memihak kepada salah satu peserta, apalagi bersekongkol untuk membunuh peserta lain." ucap Yaga Light tegas memandang semua peserta yang terpaku dan takut dengan tragedi wasit terbunuh akibat kekuatan Yaga Light.
Sementara di arena saat ini sedang gempar dan ribut akibat tindakan Yaga Light yang tanpa basa-basi membunuh seseorang karena kesalahan kecil, ada yang biasa saja, ada yang ngeri, dan ada yang senang melihat tindakan tersebut.
"Baik pertandingan akan segera dimulai kembali, jadi majulah untuk membuktikan kekuatan kalian di depan para komandan." ucap Christine dengan acuh ketika wasit pengganti sudah ada diarena dan mayat wasit sebelumnya digotong keluar arena, sementara Fan diizinkan pergi begitu saja karena dia hanyalah peserta.
Pertandingan kembali dilanjutkan dengan wasit yang baru, peserta yang bertanding kali ini pengguna air melawan pengguna air.
"Mereka menyebut kekuatan atribut? bukankah itu berarti kekuatan bawaan dan secara otomatis sudah ada dan tidak perlu dilatih." gumam Derrick sambil memandang kosong arena yang sedang diisi dua orang kesatria sihir elemen air.
"Apakah mereka mendapatkan kekuatan secara instan, bukan dilatih?" tanya Derrick dalam hati.
Derrick sudah mengamati semua orang di sekte, mereka semua mendapatkan kekuatan dengan latihan keras hanya untuk mengendalikan elemen yang identik dengan mereka, contohnya Raki yang butuh 1 tahun lebih untuk menguasai teknik mengendalikan elemen kegelapan yang identik dengannya.
Dimana menurutnya tidak ada kekuatan yang instan di dapatkan, kecuali Derrick sendiri yang mendapatkan kekuatan elemen angin secara instan dari sistem, itupun harus dibayar dengan 10k poin misi.
__ADS_1
"Apakah mereka semua memiliki sistem?" tanya Derrick menarik kesimpulan dengan tangan mengelus dagunya.
Bang!
Seseorang terhempas akibat tendangan dan membentur dinding arena, lalu dia dinyatakan kalah.
"Mau bertanding melawanku?" tanya seseorang kepada Derrick secara tiba-tiba, Derrick yang bengong dan merenung itu menoleh dan langsung maju ke arena diikuti si penantang.
"Dia?" Xiao terkejut dengan kehadiran Derrick di ujian seleksi Kesatria sihir kerajaan, hal itu wajar karena Raki tidak memberitahunya.
"Pangeran mengenal salah satu dari mereka?" tanya Yaga Light yang melihat keterkejutan di raut wajah Xiao, padahal Xiao terlihat santai dan acuh sebelumnya.
"Siapa mereka?" tanya Xiao kepada Yaga sambil terus melihat arena.
"Hamba juga tidak mengenal mereka berdua, diperkirakan mereka hanyalah rakyat biasa yang mencoba peruntungannya di ujian seleksi Kesatria sihir kerajaan sama seperti rakyat biasa lainnya." balas Yaga dengan nada merendahkan Derrick dan si penantang, Xiao hanya tersenyum kecil.
"Mereka berdua memang tidak dikenal saat ini, tapi mereka berdua akan dikenal nantinya sebagai bagian skuad Kegelapan." ucap Xiao dengan senyum yakin, sementara 6 komandan lainnya terkejut dan ada yang malah tertarik.
"Kuharap kalian semua tidak mencoba merebutnya dariku." ucap Xiao dengan acuh, namun terdengar seperti mengancam.
"Cih, lagipula siapa yang butuh dua sampah itu?" dengus Semat pitak dengan merendahkan.
"Semat, jaga sopan santunmu dihadapan pangeran kedua!" bentak Yaga Light.
"Dasar penjilat!" dengus Semat pitak, sontak hal itu membuat Yaga marah, beruntung Christine menenangkannya.
"Pangeran kedua mohon maafkan sikap Semat, dia memang berpikiran dangkal." ucap Christine meminta maaf atas nama Semat Pitak kepada Xiao dengan nada lembut dan genit.
"Tidak masalah, sebagai seorang komandan harus memiliki kesombongan dan tidak boleh kalah dari komandan yang lainnya, aku saat ini seorang komandan bukan seorang pangeran, maka bersiaplah biasa saja kepadaku, kecuali di istana kerajaan barulah kalian harus sopan." ujar Xiao santai dan kembali melihat arena.
"Apakah mereka hanya berdiam diri saja seperti orang bodoh?" tanya Hanza yang tidak sabar dan merasa bosan dengan sikap Derrick dan si penantang yang hanya diam saja, bahkan semua orang sudah mulai mendesak agar mereka segera memulai pertarungan.
"Membosankan sekali." dengus Douzi komandan elang Utara yang sedari awal hanya diam saja.
"Jika Douzi sudah berbicara, itu berarti dia sudah bosan, haha." ucap Wenqi (seorang wanita) komandan kucing angin dengan tertawa terbahak-bahak.
Sementara diarena Derrick dan si penantang yang memperkenalkan dirinya bernama Aryaduta Smith, dan sering dipanggil Arya hanya saling tatap.
"Kamu tidak mau memulainya, mereka sudah tidak sabar loh?" tanya Arya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Hm, baiklah...," Derrick berbicara dan menghilang dalam sekejap, Arya terkejut sesaat dan langsung waspada.
__ADS_1