
Lima hari berlalu setelah seleksi kesatria sihir berakhir, hari-hari di pasukan kesatria sihir kegelapan dilalui dengan biasa-biasa saja karena belum menerima misi dari kerajaan.
"Membosankan!" umpat Arya dengan suara keras dan melempar secangkir kopi yang selalu dia nikmati di pagi hari.
"Kalau begini terus aku bisa mati karena bosan, sialan!" keluh Arya sambil mondar-mandir dengan menopang dagu seakan sedang berpikir keras.
"Aku tahu apa yang harus kulakukan untuk mengusir kebosanan, hehe." Arya tertawa kecil dengan senyum psikopat, lalu beberapa detik kemudian hilang meninggalkan debu.
Seekor burung yang terbuat dari sihir api datang ke markas pasukan kesatria sihir kegelapan, itu adalah burung sihir pembawa pesan misi. Derrick tentu menerima burung pembawa misi itu dan segera mencari komandan Xiao, namun sayang sang guru ternyata sedang tak ada di markas.
"Apa misinya?" tanya Raki yang kebetulan ingin keluar markas, jika dilihat dari penampilannya Raki sepertinya berniat pergi ke pasar atau bersenang-senang di hutan.
"Pergi ke desa Eto untuk menyelidiki pergerakan anggota kelompok VAR yang terlihat disekitar desa beberapa hari lalu." ujar Derrick sambil membaca surat misi tersebut, ada kerutan di dahinya.
Resi yang memang peka langsung memberitahu bahwa kelompok VAR adalah sebuah organisasi yang didirikan lima tahun lalu oleh seseorang yang menutupi wajahnya dengan topeng berwarna silver, bentuk topeng itu adalah topeng manusia dengan gigi taring yang sangat panjang.
"Sampai saat ini tidak ada yang tahu apa tujuan orang itu mendirikan VAR, selama lima tahun ini organisasi itu banyak melakukan berbagai pembantaian dan kerusuhan dimana-mana, yang mencolok dari mereka adalah mereka sangat suka membantai para bangsawan atau abdi kerajaan (pejabat)." tukas Resi mengakhiri penjelasannya tentang organisasi VAR.
"Itu artinya mereka berkemungkinan menyerang kepala desa Eto dan melakukan pembantaian di desa tersebut." ujar Derrick menebak, Resi mengangguk.
Sementara itu di kedalaman hutan terlarang yang terletak di perbatasan dua kota besar, yaitu kota Empat dan Kota Lawang bagian dari kerajaan. Hutan itu disebut hutan terlarang karena hutan itu dihuni berbagai monster yang sangat berbahaya, menurut rumor siapapun yang masuk kedalam hutan maka orang itu tidak akan pernah kembali lagi.
"Waktunya memulai rencanaku." ucap seseorang yang sedang bermeditasi dengan tersenyum kecil, penampilan orang itu acak-acakan meskipun bajunya sangat bagus dan terlihat seperti baju yang sering dikenakan para bangsawan, dibelakang orang itu melayang lima buku sihir.
"No 1, no 2, dan no 3 datanglah." teriaknya kecil memanggil tiga orang melalui teknik sihir telepati, dalam sedetik muncul dua orang yang mengenakan topeng keemasan dengan taring yang menghiasi topeng tersebut.
"Salam guru!" sapa dua orang itu bersamaan kepada orang tersebut yang kini telah memakai topeng berwarna silver, orang itu ternyata pendiri kelompok VAR.
"Dimana no tiga?" tanya topeng silver kepada dua orang muridnya itu, mereka berdua langsung menjawab tidak mengetahui keberadaan no tiga.
"Hem... lupakan, bagaimana dengan tugas kalian?" dengus topeng silver dan bertanya kepada dua orang tersebut.
"Kami hanya dapat memastikan siapa pemilik salah satu dari tiga pusaka itu, sementara dua pusaka lainnya tidak diketahui siapa pemegangnya." balas no 1 yang bertugas mencari informasi tiga senjata misterius yang diperintahkan sang guru (topeng silver).
Topeng silver terdiam beberapa saat mendengar informasi tersebut seperti sedang memikirkan sesuatu, "Apakah kalian bisa membunuh pemilik senjata tersebut?" tanya topeng silver setelah berpikir beberapa saat.
Mendengar pertanyaan itu tubuh dua orang tersebut sedikit gemetar, ada rasa takut yang menyelimuti tubuh mereka, topeng silver tersenyum melihat respons tubuh kedua muridnya tersebut.
"Lupakan saja, lagipula selama ada orang itu pemilik tiga senjata itu bukan apa-apa." ucap sang guru kemudian.
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah merekrut sekutu sebanyak-banyaknya sebelum orang itu menyelesaikan pelatihannya dengan pimpinan dan kembali ke markas untuk melakukan...," ucapan topeng silver terpotong ketika seseorang muncul dengan cara yang cukup heboh dan sampai menciptakan kawah.
"Halo semuanya aku datang, haha." ucap orang yang datang tersebut sambil tertawa dan menghampiri tiga orang tersebut dengan begitu santai.
__ADS_1
"Salam guru, maaf aku terlambat." ucap orang tersebut meminta maaf kepada topeng silver, dia ternyata no tiga.
"Kamu selalu saja seperti ini, kurang ajar!" topeng silver marah dan mengeluarkan auranya, namun no tiga hanya tersenyum kecil sambil terus mengunyah seakan tidak peduli dengan kemarahan sang guru.
"Hm... lupakan saja, kalian berdua beritahu bajingan itu tentang pembicaraan tadi, kalian bisa pergi." dengusnya mengakhiri pertemuan dan mengusir tiga orang tersebut.
"Apa... aku baru saja datang, kenapa pertemuannya sudah selesai, guru kamu jahat." protes no tiga dengan sedikit bercanda, padahal dia sangat senang pertemuannya berakhir.
Topeng silver tidak peduli dan kembali bermeditasi, bahkan kini tubuhnya dilindungi kubah yang terbuat dari angin, kubah itu mampu melindungi tubuh topeng silver dan meredam suara dari luar. Sementara dua orang lainnya sudah pergi meninggalkan tempat itu.
"Karena orang itu tidak ada di markas, maka kalian bertiga saja menjalankan misi ini." ujar Raki sambil berdiri dan memberikan surat misi tersebut kepada Varg.
"Mengerti, sampah?" tanya Raki dengan tatapan tajam menatap mata Varg dan menyebut Varg sampah.
"Mengerti." balas Varg dengan perasaan terpaksa, terhina, dan geram, secara mengejutkan Varg memeluk Raki dan berbisik.
"Aku akan membalas penghinaan ini." bisiknya kepada Raki yang hanya membalas dengan senyuman.
"Aku menunggunya." balas Raki sambil berlalu pergi meninggalkan markas.
Setelah Raki pergi Derrick mendekati Varg, lalu menusuknya dengan keris secara mendadak, hal itu membuat Varg termuntah darah dan melotot.
"Senior Varg..." teriak Resi terkejut dan langsung mendorong Derrick menjauh dari Varg, lalu mengobati luka tusukan tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Derrick?" tanya Resi dengan waspada kepada Derrick.
"Membersihkan sampah? apa maksudmu?" Resi tidak mengerti.
"Pria itu adalah sampah yang harus dibersihkan, hanya karena lebih tua bukan berarti harus diatas yang lebih muda." ucap Derrick tidak jelas dan sulit dimengerti.
"Apa? kenapa dia harus dibersihkan, apa alasannya?" tanya Resi yang kurang mengerti dan terus sibuk menutupi luka tusukan dengan sihir penyembuhnya.
"Kamu akan tahu suatu saat nanti, kuharap kamu tidak menyesalinya karena telah melindungi dan menyelamatkan bom waktu yang akan meledak kapan saja tersebut." ucap Derrick berlalu pergi setelah mengambil surat misi, sementara Resi sendiri tidak mengerti apa yang Derrick maksud.
"Aku tidak peduli, yang harus kulakukan sekarang adalah mengobati senior Varg." gumam Resi dan kembali fokus menyembuhkan Varg yang terlihat sangat lemah dengan nafas yang terputus-putus.
Disebuah desa kecil sekitar jam 11 siang terlihat seseorang yang memakai topi caping dengan Syal merah melingkar di lehernya dan tubuh yang ditutupi jubah berwarna hitam datang dengan langkah pelan, orang itu tak lain adalah Derrick.
"Siapa kamu?" tanya salah satu penjaga gapura atau gerbang masuk desa dengan waspada sambil menodongkan tombak kepada Derrick.
"Inikah cara kalian menyambut tamu?" tanya Derrick dengan menampilkan senyum kecil kepada dua orang penjaga gerbang tersebut, kedua pengawal itu sedikit tertegun melihat tatapan Derrick yang begitu tajam dan terlihat mengerikan.
"Haha, maafkan temanku ini tuan, dia penjaga baru yang belum mengerti aturan penjaga gerbang, mohon dimaklumi." ujar salah satu penjaga dengan tertawa kecil.
__ADS_1
"Hendri apa yang kamu...," penjaga gerbang itu marah, namun ucapannya dipotong ketika penjaga yang bernama Hendri tersebut menanyakan identitas Derrick.
Tap!
Derrick tanpa basa-basi langsung melempar sebuah buku kecil yang memang berisi identitas seseorang, buku itu dapat dikatakan KTP kerajaan. Hendri menangkap buku itu dan membacanya, lalu tersenyum kepada Derrick.
"Haha, tuan maafkan atas kelancangan kami terutama temanku ini, tuan silahkan lewat sini." ujar Hendri dengan tertawa, terlihat jelas dia sedikit ketakutan kepada Derrick.
"Hendri apakah kamu yakin membiarkan baj..,"
"Diam!" potong Hendri dengan berteriak dan mengagetkan sang penjaga.
"Minta maaf kepada tuan Derrick!" perintah Hendri.
"Tapi...,"
Bush!
Derrick kehilangan kesabaran dan langsung mengeluarkan kekuatan anginnya untuk menekan sang penjaga yang keras kepala itu ketanah, sampai-sampai penjaga itu memuntahkan seteguk darah.
"Lain kali aku akan membunuhmu jika tidak berlaku sopan." ucap Derrick dingin sambil memasuki desa dan menginjak sang pengawal yang kebetulan terkelupkup di tengah jalan memasuki desa.
Setelah Derrick pergi Hendri segera membantu temannya tersebut untuk berdiri dan menjelaskan siapa Derrick sebenarnya yang ternyata adalah salah satu anggota keluarga kepala desa.
"Benarkah dia anggota keluarga kepala desa?" tanya penjaga itu ketakutan, Hendri mengangguk yakin.
"Mereka sepertinya sangat takut kepada kepala desa..., menarik." ujar Derrick sambil tersenyum kecil dan segera menuju rumah kepala desa.
Setelah 30 menitan Derrick memasuki desa Varg dan Resi baru datang dan memberikan identitas palsu yang sama dengan Derrick, yaitu identitas sebagai bagian keluarga kepala desa.
"Sepertinya ada sesuatu di rumah kepala desa." gumam penjaga yang dihajar Derrick sambil melirik Varg dan Resi.
"Aku penasaran sebenarnya apa yang menyebabkan mereka bertiga datang ke desa." gumamnya dengan memandang langit dan kebetulan Hendri datang hingga wajah mereka bertemu.
"Itu bukan urusan kita! berdoa saja kedatangan mereka tidak memperparah keadaan desa." ujar Hendri menegur.
Baru saja duduk beristirahat (karena memang matahari sedang terik-teriknya) tiba-tiba muncul sekitar 10 orang yang memakai jubah dan topi caping, salah satu dari mereka tanpa basa-basi melempar identitasnya yang juga bagian dari keluarga kepala desa.
"Silahkan masuk tuan-tuan, hehe." ucap Hendri mempersilahkan mereka masuk dengan menunjukkan senyum terbaiknya seakan takut menyinggung mereka.
"Hm...," dengus pemilik identitas itu, lalu mengambil buku identitasnya dan pergi memasuki desa dengan diikuti sembilan orang lainnya.
Tentu saja Hendri takut akan terjadi sebuah peristiwa besar di desa, karena menurutnya tak wajar jika dalam sehari muncul sekitar 13 anggota keluarga kepala desa.
__ADS_1
"Kuharap baik-baik saja." gumam Hendri berharap dengan bibir bergetar dan suara yang terbata-bata.
Sekian.., terimakasih.