Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Benua Eghed bagian 5


__ADS_3

Derrick melancarkan tendangan menyamping kiri di kepala Arya dengan kaki kanannya yang sudah diisi senjata tulang rancangan Faisal dan buatan pengrajin senjata di kota Daun, Arya menahan tendangan itu dengan kedua tangannya.


Bush!


Derrick memukul Arya dengan tangannya yang diselimuti angin dan menciptakan hempasan angin, namun Arya berhasil menghindar dan melancarkan serangan balik dengan tinju ke perut.


Bang!


Tinju Arya ditahan oleh perisai angin, Derrick mundur dengan kedua tangan di depan. "Tombak api!" teriak Derrick menepuk tangannya dan menciptakan mata tombak Api yang melesat menuju Arya.


"Orang itu menguasai dua elemen?" tanya Yaga Light terkejut dengan Derrick.


Bang!


"Aku tidak merasakan adanya tenaga dalam dari orang ini, selain kekuatan fisik dan energi misterius." gumam Derrick kembali menangkis tinju Arya sambil menganalisa kekuatan Arya.


Derrick mendarat cukup jauh dengan kedua tangan yang sakit akibat tinju Arya, sementara Arya berlari kearahnya dengan buas. "Tinju penghancur gunung!" teriak Arya melancarkan tinju kembali tepat di depan Derrick.


Bang!


Derrick menciptakan kloningan dirinya dari angin dan melancarkan tinju api tepat di pipi kanan Arya hingga terhempas.


Bang!


Arya yang terhempas langsung ditendang oleh Derrick dengan kaki kanannya, hingga terhempas kembali.


"Cepat sekali!" batin Arya sambil memuntahkan darah, lalu Arya melancarkan tendangan balik ke belakangnya tepat dimana Derrick muncul dan menendang.


Bang!


Kaki mereka beradu, Derrick dengan kaki kanannya yang diselimuti api dan Arya dengan kaki kanannya yang diselimuti energi gelap.


"Elemen kegelapan?" batin Derrick dan menjauh, Arya juga menjauh dan berdiri kokoh.


"Elemen kegelapan, tapi kenapa lebih halus dari elemen kegelapan itu sendiri?" tanya Derrick dengan waspada.


"Ini bukan atribut elemen kegelapan, tapi energi kutukan." balas Arya kembali berlari dan melancarkan tinju, Derrick menahan dengan kedua tangannya.


Bang!


Bang!


Bang!


Pertarungan mereka semakin sengit dan cepat, sampai-sampai semua orang dibuat takjub melihat pertarungan mereka yang tak dapat diikuti mata.


"Haha, aku puas, aku sangat puas, ayo serang lagi, haha." Derrick yang awalnya santai dan tidak menganggap serius, kini terlihat seperti orang yang haus bertarung.


Bang!


"Aku juga menikmatinya, haha." balas Arya yang juga bersemangat.


Pertarungan mereka terus berlanjut, kondisi tubuh mereka terlihat lebam dimana-mana, meskipun Arya terasa seperti terbakar akibat serangan Derrick, tapi Derrick tidak lebih buruk dari Arya dengan luka yang membiru.

__ADS_1


"Elemen api: tinju banteng api!" teriak Derrick berniat mengakhiri pertarungan dengan teknik tinju banteng api.


Siluet banteng muncul di tinju Derrick, Arya hanya tersenyum dan melapisi tinjunya dengan energi misterius yang dia sebut energi kutukan.


Bang!


Dua tinju beradu dan terlihat seimbang, namun Derrick lebih berpengalaman dalam bertarung, Derrick dengan sigap menghindar dan memukul perut Arya dengan tinju yang dilapisi angin dan api, serta teknik sihir penyegel sihir.


Bang!


"Ugh!" Arya terhempas dan termuntah darah disertai batuk beberapa kali.


"Sial...," umpat Arya sambil menatap Derrick dengan pandangan berkunang-kunang.


"Setiap kali aku memakai teknik sihir penyegel sihir lawan, sihirku juga ikut tersegel, dasar bodoh!" umpat Derrick ketika menyadari kekuatan angin dan api ditinjunya menghilang begitu saja ketika Derrick mengaktifkan teknik sihir penyegel sihir lawan.


Seandainya Derrick tidak memakai teknik penyegel sihir lawan mungkin saja perut Arya terluka bakar akibat tinju api Derrick yang diperkuat elemen angin.


"Menyerahlah! kamu sudah tidak dapat lagi melanjutkan pertarungan." ujar Derrick dengan nafas tersengal-sengal kepada Arya yang terlihat berusaha bangkit.


"Hehe, menyerah, jangan bercanda, sialan!" umpat Arya dengan tertawa kecil.


"Aku tidak akan menyerah, tidak akan pernah!" ujar Arya dengan lemah dan tangan melambai memanggil buku sihirnya.


"Dia penyihir?" tanya Semat Pitak spontan ketika melihat Arya mengeluarkan dan menggunakan buku sihir.


"Tidak, kurasa itu buku biasa, karena aku tidak dapat merasakan mana dibuku tersebut." timpal Christine.


Ingatan Arya.


Sebuah perumahan yang hancur lebur dan terbakar dengan ratusan mayat yang terbunuh akibat senjata tajam, sebuah pemandangan yang sangat mengerikan bagi seorang anak kecil yang sedang menangis sambil memegang bahu ayahnya, anak itu tidak lain adalah Arya kecil.


"Hiks, bangun yah, ayah bangun, jangan tinggalkan Arya, hiks." tangis Arya sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya yang tertusuk pedang.


"Hiks, ayah... huhuhu, jangan tinggalkan Arya, ayah! hiks, hiks." Arya menangis sejadi-jadinya, sang ayah yang masih sadar dengan susah payah mengelus kepala Arya dengan menampilkan senyum terbaiknya.


"Anakku balaskan dendam ayah.... kepada... mereka, uhuk, uhuk!" ucap ayah Arya dengan terbata-bata sambil memberikan buku berwarna hitam dengan aura hitam samar kepada Arya, lalu menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga dengan tangan yang perlahan jatuh lemas.


"Ayah, ayah, ayah!!!! hiks, hiks!" Arya menangis sejadi-jadinya ketika sang ayah pergi untuk selamanya.


Ingatan selesai.


"Aku akan membunuhmu!" ucap Arya dingin sambil membuka lembaran buku sihirnya, "Serigala kembar, keluar!" teriak Arya dengan suara berat dan terdengar mengerikan.


Buku itu bersinar kegelapan yang membentuk portal, lalu tiba-tiba muncul dua serigala yang memiliki aura hitam samar-samar ditubuh mereka, yang satu berwarna putih dan yang satunya berwarna hitam.


"Grrrrr." dua serigala itu mengeram sambil menatap tajam Derrick.


"Bunuh orang itu, cabik-cabik tubuhnya dengan kejam!" teriak Arya dengan kejam.


Dua serigala itu langsung berlari menyerang Derrick dengan cakar mengarah ke leher, beruntung Derrick menghindar sedikit dan berlari menjauh. Dua serigala itu mengejar dan menerkam Derrick dari dua sisi, Derrick kesakitan akibat kedua tangannya digigit serigala dengan kejam dan begitu buas.


"Argh!" teriak Derrick sambil memegang salah satu serigala dan menghempaskan serigala itu sejauh-jauhnya.

__ADS_1


Sling!


Derrick mengayunkan tangannya kearah serigala itu hingga menciptakan serangan energi angin berbentuk sabit, energi yang berbentuk sabit itu dihindari dengan mudah.


Derrick mencengkram serigala yang lain dan menghempaskan serigala itu ketempat yang sama, Arya hanya tertawa jahat melihat kondisi Derrick yang memprihatinkan akibat dua serigalanya.


"Haha, kamu akan mati sialan! haha." Arya tertawa terbahak-bahak.


Dua serigala itu berlari dengan zig-zag menuju Derrick yang sudah mencapai batasnya.


7 komandan hanya menyaksikan saja dan tidak berniat menolong Derrick, begitu juga Xiao yang percaya sepenuhnya dengan kemampuan Derrick.


"Pangeran kedua tidak berniat membantu bocah itu?" tanya Yaga Light kepada Xiao dengan nada lemah.


"Tidak, itu tugas wasit." balas Xiao acuh, singkat, padat, dan jelas.


Dua serigala itu melompat dengan gigi taring yang siap menggigit leher Derrick yang hanya bisa berdiri mematung melihat dua serigala yang berniat menerkamnya.


Bush!


Derrick menciptakan tornado untuk menyelimuti tubuhnya dan membuat dua serigala itu terhempas menjauh, lalu Derrick melempar empat bom asap yang isinya bukan asap melainkan bubuk mesiu yang siap meledak kapanpun asalkan disulut api.


"Jangan meremehkanku, kurang ajar!" teriak Derrick dengan melempar percikan api ke bubuk mesiu itu.


Booom!


Ledakan besar terjadi dan membakar apapun yang terkena asap bubuk mesiu tersebut, dua serigala keluar dengan tubuh yang terbakar dan hancur, namun terlihat tidak memiliki darah, daging, dan tulang, dua Serigala itu terlihat seperti energi yang membentuk serigala.


"Grrrr...," geram dua serigala itu marah sambil jalan tertatih-tatih, lalu menghilang menjadi butiran asap yang kembali menuju buku sihir Arya.


Arya yang tertawa beberapa saat lalu terdiam seribu bahasa, dan berniat membuka lembaran buku sihirnya, namun dia tidak sanggup menggerakkan tangannya untuk membuka lembaran buku sihirnya karena terlalu lelah dan terluka cukup parah.


"Bocah itu serius." ujar Xiao ketika melihat Derrick mengangkat tangannya sejajar dengan bahu seperti memegang tombak dengan mulut komat-kamit membaca mantra, tiba-tiba angin kencang menerpa arena dan sebuah tombak tercipta ditangan Derrick dari awalnya sebuah energi, angin, kerangka, dan terciptalah tombak berwarna emas dengan aura kuning keemasan.


"Tombak dewa penghancur!" ucap Derrick sambil membuka matanya.


"Energi yang sangat mengerikan, haha." Arya tertawa sambil memegang perutnya yang masih sakit.


Bush!


Derrick melempar tombak itu dan menciptakan lintasan tombak yang menghancurkan arena yang begitu dalam, dan menghantam Aryaduta yang terus tertawa terbahak-bahak seakan tidak menganggap serius serangan Derrick tersebut.


Boom!


Arena dimana Arya berada hancur berkeping-keping hingga setengah arena itu rata dengan tanah bahkan perisai energi berlapis-lapis yang melindungi para penonton ikut hancur, sampai-sampai salah satu komandan yang berkekuatan angin turun tangan dengan menciptakan perisai angin berlapis-lapis untuk meredakan tusukan tombak tersebut, namun tetap saja tertembus. Beruntungnya semua penonton yang ada disisi tersebut pindah secepat mungkin ketika Xiao menyuruh mereka pergi secepatnya.


"Mengerikan... sekali." Yaga Light dibuat tercengang dengan serangan Derrick yang mampu menghancurkan setengah arena.


Semua komandan atau kesatria sihir tingkat tinggi mungkin bisa melakukan hal yang sama, namun tidak ada satupun dari mereka yang yakin seratus persen mampu membobol pertahanan berlapis-lapis yang melindungi para penonton dari serangan sekuat itu, makanya tak heran Yaga Light menyebut serangan Derrick begitu mengerikan.


"Serangan itu bahkan tidak dapat dibendung oleh senior Douzi yang terkenal dengan kekuatan pertahanannya yang tidak dapat ditembus oleh siapapun, siapa bocah ini?" tanya Christine sambil melirik komandan Douzi yang ngos-ngosan menahan serangan Derrick tersebut.


"Mengerikan, uhuk, uhuk!" ucap Douzi sambil terbatuk darah beberapa kali, lalu duduk di kursinya dan jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2