
Pemakaman.
Seorang pemuda berpakaian bangsawan dengan baju kuning yang dipadukan warna putih terlihat memandang makam Yaga Light dengan mata berkaca-kaca, beberapa detik kemudian orang itu mencengkram pedang bersarung kuning yang dia pegang, air matanya jatuh dan dia mulai menangis sesenggukan.
"Kakak..., hiks, hiks." ucapnya mengusap air matanya dengan pergelangan tangan.
"Pewaris sesungguhnya buku cahaya dunia menangis? benar-benar membuatku terharu, hehe." ucap penjaga 9 organisasi VAR yang sedang duduk di atas sebuah nisan dengan menopang dagu.
Pemuda itu berhenti menangis ketika mendengar ucapan penjaga 9 tersebut, dia mengepalkan tangan. "Pengkhianat yang mempermalukan klan Light sepertimu begitu berani menampakkan diri di depanku?" ujar pemuda itu dengan dingin sambil berbalik dan menatap mata penjaga 9 dengan tatapan permusuhan.
"Haha, pengkhianat? aku tidak pernah berkhianat kepada siapapun, aku tetaplah aku, Lerenga sang penjaga 9 VAR, tuan muda yang terhormat." ujar Lerenga dengan menampilkan senyum licik dan badan membungkuk seperti memberi hormat kepada pemuda tersebut.
Ok..., lanjut.
"Jadi siapa komandan baru kalian?" tanya Derrick kepada kelompok Kiano yang berasal dari pasukan elang cahaya.
"Komandan baru? hm, sampai saat ini masih belum diputuskan, tapi ada desas-desus Esteban Light yang merupakan adik kandung komandan Yaga Light yang akan menjadi komandan baru kami. Katanya orang itu baru saja pulang dari latihan tertutup bersama ketua klan Light." ujar Kiano sambil mengingat desas-desus.
"Siapa yang menduga komandan dari pasukan kesatria sihir terkuat yang dirumorkan mewarisi pusaka Klan Light ternyata mati muda, benar-benar tidak terduga, haha." ucap Fan dari pasukan Hantu tanah dengan nada mengejek.
"Mungkinkah semua anggota elang cahaya adalah sampah yang tak berguna dan lemah sama seperti komandannya?" tanya Abra.
"Haha, mungkin saja..., ups maaf, maksudku itu sudah pasti." respons Celibow yang juga bagian pasukan Hantu tanah, ucapan Celibow itu disambut tawa beberapa orang yang mendukung kelompok Abra.
Kedua teman Kiano dari pasukan elang cahaya terbawa emosi dan hampir melabrak mereka jika saja tidak dihentikan oleh Kiano, begitu juga dengan kelompok Opoi Mileak yang ikut terpancing karena komandan mereka yaitu Hanza juga tewas bersama Yaga Light sang komandan pasukan elang cahaya, untung saja mereka masih dapat mengontrol diri.
"Apakah kalian ingin membuat keributan dan perpecahan antar pasukan penjaga pangeran?" tanya kapten prajurit yang kesal dengan tingkah kelompok Abra.
"Untung saja mereka tidak terpancing, jika tidak masalahnya akan besar." batin kapten tersebut melirik kelompok Kiano, lalu melirik tajam kelompok Abra.
"Kutanya sekali lagi apakah kalian ingin membuat keributan?" tanya sang kapten kembali dengan nada penuh penekanan.
Fan berdiri berhadap-hadapan dengan sang kapten dengan mata tajam menusuk, sang kapten tidak gentar sama sekali dan malah menatap balik Fan.
"Hentikan kalian semua, pangeran ingin beristirahat dan kamu kembali kepasukanmu sekarang juga." ucap pelayan pribadi pangeran menghentikan pertikaian tersebut.
Kapten pergi setelah memberi hormat, namun sebelum pergi dia memberikan tatapan ancaman kepada Fan, begitu juga Fan yang memberikan senyum kecil dan mengejek kepada sang kapten.
__ADS_1
"Hanya seorang kapten prajurit begitu berani kepadaku seorang kesatria sihir, cuih benar-benar menghinaku." gerutu Fan kembali duduk bersama kelompoknya.
Desnaka adalah seorang pria yang berusia sekitar 40an tahun, dia selalu membawa kipas ketika berpergian, sifatnya yang tulang lunak membuat orang-orang jijik dekat-dekat dengannya. Siapa sangka pria yang dikenal buruk dan lemah di mata masyarakat tersebut rupanya seorang penjaga 8 organisasi VAR yang misterius, dia membuat pimpinan VAR tertarik dan menjadikan penjaga karena memiliki sihir yang sangat unik dan sulit dilawan.
"Pergilah dan bunuh sebanyak-banyaknya yang kalian bisa menggunakan senjata baruku itu, hehe." ucap Desnaka kepada beberapa orang yang berperawakan pendek yang ada di depannya, orang-orang itu membawa sebuah benda mirip senjata api di punggung, kedua tangan, hingga ada yang membawa benda itu di kedua pahanya.
Orang-orang itu langsung berlari memasuki hutan dan menghilang dalam kabut, Desnaka hanya tersenyum kecil sambil menutup mulutnya dengan kipasnya, lalu tertawa terbahak-bahak di sunyi nya hutan yang mencekam dan menyimpan bahaya tersembunyi.
Keesokan harinya.
Kelompok pangeran Ranzi dikejutkan dengan kematian seorang kapten prajurit dengan cara yang mengenaskan, yaitu lehernya ditusuk pedang hingga tembus dan dibiarkan begitu saja oleh sang pembunuh.
Fan dan kelompoknya dicurigai sebagai pembunuh sang kapten dengan alasan bahwa sang kapten dan Fan sedikit ribut kemaren malam sebelum dilerai oleh Karina pelayan pribadi pangeran Ranzi.
Fan yang tidak terima menuduh balik Kiano dengan alasan Kiano membunuh kapten prajurit tersebut dengan tujuan memfitnah dirinya, tuduhan itu diperkuat dengan pengakuan Abra yang melihat Kiano sedang lari terburu-buru ke tenda pagi hari tadi dan dia berasal dari arah dimana tenda sang kapten berada.
"Itu fitnah, selain itu pagi tadi aku tidak melakukan apapun apalagi keluar dari tenda seperti yang kamu katakan, brengsek!" sangkal Kiano dengan emosi karena dituduh dengan alasan yang tidak pernah ada atau alasan yang dibuat-buat oleh Abra Pitak.
"Maling tidak akan mengaku bahwa dirinya maling, itu juga berlaku untuk seorang pembunuh sepertimu." ucap Abra dengan raut wajah provokasi, hal itu sukses membuat Kiano terprovokasi dan menyerangnya dengan sihir air.
Semburan air dengan tekanan besar itu langsung menghantam Abra yang tidak sempat merespons, namun serangan itu menembus Abra dan merobohkan beberapa pohon di belakangnya. "Ini..., sihir elemen kegelapan?" Kiano terkejut serangannya menembus tubuh Abra.
"Tenangkan dirimu adik ipar, jangan sampai kamu terpancing provokasi tukang fitnah ini." ucap Raki yang menjadi penyebab kenapa serangan Kiano menembus tubuh Abra.
Raki menciptakan lubang spasial untuk memindahkan serangan Kiano ke belakang Abra, namun terlihat seperti menembus tubuh Abra karenanya.
"Jangan menghalangiku, selain itu siapa juga adik iparmu?" tanya Kiano tidak senang, namun ekspresi wajahnya terlihat seperti gadis yang terciduk melakukan sesuatu yang tak senonoh.
"Lihatlah, kalian lihat dia ingin membunuhku karena ketakutan kejahatannya membunuh seorang kapten ketahuan." ucap Abra yang sadar kembali setelah syok dengan serangan Kiano tersebut.
Semua prajurit mengarahkan senjata mereka kepada Kiano, mereka mulai mempercayai ucapan Abra karena tindakan Kiano yang impulsif dan menyerang Abra. Bahkan salah satu prajurit yang emosi langsung mengayunkan pedang dengan tekanan mana yang kuat untuk menebas Kiano, beruntung dihentikan oleh teriakan Karina.
"Pangeran bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?" tanya Karina kepada pangeran Ranzi yang berada dalam kereta kuda.
"Meskipun dia dicurigai karena menyerang orang yang menuduhnya, bukan berarti kecurigaan itu benar, bukti belum cukup dan dia belum dipastikan bersalah atas pembunuhan kapten prajurit tiga." ujar pangeran Ranzi berpendapat dengan suara tenang meskipun terdengar seperti suara anak-anak yang berumur 10 tahun.
"Karena tidak ada bukti yang cukup, maka tahan siapa saja yang dicurigai tanpa terkecuali." perintah pangeran Ranzi pada akhirnya menahan semua orang yang dicurigai.
__ADS_1
"Kalian dengar, tahan mereka bertiga karena dicurigai sebagai pembunuh kapten prajurit tiga." teriak Karina menyampaikan perintah pangeran.
Para prajurit langsung menahan Kiano dan Fan yang dicurigai sebagai pembunuh, namun merasa kebingungan siapa orang ketiga yang dicurigai karena mereka hanya mendengar bahwa hanya Kiano dan Fan yang dicurigai.
"Apalagi yang kalian tunggu? tangkap bajingan ini!" ucap Derrick dengan menendang Abra yang masih terduduk bingung.
"Kenapa aku?" tanya Abra tidak senang, namun menciut ketika Derrick menatapnya tajam setajam silet dan sedingin lautan Antartika.
"Pangeran...," Abra berbalik meminta bantuan pangeran, namun Karina malah memerintahkan prajurit untuk menahan Abra dan memutuskan harapan Abra lepas dari tuduhan.
Pada akhirnya tiga orang itu ditahan dalam kurungan besi ciptakan Karina dan diperkuat segel penekan mana agar tidak bisa kabur melarikan diri, untuk memastikan agar tidak kabur ketiga orang tersebut diborgol dengan borgol khusus yang mampu menekan mana atau sihir.
Ok..., lanjut.
"Semuanya tetap waspada, kita akan memasuki hutan kabut." teriak jenderal ketika akan memasuki hutan berkabut yang dikenal hutan kabut kematian beberapa tahun belakangan karena siapapun yang masuk maka tidak akan pernah bisa keluar, jikapun ada yang berhasil keluar maka kondisinya sangat memprihatinkan.
"Siap!" teriak semua prajurit dengan lantang dan memasuki hutan kabut tersebut meskipun jiwa mereka sedikit gentar.
"Kenapa kita akan memasuki hutan kabut yang sangat terkenal itu, kenapa kita tidak mencari jalan lain saja?" bisik salah satu prajurit kepada temannya.
"Aku juga tidak tahu, tapi ini perintah pangeran."
"Kenapa?"
"Pangeran tidak percaya rumor tentang hutan ini, baginya rumor hanyalah rumor."
"Apa, hanya karena bocah ingusan itu tidak percaya...,"
"Hush, jaga ucapanmu atau kamu akan..., krek." sela prajurit itu dengan gerakan memotong leher diakhir ucapannya yang sukses membuat merinding.
Kelompok pangeran Ranzi tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang terlihat masih anak-anak melihat mereka di balik kabut, tatapan anak-anak itu seperti tatapan yang mengandung bahaya yang sangat besar dan mengerikan.
"Aku merasakan bahaya yang tidak biasa di hutan ini." gumam Raki bersiap mencabut dua pedangnya, Derrick hanya terlihat santai meskipun dia merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Raki.
"Tidak seperti dirimu yang biasanya, haha." ucap Derrick tertawa.
Tentunya Derrick merasa heran dengan Raki yang terlihat waspada jika merasakan ancaman, hal itu sangat terbalik dengan sifatnya yang bar-bar dan tidak takut apapun ketika masih di sekte Naga langit.
__ADS_1