Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Benua Eghed 26


__ADS_3

Dua jam kemudian.


Derrick yang pingsan akhirnya bangun dan mendapati bahwa hari sudah mulai gelap yang menandakan bahwa sebentar lagi akan malam, terdengar suara jangkrik yang saling bersahut-sahutan menambahkan aura kesunyian yang semakin mencekam.


Derrick sedikit kaget melihat mayat Hara yang sudah mulai dingin berada tepat disampingnya, cepat-cepat dia mendorong mayat itu dan menjauh.


"Huh, membuat kaget saja." Merasa lega. Ujar Derrick sambil mengelus-elus dadanya yang kembang-kempis.


Setelah merasa tenang Derrick beranjak pergi dengan langkah berat dan tertatih-tatih, dia bertemu dan bertatap muka dengan Raki, Resi, dan juga komandan Xiao yang sedang menuju perbatasan utara. Tentu saja mereka semua terkejut.


"Derrick, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Resi yang langsung membopong Derrick yang terlihat hendak jatuh.


"Kenapa kalian ada disini?" tanya Derrick kepada tiga orang itu.


"Seharusnya kami yang bertanya seperti itu, dasar bodoh." Marah. Xiao berujar, mereka berempat akhirnya pergi ke perbatasan utara bersama-sama.


##


Di ruangan yang terlihat begitu mewah, area yang luas, dan kursi besar yang empuk dan nyaman terlihat raja Hans yang duduk sambil membaca koran harian, disampingnya berdiri jenderal besar dengan bersedekap dan pandangan mata lurus kedepan.


Dihadapan mereka terlihat seseorang berjubah organisasi VAR yang menampilkan senyum licik dan percaya diri.


"Apakah berita itu bisa dipercaya?" Fokus membaca koran. Tanya raja Hans kepada orang dari VAR yang menyampaikan berita tentang rencana kudeta kelompok VAR terhadap kerajaannya.


"Tentu saja benar, lagipula aku salah satu dari 10 penjaga mereka yang diikutkan dalam rapat itu." Menyesap teh. Jawab orang itu percaya diri, lalu meletakkan cangkir tehnya dan menatap tajam raja Hans.


"Apakah kamu meragukanku yang mulia raja Hans?" Menatap tajam. Tanya orang itu kepada raja Hans, dia merasa diragukan oleh sang raja.


"Haha, aku percaya, tentu aku percaya dengan informasi darimu." Tertawa. Ujar raja Hans dengan tertawa renyah menanggapi pertanyaan orang tersebut.


##


"Kakak apa perlu aku membereskan si kaisar sihir brengsek itu?" Tanya jenderal besar kepada raja Hans setelah orang dari VAR itu pergi dan meninggalkan mereka berdua di ruangan tersebut.


"Aku tidak menyangka kaisar sihir ingin melakukan kudeta kepadaku, kukira dia mendukungku sepenuh hati menjadi raja." Geram. Ujar raja Hans sambil menyesap kopinya dan meletakkan korannya dengan elegan.


"Jangan gegabah, kamu kumpulkan prajurit terbaik kita untuk menyambut mereka di dalam istana." Raja Hans memberi perintah kepada jenderal besar.


"Itu...," Jenderal besar keberatan.

__ADS_1


"Lakukan saja perintahku." Potong raja Hans dengan dingin.


"Baik, kakak." Pergi meninggalkan ruangan. Jenderal besar mau tidak mau harus menuruti perintah raja Hans untuk mengumpulkan prajurit terbaik untuk menyambut pemberontakan kaisar sihir yang di dukung kelompok VAR.


##


Perbatasan utara.


Derrick yang bermeditasi untuk menerobos level 82 kembali mengalami kegagalan, itu adalah kegagalan keempat dirinya menerobos ke level 82.


"Gagal lagi?" Membuka mata. Tanya Raki yang juga bermeditasi disana, dia sendiri berniat menerobos level 90 meninggalkan jauh Derrick dibelakangnya.


"Iya, sangat sulit menerobos." Menghela nafas. Jawab Derrick apa adanya dengan menggeleng kepala tak berdaya.


Xiao masuk keruangan tertutup dimana Derrick dan Raki bermeditasi untuk menerobos, lalu duduk di salah satu sudut tempat tidur.


"Jangan terburu-buru, karena menerobos bukan soal seberapa banyak waktu yang kalian habiskan, tapi juga seberapa besar bakat yang kalian miliki, dan seberapa banyak sumber daya yang kalian punya untuk menerobos." Ujar Xiao menasehati dua muridnya tersebut, dia menilai dua muridnya itu terlalu terburu-buru.


Xiao sendiri memiliki tenaga dalam level 100. Xiao saat ini sedang berusaha untuk menerobos level selanjutnya yaitu level Akhir Puncak, dimana memasuki level akhir puncak maka kekuatan Xiao akan sangat besar dan kuat, baik gerakan reflek, kecepatan, serangan, maupun pertahanan, serta memiliki mana tanpa batas.


Sebagai informasi tidak ada level lagi setelah seseorang mencapai level akhir puncak, dan Xiao berpotensi mencapai level itu.


"Haha, seratus tahun kalian berlatih sekalipun, tetap saja tidak akan mampu melampaui diriku, menyerah saja." Tertawa mengejek. Ujar Xiao mengejek Derrick dan Raki yang berniat melampauinya.


"Guru suatu saat kami akan melampauimu, tidak ada kata menyerah dalam kamus kami, benarkan Raki?" Berteriak kesal. Ujar Derrick tepat ditelinga Xiao yang bermeditasi, dalam sekali lambaian Derrick terdorong jauh.


"Kamu...," Derrick marah, namun Raki terlempar menabraknya dan pintu langsung tertutup rapat dalam sekali lambaian tangan Xiao setelah Raki juga dikirim keluar oleh Xiao.


"Kurang ajar!!!" Derrick dan Raki berteriak geram.


Mereka berdua memutuskan untuk melihat sekitar desa yang ditinggalkan penduduknya tersebut semenjak benteng perbatasan utara dikuasai pasukan kerajaan Samla, ribuan tenda berdiri di sekitar desa yang menandakan bahwa pasukan sudah bersiap-siap dan hanya menunggu perintah jenderal pasukan saja.


"Tuan Derrick, tuan Raki kalian mau kemana?" Tanya jenderal pemimpin pasukan tersebut ketika melihat Derrick dan Raki berjalan disekitar desa.


Meskipun dia berstatus jenderal, dia memiliki posisi yang setara dengan status komandan kesatria sihir, tapi dia juga harus hormat kepada orang-orang yang berasal dari departemen kesatria sihir apapun statusnya, baik komandan kesatria sihir atau anggota kesatria sihir biasa.


Jadi wajar dia sangat menghargai dan menghormati Derrick dan Raki yang berstatus kesatria sihir atau anggota pasukan kesatria sihir kegelapan pimpinan Xiao sang pangeran kedua.


"Salam jenderal Wang." Menangkupkan kedua tangan. Derrick dan Raki memberikan salam hormat kepada jenderal yang bernama Wang tersebut.

__ADS_1


"Kami berdua ingin lihat-lihat sekeliling desa." Raki menjawab pertanyaan jenderal Wang.


"Begitu rupanya." Mengangguk. Jenderal Wang memanggil beberapa prajurit yang sedang berlatih.


"Kalian kawal...,"


"Jenderal Wang, kami ingin melihat-lihat sendirian, tanpa pengawal, jadi itu tidak diperlukan." Menyela. Ujar Raki meminta agar jenderal Wang tidak memberikan mereka pengawal.


"Tapi tuan Raki daerah ini sangat rawan perang, lebih baik ada pengawal." Ujar Jenderal Wang ngotot memberikan Derrick dan Raki pengawal.


"Apakah kamu meragukan kami pak tua?" Tanya Derrick dengan bar-bar membuat Raki terkejut bukan main, secara reflek Raki menggeplak kepala Derrick dengan tinju agar diam.


"Haha, Jenderal Wang maafkan temanku ini, dia memang memiliki komunikasi yang buruk." Tertawa canggung. Raki meminta maaf sambil mengelus kepala belakangnya dan menggosok-gosok ubun-ubun Derrick.


"Apa maksudmu Raki?" Berteriak kesal. Derrick marah dengan tindakan Raki kepadanya tersebut.


"Tidak apa-apa, tapi apakah kalian yakin tidak mau dikawal?" Jenderal Wang memaklumi dan sekali lagi bertanya tentang pengawalan, sekali lagi Raki menolak dikawal.


##


Derrick dan Raki sampai disebuah tempat yang hancur berantakan, mereka berdua dapat menebak bahwa tempat tersebut adalah bekas peperangan yang terjadi antara pasukan perbatasan utara melawan pasukan kerajaan Samla.


"Ini..., bukankah milik Varg?" Derrick melihat dan memegang sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah hutan yang sangat mirip dengan keadaan di tempat mereka berada.


"Mengenai Varg...," Berpikir. Raki ingin memberitahu tentang pengkhianatan Arya, namun dia urungkan.


"Kenapa dengan Varg?" Mendesak. Tanya Derrick dengan menatap lurus Raki yang terdiam berpikir.


"Ah..., lupakan saja, lagipula itu tidak penting sama sekali." Tersenyum. Ucap Raki akhirnya menutupi tentang pengkhianatan Varg.


Mereka kembali berkeliling dan menemukan berbagai senjata mulai dari pedang hingga tombak berserakan. Semakin jauh mereka berjalan mereka semakin menemukan hal yang tragis, mulai dari mayat para pasukan, mayat para warga, hingga mayat binatang peliharaan ataupun binatang sihir yang ikut terlibat dalam perang. Sebagian dari mereka terbunuh oleh tebasan pedang, tusukan pedang, tusukan tombak, ataupun kekuatan sihir.


Hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang agak jauh dari benteng, terlihat prajurit kerajaan Samla sudah bersiaga diatas benteng.


"Ouh iya, Raki apakah kamu dapat melihat tingkatan orang-orang benua Eghed selama berada di benua ini?" Tanya Derrick ketika mencoba melihat level para prajurit tersebut, namun tetap tidak bisa.


"Tentu saja kita tidak bisa melihat level mereka, masa kamu tidak tahu?" Respons Raki cukup terkejut bahwa Derrick tidak tahu bahwa mereka tidak bisa melihat level orang-orang benua Eghed.


"Apa itu, kenapa kita tak bisa melihat level mereka?" Derrick semakin penasaran.

__ADS_1


"Itu terjadi karena orang-orang benua Eghed tidak melatih tenaga dalam mereka, mereka meningkatkan kapasitas mana mereka secara tak sadar." jelas Raki yang membuat Derrick cukup terkejut.


__ADS_2