Sistem Misi Dan Hadiah

Sistem Misi Dan Hadiah
Chapter 25


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu, waktu yang tidak mudah dan begitu sulit bagi Derrick dan Raki yang kini menjadi murid pribadi master Xiao, hal itu terjadi karena mereka berdua dilatih oleh master Xiao dengan cara tidak manusiawi dan terkesan dilatih hanya untuk dibuat menyerah.


Mereka disuruh mulai dari berlari naik gunung dan turun gunung, berenang disebuah sungai yang beraliran deras dan juga dihuni monster yang mematikan dengan kedua tangan dan kaki terikat, membelah batu besar sebesar rumah tanpa menggunakan energi tenaga dalam, hingga harus menarik kura-kura yang seukuran dua rumah besar (hewan peliharaan Xiao) tanpa menggunakan tangan.


"Derrick apakah kamu telah menguasai teknik yang kamu pilih?" Tanya Raki yang terlentang dan nafas yang memburu, karena sangat lelah menahan batu besar di pundaknya karena hukuman Xiao.


Raki dihukum oleh Xiao dengan hukuman menahan sebuah batu besar selama dua jam karena tidak menguasai keterampilan tipe petarung semi-sihir yang dia pilih, yaitu sihir pengendali elemen kegelapan.


Raki satu tahun yang lalu memilih teknik sihir pengendali elemen kegelapan, karena dia belum menguasai sihir elemen kegelapan sama sekali walaupun energi tenaga dalamnya identik dengan sihir kegelapan.


"Aku sudah menguasainya, karena bagaimanapun aku sudah menguasai sihir elemen angin tanpa laparan, jadi mudah bagiku menguasai keterampilan belati angin tersebut." Jawab Derrick apa adanya dengan berbaring disebelah Raki.


Satu tahun yang lalu Derrick memilih keterampilan tipe bertarung, yaitu teknik belati angin ketika diajak oleh master Xiao untuk memilih teknik sekte yang ingin dipelajari dan dikembangkan oleh dirinya dan juga Raki yang memilih teknik sihir pengendali elemen Kegelapan.


"Ahh, kamu memang jenius, haha..., aku menjadi iri kepadamu." Respons Raki dengan tersenyum senang karena Derrick sudah menguasai keterampilan yang dia pilih, dan juga merasa semangat kembali untuk menguasai elemen Kegelapan agar jarak antara dirinya dan Derrick tidak terlalu jauh.


"Baiklah, aku akan mengejar mu..., hiyak, hak!" Raki melanjutkan latihannya dengan gerakan silat dan tinju yang terarah.


"Heh..., jika kamu seperti itu kamu tidak akan pernah mampu menguasai teknik pengendali elemen kegelapan." Derrick tertawa kecil. Hal itu wajar karena Raki berlatih kanuragan bukan berlatih mengendalikan elemen kegelapan.


"Kenapa begitu?" Tanya Raki sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali.


"Raki, tenangkan pikiranmu dan rasakan bahwa kamu sedang mengendalikan elemen kegelapan layaknya kamu mengendalikan tubuhmu sendiri." Ucap Derrick memberikan nasihat sembari menepuk bahu Raki dan pergi.


Sihir elemen dan sihir pengendalian elemen sangat berbeda, dimana sihir elemen memang murni sihir yang membutuhkan mantra sebelum mengaktifkannya, sementara sihir pengendalian elemen adalah tipe keterampilan bertarung semi-sihir, dimana keterampilan jenis petarung semi-sihir adalah keterampilan yang mengandalkan gerakan tubuh dan tenaga dalam (sihir) yang beresonansi dan muncul secara sendirinya.

__ADS_1


Contohnya seperti Rean yang bertarung melawan naga api di masa lalu, ketika Rean bertarung dia merasakan bahwa dia bisa mengendalikan api seperti naga tersebut, lalu secara tiba-tiba dia benar-benar bisa mengendalikan api layaknya tubuhnya sendiri, dan itu menjadi awal mula keterampilan tipe petarung semi-sihir pengendalian elemen api tercipta di masa lalu.


Ok, lanjut.


Derrick yang berjalan-jalan di pasar untuk pertama kalinya semenjak dia dikurung di lembah kegelapan (markas skuad Kegelapan yang dipimpin Xiao) agar fokus berlatih, Derrick terlihat membeli berbagai makanan yang dia kira enak.


"Uek..., kenapa rasanya tidak enak sama sekali?" Tanya Derrick sambil memuntahkan kue yang dijual dan terlihat sangat enak dilihat.


"Penampilan memang menipu, dasar bodoh!" Umpat Derrick membanting kue yang tersisa tepat di depan penjualnya, sang penjual yang sudah nenek tua itu hanya tersenyum sedih sambil membersihkan kue tersebut.


"Cung, maaf kalau kue nenek tidak enak, nenek janji akan membuat kue yang lebih baik dari kue ini." Ucap sang nenek dengan pilu, bahkan terlihat air mata sedihnya menetes membasahi kue yang dia pegang.


Bagaimana nenek itu tidak sedih, karena setelah bertahun-tahun jualan dia menyadari kenapa dagangannya tidak diminati orang-orang bahkan orang yang pernah membeli kuenya tidak lagi datang setelah membeli kuenya, entah apa alasannya, namun kini dia tahu alasannya.


"Nenek maaf jika aku membuatmu sedih, tapi jujur saja kue buatan nenek rasanya tidak enak, hambar, dan juga terlalu keras." Derrick menjelaskan alasannya membanting kue tersebut.


"Tidak apa-apa cung, nenek senang kamu jujur kepada nenek mengenai rasa kue buatan nenek, tidak seperti mereka yang tidak jujur dan tidak datang lagi setelah membeli kue buatan nenek yang rasanya sangat buruk dan tidak enak dimakan ini." Balas nenek itu malah berterima kasih karena Derrick jujur mengenai rasa kue buatannya.


Nenek itu seperti mencari sesuatu di balik meja jualannya, setelah mencari-cari nenek itu tersenyum kecil dan menarik sebuah buku yang terselip di balik dinding rapuh tokonya tersebut.


"Cung, tolong terima buku ini sebagai ungkapan rasa terimakasih dari nenek, mungkin buku ini terlihat usang, tapi nenek yakin isi buku ini mungkin berguna untuk seorang anak muda yang gagah sepertimu." Ucap nenek itu memberi Derrick sebuah buku yang bersampul hitam dan beraura kegelapan.


"Apa ini nek?" Tanya Derrick mengambil buku tersebut, lalu membaca sampul buku yang tertulis "Teknik mata....," dan sebagian tulisannya hilang dan tak dapat dibaca tersebut.


"Nenek juga tidak tahu, nenek menemukan buku itu ketika sedang mencari kayu bakar di hutan, sepertinya buku itu jatuh dari pemiliknya." Balas nenek itu jujur apa adanya, karena memang benar dia menemukan buku itu ketika sedang mencari kayu bakar.

__ADS_1


"Oh begitu rupanya...," Derrick tidak dapat membuka buku tersebut.


"Sistem?" Panggil Derrick.


Sistem segera melakukan pemindaian melalui cahaya yang keluar dari mata Derrick, setelah beberapa saat sistem menyelesaikan pemindaiannya.


"Sebuah buku kuno yang hanya bisa dibuka oleh pengguna elemen kegelapan, buku itu berisi teknik sihir tipe kegelapan, diperkirakan berusia seratus tahun." Ujar sistem memberi laporan pemindaiannya.


Teknik sihir memang bisa dikuasai siapa saja tanpa memandang elemen apa yang digunakan, namun teknik sihir itu akan mudah dikuasai jika orang yang mempelajari teknik sihir tersebut adalah pengguna elemen yang sama dengan tipe elemen teknik sihir tersebut.


Sebagai contoh teknik sihir teleportasi yang sangat mudah dikuasai oleh Xiao yang memang menguasai sihir pengendali elemen kegelapan, sementara Derrick harus berusaha lebih banyak dan lebih keras dari saat Xiao melatih teknik teleportasi itu, hal itu terjadi karena Derrick adalah pengguna elemen angin sementara sihir teleportasi bertipe elemen kegelapan bukan tipe elemen angin.


"Buku ini sangat cocok untuk Raki, itupun jika dia memang mampu menguasai elemen kegelapan." Gumam Derrick mengingat Raki yang sedang berlatih memahami elemen kegelapan dan berusaha menguasainya.


Derrick menangkap sebuah daun yang jatuh terbawa angin dengan jarinya, lalu mengubah daun itu menjadi kertas, Derrick menggunakan teknik hisap untuk mengambil sebuah ranting dan mengubahnya menjadi pena.


"Nek tolong terima ini, jika nenek mengikuti prosedur yang aku tulis ini, dijamin kue nenek akan laku keras." Ucap Derrick sambil menulis resep kue Bakpia khas Jogja, tentunya itu adalah resep yang berasal dari dunia yang Derrick huni sebelumnya.


"Apa ini, resep kue?" Nenek itu bertanya sambil menerima resep kue tersebut setelah ragu-ragu sedikit.


"Benar nek, itu resep kue buatan leluhur ibuku." Balas Derrick yang memang memiliki ibu asli orang Jogja.


Setelah berbasa-basi dan sedikit penjelasan Derrick melanjutkan acara icip-icip jajanan yang ada di pasar, karena jarang-jarang dia bisa keluar dan bebas dari kegiatan latihan yang dia nilai membosankan.


"Benar juga, aku merindukan Jogja." Gumam Derrick dengan perasaan rindu kepada kota Jogja yang selalu dia datangi setelah selesai menjalankan misi dan mendapat liburan disela-sela kegiatannya sebagai anggota Tentara Negara Indonesia (TNI).

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2