
Derrick terdiam mengetahui bahwa pria tua di depannya tersebut ternyata cucu dari seorang legenda yang mencapai ranah surgawi dan disebut sebagai dewa keabadian oleh para pendekar benua Naga Hitam.
Menurut legenda orang itu bernama Saint Carlos Sveraginevarage seorang pendekar pedang matahari dan bulan, dia disebut-sebut sebagai pendekar terhebat sepanjang masa bahkan dewa pedang yang agung tidak sebanding dengannya, meskipun dewa pedang yang agung sudah mencapai ranah surgawi.
"Benarkah? Kamu cucunya?" Tanya Derrick memastikan, pria tua itu tersenyum kecil dan tertawa.
"Haha, kamu percaya atau tidak, itulah faktanya." Ujar pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk meja tempatnya membaca.
"Kalau begitu dimana orang itu, maksudku dimana kakekmu itu?" Tanya Derrick yang memang penasaran.
"Dia sudah mati, kuburannya ada di belakang rumahku tidak jauh dari pasar ini." Jawab pria tua yang belakangan bernama Berlingkang tersebut dengan ekspresi datar.
"Apa?" Derrick terkejut.
"Bukankah dia abadi?" Tanya Derrick tak percaya bahwa sang legenda disebut sudah mati oleh cucunya.
"Orang bodo mana yang menganggap kakekku itu abadi? Apakah dia punya bukti bahwa kakekku masih hidup? legenda itu hanyalah sebuah omong kosong belaka." Ucap sang kakek santai.
"Umur kakekku memang 500 tahun lebih, tapi pada akhirnya dia mati karena penuaan dan penurunan sistem kekebalan tubuh, meskipun dia masih kuat untuk berkelahi atau bergerak layaknya orang sehat bugar."
"2-5 tahun sebelum kakekku meninggal dia sakit-sakitan dan harus terbaring di ranjang dengan keadaan lemah tak berdaya, saat itu umurku masih 10." Ujar kakek tersebut sambil meminum arak yang dia dapatkan dari cincin dimensinya, sang kakek menawarkan arak itu kepada Derrick dan ditolak.
"Jika dihitung hingga hari ini, seharusnya kakekku berumur 950 tahun lebih, orang bodo mana yang menyebut kakekku sebagai legenda yang hidup 2000 tahun lebih? Dari situ saja dapat disimpulkan, mereka hanya menduga dan menyebarkan rumor namun tidak tahu yang sebenarnya." Tukas kakek itu dengan tatapan tajam menusuk tulang dan sumsum Derrick.
"Faktanya ada begitu banyak versi yang menyebutkan di zaman mana kakekku hidup, ada yang mengatakan 2 ribu tahun lalu, ada yang mengatakan 5 tahun lalu, dan ada yang mengatakan 100 ribu tahun lalu, dan bahkan ada orang idiot yang menyebut kakekku hidup 100 juta tahun lalu, bukankah itu sebuah lelucon?" Ujar kakek itu dan bertanya kepada Derrick dengan nada santai.
"Begitukah? Lalu apa keistimewaan ranah surgawi? apakah ada ranah yang lebih tinggi dari ranah surgawi?" Tanya Derrick yang mulai tak bersemangat untuk menembus ranah surgawi, faktanya meskipun Derrick tidak peduli dengan keabadian dia tetaplah manusia yang memiliki hasrat untuk hidup lebih lama, setidaknya untuk saat ini dia juga berminat menjadi abadi.
"Haha, ranah surgawi akan memberimu mana tak terbatas, staminamu 10x lipat dibanding pendekar lain, meskipun tidak membuat abadi setidaknya ranah surgawi memberimu umur panjang karena siapapun yang menginjak ranah surgawi maka penuaannya lebih lambat 4 kali lipat dibanding manusia biasa." balas sang kakek apa adanya.
"Aku sendiri sudah berumur 426 tahun, dan mencapai ranah surgawi saat aku baru berumur 43 tahun, tidak ada yang lebih tinggi dari ranah surgawi, dengan kata lain ranah surgawi adalah puncak keterampilan latihan tenaga dalam (kalau bahasa cina disebut Kultivasi)." Jelas sang kakek dan diakhiri dengan menenggak araknya dalam sekali teguk.
"Apakah ada pertanyaan lain? jika tidak pergilah dari tokoku atau aku akan membunuhmu, anak muda." Ucap sang kakek dingin.
"Bukankah aku sudah dipastikan mati? sama seperti mereka berdua?" Ucap Derrick sambil menunjuk kebelakang yang merupakan pintu keluar-masuk toko.
__ADS_1
Iya Derrick menyadari bahwa mereka bertiga tidak akan bisa keluar dari toko senjata ini, Derrick menyesal karena rasa penasarannya membuatnya, Resi, dan Jeda harus terjebak di toko senjata ini dan mungkin akan dibunuh.
"Haha." Sang kakek tertawa terbahak-bahak, lalu seketika toko senjata itu berubah menjadi reruntuhan bangunan dengan menyisakan empat tiang penyangga tanpa pilar, dan ratusan tiang eksekusi.
Terlihat ratusan tiang eksekusi itu sudah terisi semua, dimana 12 diantaranya manusia hidup termasuk Resi dan Jeda, sebagian yang lain terisi mayat yang sudah membusuk, dan sisanya terisi tulang manusia lengkap tanpa kekurangan sedikitpun. Hanya satu tiang yang masih kosong, Derrick menduga itu adalah tempatnya dieksekusi.
"Katakan yang sejujurnya apakah benar sang legenda dewa keabadian itu memang kakekmu dan dia sudah mati, tolong katakan yang sejujurnya, setidaknya sebelum aku mati." Tanya Derrick kembali memastikan, karena dia masih ragu dengan cerita sang kakek jahat tersebut.
Kakek itu berhenti tertawa dan menatap Derrick lekat-lekat, lalu menampilkan senyum terbaiknya, meskipun terlihat seperti senyum seorang psikopat.
"Meskipun aku menjadikanmu tumbal kepada iblis, tapi apa yang kukatakan tidak pernah dusta, semua cerita yang kamu dengar dariku beberapa detik lalu memang sebuah kebenaran." Balas sang kakek dengan nada dingin, lalu melempar sebuah foto seorang anak kecil sedang bersama seorang kakek-kakek yang sedang terbaring lemah di kasur, foto itu melayang tepat di muka Derrick.
"Dewa keabadian disebutkan memiliki dua pedang bukan, itu adalah pedang yang dimaksud." Ujar kakek tua itu, Derrick mengerti dan memercayai apa yang kakek itu ucapkan, karena dia juga melihat sekilas foto dua pedang sang dewa keabadian yang dilukis oleh pelukis terkenal yang hidup 600 tahun lalu dan orang terpercaya dewa keabadian sebelum sang dewa menghilang dari dunia pendekar.
Dimana dalam lukisan terlihat dewa pedang yang memakai kecapi dan jubah untuk menutupi seluruh tubuhnya dan juga wajahnya, namun dia pedang sang dewa keabadian dilukis dengan sangat jelas dan detail karena tidak disembunyikan oleh dewa keabadian.
"Baiklah, aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan, sekarang saatnya membunuhmu." Ujar Derrick dengan yakin dan membuat sang kakek terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak karena Derrick berniat melawan.
"Haha, kuakui kamu cukup hebat dan sangat berbakat, karena diusia muda sudah mencapai tenaga dalam level 90, dan mampu mengungkapkan perangkap ilusi milikku." Ujar sang kakek memuji Derrick.
Whus!
Derrick menghindar ke samping dan membuat pukulan sang kakek hanya mengenai udara kosong, sang kakek langsung menyerang Derrick dengan kibasan tenaga dalam yang cukup kuat dan menghancurkan.
Boom!
Derrick menghindar dan membuat serangan itu mengenai tiang eksekusi, namun tidak terjadi apa-apa kepada tiang eksekusi tersebut, bahkan tulang-tulang di tiang eksekusi tidak hancur sedikitpun, meskipun batu-batu disekitarnya hancur dan bahkan tanah disekitarnya juga hancur membentuk kawah.
"Menarik!" Derrick tersenyum melihat fakta tersebut, lalu apa yang hancur kembali seperti semula.
"Apakah ini dunia ilusi?" Tanya Derrick kepada sang kakek yang berniat menyerangnya dengan panah energi api hitam.
"Panah api iblis!" Ucap kakek tua itu melepaskan anak panahnya, dalam sekejap dan kecepatan yang sangat tinggi panah itu melaju menyasar Derrick.
"Dinding mutlak!"
__ADS_1
Derrick menciptakan perisai energi yang diperkuat tiga elemen, yaitu angin, api, dan air, serta diperkuat energi tenaga dalamnya. Namun panah itu menembus perisai Derrick, beruntung Derrick sudah pergi menjauh.
Bush!
Sang kakek tiba-tiba berada disamping Derrick dan memukul udara kosong karena Derrick menghindar kebawah dengan reflek.
"Reflek yang bagus." Puji sang kakek dengan tatapan dingin kepada Derrick yang ada di bawahnya.
"Sistem status."
TING...
Nama: Ran Derrick.
Umur: 24 tahun.
Poin misi: 3980 poin.
Level tenaga dalam: 90 dari 100 level.
Stamina: 77 dari 100 level.
Kekuatan tempur: 80 dari 100 level.
Vitalitas: 90 dari 100 level.
Kecepatan: 60 dari 100 level.
Misi: Belum ada
Kekuatan dewa: Dewa angin, dewa api, dan dewa air, kekuatan dewa petir.
"3000 poin? Ini cukup." Gumam Derrick senang karena masih memiliki 3000 poin.
Bersambung...
__ADS_1