
Terdengar sebuah suara merdu yang tercipta dari sebuah alat tradisional yang bernama Kecapi, suara itu berasal dari salah satu kamar rumah besar yang ada ditengah-tengah desa, iya rumah itu adalah rumah kepala desa Puan.
"Suaranya begitu merdu dan menyejukkan jiwa, hatiku benar-benar bergetar." Ujar Derrick sambil menyesap teh yang dibuat oleh pelayan rumah kepala desa.
"Jadi.., apa yang membawa tuan Derrick menemuiku?" Tanya kepala desa sambil melirik Derrick yang mengumbar senyum ramah.
"Apakah kalian sudah menyelesaikan misinya, dan dimana temanmu itu?" Tanya kepala desa kembali.
"Kami sudah menyelesaikan misi yang anda pinta, temanku yang bodoh itu kembali ke sekte untuk melapor." Balas Derrick apa adanya.
"Ouh baguslah, apa ada yang lain?" Respons kepala desa dengan tersenyum lebar menanggapi.
"Iya, aku datang kesini selain melapor bahwa misi telah selesai, aku juga berniat membunuhmu." Balas Derrick dengan tersenyum kecil dan lirikan mata tajam menusuk.
Kepala desa hanya tersenyum sinis mendengar bahwa Derrick berniat membunuhnya, "Tuan muda suka bercanda." Ujarnya dengan tertawa kecil.
"Haha, boleh aku bertanya satu hal?" Derrick tertawa dan mengajukan pertanyaan, kepala desa mempersilahkan Derrick bertanya kepadanya.
"Kenapa kamu memberi banteng itu bubuk pemarah?" Tanya Derrick dengan dingin dan menatap tajam kepala desa yang terus mengumbar senyum palsu kepadanya.
"Seharusnya aku membunuh bocah itu." Ucap kepala desa dengan penyesalan.
Faktanya Derrick sempat bertanya kepada Tiara kenapa dia ketakutan, dan Tiara saat itu menjawab dengan takut-takut bahwa dia mendengar kepala desa mengatakan sesuatu tentang penyebab banteng merah mengamuk, mendengar hal itu tentu Tiara terkejut dan langsung kabur karena ketahuan menguping.
Hal itulah yang menjadi penyebab Derrick tahu orang misterius yang memberi Bull bubuk pemarah adalah kepala desa Puan sendiri.
"Jadi..," Kepala desa menyerang Derrick dengan hempasan angin yang menghempaskan apapun disekitarnya, hempasan itu terfokus kepada Derrick.
Buuuush, bush!
Derrick melakukan hal yang sama hingga menyebabkan dua hempasan angin beradu dan menghancurkan benda-benda yang ada diruang pertemuan tersebut.
"Kamu benar-benar pendekar muda yang menjanjikan." Puji kepala desa sambil menenggak kopi terakhirnya, lalu mencengkram gelasnya hingga hancur menjadi abu.
"Kenapa kamu membuat hal itu? kenapa kamu memberi ketakutan kepada masyarakat desamu sendiri?" Tanya Derrick yang memang penasaran alasan kepala desa melakukan hal itu, Derrick juga menghancurkan gelas tehnya karena geram.
Ketika gelas teh itu hancur menjadi debu, Derrick melempar sebuah belati yang sudah dia persiapkan sebelumnya, sementara kepala desa menyemburkan tanah dari mulutnya untuk menghadang belati tersebut.
"Elemen petir: ular petir." Teriak kepala desa dengan menunjuk Derrick, petir yang berbentuk ular segera keluar dari tangannya dan menyerang Derrick.
__ADS_1
Cish, bang!
Derrick menghindar, lalu mengayunkan tangannya hingga menghempaskan meja kecil tempat dia disuguhkan teh sebelumnya, namun meja itu dihancurkan oleh kepala desa dengan sekali pukul.
Ting!
Derrick sudah ada disamping kepala desa dan menusuknya, namun kepala desa dilindungi perisai angin dan Derrick langsung terhempas oleh tendangan kepala desa yang diselimuti angin hingga membuat jebol dinding rumah.
"Pengendali elemen angin yang masih pemula mencoba melawan pengendali elemen angin yang sangat hebat sepertiku, jangan bercanda." Ucap kepala desa sambil menyemburkan tombak tanah secara beruntun.
Derrick menghindar dan melakukan tembakan hingga 50 kali tembakan, sebelum akhirnya Derrick dibuat terluka parah dengan teknik elemen petir: ular petir.
"Kamu tahu Derrick, alasanku melakukan hal itu karena aku anggota organisasi Bakacauan, sebagai murid sekte Naga langit kamu tahu organisasi hebat itu bukan?" Tanya kepala desa dengan memandang rendah Derrick yang berlutut dan terluka parah akibat serangan elemen petirnya.
"Huh, ternyata guru benar, organisasi Bakacauan adalah organisasi yang berisi orang-orang gila yang suka membuat onar, mempermainkan perasaan orang, dan menciptakan perang." Ucap Derrick dengan senyum kecut.
"Kukira itu fitnah, tapi ternyata benar." Tukas Derrick dengan senyum mengejek.
"Kamu benar sekali, tapi aku melakukan ini bukan karena bersenang-senang, tapi karena pimpinan kami menginginkan inti monster yang di dapatkan secara sukarela." Ujar kepala desa dengan raut gembira.
"Karena inti monster yang diberikan secara sukarela adalah bahan terbaik untuk membuat senjata ajaib setingkat dewa, selain itu inti monster yang diberikan secara sukarela adalah inti terbaik untuk menerobos, dan juga menyerap inti monster yang diberikan secara sukarela akan membuat kita menguasai atributnya tanpa harus bersusah payah berlatih." ujar kepala desa dengan raut wajah puas.
Faktanya menyerap inti monster yang diberikan secara sukarela oleh monster pemilik inti tersebut akan membuat orang yang menyerapnya mendapatkan tambahan mana sebanyak 10 ribu, dan mendapatkan kekuatan yang dimiliki monster tersebut tanpa harus berlatih sama sekali.
"Awalnya kami akan membuat banteng bodoh itu merasa sangat bersalah karena membunuh begitu banyak orang, terutama orang-orang terdekat Tiara yang sangat dia pedulikan, lalu mengancam Tiara agar meminta inti monsternya karena kami tahu banteng bodoh itu akan melakukan apapun demi mendapatkan maaf Tiara, bocah yang menyelamatkan hidupnya dari ambang kematian." Ujar kepala desa dengan bersemangat.
"Namun tugas kami menjadi mudah karenamu, haha.., aku ucapkan terimakasih tuan Derrick, tapi kamu harus mati." Kepala desa tertawa lalu menyerang Derrick dengan telapak tangan yang sudah dialiri petir.
Bang!
Derrick menangkis serangan itu dengan kerisnya, lalu mundur dan menciptakan kabut dan meminum pil regenerasi Phoenix yang sudah dia persiapkan sebelumnya, karena dia tahu melawan kepala desa adalah sesuatu yang sulit.
Bang!
Tinju petir beradu dengan kaki kanan Derrick yang sudah diisi senjata yang terbuat dari kadal naga satu tahun lalu menggunakan teknik penggabungan, senjata itu membuat kaki kanan Derrick sekuat baja dan diselimuti api petir yang merupakan atribut milik kadal naga (lebih jelasnya baca kembali chapter 13).
"Ahhh, apa itu sakit sekali, aaahhh!" Kepala desa terhempas akibat tendangan itu, bahkan tulang tangan kanannya patah akibat beradu tersebut.
Derrick tidak memberikan waktu bagi kepala desa untuk meratapi tangannya yang patah akibat beradu dengan kakinya, Derrick melancarkan tendangan lurus ke bagian kepala.
__ADS_1
##
Disisi lain Raki dan Tiara dihadang oleh dua orang misterius ditengah jalan menuju sekte Naga Langit, mereka berdua adalah anggota organisasi Bakacauan sama seperti kepala desa.
"Siapa kalian?" Tanya Raki waspada.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kami, yang harus kamu lakukan adalah menyerahkan inti banteng itu kepada kami secara sukarela." Ujar pria muda yang dipanggil tuan oleh pria tua dibelakangnya.
"Benar, serahkan apa yang tuan muda Ge inginkan, jika tidak kami akan membunuhmu anak muda." Tambah pengawalnya dengan mengancam dan mengeluarkan auranya yang berwarna coklat.
"Tenaga dalam level 70, elemen identik tanah?" Gumam Raki.
Tiara yang ada dibelakangnya ketakutan dengan tindakan dua orang musuh itu, "Kakak.., aku takut." Tiara ketakutan sambil memegang erat baju Raki.
"Adik kecil kamu jangan takut, kakak akan membereskan dua tikus bodoh ini." Ujar Raki mengacak-acak rambut Tiara dengan menampakkan senyum lebar dan percaya diri.
"Apa maksudmu dengan tikus bodoh anak muda! jangan kurang ajar kepada tuan muda Ge" Tegur pengawal tua dengan suara menggelegar seperti Guntur.
"Tentu saja kalian!" Balas Raki menyerang tuan muda Ge dengan pedangnya yang dialiri elemen kegelapan.
Serangan itu ditangkis oleh pengawal tua dengan pedangnya, Raki melancarkan tendangan ke kepala tuan muda Ge yang langsung menahan tendangan itu dengan kedua tangannya.
"Dasar tidak tahu diri!" Teriak marah tuan muda Ge, lalu memerintahkan pengawalnya yang dia panggil Paman Bokir.
"Paman Bokir bunuh bajingan ini." Perintah tuan muda Ge menunjuk Raki.
"Baik tuan muda." Balas paman Bokir, lalu melancarkan tebasan angin tajam sebanyak tiga kali.
Raki memotong semua tebasan angin itu dan membelah serangan elemen tanah yang berbentuk batu besar.
Ting! Ting! Ting!
Dua orang itu bertarung diatas udara dengan sangat sengit, dimana Raki mendapatkan bantuan Dy yang membuatkan pijakan angin agar Raki bisa bergerak bebas di udara, sementara paman Bokir memang menguasai teknik terbang.
Slash!
Raki berhasil menebas paman Bokir, lalu berniat menusuk lehernya.
"Elemen petir: megalodonn petir perusak!" Teriak tuan muda Ge menyerang Raki ketika melihat paman Bokir tertebas dan terpojok oleh Raki.
__ADS_1
Bersambung.