
Kerajaan Galing, benua Naga Hitam.
Dewa pedang yang agung, Eira, dan beberapa murid inti sekte Naga langit yang berhasil kabur dari pertempuran di kerajaan Besi yang berakhir dengan kekalahan kerajaan Besi dari Kingdom Oni (Kerajaan baru yang didirikan Lao Aidan atau Colikay sang kaisar iblis), kini berada di ibukota kerajaan Galing, kota Gaka.
"Dewa pedang yang agung kesini." Jenderal Zakir mengarahkan untuk masuk ke jalan rahasia menuju istana kerajaan.
"Aku tidak pernah menyangka kerajaan baru itu menaklukkan 10 kerajaan dalam beberapa bulan, bahkan kerajaan Besi dan kerajaan Wano ditaklukkan." Menggeleng tak percaya. Ujar jenderal Zakir membuka pembicaraan untuk memecah kesunyian.
"Itu wajar, lawan kita adalah ras iblis..., tidak!"
"Maksudku lawan kita adalah iblis dan pengikutnya." Ujar dewa pedang dengan menggeleng tak berdaya.
Mereka akhirnya sampai di sebuah halaman luas yang dijaga puluhan prajurit, gedung besar yang berada ditengah-tengah dan dijaga ketat dihadapan mereka adalah tempat pertemuan raja dengan para jendral, sementara beberapa bangunan megah disekitarnya adalah kediaman keluarga raja.
Jenderal Zakir mengarahkan dewa pedang dan yang lainnya ke gedung pertemuan itu, dimana raja Galing sudah menunggu.
"Salam yang mulia raja Bacan." Menangkupkan kedua tangan. Dewa pedang dan yang lainnya memberikan salam hormat kepada sang raja yang sedang membaca koran.
"Hm..., duduklah paman dewa pedang, keponakan ini menyambut paman dengan senang hati." Sang raja mengangguk, lalu menyerahkan koran yang dia baca kepada dewa pedang dengan sihir.
Dewa pedang yang agung segera membaca koran itu, melalui koran itu dia mengetahui bahwa kerajaan Kingdom Oni melakukan berbagai penaklukan secara serentak, mereka dibantu beberapa organisasi jahat dan misterius, diantaranya ada organisasi Bakacauan yang memang suka membuat onar, dan organisasi pembunuh bayaran yang telah ada dan bertahan ribuan tahun lamanya.
"Ini...," Dewa pedang terkejut, karena baru saja kerajaan Kingdom Oni menaklukkan kerajaan Besi yang dia bantu beberapa hari lalu.
"Paman, sepertinya orang yang mengaku kaisar iblis itu telah memiliki persiapan yang matang sebelum muncul di permukaan."
"Aku bingung dengan kekuatanmu seharusnya dapat menyadarinya, terlebih kaisar iblis itu adalah salah satu murid sekte Naga langit." Menatap tajam. Ucap raja mengutarakan keraguan dan apa yang dia pikirkan.
"Huh..., dia sangat pandai menyembunyikan diri, aku tidak menyadari keberadaannya sama sekali." Menghela. Ujar dewa pedang yang agung tak berdaya.
"Begitu rupanya, sangat disayangkan." Raja menggeleng kepala.
"Paman, kamu makan, lalu istirahatlah terlebih dahulu." Ucapnya kemudian.
"Lupakan itu, yang mulia kita harus menghimpun kekuatan untuk menghentikan iblis itu sebelum terlambat." Menolak. Ujar dewa pedang meminta agar menghimpun kekuatan.
"Paman tenang saja, aku sudah mengirimkan surat kepada beberapa kerajaan tetangga." Balas raja.
"Tapi...,"
"Paman istirahatlah dulu, meskipun gelarmu adalah dewa, kamu tetaplah manusia biasa yang butuh istirahat dan makan." Sela raja.
Dewa pedang mau tidak mau harus menurut, terlebih dia menyadari semua muridnya terlihat menyedihkan dengan luka dimana-mana, terutama murid pribadinya Eira yang terlihat sangat menyedihkan dengan baju compang-camping penuh luka senjata tajam.
Beberapa waktu berlalu.
Terlihat semua murid naga langit kembali sehat dan bugar seperti biasanya, bahkan semua luka yang mereka terima berangsur-angsur sembuh.
__ADS_1
"Apakah luka-luka ini permanen?" Tanya Eira sambil melihat luka-luka yang ada ditangan dan beberapa bagian tubuhnya.
"Tenang saja, selama itu ditangani dengan baik, maka luka itu akan sembuh tanpa bekas, meskipun meninggalkan bekas si tampan Derrick tidak akan peduli sama sekali." Ujar Tera salah satu sahabat Eira dengan menggoda Eira.
Eira tersipu malu, dia memalingkan muka agar tidak disadari Tera.
"Lihatlah dirimu, haha." Tera tertawa.
"Derrick, aku tahu kamu masih hidup di suatu tempat, kembalilah dan hentikan saudaramu." Gumam Eira menatap langit dengan mata berlinang merindukan Derrick yang tidak pernah memikirkannya sama sekali semenjak terdampar di benua Eghed.
##
Bang!
Derrick kembali melakukan tinju banteng api di kepala gajah api untuk kesekian kalinya.
"Haaaa!!!" Teriak Derrick terus menekan tinjunya.
Gajah api melakukan hal yang sama, Derrick kembali kalah dan dikirim terbang menjauh akibat kalah dalam kekuatan, namun sang gajah juga terlihat sempoyongan karena terus menerus menahan tinju Derrick.
"Haha, ini yang terakhir!" Derrick tertawa dan kembali menyerang.
Sang gajah menciptakan puluhan bola api untuk menghentikan Derrick, namun Derrick menghindari semua bola api itu dengan mudah dan kembali melompat keatas tepat di kepala sang gajah.
"Tinju banteng api!" Teriak Derrick melancarkan tinju secara langsung, sang gajah meraung menyambut tinju tersebut.
Tabrakan itu menciptakan ledakan energi api yang sangat panas dan mengerikan, Derrick kembali terlempar namun sang gajah terlihat terluka parah dengan kepala yang terluka bakar akibat tinju Derrick.
"Tinju banteng api!" Derrick melakukan serangan tinju energi yang berbentuk kepala banteng, gajah meraung marah namun tetap saja dia tidak sanggup menahan tinju energi tersebut.
Bang!
Gajah itu akhirnya tumbang oleh tinju energi Derrick yang sangat kuat, meskipun lebih lemah dari tinju banteng api secara langsung, namun tetap saja itu cukup mengingat sang gajah yang mulai melemah.
Derrick segera mengambil inti kristal gajah api itu, lalu pergi membantu 10 prajurit yang sudah babak belur dihajar gagak listrik.
"Tahan dia!" Perintah Derrick, sepuluh prajurit mengerti dan melakukan serangan kepada gagal itu.
Mereka semua tumbang oleh petir gagak itu, namun 3 orang berhasil memegang kaki gagak itu dan berusaha membuatnya jatuh meskipun mereka terus terkena setrumnya dan tubuh mereka remuk serta dicabik-cabik sang gagak.
"Panah angin penusuk!" Teriak Derrick melepaskan anak panah yang dia perkuat dengan elemen angin dan api, panah itu dengan kecepatan penuh langsung menusuk leher gagal itu.
Gaaak gak gak!
Gagak itu meraung sakit, namun salah satu prajurit langsung memenggal kepalanya dengan sekali tebasan tombak.
"Bagus!" Ucap Derrick yang terlihat sudah terduduk kelelahan.
__ADS_1
Disisi lain Raki berhasil memotong-motong ular tanah hingga tiga bagian setelah dibuat kerepotan dengan gerakan ular itu yang begitu lincah ditambah kulitnya yang begitu keras dan sulit ditebas.
"Selanjutnya.., uhuk!" Muntah darah. Raki terjatuh berlutut setelah berusaha menuju benteng dimana perang terjadi.
Sementara perang dalam benteng terus berlanjut, banyak prajurit yang tumbang, baik pasukan kerajaan Roban atau kerajaan Samla terlihat sama-sama kuat.
Disisi lain dua jenderal terus saling serang dan terlihat seimbang, sementara Xiao direpotkan dengan tiga kapten pasukan musuh yang terus memojokkannya.
Sementara Resi bersama penyembuh lainnya disibukkan dengan banyaknya prajurit yang terluka akibat perang, bahkan tak jarang mereka harus menguatkan diri ketika prajurit yang mereka tangani menghembuskan nafas terakhirnya saat masa penyembuhan ataupun operasi.
"Jangan mati, kumohon jangan mati...," Pinta Resi dengan berlinang air mata ketika seorang prajurit yang dia tangani menghembuskan nafas terakhirnya.
"Hiks, hiks...," Tangisannya pecah, namun dia segera pergi ke prajurit lainnya untuk menangani meskipun terlihat begitu terpukul.
"Aku... akan melakukan apa yang ku bisa, aku adalah penyihir tingkat 4." gumamnya menguatkan diri, lalu melakukan penyembuhan kepada prajurit selanjutnya.
"Tidak, tidak...," Resi yang kurang fokus malah mencabut tombak yang menusuk prajurit itu tanpa terlebih dahulu menekan lukanya dengan sihir penyembuhnya.
Prajurit itu meraung kesakitan dengan darah berceceran, Resi terlihat cemas.
"Apa yang kamu lakukan! Menyingkir!" Teriak salah satu penyembuh yang langsung mendorong Resi, lalu menekan luka dengan sihir penyembuhannya agar berhenti mengalir.
"Kamu harus fokus...," Ucapnya kepada Resi.
"Orang ini tidak bisa disembuhkan secara instan, berikan jarum dan benang, aku akan melakukan operasi." Ucapnya dengan berkeringat dingin ketika menyadari luka prajurit itu tidak bisa disembuhkan dengan teknik penyembuhan.
"Ini...," Resi segera memberikan apa yang dipinta.
"Istirahatlah dulu, tenangkan dirimu." Ucapnya kepada Resi yang terdiam hampir 14 menit di sampingnya, sementara operasi yang dia lakukan hampir selesai.
"Kita adalah penyembuh, bukan dewa apalagi tuhan...," Ucapnya dengan pelan, Resi yang menunduk dengan kepala di lutut itu seketika melihat wanita paruh baya itu.
"Jangan merasa bersalah jika ada pasien yang mati di ditanganmu, karena itu bukan salahmu."
"Kita hanya melakukan usaha untuk menolong, terkadang usaha kita berhasil dan tak jarang gagal, jadi kuatlah dan terus bersemangat." Tukasnya dengan senyum tulus kepada Resi, disaat yang sama operasinya berakhir namun prajurit itu sudah lama mati.
"Lihatlah bahkan setelah semua yang kulakukan dia tetap meninggal, karena itu memang takdirnya." Ucapnya dengan berlinang air mata, lalu pergi ketempat lainnya untuk membantu.
Melihat itu Resi kembali mendapatkan semangatnya dan pergi untuk membantu yang lainnya.
Perang itu terhenti ketika tembok benteng sudah diperbaiki, pasukan kerajaan Roban di luar tidak bisa masuk lagi, sementara pasukan Samla yang menghadang sudah kembali di dalam benteng setelah mundur secara teratur.
Dalam sekejap pasukan Roban dalam benteng langsung terbantai karena tidak bisa keluar ataupun menerima bantuan, bahkan jenderal Wang dan Xiao hampir terbunuh jika tidak berhasil kabur dengan terbang melewati benteng.
Perang itu terhenti karena jenderal Wang memerintahkan pasukannya untuk beristirahat dan memulihkan diri, sementara pasukan kerajaan Samla hanya melihat dibalik benteng.
Disaat itulah surat darurat dalam bentuk burung sihir datang menghampiri jenderal Wang. Meskipun bingung jenderal Wang tetap membaca isi surat tersebut, lalu dia terkejut setengah mati membaca surat tersebut.
__ADS_1